Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Pekerjaan rumit


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Jen menghabiskan liburannya di rumah, ia terlalu malas untuk pergi. Sesekali ia juga ikut mamahnya ke toko, berbeda dengan Axel yang sibuk pergi ke kator juga mengurus bisnisnya. Tapi Jen tidak mempermasalahkan itu, itu semua Axel lakukan juga demi dirinya dan juga anaknya.


Terkadang Axel yang merengek untuk menghabiskan waktu bersama, tapi pekerjaan yang menumpuk mengharuskan dirinya bekerja ekstra. Seperti pagi ini, Axel di buat pusing dengan pekerjaan kantor nya, sedangkan papah ada urusan di luar kota.


"Dodi gue beneran buntu" kata Axel yang duduk di meja kerjanya.


"ayo lah Xel, cari titik permasalahannya. Biasanya lo paling sigap" Dodi


"lo bantu dong" Axel


"gue juga udah bantu, tapi ini masih belum bisa di terima om Al" Dodi


"kenapa papah mempersulit pekerjaan anaknya sih" Axel mengacak rambutnya


"mungkin om Al pengen lo jadi pemimpin yang hebat, udah lah gak usah ngeluh baru juga satu masalah" Dodi


"satu masalah gundulmu kuwi (kepalamu itu), ini masalah yang besar yang pernah gue hadapi. Masalah yang akan membawa kerugian yang besar jika gue salah langkah." Axel


"makanya fokus dong, jangan marah mulu. Nanti sore sudah harus jadi ini. Kalau enggak kita kek" Dodi memeragakan tangannya memotong leher


"ish" Axel menyambar ponselnya dan menghubungi Jen.


📞


Iya mas


"sayang kamu ke kantor ya" rengek Axel


"dih dah kaya bocah minta permen aja lo" kata Dodi yang geli melihat Axel


"diem lo, pergi sana" Axel


📞


ngapain?


"pokoknya aku mau kamu kesini sekarang" Axel


📞


tapi mas, aku baru mau nyamperin Sasa


"besok aja, pokoknya kamu harus datang. Aku tunggu"


tut


Axel mematikan sambungan teleponnya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerja dan menutup matanya.


"gue balik ke ruangan deh, suram liat lo kek gini" Dodi


"pergi sono yang jauh, jangan lupa kerjaan lo" Axel


"kalau gue pergi jauh, ogah mikir kerjaan tau" Dodi cekikikan dan meninggalkan Axel.


Axel kembali berkutat dengan dokumen juga laptopnya. Sedangkan Jen baru sampai kantor setelah satu jam Axel menghubungi nya tadi. Sapaan demi sapaan para karyawan di balas Jen dengan senyum ramahnya. Sudah banyak yang tau kalau Jen adalah istri Axel. Jen langsung menuju ruang kerja Axel, disana terlihat Yulia sekretaris papahnya sibuk dengan pekerjaannya.


"Mbak Jen" sapa Yulia


"iya mbak, mas Axel ada?" Jen


"ada mbak, masuk aja" Yulia


Enaknya Jen itu, bisa dapetin Axel. Gue naksir dari dulu aja dilirik enggak. Tadi juga mas Axel minta gak mau di ganggu dua jam kedepan setelah istrinya datang, mau ngapain coba. batin Yulia yang sebenarnya iri dengan Jen.

__ADS_1


ceklek


Jen masuk ruangan Axel dan kembali menutup pintunya.


"kunci Yang" kata Axel yang tadi sempat mendongak melihat siapa yang datang.


"Kenapa?" tanya Jen yang diam di tempat.


"aku lagi gak mau di ganggu, kunci dulu pintunya" Axel


Jen pun menurut dan mengunci pintunya. Setelah mendekat, Jen di minta duduk di p*ngk*an Axel. Setelah Jen mengikuti permintaan nya, Axel langsung memeluk erat istrinya itu. Jen heran kenapa suaminya bersikap seperti itu. Ia hanya mengelus kepala Axel pelan.


"ada masalah,?" tanya Jen


"enggak, aku hanya sedikit pusing. Dan aku sangat merindukanmu" Axel


"masa? manja amat sih," Jen masih mengelus Axel


"iya sayang, beri aku sedikit semangat" Axel


"caranya?" tanya Jen, dan Axel pun memajukan bibirnya. Sudah di pastikan akan ada pertemuan antara b*b*r itu.


"kenapa gak ada kancingnya" Axel terlihat cemberut saat meraba baju Jen yang memang tidak ada kancingnya.


"enggak, kan ada resleting di belakang" kata Jen lembut.


"ish kenapa sih semua di buat susah" Axel begitu kesal dan menyandarkan kembali tubuhnya di kursi. Ngomong ngomong kursinya kuat sekali menahan beban dua orang sekaligus 🤭.


"kamu kenapa sih? kok kesel gitu" tanya Jen lembut


"aku tuh pusing Yang mikir kerjaan. Pengen juga, tapi baju kamu kek gini"


"kan aku gak tau maksud kamu mas, kamu tadi cuma minta aku kesini gak bilang apa-apa lagi." kata Jen. Saat ini Jen menggunakan dress sebatas lutut dengan lengan panjang, berwarna pink.


"tadi ada Dodi, masa iya aku mau ngomong" Axel


"ayo ke sana aja" ajak Jen dan Axel tersenyum.


Sesampainya di sebuah kamar Axel menutup pintu, Jen menaruh tasnya di sebuah meja. Axel segera meminta sesuatu yang beberapa hari ini tidak ia lakukan.


Aku tau beberapa hari ini kamu begitu sibuk dan pulang malam. Aku tau ini bentuk tanggung jawab mu sebagai suami. Dan aku sebagai istri juga harus pandai memahami situasi ini. Memanjakan kamu seperti ini tidak ada salahnya kan? aku harap hanya aku yang bisa menjadi obat lelah dan penambah semangat kamu mas. Batin Jen yang memandang dalam Axel.


Axel mengajak Jen jalan jalan ke puncak gunung. Ia meminta Jen melakukan apa saja yang ia inginkan, untung nya Jen menurut. Itu semua menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Axel, akhirnya dua kali mereka sampai puncak Axel mengajak Jen beristirahat.


"kamu capek?" tanya Axel


Jen tersenyum tidak ingin membuat Axel kecewa dengan jawaban iya.


"ya udah cukup kalau gitu. Yang, selama ini baru kali ini kita jalan jalan siang apa pagi ini, ternyata enak juga." Axel tersenyum lebar


"tapi masa iya siang bolong gini" Jen


"ih tapi beneran beda rasanya Yang"


"beda gimana?"


"gak tau, aku tambah happy aja."


"kamu happy, aku juga happy mas"


"tiap siang satu kali aja aku mau Yang" Axel


"gak ah, masa mau kaya minum obat"

__ADS_1


"maksudnya?"


"siang dan malam" Jen


"kan malamnya jarang Yang"


"udah ah aku ngantuk banget" Jen


"hehehe makasih ya sayang" Axel mengecup kening Jen.


Tidak butuh waktu yang lama Jen sudah tertidur. Perlahan Axel turun dari ranjang dan membersihkan diri. Axel membuka ponselnya setelah duduk di kursi kerjanya.


"untung udah gue silent," gumam Axel yang melihat banyak panggilan dari Dodi.


Axel kembali berkerja, ia sudah menemukan titik terang permasalahan nya. Namun suara ketukan pintu membuatnya hilang fokus. Axel memencet tombol di sebuah remote dan pintu pun sudah bisa di buka.


"masuk" Axel


"elo kemana aja sih," kesal Dodi setelah masuk


"berisik lo, ada apa?" Axel


"gue seperti nya ragu dengan yang ini,.." Dodi memperlihatkan kecurigaan nya, ternyata yang di tunjuk Dodi sudah di selesai kan oleh Axel terlebih dulu. Dan ternyata benar, semua sudah ter atasi dengan baik,


"lo telat" Axel


"mana gue tau kalau lo udah ketemu, orang dihubungi aja gak di angkat. Pakai acara gak mau di ganggu. Ngapain sih" Dodi


"suka suka gue" kata Axel


"tunggu deh, lo tambah seger aja, abis mandi? keramas lagi," Dodi curiga


"udah sana makan siang, keburu habis jam makan siang nya," Axel


"ck ck ck jujur aja kenapa sih" Dodi berdecak


"mood gue lagi bagus nih, dan gue gak mau debat sama lo" Axel


"hahaha bisa bisanya lo ya" kata Dodi dan beranjak keluar ruangan Axel.


Pukul dua Jen baru bangun, ia memanggil Axel untuk masuk kedalam kamar.


"apa sayang?" Axel ikut merebahkan diri di samping Jen, membelai wajah Jen.


"laper" Jen


"mau makan apa?"


"nasi Padang"


"kamu mandi biar aku pesenin" kata Axel dan di angguki Jen.


Setelah beberapa saat pesanan Axel sudah datang, mereka makan bersama karena Axel juga lapar.


"kamu pulang bareng aku ya Yang" kata Axel


"emang kamu pulang jam berapa?"


"aku usahakan sore deh, setelah ketemu papah"


"papah belum kembali?"


"udah, baru aja sih. Habis ini aku mau ke ruangan papah dulu"

__ADS_1


"ya udah kalau gitu" Jen.


Axel dan Dodi sudah duduk di hadapan papah. Axel membuka laptop nya dan mulai menjelaskan hasil kerjanya beberapa lalu. Papah dan Dodi menyimak dengan seksama apa yang di jelaskan Axel.


__ADS_2