
Jen, Ari, Jamil dan Roni masih di warung depan sekolah, karena ini jam bebas jadi mereka tidak buru buru balik dan tidak takut jika gerbang akan di kunci.
"Jen kemana ya Tam?" tanya Sasa yang memang sudah muter-muter mencari Jen
"iya ih, di hubungi juga gak di angkat, kebiasaan banget deh" gerutu Tamara
"Kalian kenapa gak pulang" tanya Satria yang kebetulan mau ke parkiran dengan Dio dan Axel
"ini si Jen masih belum ketemu" kata Tamara
"coba di telfon" saran Axel
"udah nih, seribu kali juga gak di angkat" jawab Tamara
Apa dia marah? batin Axel
"wah pas banget udah pulang" kata Jamil yang berada di depan gerbang.
"Jen lo dari mana, kok sama mereka" tanya Sasa dan Jen hanya nyengir dan memakan es krimnya.
"nih gue balikin ibu negara kalian. Rugi bertubi tubi gue" kata Ari sambil menarik ujung lengan baju Jen, sampai di tengah Sasa dan Tamara.
"emang kenapa? kalian dari mana sih" Tamara penasaran
"gue dapet dia dari bawah pohon noh (menunjuk di mana tempat Jen tadi duduk bersama Anisa dan temannya), udah kaya nasi kenduri aja dia di kerumunin sama adek adek pengajian," jelas Ari
"adek adek pengajian siapa?" tanya Dio
"gak tau gue, tanya aja Jen. Mereka tadi semua pakai jilbab, kecuali ini nih" menunjuk Jen
"terus ruginya dimana?" tanya Sasa
"gimana gak rugi, gue ajak dia ke warung, minta di traktir ya gue iyain, eh malah dia menghancurkan permen panjang gue. Makan banyak banget lagi. Lebih parahnya ya dia minta coklat sama es krim nangis kenceng banget di depan minimarket, ya gue yang malu lah kalau gak di turutin" cerita Ari panjang lebar
Sedangkan semua yang ada di sana tertawa mendengar cerita Ari, hanya Axel saja yang tersenyum. Jen pun cemberut mendengar keluhan Ari
"besok gak gue ajak,," Jen
"gak di ajak dugem?" potong Ari, Jen mengangguk dan makan coklat karena es krim nya habis.
"gue dugem sendiri tau tempat nya, tau jalan nya, jadi gak perlu lo ajak" ketus Ari
"ih ntar gue bilangin emak lo" kata Jen
"gue juga bisa bilangin ke bapak lo"
"udah malah pada berantem sih" kata Tamara.
"DIA" Jen dan Ari saling tunjuk.
"hus udah, nih tas lo" kata Sasa yang membawa tas Jen.
"kalian udah yang pacaran?" tanya Jen pada kedua sahabatnya
"Dia yang pacaran" Tamara menunjuk Sasa
__ADS_1
"em gue duluan ya" pamit Axel dan di susul teman temannya.
"mana no rekening lo, ntar gue transfer buat ganti rugi" kata Jen pada Ari
"nah gitu dong" kata Ari
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing masing.
"Xel, kamu mau ngasih mahar apa buat Jen?" tanya papah di sela sela makannya
"Axel belum tahu pah" jawab Axel
"kamu habisin dulu makannya, nanti papah jelasin" kata papah dan di angguki Axel.
Mamah Rere, papah Al dan Axel sedang berada di ruang tengah.
"jadi gimana boy udah tahu tentang mahar?"
" belum yah"
"setahu papah, mahar itu harta yang di berikan suami kepada istri sebagai penghargaan atau imbalan karena kesediaannya di halalkan dan di nikahi. Mahar itu bisa berupa emas, perhiasan, uang, rumah dan lain sebagainya. Semua itu di sesuaikan dengan kesanggupan dari pihak laki laki dan keridhoan dari pihak perempuan." jelas papah
"kalau dulu eyang pernah bilang sama papah, mahar itu sebisa mungkin hanya untuk perempuan, misal seperangkat alat sholat perempuan itu kan berupa mukena, dan tidak mungkin kita laki laki memakai nya, perhiasan pun juga begitu. Tapi selain itu kan ada uang, ada rumah dan lainnya yang bisa di gunakan bersama, kita laki laki juga boleh ikut menggunakan tapi harus dengan keridhoan dan keikhlasan istri. Boleh juga istri meminta mahar yang ia inginkan. Jadi saran papah kamu bicarakan soal ini sama Jen, mumpung masih ada waktu" kata papah
"iya sayang, yang papah katakan itu benar, dan seandainya Jen meminta tapi ternyata kamu keberatan, kamu bisa minta papah atau mamah" imbuh mamah
"iya mah, nanti biar Axel bicarakan dulu sama Jen." jawab Axel.
"ya udah kalau kamu mau istirahat, calon pengantin jangan capek" kata papah
"papah apaan sih, ya udah Axel ke atas dulu mah, pah" pamit Axel.
"berarti gue harus ngobrol sama Jen" gumam Axel dan meraih ponselnya.
"lah gue kan gak punya nomor ponsel nya Jen, gimana sih. Ya udah besok aja deh pulang sekolah sekalian nganter mobil." Dan akhirnya Axel memutuskan untuk tidur.
Di sisi lain Jen masih berdiri di balkon kamarnya, ia memandang langit yang penuh bintang.
"Abay, kamu lagi ngapain, aku kangen banget. Kenapa gak ada kabar" gumam Jen melihat ponsel nya.
"sehari tanpa kamu aja aku udah uring uringan, gimana hari hari berikutnya."
Ingatannya pun tertuju pada hari kemarin.
?
"Axel, tunangan, menikah, beberapa hari lagi. Ya allah kalau boleh aku meminta, lancarkan lah semuanya, kalau memang Axel jodoh hamba. Buka hatiku untuk nya, hilangkan semua keraguan yang masih hamba rasakan. Tutup hati dan pikiran hamba dari kelebihan lelaki lain selain Axel." Doa Jen malam ini.
Hari kedua clasmeeting ini sangat membosankan bagi Jen dan kedua temannya.
"ngapain nih?" tanya Tamara
"kita kedepan aja yuk, siapa tau dapat inspirasi" ajak Jen
"boleh deh" Sasa
__ADS_1
Mereka menuju ke taman depan dan ternyata tidak terlalu ramai. Mereka duduk di bangku bawah pohon kelengkeng. Jen berdiri di kursinya dan meraih ranting pohon yang ada kelengkeng nya.
"mb Jen jangan, itu kan masih muda masih kecil kecil" cegah pak satpam dari pos nya.
"apanya pak? tanya Jen tapi tetap berusaha meraih ranting yang berisi banyak buahnya
"aduh mb, nanti patah itu rantingnya." pak satpam mulai melangkah mendekati Jen supaya tidak jadi memetik buahnya.
"yang itu Jen, sebelah kanan" tunjuk Sasa
"mb Sasa, mb Jen, mending beli aja, yang itu belum enak" saran pak satpam
"aku mau yang ini aja pak, kan kita sekolah disini bayar pak, jadi sarana prasarana ini juga sudah termasuk " kata Jen
"aduh mb, nanti saya yang di marahi sama bapak kepala sekolah"
"enggak yang penting pak satpam gak ngomong kalau kita yang ngambil, ya ok kan pak?" tanya Jen dan itu mengundang tawa Tamara yang dari tadi diam memperhatikan mereka.
"JENNAIRA PUTRI" panggil pak Agus dengan suara baritonnya.
Klek.... suara dahan patah karena di tarik Jen yang kaget.
"astaga Jen," pak Agus mengelengkan kepalanya.
"bapak ngagetin saya, jadi patah kan,?" kata Jen
"kamu itu mau jadi hama wereng, buah masih kaya gitu udah kamu petik, kamu rusak juga lagi"
Jen hanya nyengir dan kedua temannya cekikikan.
"jangan cengar cengir kamu" kata pak Agus, reflek Jen melipat bibirnya.
"bapak mau kelengkeng ini? ada yang besar loh pak udah enak ini pasti" tawar Jen
"hukum aja pak hukum" teriak Ari dan Jamil yang baru balik dari warung
"kalian juga dari mana? ada surat ijin keluar sekolah gak?" tanya pak Agus sedangkan Jen malah menggoyangkan ranting yang ia pegang dan menggerakkan tangan seperti pemandu paduan suara. Itu semua membuat yang berada di sana tertawa melihat tingkah Jen.
"Pak, Jen itu pak" adu Jamil dan pak Agus melihat ke arah Jen.
"Jen dan kalian berdua berdiri di lapangan upacara" perintah pak Agus, pada Jen, Jamil dan Ari
"kok kita sih pak?" protes Ari
"keluar tanpa ijin kan?"
"ah gak friend pak Agus"
"udah sana, Jen turun" Mereka menuju ke lapangan upacara dan berjemur di sana, Jen masih membawa ranting pohon tadi dan lumayan buat ngurangin panas yang menyengat.
"pak Agus itu mereka kenapa?" tanya Axel yang kebetulan lewat.
"dihukum Xel,"
"Oh , saya permisi pak" pamit Axel.
__ADS_1