Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Tujuh bulan


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, persiapan acara tujuh bulan kehamilan Jen sudah seratus persen. Rencananya banyak tamu undangan yang akan hadir dalam acara ini. Dari rekan bisnis Axel, papah dan juga Ayah, di tambah lagi saudara dan juga teman Jen maupun Axel.


"mas bangun" Jen membangun kan Axel yang masih tidur.


"jam berapa Yang?"


"jam setengah tujuh, aku mau kebelakang dulu ya"


"gak mau tunggu aku" Axel merebahkan kepalanya di paha Jen.


"aduh anak daddy, tau ya kalau Daddy ada di dekat kamu." gumam Axel yang tadi mendapat tendangan selamat pagi dari anaknya.


"dia gak mau mas, kamu belum mandi" Jen


"gak papa yang penting mommy nya mau" kata Axel


"percaya diri sekali kamu mas, ayo buruan mandi, sebentar lagi mau ada acara."


"katanya siang?"


"ya masa kita gak bantu bantu sih mas"


"iya sayang, ya udah aku mandi dulu"


.


.


.


.


Sore ini setelah selesai acara sungkeman, siraman, pecah telor, memutus janur, brojolan, pecah kelapa, ganti busana. Saat ini Jen dan Axel sedang memeragakan jualan cendol juga rujak, ini menjadi urutan terakhir di acara adat tujuh bulan kehamilan.


"TUMBAS (Beli)" kata Ari, Jamil, Satria, Tamara dan Gendis. Mereka tadi belajar bahasa Jawa dengan Gendis


"tumbas nopo?" tanya Jen dengan full senyum


"bilang apa Jen?" bisik Ari pada Gendis


"beli apa" jawab Gendis


"Tumbas cendol dawet seger" kata Jamil


"cendol cendol" Ari


"dawet dawet" Jamil


"segar" Satria


"salah, seharusnya lima ratusan bukan segar." Jamil


"gue gak tau lagunya," kata Satria


"hey kalian mau apa malah pada ribut" kata Axel yang sedang setia memayungi Jen. Karena memang begitu tradisi nya.


"kita kan mau beli Jen" Tamara


"iya kalian mau apa?" Jen


"gue mau cendol aja" Tamara


"aku rujak Jen" Gendis


Ari, Jamil, dan Satria menyebutkan apa yang ia inginkan. Jen terlihat cekatan saat mengambil kan pesanan temannya.


"Jen kalau lo jualan di kafe gue, pasti laku keras, gue liat dari tadi laris amat kalian jualan" Satria


"gue sih mau mau aja, tapi kalau besok ada judul berita Anak tunggal keluarga Aditama jualan cendol, atau Menantu keluarga Alexander jualan rujak. lah gimana lo mau tanggung jawab?" kata Axel, dan tanpa di sadari itu membuat Gendis melihat ke sekeliling nya.


"hahaha ya kan menambah penghasilan keluarga"Tamara

__ADS_1


"iya juga, tapi takutnya pada nanya anak kandungnya bukan sih" Jen


"bilang aja baru mau merasakan betapa pahitnya hidup" Jamil


"elo aja yang hidupnya pait, gue mah manis aja kek cendol ini" kata Jen memberikan mangkuk cendol pada Jamil


Mereka semua tertawa mendengar candaan Jen. Namum yang mengganjal dari tadi Gendis banyak diam dan sesekali tersenyum. Gendis baru menyadari kalau dirinya berbeda dengan tamu yang lain, padahal ia sudah memakai baju bagus yang ia punya.


"kamu kenapa Dis?" tanya Ari yang menyadari itu.


"em aku malu Ar, tamu yang hadir orang kaya semua, dan aku......"


"Gendis kamu jangan seperti itu, kan gue yang ngundang lo. Kita gak pernah memandang kekayaan seseorang. Maaf ya kalau candaan Axel tadi mungkin membuat lo tidak nyaman." Jen


"maaf Gendis bukan maksud gue seperti itu" kata Axel


"gak papa, memang semua itu fakta," Gendis


"udah ah masa acara yang seharusnya bahagia jadi canggung begini. Kita duduk di sana yuk sekalian makan" ajak Jen


"maaf ya Jen" Gendis merasa tidak enak


"gak papa, ayo" Jen.


"Yang, aku ke sana sebentar ya, papah manggil aku" Axel


Jen hanya mengangguk, kemudian berjalan dengan teman temannya. Mereka menikmati hidangan dan juga hiburan yang di suguhkan. Jen juga beberapa kali menyapa para tamu dengan Axel. Banyak rekan kerja orang tua mereka yang baru tau kalau Jen dan Axel menikah. Sampai para tamu undangan sudah pulang, tersisa lah teman Jen dan Axel.


"biar WO nya aja yang beresin" kata Axel yang melihat Ari, Jamil dan juga Satria ikut membereskan kursi.


"gapapa kali Xel" Satria


Tamara dan Gendis juga membantu para bibi juga mbok Jum yang membereskan sisa makanan.


"mbak Tamara lama gak main ke rumah bunda" kata mbok Jum


"iya mbok, mainnya ke sini 😁," Tamara


"iya kan mbak Jen sekarang tinggal disini. Mbak Sasa mana mbak?"


"buk" Gendis menyalami mbok Jum


"panggil mbok Jum, cah ayu. Kamu pasti dari Jawa?"


"iya mbok"


"mbok juga dari Jawa,"


Mereka mengobrol tentang banyak hal, sampai akhirnya pekerjaan cepat selesai.


.


.


.


Jen sedang bersandar di dada bidang Axel, mereka sekarang sudah berada di kamar.


"kamu capek Yang?" tanya Axel sambil mengelus rambut Jen


"capek tapi seneng mas"


"gak kerasa, kamu udah tambah gede Boy" kata Axel mengelus perut Jen


"iya makin aktif mas, sebentar lagi kita ketemu Nang" kata Jen ikut mengelus perut nya


"Nang?" tanya Axel bingung


"anak lanang" Jen


"oh iya,.. em kamu mulai cuti aja Yang"

__ADS_1


"mas"


"perut kamu udah besar loh Yang,"


"aku masih mau kuliah mas"


"tapi Yang, aku takut dia akan mengejar kamu lagi"


"enggak mas, udah beberapa hari ini dia gak ganggu aku lagi" kata Jen yang paham kalau Axel takut Romi menganggu Jen.


"Yang, lusa aku harus ke Bali lagi beberapa hari. Terus kamu gimana?"


"ya aku gak gimana gimana, emang mau gimana?" Jen


"aku khawatir sama kamu Yang"


"kamu kerja aja, aku baik baik saja mas"


"cuti aja ya, online dulu"


"aku masih kuat mas, aku mohon" kata Jen


"hhhmmm ya sudah, tapi kalau kapan pun kamu mau cuti, bilang ya?"


"iya pasti mas"


Sebenarnya Axel tidak tenang meninggalkan Jen, tapi mau bagaimana lagi tuntutan pekerjaan sudah menanti dirinya. Beberapa hari yang lalu Jen sudah menceritakan tentang Romi, ya walaupun Axel sudah tau dari Jamil tapi ia lebih suka kalau Jen yang jujur. Axel bahkan sudah mencari tau latar belakang Romi ini, dan kenapa dia masih saja suka dengan Jen.


Pagi ini dering ponsel Jen membangun kan Axel yang masih memeluk Jen. Ia melihat nama di ponsel Jen yang bertuliskan Sasa.


"Yang bangun, Sasa vidio call ini" kata Axel


"hmm" Jen


"Sasa ini" Axel


Setelah mengumpulkan nyawanya, Jen segera menggeser tombol hijau. Sedangkan Axel merubah posisi menjadi tengkurap di belakang Jen.


🎥 Sasa


Selamat malam mommy


"pagi kali" jawab Jen


🎥


kok di tempat gue malam ya


"apa sih Sa, gue belum melek" kata Tamara yang juga di hubungi Sasa


🎥


enak banget kalian belum bangun, gue aja belum tidur


"beda negara" Tamara


🎥


loh mommy mana mommy,


"Jen" panggil Tamara


🎥


balik tidur nih pasti, Jen bangun


"apa sih" Jen yang kembali meraih ponselnya yang tadi di taruh di meja


🎥


gue kangen sama lo Jen, masa lo tega sih

__ADS_1


"iya iya, ada apa? salah sendiri lo beberapa hari ini sibuk" Jen memposisikan kepalanya di punggung Axel


Mereka mengobrol via video call lumayan lama. Sampai akhirnya Jen pamit untuk mandi dan membantu mertuanya.


__ADS_2