Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Menyadari


__ADS_3

Bunda tersenyum lega karena putri semata wayangnya sudah bisa menerima perjodohan ini.


"bun, kok Jen bisa disini? bukanya tadi malam Jen tidur apartemen?" tanya Jen


"tadi Axel yang bawa kamu kesini, kamu tidur udah kayak hibernasi" kata bunda sambil menoel hidung Jen.


"bunda, masa anaknya dibilang beruang" kata Jen cemberut


"bunda gak bilang kamu beruang sayang"


"itu tadi hibernasi? kan beruang"


"hehe kan lucu sayang, masa kamu gak kerasa sih di gendong Axel"


"enggak bun, emang jam berapa?"


"bunda lupa, jam tiga apa setengah empat. Tadi bunda juga baru datang" jelas bunda dan Jen mengangguk


"Axel ngomong apa bun?" tanya Jen ragu


"ngomong apa?" tanya bunda kembali


"enggak hehe" Jen tertawa kikuk


"Jen, sebagai istri kita harus peka. Kita harus tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Yang benar dan salah. Karena terkadang yang menurut kita benar tapi buat pasangan itu salah, kita perlu saling bertukar pendapat. Supaya mendapatkan jalan tengahnya. Kita perlu koreksi diri kenapa pasangan kita berubah, kalau ada salah dari kita ya minta maaf. Kalau kita atau pasangan diam dan tidak mau membahas tentang permasalahan yang ada itu ada beberapa kemungkinan." kata bunda


"kemungkinan apa bun?"


"Mungkin kita butuh waktu untuk menenangkan diri dan mengoreksi, apakah penyebab permasalahan itu sebenarnya dari kita sendiri. Mungkin kita sudah berada di titik pasrah dan terserah. Mungkin kita berada di titik kecewa. Mungkin kita akan menyampaikan permasalahan ini setelah semua kembali normal, jadi lebih santai dalam menghadapi permasalahan." jelas bunda


Jen hanya terdiam, ia mengingat apa yang sudah ia lakukan terhadap Axel. Bunda yang tahu itu pun memegang tangan Jen yang berada di pangkuannya.


"Sayang, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita menyelesaikan masalah itu. Kamu ada masalah sama Axel?"


Jen menunduk dalam. Bunda menarik Jen dalam pelukannya.


"kalau mau cerita sama bunda boleh, tapi kalau tidak ya tidak masalah. Kamu sudah berumah tangga, bunda tidak harus ikut campur dengan masalah rumah tangga kamu. Kecuali kamu meminta bantuan dan pendapat dari kami para orang tua"


"bunda, Jen mau cerita tapi bunda jangan marahi Jen. Jen bingung ini untuk pertama kalinya Jen berada dalam masalah dengan pasangan."


"cerita lah nak, bunda ada buat kamu"


Jen mulai menceritakan tentang Axel yang menghampiri di unit Sinta dan sampai disini.


"apa kamu yakin tidak membuat kesalahan?"


"em apa Axel tahu tentang Jen yang ikut balapan tadi malam ya bun?" kata Jen pelan


"pasti tahu Jen, kamu bilang ke Axel gak kalau mau balap liar? bukan hanya Axel, bunda juga akan marah kalau tau itu. Coba di ingat dulu ayah gimana saat tau kamu ikutan balap dan berbohong kepada kami?" bunda


Jen terdiam dan mengingat semuanya, ia benar benar baru menyadari apa yang ia lakukan itu tidak benar sekarang. Kalau dulu masih bisa di bilang kenakalan remaja, hanya orang tua yang ia buat kecewa bahkan malu. Tapi sekarang ada suami dan mertua yang juga akan merasa seperti itu.


"bunda" kata Jen yang sudah menangis dan memeluk sang bunda.

__ADS_1


"maafin Jen bun"


"bunda sudah janji akan mendampingi dan mengajarkan kamu untuk menjadi istri yang baik. Walaupun bunda marah sama kamu tapi bunda akan selalu memaafkan kamu. Yang pantas kamu mintai maaf adalah suami mu, dan juga dengan mertuamu." kata bunda sambil mengelus punggung Jen


Jen yang masih menangis di pelukan bunda pun serasa sangat bersalah.


"Jen" panggil ayah yang sedari tadi ternyata beda di ambang pintu


"ayah" sapa Jen dan melepas pelukannya. Ayah berjalan mendekat dan duduk di samping Jen. Jen memeluk ayahnya


"maafin Jen yah" kata Jen


"ayah seperti bunda, akan selalu memaafkan kamu. Jangan di ulangi lagi Jen. Kamu sudah bersuami. Tidak pantas seorang istri membohongi suami. Kalau terjadi sesuatu dengan kamu bagaimana?. Banyak yang akan sedih dan pasti suami mu akan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Kamu belajar dari sini ya Jen," nasehat ayah


"iya ayah, Jen akan berusaha dan berubah"


"Nurut sama suamimu ya Jen. Berilmu atau minim ilmu dia adalah imam mu. Baik dan buruknya dia adalah ayah dari anak anakmu. Dia akan berusaha keras untuk menafkahi kamu dan anak kalian. Hargai suamimu Jen" Ayah


"betul kata ayah Jen, kamu harus memikirkan suami dan meminta pertimbangannya dalam hal apapun" bunda


Jen mengangguk paham, ia melepaskan pelukannya dengan sang ayah. Bunda menghapus sisa air mata Jen.


"bun ayah laper" kata ayah


"bunda ke dapur dulu ya sayang." pamit bunda pada Jen


"iya bun" Jen


"kamu udah sarapan Jen?" tanya ayah


"semarah marahnya suami pasti akan luluh dengan istri yang tulus meminta maaf." ayah


"Jen akan menerima konsekuensinya yah" Jen


"ayah selalu ada di belakang mu" kata ayah sambil beranjak.


Setelah kepergian ayah dan bunda nya, Jen kembali merenung. Sudah saatnya ia memikirkan masa depan bukan menuruti ego.


.


.


.


Di bandung, Axel dan Johan sedang berada di sebuah lahan yang akan di gunakan untuk membangun bengkel. Setelah meeting dengan pihak properti, Axel di minta untuk meletakkan batu pertama pada pondasi bangunan. Selesai dengan urusannya Axel memutuskan untuk duduk di tempat yang memang di sediakan untuk istirahat para kuli bangunan.


"gue lihat gak ada semangat lo" kata Johan


"iya bang," Axel


"masih masalah semalam?" tanya Johan dan Axel mengangguk


"kalau udah suka itu sulit Xel, contohnya abang ini"

__ADS_1


"bukanya aku melarang Jen untuk melakukan kesukaannya bang."


"terus?"


"tidak jujurnya yang buat kecewa bang"


"sabar Xel, Jen masih labil. Jiwa mudanya juga sangat berkobar. Kamu maklumin aja, Abang yang udah nikah beberapa tahun juga masih sering berantem. Apa lagi kalian di jodohkan, buat terima kenyataan aja butuh waktu." kata Johan


"iya bang, makasih" kata Axel


"udah selesai, mau pulang langsung?" Johan


"mampir makan bang"


"siap bos" Johan memberi hormat kepada Axel


"apaan sih bang" kata Axel sambil tersenyum


"tuh ganteng kalau senyum, jangan pasang muka jutek kaya tadi. Gak enak liatnya"


"nanti banyak yang naksir repot bang"


"buahahaha" Johan tertawa


Pukul empat lebih tiga belas menit Axel sudah sampai di rumah Ayah. Setelah memarkir kan mobilnya, Axel masuk ke dalam rumah.


"assalamualaikum" Axel


"wa'alaikumsalam den. Mau mbok bikinin minum?" tanya mbok Jum


"boleh mbok, kok sepi mbok?" tanya Axel


"ibu sama bapak masih istirahat di kamar. Kalau non Jen tadi ketiduran di halaman belakang den" jelas mbok Jum


"ya udah saya lihat Jen dulu mbok"


Axel menuju halaman belakang. Jen masih tertidur di sofa. Axel bisa melihat mata Jen yang masih sembab, bahkan hidung dan mulutnya masih terlihat merah.


Kamu habis nangis? lucu banget. Batin Axel


Perlahan Axel mengecup bibir Jen sekilas.


"Garwo, aku kangen" Jen mengigau.


"aku juga kangen" gumam Axel sambil memandang Jen.


Axel mengangkat tubuh Jen untuk di bawa ke kamar tamu. Karena lelah seperti nya Axel malas untuk naik ke kamar Jen yang di atas.


"den, ini minum nya" kata mbok Jum yang tadi mengikuti Axel


"makasih mbok" Axel


Setelah menghabiskan segelas jus jeruk dan membersihkan diri, Axel merebahkan tubuhnya di samping Jen. Karena memang kurang tidur dan capek, Axel langsung tertidur pulas. Jen yang terbangun jam lima sore pun tersenyum saat melihat Axel yang tidur di sampingnya.

__ADS_1


Rasanya bahagia dengan perhatian Axel, tapi juga sedih karena Axel cuek padanya. Biasanya Axel akan memeluk dirinya saat tidur, tapi kali ini dia tidur tengkurap. Dari semalam Jen tidak merasa kan sentuhan lembut yang biasa Axel lakukan. Wajar jika saat seperti ini walaupun dekat tapi tetap Jen sangat merindukan Axel.


Jen tidak berani menyentuh Axel, takutnya menganggu istirahat Axel. Jen tahu Axel pasti kurang tidur.


__ADS_2