Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Keberangkatan Sasa


__ADS_3

Axel yang merasakan pundaknya semakin berat pun berusaha melihatnya.


"Yang?" panggil Axel namun Jen masih diam saja


"pah, yah, Jen tidur" kata Axel,


"hah? baru juga diem lima menit udah tidur" papah


"iya pah, biar Axel bawa pulang aja ya?"


"tunggu sebentar lagi lah Al, udah lama kita gak ngobrol" Dani


"kamu bisa pulang sendiri Xel? biar nanti papah naik taksi"


"biar nanti ayah antar papah kamu Xel," kata ayah


"ya sudah Axel pulang duluan, nanti ayah sama papah hati hati di jalan" kata Axel dan beranjak menggendong Jen.


"saya permisi om" pamit Axel sopan


"biar di antar Bobi sampai depan Xel," kata Dani sambil menunjuk salah satu penjaga di sana.


"terimakasih om" jawab Axel dan segera keluar dari club malam itu.


"silahkan mas" kata Bobi yang membukakan pintu mobil Axel.


"terimakasih pak," kata Axel


Setelah itu Axel melajukan mobilnya perlahan, ia juga menghela nafasnya lega.


"anak lanang daddy, jangan minta yang aneh aneh lagi ya? Daddy pusing nanti." kata Axel sambil mengelus perut Jen yang tertidur.


Sesampainya di rumah, Axel melihat mamahnya masih di ruang tengah sedang melakukan panggilan vidio.


"kalian udah pulang?" tanya mamah


"udah mah, Jen tidur" Axel langsung menuju ke kamar. Setelah membaringkan Jen dan menyelimuti nya, Axel keluar untuk menemui mamahnya.


"papah mana?" tanya mamah


"masih di sana mah, tadi Axel pulang duluan."


"sama ayah kamu?" Axel hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan mamahnya.


wah harus kita teror Re. kata bunda yang menyahut dari sambungan vidio


"iya bener juga, bahaya ini." kata mamah


"Axel istirahat dulu mah" pamit Axel


"iya sayang"


.


.


.

__ADS_1


Pagi ini Jen ikut Axel ke kantor, alasannya Axel mau menghabiskan siang dengan Jen. Karena nanti malam Jen akan menginap di tempat Sasa. Percaya lah meminta izin kepada Axel sangatlah sulit, bagaikan nenek nenek yang memasukkan benang ke dalam jarum. Dan jalan keluarnya adalah menemaninya bekerja, baru sore hari Axel akan mengantar Jen ke rumah Sasa.


"Yang, gak jadi aja ya? kamu tidur di rumah aja" rengek Axel yang sekarang sedang mengantar Jen.


"mas, besok Sasa udah berangkat. Sekali ini aja mas, aku butuh ke time sama temen aku," Jen


"aku aja gak me time sama Dio kemarin". Dio memang sudah berangkat ke asrama beberapa hari lalu


"ya salah sendiri, kita kan cewek mas pasti juga sedikit lebay." Jen


"emang lebay" gerutu Axel dan Jen pura pura tidak dengar.


Sesampainya si depan rumah Sasa, Axel tidak langsung membuka kunci pintu. Ia terlihat cemberut dan memandang lurus ke depan.


"mas..." panggil Jen


"Yang, kamu janji kan gak aneh aneh?"


"iya janji, orang aku cuma mau nginep dan menghabiskan malam sama Tam, Sa"


"hhmmm" Axel memeluk Jen erat, seperti tidak ikhlas meninggalkan Jen di sini


"aku ikut nginep ya?" rengek Axel


"gak enak dong mas"


"kabari aku setiap menit," pinta Axel yang sudah seperti perintah


"astaga, iya" Jen


Setelah melepaskan pelukannya, Axel menarik tengkuk Jen. Sudah bisa di pastikan apa yang akan di lakukan Axel. Jen hanya menuruti suami nya agar lebih cepat karena itu akan lebih baik. Cukup lama Axel merasai b*b*r istrinya, dengan beberapa kali memberi kesempatan untuk Jen menghirup udara. Setelah nya ia beralih ke perut Jen.


"iya Daddy" jawab Jen mewakili anaknya.


"ya udah, aku pulang dulu. Itu temen kamu udah pada nunggu," kata Axel


setelah mencium kening Jen. Tamara dan Sasa terlihat berdiri di depan pintu menunggu Jen. Padahal yang di tunggu sedang ikut berperan di dalam drama yang Axel buat.


Setelah itu Jen turun dan melambaikan tangan saat mobil Axel mulai melaju perlahan, dan lama lama menghilang di tengah kendaraan yang juga melintas.


"lama amat buk" kata Tamara


"drama sinema dulu garwo gue"


"ya elah, udah ayo masuk" ajak Sasa


Ketiga gadis itu menuju ke kamar Sasa dan di sana sudah ada dua koper berukuran besar. Jen melihat ke sekeliling kamar Sasa, mungkin akan butuh waktu yang lama untuk bisa masuk ke kamar ini lagi. Beberapa bingkai foto yang biasa terpajang di kamar ini pun tidak terlihat lagi, karena di bawa oleh Sasa.


"Sa, gue gak nyangka kita akan jauh-jauhan" Tamara


"iya pasti kangen banget" Jen


"doakan gue ya, biar cepat selesai kuliah di sana dan pulang ke sini." kata Sasa dan mereka saling berpelukan.


"Sa, Dio gimana?" tanya Jen


Sasa terdiam dan memilih duduk di atas ranjang. Tidak bisa di bohongi kalau dirinya sedih meninggalkan Dio dan juga di tinggalkan Dio.

__ADS_1


"kalian tau kan Dio juga mengejar cita-citanya, gue gak bisa melarang. Gue hanya bisa mendoakan. Begitu juga dengan Dio yang melakukan hal sama." kata Sasa yang mencoba tegar


"hubungan lo?" tanya Tamara


"gak tau Tam, gak ada kejelasan. Gue berharap hubungan gue dan Dio akan tetap terjalin. Walaupun berjarak, kalau kita bisa jaga komitmen pasti akan baik baik saja.


"lo yang sabar ya" kata Jen memeluk Sasa.


.


.


.


Di bandara internasional pagi ini.


Sasa di gandeng Tamara dan Jen di sebelah kanan dan kirinya. Sedangkan Abang Sasa jalan di depan mereka dengan manarik koper Sasa. Sasa akan di antar abangnya, sedangkan orang tua Sasa masih sibuk di sini dan akan menyusul beberapa hari lagi. Begitu berat langkah Sasa untuk meninggalkan tanah air sementara waktu. Di tambah Dio tidak bisa di hubungi bahkan sampai pagi ini.


"Yang" panggil Axel yang menyusul Jen


"mas," kata Jen yang melihat kebelakang, disana juga ada Satria.


"Sa, lo hati hati disana ya?. Gue doain yang terbaik buat lo" kata Satria


"thanks Sat, kalian juga ya, jaga Tamara baik baik" kata Sasa


"pasti" Satria memandang Tamara.


"Axel, jaga ponakan gue ya. Jaga juga mommy nya." kata Sasa


"sudah tugas gue, lo jaga kesehatan di sana. Selamat belajar" kata Axel


"Dek, kita harus segera masuk ke sana, udah ada pengumuman" kata Zay abang Sasa


"iya bang" kata Sasa


Sasa melihat temannya bergantian, kemudian berpelukan dengan Jen dan Tamara. Bahkan air matanya mulai menetes, begitu juga dengan Jen dan Tamara.


"best friend forever" kata Tamara


"lo selalu di hati kita Sa, jangan lupa selalu kabari kita" Jen


"thanks, kalian teman terbaik gue. Sukses buat kalian semua. Gue berangkat ya" kata Sasa melepaskan pelukannya


"hati hati Sa" Jen


"jangan telat makan" Tamara


Sasa mengangguk tersenyum, ia memandang ke sekeliling untuk menguatkan niatnya.


Dio kamu dimana? aku berharap kamu bisa ada di sini. Tapi sampai saat ini pun kamu belum bisa di hubungi. Aku titipkan dan aku serahkan perasaan ini kepada yang maha kuasa. Aku pergi dengan perasaan yang sama Dio, dan aku berharap akan kembali dengan perasaan yang sama. Sampai jumpa tanah kelahiran, sampai jumpa kawan, dan sampai jumpa cinta Disa (Dio Sasa).


Sasa menunduk dalam untuk beberapa saat. Setelah nya ia mendongak dan menghembuskan nafas panjangnya. Tersenyum kepada temannya dan setelah itu memandang bang Zay.


"ayo" bang Zay mengulurkan tangannya


Sasa mengangguk, dan memegang tangan abangnya. Perlahan Sasa dan abangnya berjalan meninggalkan empat orang di belangnya. Tangis Jen dan Tamara semakin menjadi walaupun tidak bersuara. Sahabat yang selama beberapa tahun ini selalu ada di dalam hidupnya, sekarang memutuskan untuk pergi jauh disana dan mengejar cita cita. Axel dan Satria berusaha menenangkan dan menguatkan pasangan masing-masing.

__ADS_1


"TUNGGU..!!!!" Sebuah suara yang membuat langkah Sasa dan abangnya berhenti.


__ADS_2