
Jen bingung kenapa Axel minta sesuatu padanya, padahal kan dia bisa membeli sendiri.
"em, aku harap kamu mau mengabulkan permintaan ku" Axel
"iya apa dulu"
"aku mau kamu kuliah online Yang," kata Axel dan Jen terdiam
"Yang, aku mohon. Ini demi kebaikan kamu juga" Axel
"apa aku masih bisa masuk kuliah lagi setelah melahirkan?"
"mau nya sih jangan 😁"
"mas kamu juga udah janji loh dulu"
"em ya udah setelah beberapa bulan melahirkan" Axel
"Janji kan mas"
"iya sayang"
"oke kalau gitu mulai minggu depan aku akan kuliah online mas,"
"makasih Yang" Axel mengecup kening Jen.
Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak hubungan kita Yang. Batin Axel
"kita keluar makan dulu yuk" ajak Jen
"iya Yang"
Di meja makan keluarga Aditama terlihat lengkap. Perbincangan seputar pekerjaan terdengar antara ayah juga Axel, sedangkan Jen dan bunda membicarakan tentang kehamilan.
"Jen, bunda rasa kamu harus mulai cuti deh, perut kamu udah besar" bunda
"iya bun, senin besok Jen ikut kelas online"
"kamu harus sering jalan pagi ya, biar sehat, mempermudah saat persalinan" bunda
"emang iya bun?"
"kata nenek kamu dulu gitu, bunda sih nurut aja" Bunda
"iya Jen, biasanya bunda kalau jalan pagi pasti ayah temenenin" ayah
"terus?" Jen
"ya biar romantis, sekalian jaga bunda biar tetap aman" ayah
"tuh mas, tau kan?" tanya Jen pada Axel yang menyimak
"bisa di atur Yang, apa sih yang enggak buat kamu" Axel
"gombal"
"gak percaya, kalau kamu minta jantung ku pasti akan aku kasih Yang" Axel
"aku belum siap menjanda mas"
"kok kamu ngomong nya gitu?"
"ya kalau jantung kamu di ambil di kasih ke aku, kamu otomatis almarhum dong mas. Ya kalau bisa di ganti jantung sapi atau jantung kucing sih gapapa." Jen
"hahaha kalian itu, udah makan dulu" ayah
"kan ibarat Yang" Axel
"yang nyata aja," Jen
.
.
.
.
Pagi ini Jen dan Axel sudah bersiap untuk pulang. Mereka keluar kamar bersamaan menuju ke halaman depan.
"ayah bunda, kita pamit dulu" kata Jen
"iya kalian hati hati di jalan" bunda
"ayah, maaf kalau sudah merepotkan. Dan terimakasih sudah mau percaya dengan Axel" kata Axel
"tidak papa Xel, salah paham itu biasa." ayah
Setelah itu Jen dan Axel menuju ke mobilnya, rencananya hari ini Axel akan libur kerja dan mengurus kuliah Jen yang akan menjadi online.
"mas kita mau kemana? kampus kan ke sana?" kata Jen yang menyadari ini bukan arah ke kampus
"pulang dulu Yang," Axel
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, Jen turun di bantu Axel. Terlihat di depan pintu mamah sudah menunggu .
"mamah" sapa Jen menyalami mertuanya
"sayang, mamah kangen sama kamu. Kamu baik kan?" mamah
"Jen baik kok mah, maafin Jen ya mah kemarin pulang ke rumah bunda"
"tidak papa Jen, mamah paham kok. Yang terpenting sekarang kalian baik baik saja"
"iya mah, tapi Jen harus dinas dulu" kata Axel yang menarik Jen
"dinas apa?" tanya Jen
"udah ayo ikut, mamah ke toko aja sana" Axel
"dasar anak kurang ajar malah mengusir mamahnya" kata mamah
"kamu itu mas" Jen mencubit pinggang Axel
"aaaa sayang lepas sakit" Axel
"bagus Jen, jangan di lepas" mamah
"mamah ih tega ngeliat anaknya di KDRT"
"sini biar mamah yang cubit kalau gitu" mamah
"ampun mah, Axel ke kamar dulu deh" kata Axel dan menggandeng Jen.
.
.
.
"mas, kata nya mau ke kampus" Jen
"nanti, apa kamu gak kangen sama aku?"
"kangen apaan coba, orang dari semalam bersama"
"tapi anak kita kangen Daddy nya"
"mana ada"
"ih beneran Yang, tuh nendang" kata Axel
"mas...." kata Jen yang paham dengan suaminya
"ini masih pagi mas, ish gak enak sama orang rumah" Jen
"janji sekali aja" Axel
"hhhmmmm" Jen pasrah dengan apa yang Axel inginkan.
Satu jam berlalu begitu saja, Jen yang masih mengatur nafasnya pun sedikit cemberut.
"kenapa sih Yang, kan aku kasih bonus tadi" Axel
"bonus apaan. Gak sesuai janji" Jen
"kamu juga mau"
"tau ah" Jen membelakangi Axel yang masih menahan tawanya.
Beberapa menit kamar yang tadinya panas, menjadi hening. Perlahan Axel melihat ke arah Jen, sepertinya istrinya itu sudah tidur.
"Yang" panggil Axel dan memegang bahu mulus Jen.
Sesuai rencana. Maaf ya Yang, aku pergi dulu. Tidur yang nyenyak ya. Kata Axel dalam hati dan menyelimuti tubuh Jen.
Axel perlahan keluar kamar, dan menuju kamar lamanya untuk mandi. Karena tidak ingin berisik dan menganggu tidur Jen. Setelah rapi, Axel langsung turun dan berniat untuk ke kampus.
"Xel, mau kemana?" tanya mamah yang sedang berada di ruang tengah
"ke kampus mah," jawab Axel setelah meminum teh hangat mamahnya
"Sama Jen?" mamah
"sendiri mah"
"Jen mana? gak kuliah?"
"Jen tidur mah, ini aku mau ngurus kuliah Jen yang mau ambil online dulu"
"oh, Jen sakit kok tumben jam segini tidur?"
"enggak sih mah, mungkin capek"
"capek ngapain?" tanya mamah yang penasaran
"masak mamah gak tau, Axel jalan dulu mah" Axel berdiri
__ADS_1
"tunggu dulu, maksud kamu apa?"
"mah, Axel mau menemui Romi. Mana mungkin Axel bawa Jen ke kampus. Jadi Jen aku buat tidur"
"kamu kasih obat ke Jen?"
"ya enggak lah mah, semua aman. Tanya papah aja mah caranya, pasti tau" kata Axel menyalami mamahnya dan berlalu.
.
.
.
Selesai mengurus urusan Jen di kampus, Axel menuju ke kelas Romi. Kebetulan Romi masih ada kelas, dan mungkin beberapa menit lagi selesai. Tidak bisa di bohongi kalau Axel begitu menahan marah pada Romi.
"Romi Ardiansyah" panggil Axel di samping pintu kelas Romi
"Axel" gumam Romi
"ada yang ingin gue katakan sama lo"
"ada perlu apa?" Romi
"ikut gue" Axel
"gue sibuk, mending lo katakan sekarang"
"oke" Axel
bug
Satu pukulan mengenai pipi kanan Romi
"itu buat orang yang berani mengusik rumah tangga gue" Axel
"anak seorang konglomerat bisa bertindak kasar." kata Romi dengan senyum meremehkan
"itu semua karena lo, gue sudah peringatin lo untuk menjauh dari istri gue. Dan juga gue tau semua rencana busuk lo."
"gue hanya memperjuangkan impian"
"impian merebut istri orang? yang benar saja." Axel
"kenapa lo takut kan di tinggal Jen. Lo mending urus tuh Yola yang memang suka sama lo"
"itu semua rencana lo, jangan pernah ganggu rumah tangga gue dan juga Jen. Kalau untuk menghancurkan lo itu hal yang mudah" Axel
"ck, enak ya jadi lo, udah punya istri tapi masih tidur dengan perempuan lain" Romi
"jaga mulut lo, gue gak pernah melakukan itu dengan perempuan mana pun. Dan jangan lupa semua itu jebakan yang lo buat"
"jangan asal menuduh"
"semua ada bukti nya. Jadi jangan macam macam" kata Axel berlalu
"sial, awas lo Xel" gumam Romi yang melihat punggung Axel menjauh.
"ada apa Rom?" tanya Arif
"gak" jawab Romi
"Rom, siapa sih yang lo deketin?" tanya Riko
"lo tau sendirilah" Romi
"bukannya lo suka sama mahasiswa baru itu, Jen?" Riko
"hmmm"hanya itu jawaban Romi
"kok dia tadi nyebut istri, emang Jen udah nikah?" Riko
"Jen istri Axel, pemilik kampus ini. Axel Alexander" Romi
"gila... itu kan orang kaya" Riko
"cinta itu buta kan?" kata Romi dengan senyuman yang susah di artikan.
"Jangan ganggu rumah tangga orang Rom" Arif
"sory Rif saat ini gue hanya mau Jen" Romi
"tapi Rom, saingan lo keluarga Alexander" Riko
"gue akan berusaha" Romi berlalu meninggalkan temannya
"gimana nih Rif?" tanya Riko
"gak tau Rik, sepertinya Romi nekat"
"anak itu, sekalinya suka sama cewek malah istri orang" Riko
"tapi Jen itu memang cantik dan gue baru tau kalau dia udah nikah" Arif
__ADS_1
"sama aja lo," kata Riko pergi menyusul Romi