
Hari ini hari senin dimana semua siswa-siswi SMA ALFAM akan menjalani ujian tengah semester. Semua murid di acak dan di tempatkan di ruangan sesuai kartu ujian. Satu kelas sama berisi tiga puluh murid, tapi bedanya sekarang ada dua kelas yang berbeda di jadikan satu. Lima belas murid dari kelas IPS dan lima belas murid dari IPA.
Pagi ini Jen sedikit kesiangan karena motornya tiba tiba habis bensin. Dan akhirnya Jen ikut di mobil sang Ayah.
"ayah, Jen turun dulu ya," pamit Jen sambil menyalami sang ayah
"iya kerjakan soal dengan fokus," jawab ayah
Jen sedikit berlari karena gerbang sudah mulai di tutup.
"STOP" teriak Jen karena gerbangnya akan bersatu dan di kunci. Mendengar teriakan pak satpam pun berhenti dan melihat ke arah Jen. Begitu pula Axel yang berada di gerbang sang satunya.
"maaf ya, " kata Jen nyengir. Kemudian ia berjalan miring karena jarak kedua gerbang mungkin tinggal setengah meter.
"hampir aja mb Jen" kata pak satpam yang sudah hapal dengan Jen
"iya pak untung aja, ya udah bye,,,," pamit Jen kemudian berlari mencari ruang delapan dimana ruang itu yang akan di tempati Jen.
Setelah muter-muter beberapa ruang kelas ternyata belum ketemu.
"duh mana sih," Jen sedikit panik karena para murid sudah mulai masuk kelas
bruk...
"eh maaf" kata Jen
"gak papa," jawabnya sambil tersenyum
"eh ketos lo tau ruang delapan gak?" tanya Jen. Yang tidak sengaja di tabrak Jen adalah Axel
"di lantai atas paling ujung kanan" kata Axel menunjuk ruangan yang di lantai dua.
"oh, oke thanks" kata Jen langsung naik tangga dengan terburu buru. Axel hanya menggelengkan kepalanya.
"ih mana tempat pensil gue," kata Jen yang bingung mencari tempat pensil. Karena aturan masuk ruangan hanya di perboleh kan membawa alat tulis dan penghapus.
Jen celingukan mencari orang tapi semua udah pada masuk kelas.
"duh gimana ya. shut ketos" panggil Jen lagi
Axel hanya melihat ke arah Jen seperti ber isyarat "apa"
"em, lo bawa pensil dobel gak? punya gue ketinggian" kata Jen ragu
"lain kali yang teliti, nih" kata Axel menyodorkan pensilnya.
"iya, maaf ngerepotin.Gue masuk dulu" kata Jen dan di jawab anggukan Axel.
Terlihat pintu ruangan masih terbuka. Dengan PDnya Jen berjalan dan celingukan mencari bangku kosong. Setelah melihat Jen pun akan berjalan menuju ke sana.
"Jennaira" panggil pak Budi yang melihat Jen
"eh pak Budi,, bu Siti" sapa Jen nyengir.
"sini maju, kamu telat kan" perintah pak Budi
"bentar doang pak," jawab Jen sambil melangkah ke tempat dimana yang di tunjuk pak Budi.
"kamu pimpin doa" pak Budi
Jen menarik nafas lega dan menggangguk.
__ADS_1
"ekhem,,,,,, Oke everybody. Before we start working on the problem, it's better if we pray together fist" Kata Jen lantang dan setelah itu mereka menundukkan kepala untuk berdoa.
"finished" kata Jen dan mereka semua mengangkat kembali kepalanya. Jen melirik ke arah pak Budi yang memberi isyarat untuk duduk.
"wah Jen, sarapan apa lo lancar amat bahasa Inggris nya." celetuk Ari.
"growol" jawab Jen cuek
"hah apa?" tanya Tamara yang memang satu ruangan dengan Jen
"what is the meaning growol? ada yang tau?" tanya pak Budi
"enggak pak" jawab beberapa murid dan ada juga yang menggeleng
"sayang sekali, di rumah orang kaya pasti ada growol, karena itu makanan langka dan terfavorit, betul Jen?" tanya pak Budi
"tul cok li (betul, cocok, sekali) pak," jawab Jen
"memangnya growol itu kaya apa pak? saya baru dengar?" tanya bu Siti
"jadi growol itu, singkong di potong potong agak besar, terus di campur bekatul, di kasih garam, di rebus sebentar atau di campur air panas. Terus di taruh di dalam wadah ember." jelas pak Budi
"masak lo makan gituan Jen? beneran ada di rumah lo?" tanya Tamara
"ya enggak lah dodol, growol itu makanan sapi " jelas Jen
"kata pak Budi pasti ada di rumah orang kaya?" tanya Tamara
"kalau di Jawa kebanyakan warga yang ada di lereng Merapi. Mereka punya banyak sapi perah, sapi metal, sapi biasa. Masak kalian gak tau harga per ekor sapi, hampir dua puluh jutaan, kalau punya lebih dari satu kan udah kaya." Jelas pak Budi
"Bener juga ya," kata bu Siti.
"PAHAM" jawab semua murid
🕐🕑🕒🕓🕔🕕🕖🕗🕘🕙🕚🕛
Hening dan hanya terdengar suara jam dinding. Bel tanda setengah waktu yang di tentukan sudah terdengar.
"uhuk Jen" Ari pura pura batuk dan memanggil Jen
"no 24 dan 25" tanya Ari berbisik
" D sama A, sini liat lembar jawaban lo."
"no berapa gue bacain?" kata Bayu
"gue gak percaya, sini lu" kata Jen sambil mengepalkan tangan ke arah Ari.
"mau gak mau Ari menurut i mau Jen dengan malas"
Jen buru buru menyalin jawaban Ari. Setelah itu ia cekikikan ternyata punyanya udah selesai.
"kaka kenapa?" tanya adik kelas laki laki yang duduk satu meja dengan Jen
"gak papa, itu temenku di akalin mau aja"
"ya kaka galak banget," ceplos anak itu
"kamu takut?" Jen
"sedikit sih, tapi kalau kaka mau jadi pacar adek mah gapapa. Nanti adek jinakkin" kata murid itu sambil menyugar rambutnya.
__ADS_1
"percaya diri sekali adek?" kata Jen sedikit keras
"kenapa Jen, selesai?". tanya pak Budi
"udah pak,"jawab Jen lantang
"wah wah gak ngajak dugem lo, masa udah selesai" kata Ari tidak percaya.
"nih liat, wle" kata Jen sambil memperlihatkan lembar jawaban nya.
"bawa sini Jen, kamu boleh keluar duluan" kata pak Budi
"pakai ajian apa lo Jen" tanya Tamara
"ajian pengawuran dan ajian ngitung kancing," jawab Jen santai sambil maju ke depan
"wah gak beres nih jawaban lo Jen" panik Ari
"bener kok tenang aja" jawab Jen
"ok everybody bye...." kata Jen yang menjadi orang pertama yang keluar dengan melambaikan tangan.
"huuuuu" kata beberapa teman Jen.
Jen benar benar keluar dari ruangannya.
"gila, masih sepi, pada ngapain sih di dalem?" gumam Jen.
"gue ke koperasi dulu deh beli pensil" katanya sambil menuju koprasi.
Dan setelah balik dari koprasi Jen melihat teman temannya udah banyak yang keluar.
"eh markonah sini lo, " seru Ari
"kenapa tanya Jen mendekat, tapi saat akan melewati ruang enam muncullah Axel.
"eh ketos, nih gue balikin pensilnya" kata Jen menyodorkan pensil yang baru
"kok baru?" tanya Axel bingung
"iya gapapa tadi sekalian beli di koperasi,"
"sebenarnya gak usah juga gapapa, tapi ya udah gue menghargai. Makasih "
"gue kali yang harusnya makasih," kata jen sambil berlalu
"eh kampret lo, udah keluar duluan, asik tebar pesona lagi." kata Tamara
"haha jangan ngiri dong, nganan aja kan enak" canda Jen
"ngapain sama oppa gue?"
"pinjem pensil tadi, terus gue balikin" jawab Jen
"oh my god my god" kata Sasa yang baru keluar ruangan sembilan,
"kenapa kaya cacing kepanasan?" tanya Ari
"soalnya panjang banget, pusing gue. Mana gak bisa tengak tengok." jawab Sasa menirukan suara alay
"uh kasihan, uh kasihan, sungguh kasihan" kata Jen meniru suara Ipin Upin
__ADS_1