
Beberapa hari sudah berlalu, dan malam ini Jen sedang duduk di atas ranjang. Sedangkan Axel duduk di sofa sambil memangku laptop nya. Jen terlihat bingung, bohong kalau Axel tidak melihat kebingungan Jen.
"ada apa Yang? kok gelisah gitu" tanya Axel tidak mengalihkan pandangannya dari laptop
"em aku, aku boleh minta sesuatu sama kamu mas?" tanya Jen hati hati.
"minta apa? kamu pengen sesuatu?" tanya Axel yang sekarang sepenuhnya melihat ke arah Jen
"janji di turuti ya?"
"ya apa dulu, kalau mampu dan bisa pasti di turuti Yang" Axel beranjak mendekati Jen
"jangan marah tapi" Jen memperlihatkan wajah melas yang di buat buat
"minta ketemu Bayu lagi?" tanya Axel
"enggak mas" Jen
"terus apa?" Axel mengelus kepala Jen.
"aku pengen....... ke ....em" Jen terlihat berfikir
"ke mana?"
"ke club malam" kata Jen hati hati dan menutup matanya, takut Axel marah.
"hah?" kaget Axel
"apa Yang?" tanya Axel memastikan lagi, ia tadi dengar tapi masih belum percaya.
"pengen ke club malam mas" rengek Jen
"astaga, ngapain?"
"ya ngapain aja, namanya juga pengen"
"tapi Yang, yang lain aja ya?" rayu Axel
Jen beringsut dengan lengan dilipat kedepan dan cemberut, persis seperti anak kecil yang merajuk.
"Yang,,"
"kata nya mau nuruti kalau mampu dan bisa, tapi apa?" Jen
"ya aku kira kamu mau makan apa gitu Yang,"
"aku cuma mau ke club malam" kekeh Jen
"kamu tau itu tempat apa kan,? kenapa harus ke sana,? " Axel yang sedikit kesal menambah setegah nada suaranya.
Seketika itu, Jen menangis merasa Axel membentak nya. Ia berusaha beranjak dan keluar kamar masih dengan air mata yang menetes deras. Axel yang frustasi pun memijat keningnya.
"Yang" panggil Axel
"Yang, tunggu dulu" Axel mengejar Jen yang sudah keluar kamar.
Sedangkan di ruang tengah ada papah dan mamah yang sedang santai, menikmati acara televisi. Mereka melihat Jen yang keluar dengan menangis.
"Jen ada apa?" tanya mamah yang berdiri dari duduknya.
"mamah" Jen menghampiri dan memeluk mamahnya.
"kenapa sayang? kok nangis?" tanya mamah lembut. Sedangkan Axel duduk di sofa single dengan wajah bingung.
"kenapa boy?" tanya papah, Axel hanya mengedikkan bahunya.
"duduk dulu ya" mamah menuntun Jen untuk duduk
"ada apa cerita sama mamah" kata mamah
"garwo gak mau nurutin ngidam aku mah, malah bentak aku" kata Jen
"Yang,,,, tapi kan kamu tau" Axel
"kamu ngidam apa?" tanya mamah lembut
"aku pengen ke club malam mah" jawab Jen takut
"hah? mamah gak salah dengar?" tanya mamah memastikan dan Jen mengangguk. Setelah itu terdengar suara tawa dari papah.
"tuh, masa Axel harus turuti" Axel
__ADS_1
"ya mau gimana lagi kalau aku pengen mas" Jen sambil sesenggukan
"kalau kamu ngidam pentol sing ono endokke masih mending pasti mas turuti. Lha ini ngidam ke club malam" gerutu Axel.
Papah tersenyum melihat tingkah anaknya, sedangkan mamah menggeleng dengan heran kenapa juga Jen ngidam yang aneh aneh.
"kenapa kamu gak mau sih Xel?" tanya papah
"papah tau club malam kan? banyak asap rokok dan alkohol, itu semua gak baik buat ibu hamil" Axel
"tapi kan aku bisa pakai masker, dan menjauh" Jen
"enggak Yang"
"mas, kamu kan yang menghamili aku. Sudah seharusnya kamu yang menuruti apa ngidam aku, aku juga jarang meminta sesuatu sama kamu" kata Jen dan membuat tawa papah meledak, sedangkan mamah menahan senyumnya
"ya kan kamu juga mau" Axel
"ya mau tapi kan aku dulu minta kamu pakai sarung" Jen
"sarung?" tanya mamah bingung
"itu mah, em...
pengaman" kata Jen menunduk malu dan memainkan kuku jari tangannya.
"hahaha aw aw" tawa papah berubah menjadi ringisan saat tangan mamah sudah mencubit di pinggang papah.
"Udah ya, kita tidur yuk" ajak Axel yang sedikit malu
"aku mau ke club malam, sebentar saja" pinta Jen dan membuat Axel bingung
"turuti aja boy, masih mending Jen minta ke club malam. Dulu mamah kamu pas hamil kamu mintanya lebih parah daripada Jen" kata papah
"hehe jangan di bahas pah" kata mamah malu
"emang apa mah?" Jen
"mamah kamu minta di pegangin roda pesawat terbangnya" jelas papah
"masih mending itu pah" Axel
"papah yang megang suruh pakai baju badut. Dan mamah maunya pesawat di bandara bukan di museum. Pusing gak tuh?" papah
"ya terpaksa mau, orang mamah gak makan seharian. Papah khawatir dong" papah
"ya udah aku gak mau makan juga" Jen
"Yang..!!"
"kamu dari tadi bentak bentak aku" Jen
"astaga," Axel berusaha sabar
"mau ke club mana Jen?" papah
" mana aja pah, yang penting club malam. Lima menit aja Jen mau"
"tunggu sebentar" kata papah mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang
"pah" panggil Axel yang akan melarang papah nya.
"kamu tenang aja,"kata papah
📞Adi
halo ada apa Al?
"ayo kita ke tempat Dani" kata papah
📞
ck ingat cucu Al
"ini justru cucu yang minta"
📞
maksudnya?
"Jen ngidam pengen ke club malam"
__ADS_1
📞
jangan bercanda kamu
"tanya aja sama Jen"
📞
ngidam aneh banget
"cucu penerus kita sepertinya hahaha"
📞
Axel gimana?
"gak tau masih suram itu"
📞
Bujuk Jen deh biar gak ke club aja
"udah tapi gak mau"
📞
Tanya Dani dulu, ada tempat aman gak
"siap, ntar aku kabari"
Setelah menelfon Dani juga ayah Adi, papah melihat ke arah mamah. Sedangkan Jen dan Axel bersiap di dalam kamar. Axel masih saja menggerutu tapi Jen? tidak ambil pusing lah.
"mamah mau ikut?" tanya papah
"enggak pah, mamah pasti pusing ke tempat seperti itu."
"ya udah papah cari jamu dulu ya"
"jaga Jen pah, jangan macam-macam" mamah memperingati.
"iya, kalian udah siap?" tanya papah yang melihat Jen juga Axel sudah siap pergi.
Mereka langsung menuju club malam, hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sampai. Jen terlihat begitu bahagia, berbeda dengan Axel yang bermuka datar. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya ayah sudah datang.
"kamu ini aneh aneh aja Jen" kata ayah saat Jen mencium tangannya
"namanya juga pengen Yah" gerutu Jen
"ayo masuk keburu pagi nanti" ajak papah
Saat di depan pintu, terlihat seorang pria paruh baya yang bertubuh tinggi besar. Bisa dilihat tubuhnya masih atletis walaupun sudah berumur. Jen mengernyitkan seperti pernah lihat beliau tapi dimana?. Ia mengingat ingat, kalau ini club malam kakanya Sinta berarti kemungkinan beliau ayahnya Sinta.
"ayo mari silahkan," ajak Dani yang tadi sudah saling sapa dengan ayah dan papah.
Mereka menuju ke sebuah ruangan khusus yang dijaga beberapa orang untuk keamanan. Jen pernah kesana sebelum, ya pasti dengan teman temannya. Di sebelah sini memang jarak aman dari para orang yang berjoget bahkan asap rokok dari para pengunjung. Walaupun begitu di tempat ini masih bisa melihat aktivitas para pengunjung, juga mendengar suara musik dj yang menggelegar.
"mau pesan apa?" tanya Dani yang memanggil salah seorang pelayan.
"ingat umur pah," kata Axel yang selalu mengingatkan.
"hahaha kamu harus cobain boy" kata papah
"udah pernah, dan Axel gak mau lagi" Axel
"bagus Xel, ayah bangga sama kamu. Bukan seperti papah kamu ini" ayah
Mereka pun tertawa bersama, dan memesan minuman dengan kadar alkohol rendah bagi papah dan ayah. Sedangkan Jen dan Axel air mineral saja.
"gimana udah keturutan kan ngidamnya?" tanya Axel. Jen mengangguk dengan senyum lebar.
"jadi beneran kalian mampir kesini karena nuruti ngidam?" tanya Dani heran
"iya, anakku yang ngidam. Aku kan sudah tidak ingin masuk ke sini lagi. Tapi demi anak dan cucu" ayah
"emang benar benar anak kamu kalau begitu Di" kata Dani sambil tertawa
"om maaf, apa om ayahnya Sinta?" tanya Jen menghentikan tawa para bapak itu
"iya, kamu kenal anak saya?"
"kenal om, dia sahabat saya. Saya juga sering nginep di apartemen Sinta"
__ADS_1
"dunia memang sempit ya" Adi
Setelah itu mereka asik ngobrol, dan Jen yang hanya menikmati suara musik pun lama lama mengantuk. Padahal bisa dibilang duduk di sana saja belum sampai dua puluh menit. Akhirnya Jen memejamkan mata dan tidur bersandar di bahu Axel.