Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Jodi


__ADS_3

Jen berjalan menuju kelasnya bersama Axel yang ada di belakang.


"Yang" panggil Axel


"hhmm" jawab Jen tanpa menoleh


"kamu tadi nyetir apa terbang? cepat banget" Axel


"menghilang cling gitu" Jen


"pagi pagi udah ngelawak aja Yang" Axel tertawa kecil.


Sesampainya di kelas masing-masing mereka memulai kegiatan belajar. Jam ketiga dan empat di kelas Jen kosong, sungguh nikmat yang luar biasa kan untuk para murid.


"hei bos geng, kalian habis liburan gak ajak ajak" kata Jamil pada Jen, Tamara dan Sasa


"rugi ntar ngajak lo" Sasa


"kenapa?" Jamil


"gak mau traktir kita" Sasa


"yee elo kan anak orang kaya, sedangkan gue hwhwhw" kata Jamil sememelas mungkin.


"jangan lo kira kita gak tau ya, elo anaknya bapak no satu di kecamatan kan?" Tamara


"maksudnya?" Ari


"anak pak camat" Tamara


"kan camat bukan pengusaha, dokter ataupun pengacara terkenal" Jamil


"dosa lo, apapun itu lo harus bersyukur," Jen


"gue bilangin bapak lo, suruh ngutuk elo biar gantiin patung Pancoran" Sasa


"jahat amat kalian" Jamil


"udah, sekarang kalian mau makan gratis gak?" Tamara


"MAU LAH" jawab Jen, Sasa, Jamil dan Ari


"cepat amat jawab nya kompak lagi" kata Tamara dan mereka nyengir.


"ayo, ke kafe depan aja gimana?" ajak Tamara


"boleh tuh," Ari


Mereka menuju ke gerbang, dan ternyata gerbangnya tertutup rapat. Jen celingukan mencari pak satpam.


"gak ada di pos" kata Ari


"pada ngilang di mana sih" gerutu Sasa


"pak" panggil Jamil pada satpam yang dari toilet.


"iya ada apa?" jawab pak satpam


"bukain dong pak, kita mau ke depan" Tamara


"ada surat ijinnya?" Satpam


"gak ada lah pak, kita kan best friend forever" Kata Jamil dan membuat yang di sana tersenyum


"gak berani, nanti saya yang kena marah" satpam


"ya elah pak, bentar doang. kita jam kosong kok" Ari


"gak bisa Ari" kata pak satpam yang sudah hapal dengan mereka berdua.


Mereka masih bernegosiasi dengan pak satpam. Tiba tiba muncullah sebuah mobil mewah yang sangat Jen kenal. Pak satpam kemudian lari membuka kan gerbang.


"Ari, Jamil tolong bantu" pinta pak Satpam


Ari dan Jamil pun membantu membuka gerbang, setelah mobil masuk Ari dan Jamil masih memegang gerbang.


"jangan keluar, yang punya sekolah datang" bisik pak satpam


"hah?" Jamil


Sedangkan Jen, Tamara dan Sasa masih berdiri di samping gerbang. Mereka bingung kenapa Jen jadi diam saja dan sedikit takut.


"ayo mumpung gerbangnya di buka" ajak Tamara


"gak bisa" bisik Jen


"kenapa Jen?" Sasa


"gak jadi keluar kita" Jamil


"pada kenapa sih?" bingung Tamara


Belum sempat Jen menjawab keluar lah seorang laki-laki muda yang membukakan pintu untuk atasan nya. Terlihat seorang pria dewasa dengan setelan jas hitam, yang terlihat rapi dan gagah keluar dari mobil.


"papah" lirih Jen

__ADS_1


"selamat pagi pak" sapa bapak kepala sekolah dan beberapa guru lainnya dengan menundukkan kepalanya.


"pagi semua" jawab pak Al dengan ekspresi datarnya.


"kalian ngapain disini?" tanya pak Agus yang berada di sana


"em kita...." Ari menyenggol Jamil


"anu pak" Jamil yang menginjak sepatu Tamara pelan.


Tamara hanya nyengir saat semua melihat ke arahnya. Sedangkan Sasa bergelayut di lengan Jen karena takut.


"Jen, kok kamu gak masuk kelas?" tanya papah


"ini pah,... Jen dari toilet" jawab Jen asal


"Jen!!. Pak Alex" kata pak Agus yang membenarkan panggilan Jen


"gak papa pak, Jen anak saya" kata papah


"maaf pak, saya tidak tahu" kata pak Agus


"em maaf pah dan semuanya Jen ke kelas dulu" pamit Jen


"mau bolos kan lo" kata Jodi sambil cekikikan. Jodi ikut dengan papah sidak ke sekolah juga tadi ke kampus.


"kak Jodi!!" kata Jen


"maaf pak hukum aja Jen dan teman temannya" Jodi


Jen yang mendengar itu pun melotot, ingin marah tapi ini masih di sekolah.


"Jodi,,," papah


"maaf pak" jawab Jodi


"Semuanya kembali ke kelas ya" kata bapak kepala sekolah.


"iya pak" jawab mereka semua dan menuju ke kelas.


"Jen itu bokap lo?" tanya Jamil


"iya,"


"berarti yang punya sekolah ini elo?" Jamil


"bukan," Jen


"lah gimana sih" Jami


"bukannya papah tadi pagi ke Bandung? kok bisa disini?" gumam Jen


"namanya juga sidak Jen, kalau ngomong dan kasih tau elo pasti udah bocor sama guru guru." kata Ari


"iya juga, tapi image gue? duh kira kira marah gak ya?" Jen


"pasti di pecat lo Jen" Ari


"kenapa?" Jen


"Jadi mantu yang gak baik buat apa?" bisik Ari kemudian lari


"ih elo" Jen mengejar Ari


"lah kita di tinggal?" tanya Sasa 🙄


.


.


.


Saat ini sudah pulang sekolah, Axel menunggu Jen di samping mobil dengan bersedekap.


"Axel? lo gak bawa mobil?" tanya Mira


"enggak"


"gue antar ya?" Mira


"enggak"


"ayo lah Xel, sekali sekali. Ya kita ngopi ngopi dulu juga boleh"


"sory gue ada urusan" Axel


"ya udah deh, gue antar pulang aja. Jangan nolak ya?"


"ayo Yang" kata Axel


"apa Xel? gue gak salah dengar?" Mira yang merasa senang mendengar Axel ngomong Yang.


"enggak" Axel


"sini ku kuncinya" Axel menyodorkan tangan ke depan .

__ADS_1


Dengan segera Mira merogoh sakunya dan mengambil kunci. Saat akan memberikan kuncinya pada Axel, ternyata Axel sudah menggenggam tangan Jen.


" elo ngapain sih?" kesal Mira yang menyingkirkan tangan Jen


"elo yang ngapain pegang tangan gue?" Jen


"gue mau pulang sama Axel ya, elo jangan ganggu" Mira


"Mira,gue gak mau ya pulang sama elo. Gue mau sama Jen" Axel


"tapi tadi lo bilang ayo Yang" Mira


"bukan buat lo, tapi buat Jen yang tadi di belakang lo" Axel


"hah?" Mira


"minum sono kalau kepedesan, tuh air kolam banyak, air mancur juga ada" kata Jen dan menyenggol bahu Mira.


"JENONG!!!! awas lo" kata Mira yang melihat Jen dan Axel masuk mobil.


Di perjalanan Jen masih kesal dengan Mira, sedangkan Axel biasa saja. Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah gedung perkantoran. Axel mengajak Jen untuk turun.


"kok ke kantor?" tanya Jen


"kan aku ada kerjaan Yang, kamu lupa?" Axel


"tapi kan?" Jen


"udah ayo, lagian aku juga gak bawa mobil" Axel


Setelah sampai di ruang Axel langsung duduk di kursi kerja nya.


"Yang kamu pesen makan aja, sekalian buat aku" Axel


"apa?" Jen


"Terserah kamu aja" Axel


Axel larut dalam pekerjaannya sedang kan Jen sibuk dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian terdengar pintu ruangan Axel di ketuk.


"masuk" Axel


"ini pesanan makanan lo bukan?" tanya Jodi


"iya, sini kak" kata Jen


Jen membuka pesanan makanan nya, dan menyiapkan untuk Axel juga. Jodi masih berada di ruangan itu untuk membahas sesuatu.


"garwo makan dulu" Jen


"iya sayang" Axel


"Xel, tadi istri lo mau bolos sekolah" Jodi


Axel yang mendengar itu pun melirik Jen, ia sering berpesan pada Jen untuk fokus karena sebentar lagi akan ujian.


"kak Jodi!!! boleh gak sih aku pukul kaka sekali aja" Jen


"enggak boleh kalau sekali Yang" Axel


"terus?" Jen


"sepuas kamu" Axel


"oke," Jen beranjak dan menghampiri Jodi


Saat akan melayangkan pukulan pada Jodi, Jodi berdiri dan menghindar.


"ampun Jen, gue kan becanda" Jodi


"gak ada ampun, aku udah tahan dari tadi di sekolah ya" kata Jen berusaha memukul Jodi


"awww" teriak Jodi saat Jen berhasil memukul lengan Jodi.


"wah Xel, lo jahat banget sih. lepas dong" kata Jodi yang tangannya di tarik Axel kebelakang.


"gelitik aja Yang" kata Axel


"Jen jangan Jen. Ampun deh beneran" kata Jodi


"janji gak jadi kompor lagi?" Jen


"janji, kalian mainnya keroyokan" Jodi


ceklek


" kalian ngapain?" tanya papah


"tolong om, aku di keroyok mereka" kata Jodi


Papah melangkah menuju meja kerja Axel dan mengambil file yang sudah di kerjakan Axel.


"lanjutkan" kata papah sambil berlalu keluar


"om, om, tunggu dong om" kata Jodi

__ADS_1


"hhhmm." Jen sudah menggerakkan jarinya di hadapan Jodi. Membuat Jodi semakin panik.


__ADS_2