Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Pembukaan


__ADS_3

Pagi ini Jen bangun tidur langsung mandi dan ke dapur. Ia akan membantu membuat sarapan seperti biasanya. Setelah selesai Jen kembali ke kamar untuk menyiapkan baju kerja dan membangun kan suami nya itu. Jen melakukan itu dengan sedikit lambat karena perutnya terasa kaku. Selama ia masih bisa mengatasi sakitnya, Jen akan diam dan menikmati.


"mas bangun, udah jam tujuh" kata Jen


"emm"


"mandi dulu , keburu di tunggu papah"


"iya Yang"


Axel bangun dan mencium kening Jen sekilas. Selesai mandi, Axel mengajak Jen untuk segera sarapan. Di meja makan masih kosong belum ada orang tuanya, namun beberapa saat kemudian mamah dan papah datang.


"pagi semua" sapa mamah


"pagi mah" jawab Jen.


Selesai sarapan Axel dan papah berangkat ke kantor, sedangkan Jen dan mamah masih duduk di meja makan.


"mamah gak ke toko?"


"mungkin nanti siangan, atau kalau kamu mau ditemenin mamah gak papa" kata mamah


"Jen aman kok mah, nanti kalau ada apa-apa kan bisa telfon"


"ya sudah, soalnya ada calon pengantin yang mau bikin cincin nikah"


"iya mah," kata Jen yakin.


Siang ini setelah makan siang, Jen merasakan sedikit nyeri di perutnya. Rasa sakit itu belum pernah Jen rasakan.


Duh kok basah ya, ke kamar mandi dulu deh. gumam Jen dalam hati


Sesampai nya di kamar mandi Jen tidak melihat tanda tanda yang bunda juga mamahnya katakan. Ia hanya merasa sedikit ngompol yang tidak bisa di tahan.


"gimana ya, apa tanya mamah? eh tapi mamah kan baru meeting. Coba bunda deh" Jen menghampiri ponselnya di nakas.


Dua kali melakukan panggilan telepon tapi belum di angkat bundanya. Jen memutuskan menghubungi toko, dan ternyata bunda dan mamahnya sedang meeting.


"gak papa kali ya, kam cuma sedikit keluar nya. Mungkin sebentar lagi mamah pulang." katanya duduk di ranjang.


"anak mommy, kamu mau keluar ya? mommy udah siap nak kapanpun kamu mau. Sebenarnya perkiraan nya masih satu minggu lebih, tapi gak papa sayang. Kita akan berjuang bersama."


Jen memutuskan menghubungi Sasa, ya pasti dia sedikit banyak tau tentang kehamilan. Walaupun saat ini dia menganggu tidur Sasa, tapi sahabatnya itu tidak keberatan. Dan menyarankan Jen untuk menghubungi maminya. Setelah sambungan telepon dengan Sasa berakhir Jen menghubungi mami Sasa, ia menceritakan apa yang terjadi.


Cairan yang keluar bukanlah cairan ketuban yang bocor. Jen di beri saran oleh mami untuk tetap tenang dan mengatur pernafasan saat kontraksi datang. Jen juga di minta mami menunggu sampai besok pagi, untuk mengetahui perkembangan nya. Kalau pun menunggu besok pagi Jen tidak kuat boleh langsung ke rumah sakit.


Jen mulai tenang setelah mengobrol dengan mami. Dan bisa jadi dalam waktu dekat ini dirinya akan melahirkan. Jen jalan ke sana kemari untuk mempercepat pembukaan. Sesekali ia juga duduk saat dirasa perutnya sakit.


Sore menjelang, setelah mandi Jen duduk di ruang tengah dengan bersandar di sofa. Dari tadi ia sering bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dan ia merasa sedikit lelah.


"Jen" panggil mamah yang baru datang


"mamah" jawab Jen sambil membuka matanya


"kamu tidur? maaf mamah ganggu ya"


"enggak mah, Jen cuma duduk aja"


"kok kamu agak pucet, kamu sakit?"


"gak papa mah, Jen cuma sedikit capek bolak balik ke kamar mandi"

__ADS_1


"itu biasa sayang, kamu yang sabar ya. Apa mau mamah pijitin pinggangnya?"


"makasih mah, mamah istirahat dulu aja. Jen gak papa kok"


"ya udah mamah bersih bersih dulu" kata mamah dan Jen mengangguk.


.


.


.


.


Malam ini Jen di buat tidak bisa tidur, selain ke kamar mandi, kontraksi perutnya semakin sering. Yang tadinya berjarak dua atau tiga jam sekali, sekarang menjadi satu jam atau beberapa menit. Axel yang merasakan pergerakan Jen pun ikut terbangun.


"Yang. kamu kenapa?" tanya Axel


"Aku gak bisa tidur mas"


"sini biar aku elus perutnya" seperti biasanya Jen akan sulit tertidur kalau tidak di elus perutnya.


Mendekati persalinan ini Jen, sangat sulit tidur. Untuk mencari posisi nyaman pun terkadang sulit bagi Jen. Axel selalu memaklumi itu dan siap menemani begadang.


"anak daddy, tidur dulu kasian mommy nya capek." kata Axel mengelus perut Jen.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian Jen tertidur. Melihat Jen sudah tidur, Axel pun ikut tidur. Pukul lima Jen terbangun karena kontraksi nya datang lagi. Jen duduk tenang dan setelahnya berusaha bangun untuk mandi. Selesai mandi Jen keluar kamar, saat menuju ke dapur Jen berhenti beberapa kali saat merasakan perutnya semakin sakit.


"sssstttthhh" desis Jen sambil memegang pinggang nya.


"Jen," panggil papah yang baru keluar kamar,


"papah" lirih Jen bersandar di tembok


"mah.....mamah" teriak papah dan mendekati Jen


"ma...." panggil papah lagi


"apa sih pah? astaga Jen" mamah lari dan menarik Jen dalam pelukannya


"papah panggil Axel dong" kata mamah panik


"hah Axel, mana Axel?" panik papah


"di kamar dong pah" kata mamah sambil menuntun Jen ke sofa


"kamu kenapa sayang? apa kamu mau melahirkan?"


"kontraksi mah, sepertinya Jen mau melahirkan. Huuufffhhhh" jawab Jen sambil mengatur nafas nya.


"kamu tenang dan benar atur nafas" mamah


"sejak kapan kamu merasakan kontraksi Jen, kenapa tidak bilang mamah"


"kemarin siang mah, Jen sudah telepon mami Sasa"


"maafin mamah ya Jen tidak menemani kamu"


"tidak mah, Jen kemarin masih kuat. Tanda tanda nya tidak sama seperti yang mamah cerita kan" Jen


"gak sama gimana?"

__ADS_1


"Jen gak flek mah, tapi cairan"


"Yang.." panik Axel


"pakai baju dan atar Jen kerumah sakit sekarang"


"tapi Jen kenapa mah" Axel


"mau melahirkan" mamah


"APA???" kaget Axel dan papah


"ayo buruan, kasian Jen menahan sakit" mereka melihat Jen yang meringis kesakitan.


Tanpa di duga papah dan Axel lari ke kamar bersamaan. Axel yang sudah cuci muka pun lari menghampiri Jen dengan tas baju di tangan kanannya. Sedangkan papah yang bingung pun lari ke depan dengan membawa guling.


"papah" kata mamah


"ayo mah, cucu kita mau lahir ini" papah


"itu guling buat apa?" tanya mamah menyilangkan tangannya di depan dada


"astaga, papah panik mah" papah


"ayo, Jen dan Axel sudah keluar" kata mamah


"Xel, kasih kursi belakang biar sama mamah" kata mamah yang melihat Axel di depan mobil sambil menggendong Jen.


"kamu bertahan ya sayang, tarik nafas" kata Axel


"kamu yang tenang mas jangan panik" kata Jen


"kamu lebih penting Yang"


"doakan saja mas," kata Jen memaksakan senyumnya.


Mobil Axel melaju kencang menuju rumah sakit. Jen melarang mertuanya memberi tahu orang tua nya, nanti saja setelah sampai rumah sakit katanya. Sesampainya di rumah sakit, Jen langsung di tangani mami Sasa. Bahkan mami Sasa sudah menyiapkan ruangan khusus untuk sahabat anaknya itu.


"kamu tenang ya Jen, tarik nafas panjang dan keluarkan perlahan. Maaf ya mami cek dulu sudah ada pembukaan belum"


"huuufffhhhh ssssttttt" desis Jen, Axel yang melihat apa yang di lakukan dokter itu menjadi ngilu.


"sudah pembukaan satu, mungkin masih beberapa Jam lagi untuk mencapai pembukaan sempurna Jen. Lumayan lama ya, soalnya dari kemarin kamu yang merasa kan."


"iya mi, rasanya sering datang"


"kamu mau tunggu di sini apa pulang dulu? kalau menurut mami, nanti malam baru pembukaan sempurna."


"di sini aja dok" Axel


"tapi mas?" Jen


"Yang, disini banyak dokter. Kalau di rumah aku ikutan panik" Axel


"begitu lebih baik Jen, ruangan ini juga sudah mami siapkan buat kamu."


"terimakasih mi"


"kalau kamu kuat, sambil jalan dan duduk di atas bola itu ya. Biar mempercepat pembukaan"


"tapi Jen ngantuk mi"

__ADS_1


"kamu boleh tidur dulu, sarapan juga boleh. Pokoknya nanti setiap dua jam mami kesini. Kalau ada apa-apa kamu boleh panggil mami kapan pun"


"terimakasih dok" Axel


__ADS_2