
Beberapa hari pun telah berlalu. Pagi ini Jen dan Axel berangkat bersama, karena rencananya mereka akan pulang ke rumah bunda. Mereka juga membawa beberapa buku dan seragam untuk hari senin.
"kamu yakin Yang mau turun di perempatan?" tanya Axel
"iya, itu Sasa udah nunggu." tunjuk Jen
"ya udah deh" Axel berhenti di pinggir jalan dan membiarkan Jen turun.
"Yang pakai ini" kata Axel menyerahkan jaketnya
"buat apa? udah deket" kata Jen yang sudah naik di bonceng Sasa
"buat nutupin kaki kamu. Enak aja kamu mau pamerin. Apa sekalian aja pakai bikini?" kata Axel ketus
"iya maaf lupa" Jen menerima jaket Axel
"kita duluan ya" pamit Jen
"iya" jawab Axel kembali ke mobil
"Jen kenapa sih gak bareng sampai sekolah?" tanya Sasa
"males ah, nanti kaya kemarin lagi" Jen
"biarin kali Jen, kalau gue jadi elo ya malah gue pamerin sekalian. Biar pada kaya cacing kepanasan" Sasa
"dih elo gak mikir kalau Bayu yang di rendahkan di sini, gue juga dikira gak bersyukur udah punya Bayu" Jen
"ow iya, eh tapi salah lo juga sih langsung menghindar gitu aja sama Bayu" Sasa
"kalau gak menghindar, gimana gue bisa move on."
"tapi kan bisa perlahan Jen, bukan kaya lo langsung putus terbang gitu"
"terus perasaan suami gue mau di kemana kan hhm?"
"ya minta pengertian nya dong"
"kalau dia melakukan hal yang sama?" tanya Jen
"gak mungkin"
"semua itu penuh dengan kemungkinan Sasa. Yang gak mungkin itu lo jilat kuping lo sendiri" Jen
"lo besok jadi pengacara aja Jen" Sasa
"kenapa?"
"gak ada yang bisa debat sama lo" Sasa
"masa??" tanya Jen
"iya kecuali garwo lo itu" Sasa
"kalau itu gak bisa di lawan Sa"
"kenapa?"
"ya dosa dan kualat lah masih di tanya" Jen
"hahaha lupa" kata Sasa memarkirkan motornya.
"seru amat kalian?" tanya Tamara yang sudah menunggu
"Tam lawan Jen debat deh, gue pusing" Sasa
"debat apa?" Tamara
"gak tahu tuh anak, masa iya gue di suruh pamer kebersamaan dengan garwo" Jen
"ya gak papa juga Jen," Tamara
"gak sekarang deh Tam" Jen
"ya udah, kita masuk yuk" Sasa
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kelas. Mengikuti pelajaran demi pelajaran. Saat jam istirahat Jen memilih di dalam kelas dengan memesan makanan dari luar. Di sana ada beberapa murid yang memang tidak keluar kelas.
"Jen, gue masih penasaran sama lo dan Axel" kata Ari yang duduk di depan meja Jen dengan Sasa. Biasanya Ari akan merecoki ketiga gadis itu makan.
"gak usah penasaran" jawab Jen merebut ayamnya yang di pegang Ari.
__ADS_1
"kalian pacaran kan?" tanya Ari di sela makannya.
"enggak" Jen
"gak mungkin ya Tam?" tanya Ari pada Tamara tapi tangannya mengambil ayam Tamara.
"gue percaya sama Jen. Sini in ayam gue" Tamara
"Jen gue udah tahu rumah lo, tapi kemarin beberapa kali gue lihat lo keluar dari rumah Axel pas mau berangkat sekolah. Sa motor Jen sekarang ganti metik gede warna hitam kan?" tanya Ari pada Sasa
"iya, tapi lo gak bisa minta ayam gue" kata Sasa sambil mengangkat kotak makanan nya.
"yah pelit kalian" kata Ari menggigit jari
"beli sendiri," Jen
"lo gak pesenin gue, jahat amat" Ari
"ye, mana gue tahu" Jen.
"tapi Jen jawab dulu, lo kenapa pagi pagi di rumah Axel?"
"lo salah lihat" kata Jen beranjak membuang sampahnya.
"kalian pasti tahu kan? tanya Ari
"ENGGAK" Jawa Sasa dan Tamara bersama
"gue yakin pasti ada sesuatu" Ari beranjak keluar kelas.
.
.
.
.
Waktunya pulang sekolah, ternyata hujan. Dan tidak mungkin Jen ikut Sasa naik motor. Karena memang Sasa tidak bawa jas hujan, begitu juga dengan Tamara. Sambil menunggu hujan reda, Jen, Tamara dan Sasa duduk di depan kelas.
"gimana nih Sa?" Tamara
"ya nanti terpaksa nya kita naik taksi aja Tam" Sasa
"ide bagus apaan, gue gimana?"
"kan lo bareng garwo lo" Tamara
"tapi kan" kata Jen
"Jen" panggil Axel
"i...iya" Jen
"ayo pulang" ajak Axel
"tapi garwo" Jen
"Yang" Axel menaikkan satu oktaf suaranya
"iya, gue duluan" Jen pamit kepada dua temannya.
"kita juga ke depan deh" kata Sasa
Mereka pun berjalan ke arah parkiran, jika parkiran mobil tinggal lurus sedang kan parkiran motor belok kanan. Banyak siswa siswi yang masih berada di sana menunggu hujan reda. Jen berjalan di belakang Axel bersama kedua tamannya. Terlihat Dio datang membawa satu payung menghampiri mereka.
"beb biar aku antar aja" kata Dio pada Sasa
"tapi Tamara" kata Sasa
"sama gue" saut Satria yang muncul di belakang mereka.
"gue naik motor aja gak papa" Tamara
"gak ada penolakan" kata Satria dan Tamara hanya pasrah
"ayo Yang" kata Axel yang sudah membuka payungnya. Tadi Axel meminjam payung Dio utuk mengambil payung di mobil.
Jen pun mendekati Axel karena payung Axel tidak terlalu besar. Axel pun memeluk Jen dan berjalan perlahan.
"garwo" panggil Jen dan sedikit mendongak memandang Axel
__ADS_1
"ini hujan Yang, aku gak mau kamu basah" kata Axel yang juga memandang Jen.
Jen mengangguk dan mereka meneruskan langkahnya.
"wah dapet nih gambar mereka" kata Sasa
"lo foto?" Tamara
"iya sweet banget mereka" Sasa
"nanti lo fotoin kita ya" pinta Sasa
"wajib?" Tamara
"iya pokoknya harus yang bagus" Sasa
Akhirnya Sasa dan Dio pun berjalan ke mobil dio dengan Sasa mengandeng lengan Dio. Seperti permintaannya Tamara mengambil foto mereka. Setelah Sasa dan dio masuk ke mobil tinggal Tamara dan Satria.
"udah?" tanya Satria pada Tamara
"udah," Tamara menyimpan ponsel nya.
"gue gak bawa payung, pakai jaket gak papa kan? mobilnya juga deket dari sini" Satria melepaskan jaketnya untuk memayungi mereka berdua.
"iya" kata Tamara memandang Satria
Kenapa gue nyaman, jantung gue. Sat maafin gue, dan saat ini gue sadar ada ketulusan di mata lo. Tapi kenapa lo menghindar. Batin Tamara
Tamara perasaan gue masih sama. Tapi gue masih kecewa sama lo. Biar kan perasaan ini seperti ini dulu. Batin Satria yang juga memandang Tamara
"ayo" kata Satria yang sudah bersiap.
"iya" Tamara
Sasa yang masih di dalam mobil pun mengambil gambar Tamara dan Satria.
"mereka cocok ya beb" Dio
"iya, tapi kenapa Satria menghindar?" Sasa
"aku gak tahu beb, mungkin Satria butuh waktu. Tapi aku yakin kalau Satria masih rasa sama Tamara."
Sedangkan di tempat para siswa siswi yang berteduh tadi terlihat heboh dengan kemesraan Jen dan Axel. Mereka di buat syok karena di depan mata mereka, Axel menunjukkan kedekatan nya dengan Jen. Banyak yang iri dengan pasangan itu.
"Gan Jen" Kata Mira sambil menghentakkan kakinya dan tangannya terkepal.
"mereka sweet banget ya Deb" kata Beti pada Debora
"iya gue ikut meleleh dengan tiga pasangan itu" jawab Debora
"kalian berdua" kata Mira
"maaf Mir keceplosan habis mereka itu sw" Beti
"BETI" bentak Mira yang memotong ucapan Beti
"kenapa harus si ganjen itu sih. Apa coba lebihnya cewek bar bar itu" Mira
"sabar Mir" Debora
"gak bisa, gue harus bikin dia kapok dan menjauh dari Axel" Mira.
Sedangkan di dalam mobil Axel, Jen sedang membenarkan posisi duduk nya.
Duar ⚡⚡⚡⚡⚡⛈️⛈️⛈️
"BUNDA" teriak Jen saat mendengar petir yang tiba tiba menggelegar. Jen juga menutup wajahnya dan sedikit menunduk.
"Yang" Axel memegang bahu Jen
"hiks hiks hiks" suara tangis Jen yang takut
"Jen, kamu tenang ya." kata Axel menarik Jen kedalam pelukannya.
"aku takut garwo" Jen di sela tangisnya
"ada aku oke." Axel mengelus punggung Jen.
Setelah beberapa saat dan Jen mulai tenang Axel melepaskan pelukannya.
"kita pulang sekarang ya" Axel menghapus air mata Jen dan Jen mengangguk.
__ADS_1
Axel mulai melajukan mobilnya perlahan menuju rumah mertuanya. Sedangkan Jen duduk menghadap Axel dan memeluk bantal.