
Setelah pulang sekolah Jen dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke mall, karena sudah lama mereka tidak nongkrong bareng.
tok tok tok ..
Suara ketukan pintu di rumah mewah milik keluarga Aditama. Terlihat wanita paruh baya yang membukakan pintu.
"Axel"ucap Bunda setelah melihat siapa yang datang
" selamat siang tante " sapa Axel
"kok Tante, bunda dong " bunda membenarkan sapaan Axel
"iya bunda" jawab Axel
"sini masuk dulu Xel,"
"kamu mau ketemu Jen ya?" tanya bunda setelah mereka duduk di ruang tamu
"iya bun, ada yang mau Axel bicarakan dan mau nganter mobil Jen" jelas Axel
"oh, Jen nya belum pulang Xel, coba kamu hubungi dia" saran bunda
"em Axel gak punya nomor ponsel nya Jen bun" jawab Axel jujur dan malu
"ya ampun kalian ini" kata bunda tersenyum dan menggeleng.
"kamu udah makan siang Xel?"
"udah kok bun tadi di bengkel",
"ya udah bunda telfonin Jen dulu ya" Bunda mulai mencari kontak Jen dan menanyakan dia dimana
πJEN.....
iya hallo bund,
"kamu dimana sayang"
ini di mall bun bareng Tam Sa
"oh, kamu bisa pulang sekarang,? ini ada calon suamimu " kata bunda sambil menahan senyum
mau ngapain bun?
"katanya ada yang mau di omongin sama kamu, kamu pulang sekarang ya sayang"
iya bund Jen pulang
"iya, hati hati di jalan"
Siap bund
tut
"Xel ini Jen lagi di mall sama temen temennya. kamu mau nunggu di sini apa istirahat di kamar?" tawar bunda
"di sini aja gak papa bun"
"ya udah kalau gitu, tapi nanti kalau mau istirahat di kamar juga boleh, jangan sungkan ya. bunda ke dapur dulu"
"iya bund,"
.
.
Setelah tiga puluh menit lebih Jen sudah sampai rumahnya. Terlihat mobil merahnya sudah terparkir rapi di garasi. Jen masuk lewat pintu samping garasi.
"bund, Jen pulang" kata Jen berjalan masuk
"iya, kamu bersih bersih dulu, abis itu kamu bangunin Axel di kamar Tamu."
"kok bisa, di kamar tamu?"
__ADS_1
"iya tadi kayaknya Axel capek banget jadi bunda suruh istirahat di kamar, kamu juga lama"
"iya tadi ada perbaikan jalan, jadi macet" jelas Jen
Jen pun memutuskan ke atas dan bersih bersih. Setelah itu dia ke dapur untuk minum.
"udah selesai kamu Jen, banguni Axel Ajak makan sekalian"
"iya bund"
tok tok tok
Tidak ada jawaban dan Jen pun membuka untuk mengintip.
"masih tidur, bangunin gak ya?" bingung Jen
"coba di bangunin dulu, kalau belum mau bangun berarti masih capek dan biarin istirahat dulu" kata bunda berbisik di samping Jen
"bunda ngagetin, "
"hehe maaf, ya udah sana. Bunda mau ke kamar dulu" kata bunda berlalu
Jen pun masuk dan membiarkan pintu terbuka.
"gimana ya" Jen ragu untuk mendekat. Ia melihat Axel yang tidur tengkurap.
"em, Xel bangun" Jen mencoba memegang pundak Axel
"Axel ketos" kata Jen sedikit menggoyang kan bahu Axel. Axel pun mulai menggeliat dan membalik badannya. Dilihatnya Jen sedang tersenyum kikuk. Axel pun kembali tengkurap dan memejamkan mata
"gue ngumpulin nyawa bentar, " gumam Axel yang bisa di dengar Jen
"gue tunggu di meja makan ya" kata Jen
"em" hanya itu jawaban Axel dan Jen pun beranjak.
.
.
.
"kenapa?" tanya Axel pada Jen yang melihatnya tanpa kedip
"enggak" Jawab Jen dan meneruskan makannya.
"bilang aja terpesona" ucap Axel yang menarik piring Jen
"mau apa?" Jen
"makan lah"
"kan bisa ambil sendiri ini punya gue" Jen berusaha meminta piringnya.
"gak kamu ambilin, udah ini aja ntar nambah lagi" Jawab Axel yang menyendok nasi dan menyuapkan ke Jen. Dengan kesal Jen menerima suapan Axel
"anak pintar" katanya dan menyuapkan untuk dirinya sendiri.
"lo itu kenapa sih suka banget makan bekas orang" gerutu Jen
"cuma sama lo aja, gak ada yang lain" kata Axel santai, dan entah kenapa dia merasa biasa saja dan tidak ilfil melakukan itu. Padahal sama sekali ia tidak pernah begitu dengan cewek siapapun.
Tanpa mereka sadari bunda dan juga mbok Jum melihat itu dari balik tembok dapur.
"Rere harus tahu ini" kata bunda yang cekikikan melihat hasil vidionya
"ayo mbok, biarin mereka" ajak bunda.
Setelah menghabiskan dua porsi makan yang di makan bersama, Jen mengajak Axel untuk ke belakang. Disana terdapat sebuah sofa panjang yang menghadap ke kolam renang dan taman belakang yang luas. Di samping kanannya juga terdapat ruang karaoke keluarga.
"kata bunda ada yang mau lo omongin?" tanya Jen memulai pembicaraan karena Axel sibuk dengan ponselnya.
"iya, bentar" jawab Axel yang masih fokus pada ponsel nya.
__ADS_1
Jen yang bosan menunggu Axel pun menyandarkan tubuhnya di sofa. Jen melihat ke arah gazebo di samping kolam yang biasa buat belajar bersama Bayu. Kenangan yang tercipta di sana pun terlintas dipikiran.
"Jen" panggil Axel sedikit keras dan menutup muka Jen dengan telapak tangannya.
"apa sih rese banget" kesal Jen
"ya lo ngelamun, di panggil dari tadi juga"
"maaf, jadinya mau ngomong apa?"
"tadi malem gue ngobrol sama papah tentang mahar....." dan akhirnya Axel menceritakan obrolan nya dengan sang papa.
"sekarang lo mau minta mahar apa?" tanya Axel serius
"gue.... em... gak tahu" jawab Jen jujur
"apa mau lo pikirin dulu?" Axel kembali bertanya
" enggak, lo aja yang mikir gue nurut aja" pungkas Jen
"kalau gue, misal nih gue kasih uang tunai 210 juta atau emas 210 gram gimana?" belum sempat Jen menjawab Axel menawarkan lagi.
"ya kalau lo pengennya mobil, motor, rumah, atau apapun ngomong aja"
"jujur gue juga bingung, kalau uang harus segitu?"
"emang kamu maunya berapa?"
"menurutku itu terlalu berlebihan ya, kenapa gak yang umum aja seperangkat alat sholat?"
"maaf ya sebelumnya, kalau seperangkat alat sholat itu jujur saja kalau tidak di pakai kan pasti akan dosa, kalau papah bilang itu abot sanggane (berat pertanggungjawaban nya). Gue aja juga masih bolong bolong sholatnya. Ya jadi lebih baik uang atau barang saja. Apa kamu sudah full sholatnya?" tanya Axel
Jen pun nyengir dan menggeleng,
"gak papa kita belajar bareng dan memperbaiki semuanya bersama." Axel
Jen pun mengangguk.
"jadi gimana? mau barang atau uang,?" tanya Axel lagi
"uang aja gapapa, " jawab Jen
"ya udah, 210 juta ya, gue setujunya juga gitu. Kalau lo mau uang kan besok besok lo bisa beliin apa yang lo mau." jelas Axel
"harus segitu banyaknya?"
"iya, itu ada harapan gue. Bukan tanggal lahir ataupun nomer t*gel" Axel
"harapan apa?"
"em jadi gue berharap angka 2 adalah simbol dua insan gue dan elo, yang menjadi 1 dalam ikatan pernikahan, dan menjalani rumah tangga bersama bagai roda dengan simbol 0 yang terus berputar dan tanpa saling melepaskan. Susah, senang, apapun keadaannya gue berharap kita tetap jadi 1" jelas Axel
deg deg deg deg
Jantung Jen berdetak tidak normal mendengar penjelasan Axel. Ia merasa tersentuh dan benar benar salut dengan harapan yang tersemat di angka 210 itu.
"iya gue mau," katanya sambil berkaca kaca
"lo beneran ikhlas dan ridho?"
Jen mengangguk pasti dan menghapus air mata yang menetes.
"kok nangis?" tanya Axel
"enggak , gue cuma terharu aja, semoga apa yang kita harapkan akan di mudah kan" kata Jen
"kamu gak keberatan dengan uang segitu? nanti mamah sama papah marah?" tanya Jen
"kamu tenang aja, gue yang nawarin pasti gue mampu memberikan" Jen pun mengangguk mendengar itu.
"boleh peluk gak?" tanya Axel.
#maaf semua, kalau bab ini mungkin ada yang menyimpang soal mahar. Dan beda pendapat pada pembaca semua. Jujur dulu aku di kasih tau seperti itu sama bapak pas mau menikah. Dan akhirnya aku meminta mahar uang 210 ribu ya bukan juta π, ya begitu lah harapanku pada angka 210. Terimakasih πππ
__ADS_1