Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Menggoda


__ADS_3

Sore ini keluarga Alexander juga para pekerja di rumah, sedang menikmati bakso yang biasanya keliling komplek. Axel minta di suapi Jen, alasannya biar di sayang dulu kalau nanti mau marah.


"biar mas aja yang bayar pah" kata Jen yang melihat papahnya mengeluarkan dompet


"iya pah tinggal aja" kata Axel


"bener nih? banyak loh?" papah


"tenang pah, besok gaji Axel kan papah naikin" Axel


"kerja yang bener" kata papah yang merangkul mamah masuk ke dalam rumah


"berapa pak?" tanya Jen


"semua nya dua ratus tujuh puluh lima mas" kata bapak penjual bakso


"ini pak, kembaliannya buat bapak saja. terimakasih pak" Axel


"saya yang terimakasih mas, mbak"


"sama sama pak." Jen


Jen masuk begitu saja meninggalkan Axel yang berjalan di belakangnya. Axel mengekor berharap istrinya lupa dengan rencana marahnya. Namun sayang sampai selesai makan malam pun Axel belum mendapatkan satu pelukan dari Jen. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah.


"besok kamu libur Jen?" tanya mamah


"iya mah, tapi ada jadwal ke dokter ya mas?" tanya Jen pada Axel yang duduk di sampingnya


"iya besok siang Yang, tunggu aku pulang kantor" Axel


"iya deh,"


"kamu punya teman baru Jen? asik gak kuliah?" mamah


"seru sih mah, sejauh ini Jen bahagia. Teman Jen dadi Jawa loh mah, dia dapat beasiswa"


"yang tinggal di asrama?" mamah


"iya mah,"


"kamu tadi kok tidur di sana sih Yang?" Axel


"iya habisnya istirahat lama banget, lumayan buat rebahan, ya walaupun kasurnya agak keras 😁" Axel


"apa perlu papah kasih kamu kamar di sana Jen?" papah


"gak usah pah, nanti malah merepotkan.". Jen


"enggak Jen, mamah tau pasti kamu mudah capek kan. Kalau istirahat kan bisa di sana" Mamah


"atau sewa kos dekat kampus aja?" papah


"iya Yang, biar kamu lebih enakan" Axel


"papah, mamah terimakasih atas perhatiannya, tapi kan di sebrang jalan ada hotel ayah 😁" kata Jen yang baru ingat


"oh iya, ya udah biar nanti aku minta ijin ayah" kata Axel


Mereka melanjutkan mengobrol santai, sesekali Axel mencuri kesempatan untuk memeluk Jen. Jen yang masih berencana marah pun melepaskan tangan Axel yang melingkar di pinggang nya.


"Yang" panggil Axel memelas


"hhmmmt" Jen


"aku tuh kangen banget " bisik Axel karena Jen masih mengobrol dengan mamahnya.

__ADS_1


Karena tidak mendapat respon dari Jen lagi, Axel mengelus perut Jen sambil mengadu kepada anaknya. Tanpa di sangka anaknya merespon dengan tendangan.


"Yang gerak loh" kata Axel senang


"iya, udah mulai gerak" Jen


"coba lagi deh Yang" Axel mencoba lagi dengan mengelus perut Jen. Responnya sedikit lama sih, tapi gerak juga. Axel mengulangi lagi dan lagi, ia lupa kalau Jen masih marah padanya.


Jen masih ngobrol dengan mamah nya, sedangkan papah sibuk dengan ponselnya.


"udah mas, jangan di goda ih" kata Jen


"tapi aku suka Yang," kata Axel


"iya, tapi aku geli" Jen


"tidur yuk Yang, udah malam loh" kata Axel


"baru jam sepuluh Xel" kata papah


"papah sirik aja 😤" Axel menarik tangan Jen untuk berdiri.


" Jen ke kamar dulu mah, pah"


"iya sayang" jawab mamah dan papah hanya mengangguk.


Sesampainya di kamar dan mengunci pintu, Jen mencubit lengan Axel.


"aw sakit kok di cubit sih?" Axel mengelus lengannya yang di cubit Axel


"biarin, kamu lupa kalau aku lagi marah?"


"marah kenapa sih Yang, tadi aja baik baik saja"


"kok gitu sih, udah dong Yang jangan marah" kata Axel yang mencoba memeluk Jen


"gak ya mas, jangan peluk aku"


"cium aja sini kalau gitu"


"gak juga"


"minta jatah dobel dobel"


"gak ada jatah malam ini"


"Yang, masa gitu sih, kan udah jadwalnya"


"siapa yang buat jadwal?" tanya Jen sinis


"ya aku lah, kan biar lebih enak" Axel menaik turun kan alisnya.


"baru gak tertarik tuh" kata Jen berlalu ke kamar mandi


"Jen kenapa sih, tiba tiba marah. Emang marah kenapa,? salah apa sih aku. Kamu yang sabar ya, sangkarmu baru marah. Kita rayu dia, akan aku pastikan kamu tidak kedinginan dan akan tidur nyenyak." gumam Axel melirik badan bawah nya.


Setelah keluar dari kamar mandi dan memakai baju kebanggaan para ibu jaman sekarang, Jen langsung duduk di pinggir ranjang dan membuka ponselnya. Sedangkan Axel hanya memandang Jen penuh harap.


"Yang" Axel


"hmmm," Jen


"kamu kenapa sih Yang?"


"kamu yang kenapa,"

__ADS_1


"memangnya aku kenapa?"


"ini soal Jamil" Jen


"Jamil kenapa?"


"kenapa kenapa teros wae ra rampung rampung (kenapa kenapa terus saja, gak selesai selesai)."


"aku bertanya beneran Yang, aku gak tau maksud kamu"


"Jamil jadi mata mata aku kan? kamu yang nyuruh Jamil kan,?"


"em itu.....kamu tau dari mana?"


"aku tanya sama Jamil, dan dia udah cerita semuanya"


"Yang, ini semua juga demi kebaikan kalian."


"kalian?" tanya Jen


"kamu dan anak kita Yang, aku cuma mau minta Jamil jaga kalian, bukan mata mata Yang" kata Axel berlalu ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban Jen


"ish, gitu doang? kalau aku yang marah aja gak di rayu" Jen menggerutu pelan melihat kepergian Axel.


Beberapa saat kemudian Axel sudah keluar dari kamar mandi. Axel menghubungkan handuk yang melilit di pinggang nya, dan bertelanjang dada. Dengan wajah segar juga air yang masih tersisa di beberapa sudut wajahnya, membuat Axel terlihat begitu mempesona. Wangi khas tubuh Axel juga tercium di indra penciuman Jen.


Jen bungkam saat melihat Axel, ia seperti terhipnotis dengan pesona Axel. Padahal cuma pakai handuk, bukan Jas ataupun baju bagus lainnya. Axel tersenyum miring melihat Jen yang menatapnya penuh dengan kekaguman. Axel mendekati Jen dan berdiri di depannya.


Gila gue jadi mupeng, apa apaan sih nih otak. Ayo marah jangan mesum....!!!! Batin Jen dengan susah sekali menelan saliva nya.


"Sayang" panggil Axel dengan suara seraknya.


"i...iiii iya" jawab Jen gugup saat memandang Axel yang berjongkok di depannya.


"kamu masih marah?" tanya Axel yang memegang tangan Jen dan mengarahkan ke dad*nya.


"iya lah" jawab Jen cepat karena sudah mendapatkan kesadaran nya kembali.


"hhmmm ya udah" kata Axel yang kembali mengarahkan tangan Jen untuk mengelus d*danya.


"maafin aku ya Yang, kalau kamu gak suka Jamil jagain kamu. eeemmm ya udah besok cukup sampai kamu lahiran aja. Jangan marah lagi" kata Axel yang masih mengarahkan tangan Jen.


"iya" kata Jen menggigit bibir bawahnya


"kamu gak kangen sama aku?" Axel menggoda Jen


"haaaa" Jen di buat tidak bisa berkata kata, karena otaknya sudah terisi yang iya iya 😂.


"aku kangen banget loh Yang sama kamu, apalagi dia" Axel melirik sesuatu miliknya.


"ak....aku" Jen bengong saat tangan Axel yang satunya mengelus wajahnya


"gak jadi libur kan?" tanya Axel lagi


"libur apa?"


"jadwalku Yang , masih berlaku kan? udah mulai protes dia" Axel


"tapi kan aku marah"


"di pending aja Yang, masak kamu gak kangen sama pendaki handal ini" Axel semakin nakal menggoda Jen


"em tap....." Jen yang mau protes lebih dulu di bungkam Axel.


Mau tidak mau Jen akhirnya menurut saja, karena memang dia juga menginginkan. Axel bersorak gembira di dalam hati, bisa merobohkan pertahanan Jen.

__ADS_1


__ADS_2