
"oh tidak" Sinta menutup matanya
"gaya lo Sin, padahal kalau nonton drakor yang begituan sampai melotot" Tamara
"ya soalnya ini milik Jen, takut ngiler gue" Sinta dan membuat mereka tertawa
"pakai gak bajunya" kata Jen pada Axel
"kamu juga ganti sana" Axel
"nanti garwo, kelihatan dikit doang" Jen
"aku juga dikit doang" Axel
"garwo!!!!" Jen
"stop kalian berdua, jangan perang disini" Sasa
"Lagian ngapain sih kalian disini?" tanya Tamara
"iya beb, kamu kok gak bilang sih?" Sasa
Ketiga cowok itu diam, mereka bingung mau jawab apa lagi.
"sana ganti baju, kamu udah makan belum?" tanya Axel pada Jen. Ya sekedar mengalihkan topik pembicaraan saja.
"yuk kita tinggal aja mereka" Jen
"aku pesenin makan ya Yang," kata Axel
Ke empat gadis itu menuju ke pondok di mana tas mereka berada. Sedangkan para cowok mengikuti dari belakang. Setelah mandi dan ganti baju, mereka kembali ke pondok.
"beb foto bareng yuk" ajak Dio pada Sasa
"boleh" Sasa
"kita ikutan dong, ayo semua" ajak Tamara
"gue?" Sinta
"lo ikut lah" Jen menarik Sinta
"gak ada pasangan hua hua" Sinta pura pura menangis
" udah gue juga jomblo kali" Tamara.
Mereka berfoto-foto ria dengan spot foto yang ada. Jen dan Axel meminta di fotokan dari belakang. Dari yang pegang tangan sampai ciuman. Dan itu berhasil membuat teman temannya heboh.
"Axel, kamu gak tau malu apa" kesal Jen
"dikit doang Yang, kan udah sah" Axel
"udah yuk balik" Jen
Saat mereka kembali ke pondok ternyata makanan yang di pesan Axel sudah datang. Ada banyak makanan di sana. Axel mempersilahkan mereka untuk makan. Selesai makan datang lah sebuah pelayan dengan membawa piring yang tertutup tudung saji.
"mbak Tamara yang mana?" tanya pelayan itu
"saya mas" Tamara
"silahkan mbak," pelayan itu menaruh piring yang ia bawa di depan Tamara
"ini apa? saya gak pesan kok?" Tamara
"saya permisi semua" pamit pelayan itu
"mas tunggu mas" panggil Tamara tapi pelayan itu tetap pergi.
"buka aja Tam" Sinta
"kalau bom gimana?" Tamara
"ya meledak lah, masa ya meleleh" Jen
"ih lo nakutin gue" Tamara
"udah buka, kan buat Tamara kata masnya tadi" Sasa
Perlahan Tamara membuka penutup piring itu. Ada sebuah surat di dalamnya, Tamara mengambil dan membukanya.
__ADS_1
Terimakasih buat semuanya, maaf gue membuat lo menunggu. Perasaan yang masih sama ini ternyata semakin dalam. Gue takut lo pergi lagi dan memilih hati yang lain. Boleh kah saat ini gue minta lo jadi pacar gue? . Apakah hati dan perasaan lo masih sama?. Lihat ke arah depan kiri. Jika lo mau jadi pacar gue,, datang dan ambil bunganya. Jika lo masih ragu dan ingin seperti ini saja hubungan kita, datang lah kepada tiga anak kecil yang membawa balon.
Begitulah isi surat yang di baca Tamara. Tamara mengikuti isi surat itu untuk melihat ke arah depan kiri. Disana terlihat Satria berdiri dengan membawa buket bunga, di samping kanan nya terdapat spot foto berbentuk hati, dan di samping kanannya lagi ada tiga anak kecil memegang balon huruf Y,O,U. Jadi membuat simbol I ❤️ YOU. Tamara yang terharu pun tidak bisa berkata apa-apa hanya menutup mulutnya.
"apa isinya Tam?" kepo Sasa
"Tam?" panggil Jen karena melihat Tamara yang bengong
Jen yang penasaran pun merebut kertas yang di bawa Tamara dan membacanya keras. Tamara beranjak turun untuk menentukan pilihannya. Sedangkan teman temannya pun hanya melihat Tamara dan Satria. Tamara berdiri depan simbol hati ❤️.
"ini artinya Satria nembak Tamara?" Sasa
"iyo santan" Sinta
"pantes Satria pamit pergi, TERIMA AJA TAM," teriak Sasa
"jangan teriak teriak beb" Dio
"aku ikut deg deg" Sasa
Sedangkan Axel, Jen dan Sinta hanya menyaksikan dengan senyuman.
"tutup mata lo, hitung dalam hati sampai sepuluh dan buka mata. Lo akan tau jawabannya" Tamara
"oke" Satria memejamkan matanya dan mulai berhitung dalam hati.
Tamara melangkah maju menentukan pilihannya. Perlahan Satria membuka mata, apapun yang akan menjadi keputusan Tamara ia akan menghargai. Setelah sempurna membuka matanya, ia melihat Tamara yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum. Satria mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan.
"kamu?" Satria
"aku pilih bunga yang lo, maksud nya kamu bawa" Tamara
"beneran? kamu mau jadi pacar ku?" Satria
"iya, rasa ini juga masih sama Sat" Tamara
Satria langsung menarik Tamara dalam pelukannya.
"makasih Tam"
"jangan buat aku kecewa ya" Tamara
"YEEEEEYY" teriak Sasa, Jen dan Sinta sambil bertepuk tangan
"good job Sat" gumam Axel
"akhirnya temen gue gak jones lagi" Dio
Kemudian mereka menghampiri Tamara dan Satria yang masih berpelukan.
"cie yang udah jadian gak mau lepas" Sasa
"eh kalian" Tamara
"selamat ya Tam lo gak jadi bunuh diri kaya tadi kan?" Jen
"hah bunuh diri?" Satria
"iya, gara gara di ledekin jomblo dia mau ke tengah laut sana" Sinta
"gue cuma becanda ya, lagian buat ngerjain kalian kok" Tamara
"jangan lagi, bahaya" Satria
"iya,,,," Tamara menggantung
"BABANG" saut Sasa,Jen dan Sinta. Pasalnya Tamara pernah bilang kalau punya pasangan mau panggil babang.
"ih kalian" kata Tamara sambil malu malu.
"Sat lo udah selesai kan?" Axel
"udah kok, mau pulang sekarang?" Satria
"iya keburu malam, kasian mereka naik motor" Dio
"lah kamu beb?" Sasa
"naik mobil, kan tangan Satria masih sakit" jelas Dio
__ADS_1
"gak papa kan?" Satria
"beres tenang aja" jawab Tamara
"em Sat, gue minta tolong sama lo, jangan sakiti Tamara ya" Sinta
"lo tenang aja, lo bisa pegang omongan gue" Satria
"cie, perhatian banget sama sepupu" Sasa
"namanya juga saudara Sa" Sinta
"oke kita siap siap pulang ya" ajak Axel dan semua bersiap untuk pulang.
Para gadis gadis mengendarai motor dengan kecepatan sedang, sedangkan para cowok berada di belakang mereka. Senja sudah nampak begitu indah, hari yang menyenangkan dan juga melelahkan.
.
.
.
Saat ini, Jen dan Axel sedang belajar di kamar. Mereka fokus pada tugas masing-masing. Axel merenggangkan otot nya, rasanya capek sekali mengerjakan tugas matematika. Dilihatnya Jen yang menaruh kepalanya di atas meja.
"Yang" panggil Axel
"ketiduran, kasian amat pasti capek" Axel membereskan buku-buku nya, setelah itu memindahkan Jen di atas kasur.
Axel melihat buku Jen masih berantakan, bahkan pekerjaan rumah nya belum selesai. Ia membantu mengerjakan tugas Jen, setelah itu Axel baru istirahat. Saat akan menutup matanya terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Axel. Sebuah laporan dari Jodi yang meminta Axel untuk ke kantor besok.
Pagi ini di meja makan hanya terlihat mamah yang sibuk menata sarapan.
"papah mana mah?" tanya Jen yang baru datang
"udah berangkat ke Bandung Jen" mamah
"papah udah berangkat mah?" tanya Axel
"udah, baru aja Jen nanya" mamah
"nitip file gak mah?" Axel
"ada di meja kerja map biru katanya, mamah belum lihat."
"ya udah Axel ambil dulu"
Axel berlalu ke ruang kerja sang papah, sedangkan Jen dan mamah sarapan dahulu.
"Suapi Yang" kata Axel yang baru duduk dan sedang membuka file yang ia bawa.
Jen menurut menyuapi suaminya, karena Jen tahu Axel sedang bekerja dan mereka harus segera berangkat sekolah.
"manjanya" Sindir mamah
"mamah sama papah juga pernah kan" jawab Axel yang tidak mengalihkan pandangannya dari kertas di depan nya.
"iya sih hehehe" mamah
Selesai sarapan Jen dan Axel pamit berangkat ke sekolah. Jen yang sudah masuk di mobilnya kaget karena Axel juga ikut masuk di mobil Jen.
"loh garwo kok di sini?" Jen
"numpang Yang, aku masih mau ngecek ini" Axel
"em tapi"
"sekali sekali kamu jadi supir aku Yang,"
"ish kamu itu" Jen mulai melajukan mobilnya
"supir cantikku" Axel menepuk pundak Jen
"gak lucu"
"emang gak ngelucu Yang"
Sampai di sekolah Jen keluar dari mobil disusul dengan Axel.
"ternyata cuma buat supir" gumam Mira yang melihat itu dan tersenyum meremehkan.
__ADS_1