
Setelah mengobrol sebentar dengan mamah dan papanya, Jen kembali ke tempat temannya.
"Yang, aku cari juga" gerutu Axel
"aku yang nyari kamu," Jen
" wah kalian bawa apa?" tanya Sasa antusias
"ini dapat kado dari adek kelas" Dio
"banyak amat," Sasa
"punya Axel yang banyak, nih buat kamu aja beb" Dio memberikan coklatnya pada Sasa
"wah bisa gendut" Sasa celetuk Sasa
"udah gendut" celetuk Tamara
"kasih mobil dulu ya Yang" kata Axel menunjuk barang bawaannya
"sekalian punya aku mas, 😁 aku capek" kata Jen manja
"iya" Axel menuju ke parkiran mobil. Setelah memasukan hadiahnya, ia mengajak pak Bejo untuk membawakan hadiah Jen ke mobil.
"maaf merepotkan ya pak" kata Jen
"tidak apa-apa non" jawab pak Bejo.
Mereka kembali ngobrol sambil melihat orang tua baru datang. Bunda juga sudah datang tadi, bersama pak Min dan juga bi Ar.
"ke aula yuk, udah mulai tuh acaranya" Tamara
"lagian kita aneh ya, orang pengumuman aja baru mau mulai, kita udah main coret coret aja" kata Jen sambil ngunyah coklatnya
"iya ih, gimana sih" Sasa
"tuh biang keroknya" Jen menunjuk Ari dengan dagunya
"orang lo juga mau," Ari
"ya gimana lagi gue kan tim hura hura jadi mau mau aja" Jen
"ngomong ngomong nanti malam kalian datang ke rumah Jen ya, kita ada acara pengajian." Axel
" rumah ayah bunda?" Sasa
"iya, kalian berdua juga ya" kata Jen pada Jamil dan Ari
"ada makanan kan?" Jamil
"banyak" Jen
"beres" Jamil
Mereka menuju aula tempat dimana para orang tua di kumpulkan. Tamara dan Satria jalan paling depan, kemudian Sasa dan Dio, Jen dan Axel, dan yang paling belakang Jamil dan Ari.
"bentar Yang" kata Axel melepaskan gandengan tangan dan memegang ponsel untuk membalas pesan.
"sstt" Jamil mencolek Jen yang ada di depannya. Jen menoleh seperti bertanya 'apa'. Jamil menunjuk beberapa siswi kelas Xl yang sedang berjoget tiktok. Jen mengangguk dan melangkah menghampiri mereka bersama Jamil.
Sedangkan Axel tidak menyadari kepergian Jen. Ia yang masih sibuk dengan ponselnya pun asal mengandeng tangan. Ari mencolek Sasa yang ada di depannya, saat Sasa menoleh Ari memperlihatkan tangannya yang di genggam Axel. Ari sekuat tenaga menahan tawanya.
"Astaga kalian" kata Sasa berhenti dan membuat Tamara, Satria dan Dio juga berhenti untuk melihat kenapa Sasa berteriak. Axel sendiri bingung dan celingukan.
"kenapa?" Tamara
"lo liat mereka" Sasa bergeser agar Tamara dapat melihat.
Tamara menutup mulutnya menahan tawa, Ari pun bertingkah seperti orang b*nc*ng. Ia pura pura merapikan rambutnya kebelakang, di tambah gaya tubuhnya yang di buat malu malu.
" kenapa lo?" tanya Axel pada Ari di sampingnya.
__ADS_1
"aaaaaa kamu itu" kata Ari sok imut dan memukuli pelan bahu Axel
" ish apa sih" gerutu Axel yang belum sadar.
"ini loh" Ari mengangkat tangannya yang di genggam Axel
"hah kok gila lo" kata Axel melepaskan tangannya dan membuat semua yang di sana tertawa
"orang elo yang megang megang" Ari
"Jen mana?" tanya Axel
"noh" Ari menunjuk Jen dan Jamil
Sedangkan Jamil dan Jen yang memang sudah hafal gerakan tiktok nya pun langsung ikut di belakang adek kelas nya. Mereka berjejer dan berjalan dengan menggoyangkan bahunya saja. Terdengar suara teriakan senang dari siswi siswi itu. Mereka tidak merasa terganggu dengan hadirnya Jen dan Jamil.
"lagi ya kak" pinta siswi A
"boleh, mau yang model gimana? seperti ini (memperagakan gerakan over dosis) atau seperti ini ( menyingkap sedikit bajunya dan menggoyangkan pinggulnya)" kata Jamil yang berhasil mengundang tawa mereka semua.
"AYANG!!" Axel
"lhadalah bojoku ngamok (astaga suami ku ngamuk)" kata Jen sambil menelan ludahnya saat melihat Axel yang melotot.
"gak ikut ikutan..." kata Jamil sambil berjalan pergi, tidak lupa ia menggoyangkan bahunya seperti tadi
"gimana nih kak?" tanya siswi B
"gak tau, hey Jamil sini lo. Lo yang ngajak gue" kata Jen
"elo sendiri yang mau ikut," Jamil masih berjalan sambil bergoyang
"s*alan lo" Jen
"Yang" panggil Axel lagi, yang lain cekikikan melihat itu
"adek adek TPA kaka pergi dulu ya, sampai jumpa lain waktu" kata Jen dan berjalan menghampiri Axel
"mamas 😁" panggil Jen pada Axel.
"jangan marah atuh, ganteng nya ilang loh" bujuk Jen
"biarin udah laku juga"Axel
"jangan marah" rayu Jen
"bisa bisanya kamu joget joget di sana"
"hasrat berjoget ku bergejolak mas"
"hahaha gila, gue beneran gak kuat deh sakit perut gue" kata Tamara yang melihat itu semua
"bantuin dodol" Jen
"kita gak ikut ikutan" kata Tamara yang mengikuti gaya Jamil dan menarik Satria
"gue juga ha ha ha" Sasa pun melakukan hal yang sama menarik Dio.
Rasanya Jen ingin mencekik mereka semua 😁, ia melirik Ari yang masih cekikikan.
"sory Jen tapi gue angkat tangan" kata Ari sambil mengangkat tangan dan di lambai lambaikan. Jen melirik Axel yang masih menatap nya tajam.
"nyuwun ngapunten mas gantengku, (minta maaf mas gantengku)." kata Jen dengan bersenandung
"Yang...😀, astaga aku beneran gak bisa marah sama kamu" kata Axel yang memang menahan tawanya
"ya udah gak usah marah, gitu doang" Jen
"gitu doang, tapi aku malunya kebangetan" Axel
"malu?"
__ADS_1
"iya malu, masa iya aku gandeng Ari tadi."
"hah?? Ari kamu kira aku? kamu gandeng? ya ampun mas emang tangan ku kaya punya Ari?" tanya Jen
"orang aku gak tau Yang, fokus ke hp tadi. Lagian kamu ngapain sih bisa nyangkut di sana?" Axel
"pengen aja, udah ayo kita ke sana" kata Jen.
Mereka semua di kumpulkan di aula bersama orangtuanya. Karena tempat duduknya berdasarkan kelas masing-masing. Jadi Jen dan Axel berpisah. Setelah acara sambutan dari kepala sekolah, dan juga papa Al, di lanjutkan acara pembacaan nilai tertinggi.
Axel mendapatkan nilai tertinggi dari semua kelas IPS, sedangkan Jen hanya mendapatkan peringkat ke delapan dari semua IPS. Untuk nilai tertinggi jurusan IPA adalah Bayu. Bayu mendapatkan tawaran beasiswa di kampus Alfam dan beberapa kampus lainnya di luar kota. Sedangkan Axel juga mendapatkan tawaran yang sama.
"Axel" panggil Mira setelah acara selesai dan sebagian siswa siswi juga orang tuanya masih di lingkungan sekolah.
Axel tidak menjawab hanya menengok saja. Axel sedang berdiri di samping Jen, mamah juga bundanya sedang mengobrol di samping mereka sambil menunggu papah.
"selamat ya" Mira mengulurkan tangannya.
"untuk?" tanya Axel
"kamu mendapatkan nilai tertinggi." Mira
"oh thanks" jawab Axel menjabat tangan Mira sebentar.
"em kamu kuliah di mana?" Mira
"luar negeri nan jauh di sana" jawab Jen ketus
"gue gak tanya elo" Mira. Jen hanya memiringkan mulutnya.
"Axel, kok gak di jawab sih" Mira
"gue belum tau" Axel malas sekali menanggapi Mira
"maaf nunggu lama" kata papah dan semua menengok ke arah papah
"udah selesai pah?" tanya Axel
"em om ini papah kamu Xel?" tanya Mira antusias
"iya" Axel
"halo om, saya Mira" kata Mira mengulurkan tangannya.
"saya yakin kamu sudah tau saya." papah
"iya om Al yang punya sekolah ini. Berarti tante mamahnya Axel?" tanya Mira yang mengulurkan tangannya juga pada mamah
"iya, Mira" mamah
"ayo mah, kita duluan ya. Kalian jangan lama lama" kata papah
"iya pah" jawab Jen kemudian mencium tangan mertuanya dan bundanya. Begitu juga dengan Axel.
Sok akrab banget pakai panggil papah mamah ke orang tua Axel. Dasar gatel banget. Mira
"ayo Yang," ajak Axel
"aku capek banget loh garwo" Jen
"nanti aku pijitin" Axel
"janji?"
"iya sayang"
"Axel" panggil Mira yang merasa di abaikan.
"Sory Mir, gue ada urusan" kata Axel manarik Jen
"bye ulet bulu" kata Jen tanpa suara
__ADS_1
Jen!!!!! apa sih lebihnya elo di mata Axel. heran gue. Gimana caranya gue tau Axel kuliah dimana ya. Tanya dua sahabat juga bukan ide yang bagus. Gue harus perjuangkan Axel lagi, apa pun caranya. Batin Mira yang melihat kepergian Jen.