Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Maaf Garwo


__ADS_3

Setelah mencuci muka Jen keluar kamar.


"loh Jen kamu kok di kamar tamu?" tanya bunda heran


"iya bun, tadi Axel yang pindahin Jen kesini. itu Axel masih tidur" jelas Jen


"oh bunda kira" kata bunda sambil memperlihatkan barisan gigi putihnya.


"kira apa bun?"


"enggak, kamu mau kemana?" bunda


"ke dapur balikin ini" Jen menunjukkan gelas bekas jus jeruk Axel tadi.


"ya udah sekalian bantu bunda siapin makan malam" bunda


"iya bun" Jen


Sampai di dapur, terlihat mbok Jum sedang menggoreng tahu.


"mbok, tadi Axel pulang jam berapa?" tanya Jen


"jam empat lebih non" kata mbok Jum


"nanti aja, kalau mau bangunin kasihan." saran bunda


Mereka pun meneruskan masak untuk makan malam. Jen memutuskan ke kamarnya untuk mandi. Setelahnya ia ke kamar tamu untuk membangunkan Axel. Masih dengan posisi yang sama Axel tidur. Perlahan Jen mendekati dan duduk di samping Axel.


"Garwo bangun" kata Jen sambil membelai pelan bahu Axel yang tanpa baju itu.


"jam berapa?" gumam Axel


"udah mau jam setengah tujuh,"


Axel pun membalikkan badannya, dan masih memejamkan matanya. Jen hanya memperhatikan Axel.


"kamu masih ngantuk? apa nanti aja makan malam nya?" tanya Jen lembut


"kamu duluan aja ke meja makan, aku mandi dulu" kata Axel


"ya udah, aku udah siapin baju ganti kamu di kamar atas. Apa mau aku bawakan ke sini?"


"aku ke atas aja" kata Axel sambil duduk


"em, aku ke meja makan dulu" kata Jen yang sedikit canggung.


"setelah makan malam kita pulang kerumah ya, mamah sama papah udah pulang. Aku gak bawa seragam sekolah." kata Axel


"iya," kata Jen yang berhenti di ambang pintu.


Di meja makan pun Axel dan Jen tidak banyak bicara. Hanya ayah dan Axel yang saling menanyakan bisnis. Seperti yang sudah di rencanakan tadi, selesai makan malam Jen dan Axel pamit pulang.


.


.


.


Di dalam mobil yang di tumpangi Jen dan Axel terasa hening. Bahkan sampai setengah perjalanan tidak ada yang membuka suara. Mereka tenggelam pada pikiran masing-masing.


"garwo" panggil Jen pelan


Axel melirik ke arah Jen tanpa berkata apapun.


"em maafin aku garwo" kata Jen melihat ke arah Axel.


Perlahan mobil yang mereka tumpangi, semakin pelan dan berhenti di tepi jalan yang sepi. Axel menyandarkan tubuhnya di kursi, pandangannya melihat jauh ke depan.

__ADS_1


"aku tahu aku sangat salah, aku kurang ajar sama kamu. Aku belum bisa jadi istri yang kamu harapkan. Maafin aku Axel" Jen menunduk dalam


"kamu boleh marah sama aku, tapi aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Aku gak bisa" Jen mulai menangis


"kamu tahu kesalahan kamu?" tanya Axel tanpa mengalihkan pandangannya, karena pasti ia akan luluh saat melihat Jen seperti ini.


"aku bohong sama aku, aku ikut balapan liar" jawab Jen terbata


"kenapa kamu lakukan itu?"


"maaf" Jen


"kamu tahu Jen, aku kecewa sama kamu" kata Axel yang memandang Jen sekilas


"aku hanya mau kita saling terbuka, apa itu sulit buat kamu. Balap liar? (Axel tersenyum kecut) Bahkan aku yang seorang cowok aja tidak pernah melakukan itu" Kata Axel


"aku tahu, aku harus menerima kekurangan juga kelebihan kamu. Apa karena aku diam kamu menganggap aku tidak tahu?" tanya Axel


"aku harus bagaimana untuk bisa mendapatkan maaf darimu?" Jen


Axel menghela nafasnya dan melajukan mobilnya kembali. Sampai di rumah, Axel turun dan langsung ke kamar. Jen berjalan perlahan sambil menahan air matanya.


"Jen" panggil mamah


"mamah" Jen menghampiri dan memeluk mamahnya


"kenapa sayang?" tanya mamah lembut saat merasa tubuh Jen bergetar


"maafin Jen mah, pah. Jen udah buat mamah, papah, dan Axel kecewa." kata Jen


"kami udah tau semuanya Jen, bukan kami ikut campur dalam masalah kalian. Tapi di sini kita yang lebih pengalaman, jadi sebisa mungkin kita ingin yang terbaik buat kalian. Kami sudah maafin kamu Jen, papah anggap itu biasa. Karena papah tahu, masih sangat sulit untuk kamu langsung meninggalkan kebiasaan lama. Perlahan pasti kamu bisa." kata papah


"iya pah terimakasih," Jen


"Jen mungkin Axel kecewa karena kamu tidak jujur. Lain kali kamu jangan menyembunyikan sesuatu yang membuat dia marah ya." kata mamah


"tadi Jen udah minya maaf, tapi Axel masih diam aja mah. Aku takut mah" kata Jen


Jen memandang mamah yang tersenyum.


"Sini kamu ikut mamah." Mamah mengandeng Jen ke kamar.


Baru kali ini Jen masuk ke kamar mertuanya. Jen dan mamah duduk di tepi ranjang.


"kamu beneran mau berusaha minta maaf sama Axel kan sayang?" tanya mamah


"iya mah,"


"tapi sayang, ini memang cara jitu. Tapi apa kamu siap?"


"memang gimana caranya mah?"


Mamah membisikkan sesuatu ke telinga Jen, yang membuat Jen terdiam.


"gimana sayang?" tanya mamah


"pasti berhasil mah?"


"seharusnya sih iya" kata mamah yakin


"apapun deh mah, asal garwo gak marah sama Jen" kata Jen yakin


"oke kalau gitu, sudah siap?"


"siap mah".


Semoga satu persatu masalah gue cepat selesai. Gue mau malam ini masalah ku dengan Axel selesai. Besok gue harus bilang sama Tamara. Batin Jen

__ADS_1


Sedari tadi sejujurnya Jen menghubungi Tamara, namun sayang chat atau pun panggilan dari Jen tidak ada respon dari Tamara. Bahkan Sasa dan Sinta pun tidak berhasil memberikan pengertian kepada Tamara.


.


.


.


tok tok tok


"iya" jawab Axel dari dalam kamar


"papah" sapa Axel setelah membuka pintu


"ikut papah sebentar Xel"


"kemana pah?"


"ruang kerja papah sebentar"


"iya pah"


Axel dan papah menuju ke ruang kerja papah. Disana papah menanyakan soal pembangunan cabang bengkel yang di bandung. Tidak hanya itu Axel juga membahas tentang bisnis hotel yang di Bali. Mereka berdua larut dalam obrolan bisnisnya.


Sedangkan Jen dan mamahnya mempersiapkan untuk meluluhkan hari Axel yang sedang membeku. Mamah sudah hafal dengan sifat Axel, jika dia marah pasti akan diam. Dari sini mamah memberitahu Jen tentang kebiasaan Axel saat marah, dan bagaimana cara meluluhkan nya.


Dulu mamah yang selalu merayu Axel, memberi pengertian dan menegur. Tapi karena ini urusan rumah tangganya dan Axel sudah beristri. Jadi biar istrinya yang merayu Axel. Mamah hanya perlu menyalurkan bakatnya.


"mah kok Jen deg deg kan ya?" Jen


"relaks sayang, kamu harus terlihat natural ya" saran mamah


"tapi Jen takut"


"tidak ada yang perlu kamu takutkan. Tekat kan saja untuk meminta maaf. Semua akan baik-baik saja."


"gitu ya mah,"


"iya sayang, uh mamah udah gak sabar pengen lihat reaksinya Axel" kata mamah senyum senyum


"mamah ih, Jen jadi malu" Jen


"harus percaya diri, kamu itu cantik dan pasti bisa. Tidak ada salahnya kan melakukan ini demi suami?"


"iya mah, huh huh tenang tenang" Jen membuang nafasnya untuk menghilangkan rasa grogi nya.


"mamah tinggal ya?" pamit mamah


"iya mah"


"ingat Jen, bersikap biasa dan jangan grogi. good luck ya" kata mamah mengedipkan sebelah mata


"iya mah makasih ya mah," jawab Jen


Jen mondar-mandir di kamar sambil komat-kamit baca mantra.


Semua akan baik-baik saja, yang terjadi biarlah terjadi. Apapun hasilnya nanti, yang penting gue sudah berusaha. Ya Allah mudah mudahan ini jalan yang terbaik. Batin Jen


"kayaknya aman deh gue gak punya tugas sekolah, gue beresin dulu deh mapel besok. Sambil nunggu Axel." Jen menuju meja belajarnya dan memilah buku dan di masukkan ke dalam tas sesuai jadwal.


Saat Jen sedang duduk di meja belajar, ia melihat buku Tamara yang kebawa dirinya.


Maafin gue Tam kalau gue menyinggung lo. Gue gak bermaksud, gue harap lo mau dengerin penjelasan gue.


"huh, rasanya ada yang kurang Tam." gumam Jen. Ia mengingat masa-masa di mana dirinya sering bercanda dengan Tamara.


Ceklek

__ADS_1


Suara pintu terbuka.


#🤭✌️ Penasaran ya....?


__ADS_2