Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Berusaha menjelaskan


__ADS_3

Di dalam sebuah Jet pribadi, Axel duduk dengan gelisah. Sedangkan papah yang tadi mengambil minum pun duduk di sebrang Axel.


"minum dulu" papah memberikan botol mineral


"makasih pah" kata Axel setelah meneguk minumannya.


"papah minta maaf sudah memukul kamu dan berkata kasar, kalau sampai terbukti kamu main perempuan, papah tidak segan segan akan menghajar kamu lagi"


"Axel tidak pernah melakukan itu pah, Axel juga tidak mau menyakiti Jen"


"tapi sekarang kamu menyakiti Jen, dia sedang mengandung anak kamu Xel, ingat itu"


"berapa kali Axel harus menjelaskan sih pah"


"papah rasa Jen juga akan sulit percaya sama kamu,"


"kenapa papah ngomong gitu" Axel menoleh ke arah papahnya


"kalau Jen tanya bukti, apa yang mau kamu kasih?"


"ck, aku gak punya bukti pah. Aku juga tidak tau kalau akan seperti ini"


"kamu siap siap dengan segala konsekwensinya, tapi saran papah selesai kan dengan kepala dingin. Bujuk Jen, buktikan kalau memang kamu tidak salah"


"caranya?"


"pikir sendiri, cari jalan keluarnya sendiri"


"hufh" Axel menghembuskan nafas beratnya.


Jen aku harap kamu akan paham dengan penjelasan ku nanti. Aku tidak ingin hal buruk terjadi di rumah tangga kita.


.


.


.


Dengan berbagai macam bujuk dan rayuan, akhirnya Jen mau makan malam. Ya walaupun tidak sebanyak biasanya, tapi itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Jen kamu pengen makan apa?" tanya bunda lembut


"enggak bun, Jen mau ke halaman belakang" kata Jen dan beranjak ke sebuah sofa di halaman belakang.


Jen melihat ke sekitar area belakang, sebuah kolam renang, gazebo, taman buatan, pohon mangga, bahkan kamar bi Ar dan mbok Jum juga terlihat. Jen mengingat masa ia kejar kejaran dengan Axel saat salah membawa pengaman. Mengingat saat main di kolam renang, saling bercerita di gazebo dan masih banyak lagi kenangan.


Rasanya gak mungkin Axel melakukan hal yang membuat Jen hancur, tapi semua foto itu sudah menjadi jawaban. Jen tidak pernah merasakan sakit hati sebelumnya, karena saat bersama dengan Bayu, mereka selalu baik baik saja. Bayu yang lebih banyak mengalah dengan Jen, membuat Jen nyaman. Bukan berarti Jen tidak nyaman dengan Axel, tapi kalau sudah ada di titik kecewa dan marah, terkadang kita lupa akan semua kebaikan nya.


"jangan melamun" kata ayah yang menyelimuti punggung Jen.


"ayah, Jen tidak dingin" kata Jen dan menghapus air matanya


"oke baiklah" ayah menarik selimut itu dan memakainya di kepala, seperti orang menggunakan kerudung


"ayah" kata Jen dengan senyuman tipis saat melihat ayahnya seperti itu


"gitu dong tersenyum," kata ayah meraih tangan Jen.

__ADS_1


"ayah, tau kamu sedang sedih, ayah juga tau permasalahan kamu" kata ayah mengelus punggung tangan Jen


"ayah....hiks hiks" Jen kembali menangis, ayah menarik Jen kedalam pelukannya. Memberikan rasa nyaman untuk anaknya.


Sakit, ayah juga merasakan sakit yang lebih dari Jen. Orang yang sudah di berikan kepercayaan untuk menjaga anaknya tapi malah menyakiti anaknya.


"Jen, maafkan ayah" kata ayah


"sudah menjadi jalan Jen yah" kata Jen


"kamu kecewa dengan Axel?" tanya ayah dan Jen mengangguk


"sama, ayah pun kecewa dengan Axel. Tapi ayah perlu penjelasan Axel, dan ayah rasa kamu juga seperti itu"


"enggak pah, semua udah jelas"


"Jen, kalau ayah jadi kamu, ayah juga akan marah. Tapi permasalahan ini harus segera di selesaikan. Kalau kita tunggu berlarut larut nanti akan lebih memburuk. Kamu ingat dulu ayah pernah berpesan sama kamu?"


"apa?" tanya Jen


"se marah apapun kamu, jangan pernah pisah kamar dengan suamimu. Pisah kamar aja jangan Jen, apalagi kamu pisah rumah seperti ini."


"Jen hanya mau menenangkan diri yah,"


"akan ada waktunya kamu sendiri dan bisa menenangkan diri, kamu ngerti kan maksud ayah?" tanya ayah dan Jen hanya mengangguk.


"sekarang ayah antar kamu pulang ke rumah Axel ya, kamu minta maaf sama mertua kamu sudah meninggalkan rumah"


"tadi Jen sudah ijin mamah, yah"


"ayah yakin, mamah kamu di posisi yang bingung. Rere akan lebih tenang kalau kamu di sana. Mau ya ayah antar,?"


"apa yang kamu takutkan?"


"takut kalau semuanya benar yah, Jen harus bagaimana"


"kamu dengar penjelasan Axel, kalian selesai kan masalah ini bersama. Kamu jangan takut, ayah selalu ada buat kamu" ayah meyakinkan Jen


"kamu ingat bayi yang ada di kandungan kamu ini, dia juga tidak mau kalau ibunya sedih. Apalagi kurang makan kaya tadi" sambung ayah


"tapi yah, mas Axel masih di Bali. Dan mungkin tidak tau kalau Jen pulang kesini."


"tidak apa kamu tunggu di rumah, yang sabar Jen. Semua rumah tangga pasti ada ujian nya masing-masing. Tinggal gimana kita menghadapi ujian itu"


"hhhmm Jen nurut aja sama ayah,"


"kalau gitu kamu siap siap biar ayah antar ya"


"iya yah" jawab Jen lemah.


Jen dan ayah masuk ke dalam rumah, tapi saat baru sampai ruang tengah terlihat Axel dan papah datang.


"Yang" panggil Axel saat melihat Jen, raut khawatir Axel begitu terlihat.


Namun Jen dengan cepat langsung memeluk tangan ayahnya erat. Entah kenapa Jen menjadi takut dengan Axel, takut semua pikiran nya menjadi sebuah kenyataan. Ayah memegang tangan Jen yang masih mencengkram lengannya.


"selesai kan masalah kalian, ingat kata ayah tadi" kata ayah pelan dengan menatap Jen.

__ADS_1


"Yang, kita perlu bicara. Aku akan menjelaskan semuanya" kata Axel lagi yang berusaha mendekati Jen dan ayah.


"sana Jen gak papa, ayah selalu ada buat kamu" kata ayah dan Jen mengangguk


"terimakasih yah" kata Axel


"selesai kan masalah kalian," ayah menepuk pundak Axel dan berlalu meninggalkan Jen dan Axel yang masih berdiri.


"ikut aku Al" ayah mengajak papah Al ke ruang kerjanya.


"kita ke kamar?" kata Axel yang akan meraih tangan Jen


"di sana aja" Jen kembali menuju halaman belakang


Axel menghela nafasnya, ia merasa akan sulit untuk membuat Jen percaya. Tapi bagaimana pun caranya Axel akan selalu berusaha.


"Yang" Axel yang sudah duduk di samping Jen, menarik Jen untuk dipeluk


"sory.." Jen menolak di peluk


"aku kangen sama kamu" Axel


"bohong"


"enggak sayang, aku beneran kangen. Maafin aku ya"


"maaf?" tanya Jen


"aku tau kamu marah sama aku tentang foto itu kan?"


"kamu sendiri kan mas yang kirim, kamu itu mikir gak sih? apa karena aku hamil kamu sudah tidak cinta sama aku?" Jen


"sayang, aku gak pernah berfikir untuk tidak mencintai kamu. Kamu dengerin penjelasan ku dulu"


"apa sih mas yang mau kamu jelaskan? udah jelas"


"aku ceritakan, kamu tau foto itu tapi kamu tidak tau kan cerita di balik foto itu"


Jen terdiam, memang benar ia hanya tau foto itu dan tidak dengan cerita nya. Tapi apa cerita Axel bisa di percaya.? Jen menjadi ragu, dan hanya diam.


"Yang, aku butuh waktu kamu lima belas menit untuk mendengarkan ceritaku." kata Axel dan Jen masih terdiam


"kamu tau kan aku kemarin ada undangan acara dinner? di sana aku bertemu banyak orang. Salah satunya bu Yola, beliau asistennya Mr. Jack. Bu Yola yang ada di foto itu Yang, dan aku hanya menolong bu Yola"


"hm menolong" kata Jen dengan tersenyum meremehkan


"Yang, aku benar benar hanya menolong, kamu bisa tanya Dodi"


"apa yang bisa aku lakukan mas, kamu dan kak Dodi bahkan tidak bisa di hubungi. Sekali nya kasih kabar kirim foto perempuan di atas ranjang. Apa coba maksudnya?"


"ponselku hilang Yang"


"gak mungkin sekali" kata Jen


"aku berani sumpah Yang"


"lalu kenapa jas kamu bisa di pakai perempuan itu? buat menutup badan bawahnya yang telanjang. Apa yang kalian lakukan? harus aku percaya sama kamu mas?" rentetan pertanyaan yang mengganjal hati Jen akhirnya keluar juga

__ADS_1


"kamu tenang dulu Yang" Axel menenangkan Jen yang mulai menangis


__ADS_2