Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Merah dan Hitam


__ADS_3

"Axel lepasin" kata Jen merajuk


"kan udah di bilang, sayang jangan marah marah, nanti sayang cepat tua, kanda ganteng orangnya, dan banyak juga yang suka" Axel menganti lirik lagu untuk menggoda Jen.


"apaan sih, sok kegantengan banget" kata Jen menahan senyumnya


"coba kamu lihat dulu deh Yang" Axel menangkup wajah Jen dan mengarahkan untuk memandangnya. Axel tersenyum yang semakin membuatnya tambah ganteng.


emang ganteng banget sih, batin Jen yang merasa terhipnotis.


Axel yang melihat itu pun tersenyum penuh kemenangan. Perlahan Axel memajukan wajahnya dan cup. Mereka berciuman lumayan lama, bahkan Jen yang membalas ciuman Axel pun tidak menyadari nya.


"makasih ya udah mau balas ciuman ku" kata Axel setelah melepaskan tautan bibirnya


"balas?" tanya Jen bingung


"iya, kamu udah bisa balas ciumanku" jelas Axel 😁


"apa iya, kok gue gak sadar" gumam Jen


Axel kembali mencium bibir Jen, perlahan Axel mendorong tubuh Jen untuk berbaring. Jen yang menikmati ciuman Axel pun hanya pasrah dan tidak sadar kalau dirinya sudah berbaring di kasur.


"jadi mau di coba?" tanya Axel yang berada di atas tubuh Jen, dan menumpukan kedua tangannya di samping kanan kiri kepala Jen.


"ap,,, apa?" tanya Jen yang mendadak gagap


Axel memperlihatkan benda warna merah yang masih ia pegang.


"em,, ak,, aku,, be belum siap" kata Jen


"terus kapan siap nya?" Axel


"eng,, gak,, tau," Jen menutup matanya saat Axel semakin menurunkan wajahnya. Bahkan hembusan nafas Axel pun terasa di kulit wajah Jen.


"kamu tahu, melayani suami itu hukumnya wajib. Aku akan setia menanti dan meminta" bisik Axel kemudian beranjak dari atas tubuh Jen.


Axel menuju kamar mandi, dan menutup pintunya. Perlahan Jen membuka matanya, ia melirik Axel yang berada di kamar mandi


huff untung saja, Batin Jen menghela nafas lega.


"bunda" lirih Jen yang teringat pesan bunda siang itu.


"Kamu sebagi istri harus taat pada suami. Harus mau melayani suami dalam hal apapun, seperti makan, menyiapkan pakaian, membuatkan minum. Dan yang paling penting adalah menuntaskan hasratnya. Jangan menolak ajakannya walaupun kalian sedang marahan. Kamu tahu pahala istri yang menawarkan atau mengajak suami terlebih dulu,? sangat besar Jen. Kalau kamu menolak, dosa yang kamu dapat. Kamu sudah punya suami wajar kalau kalian melakukan nya, sebagai penguat cinta kalian. Ayah bunda juga mertuamu tidak akan melarang, kami juga berharap kamu bisa memberikan cucu untuk kita. Jadi bunda mohon lakukan semua itu dengan ikhlas Jen. Itu adalah hak suami, bunda tahu kamu belum siap, tapi persiapkan dari sekarang."


Begitulah pesan yang bunda sampaikan waktu itu.


"apa ini sudah saatnya bun? kalau Jen hamil gimana" gumam Jen sambil memandang langit langit kamarnya.


"ambil minum dulu deh" kata Jen beranjak ke dapur. Saat Jen sudah balik ke kamar, Axel belum terlihat keluar dari kamar mandi.


ceklek


"kamu mandi?" tanya Jen pada Axel yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah


"iya" jawab Axel singkat dan menghampiri Jen yang duduk di ranjang. Axel memposisikan dirinya duduk di bawah Jen.


"tolong keringin Yang" pinta Axel menyerahkan handuk kecil


"kamu gak pakai baju dulu?" tanya Jen yang melihat Axel hanya pakai celana kolor


"enggak, bentar lagi juga tidur" Jawab Axel yang sibuk dengan ponselnya


"gak dingin apa, jam segini mandi keramas. Di tambah gak pakai baju lagi." gerutu Jen


"ya gara gara kamu" gumam Axel yang bisa di dengar Jen


"apa kamu bilang?" tanya Jen

__ADS_1


"bukan apa-apa, besok kamu ikut dinner osis dulu ya,? setelah itu kita langsung berangkat ke bandara." kata Axel


"harus banget ikut?"


"ya giman lagi Yang, itu aja udah di kasih toleransi sama papah. Harusnya kita berangkat besok pagi." jelas Axel


"ngurus soal pembangunan hotel yang sama ayah itu,?" Jen


"iya, ayah sama papah sepakat kalau hotel yang akan di bangun itu buat hadiah pernikahan kita, jadi ya mereka minta aku buat handle proses pembangunannya."


"em " Jen manggut-manggut sambil memijit pelan kepala Axel


"berapa lama disana,?" tanya Jen lagi


"ya kalau rencana papah sih kurang lebih seminggu buat ngurus kerjaan di sana. Tapi kalau kita mau menghabiskan liburan di sana juga gak papa " jelas Axel.


"ya udah, liat besok aja" kata Jen


"ngantuk banget Yang, ke enakkan kamu pijit" Axel


"ya udah tidur gih," kata Jen menyudahi pijatannya.


.


.


.


.


Siang ini Jen sedang packing baju yang akan dibawa ke Bali. Sedangkan Axel pagi tadi berangkat ke kantor papah.


"masa iya gue gak packing punya Axel, duh gimana gue kan gak tau apa aja yang di bawa Axel. Telfon dulu deh" kata Jen


📞Garwo


"garwo, mau packing sendiri apa aku sekalian?" tanya Jen


Kamu sekalian aja, nanti aku pulang sore


"tapi aku gak tahu kamu mau pakai baju apa aja"


yang penting ada beberapa baju formalnya Yang, sisanya terserah kamu. Nanti kita tinggal di resort keluarga, disana juga ada baju bajuku


"em ya udah, aku bawa gak banyak ya,"


iya, yang penting penting aja. kalau kurang besok beli di sana


"iya garwo, udah kaya sultan aja beli beli,"


Yang,, jangan lupa kadonya kemarin sekalian di bawa


"ih apa sih"


hehehe ya udah nanti aku yang bawa


"sak karepmu mas" (terserah kamu mas)


tut


Jen membuka lemari Axel, jujur baru kali ini Jen membukanya. Dia sedikit bingung dengan letak baju Axel. Ia mulai memilah milah baju Axel dan di masukkan ke koper yang sama dengannya.


"huh beres, mudah mudahan gak ada yang ketinggalan" Kata Jen yang sudah menutup kopernya.


tok tok tok


"Jen" panggil mamah

__ADS_1


"iya mah," Jen beranjak membukakan pintu


"sayang kamu lagi sibuk gak?"


"enggak mah, tadi habis packing"


"oh, temenin mamah ngecek di toko yuk sayang" ajak mamah


"boleh mah, Jen siap siap dulu ya" kata Jen


"iya mamah tunggu di bawah ya"


"siap mah"


Jen dan mamah menuju mall terbesar di kota ini, mamah Rere dan bunda Ayu mempunyai beberapa toko emas di kota ini. Bahkan Jen juga sering ikut membantu bundanya dalam mendesain perhiasan. Sebelum pergi Jen sudah pamit kepada Axel.


Pukul lima sore Axel dan papah sudah sampai rumah. Papah langsung ke kamar untuk mencari mamah.


tok tok tok


"Xel?" panggil papah di depan pintu kamar Axel


"masuk pah" Axel mempersilahkan papah


"Xel, istriku kemana?" tanya papah yang berjalan masuk


"istriku juga gak ada pah" jawab Axel


"kok bisa kita kehilangan istri? emang istrimu gak pamit gitu?" tanya papah


"pamit sih, kalau istri papah pamit gak?"


"enggak tuh, nih gak ada pesan ataupun telfon" papah memperlihatkan ponselnya


"loh kok mati, pantes gak ada kabar" papah nyengir


ck,,,, Axel berdecak melihat papahnya.


"wah Xel, udah siap ginian aja" kata papah yang melihat dua kotak berwarna merah, dan hitam di atas meja rias Jen.


"bukan Axel yang beli pah" jawab Axel


"ya masa Jen, gak mungkin kan?. lagian ya Xel gak usah pakai ginian" kata papa


"emang kenapa pah?"


"gak enak" kata papah sambil menaik turun kan alisnya. Perlahan papah membuka bungkus kotak itu


"masak, itu papah ngapain?" tanya Axel


"cuma liat, masih baru ya. Beneran belum kepakai?"


"ya belum lah itu juga masih di segel"


"iya juga ya, kok kamu bisa kepikiran beli ini?" kata papah sambil mengambil isi kotak itu satu satu.


"itu hadiah dari dua Anoman itu" jelas Axel


"oh" papah manggut manggut dan mengembalikan kotak itu ke atas meja


"kalau cuma satu tanggung pah, " kata Axel yang melihat papah mengantongi benda benda itu. Sedangkan papah nyengir.


"katanya gak enak" sindir Axel lagi


"udah lama papah gak coba yang ginian 😀, minta satu doang, maklum papah udah tua" kata papah


#😀kayaknya tadi bunda salah makan pas sahur, jadi bikin ceritanya kya gini di bahas siang hari. ✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2