Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Suntikan semangat


__ADS_3

Papah yang sudah mendengar penjelasan Axel pun manggut-manggut sambil berfikir. Papah melihat ke arah Axel dan Dodi bergantian.


"ini yang saya harapkan, kenapa tidak dari kemarin?" papah


"ini terlalu sulit buat Axel pah"


"tidak ada yang sulit, ini buktinya kamu bisa" papah


"iya tapi lama"


"tidak masalah, yang penting bisa dan tepat waktu kan?" papah


"itu tadi karena mendapatkan suntikan semangat pak, kalau enggak ya gak yakin deh pak" Dodi


"maksudnya?" papah


"Dia manggil istri nya kesini, gak mau di ganggu selama dua jam." Dodi


"kerja sama dengan Jen?" tanya papah Axel


"iya lah pak, kalau tidak kerja sama mana mungkin Axel akan mandi keramas setelah mengunci diri" kata Dodi dan mendapatkan sikutan dari Axel.


Detik berikutnya terdengar suara tawa dari papah dan juga gelengan kepala.


"makanya, kamu cari istri biar dapat suntikan semangat" kata papah


"betul" saut Axel


"main keroyokan" Dodi


"pah, ada lagi gak? Jen di ruangan sendiri" karena sudah hampir satu jam Axel di ruangan papahnya


"udah kok, kamu boleh pulang" papah


"saya om?" Dodi


"saya masih atasan kamu, dan jam kerja masih satu jam lagi" kata papah karena Dodi memanggilnya om


"ish pilih kasih" Dodi


"hahaha tunggu dulu ada yang masih mau saya bahas dengan kamu" Papah


"oke baiklah" Dodi


Axel keluar ruangan papahnya dan menuju ruangan nya. Terlihat Jen sedang bermain ponselnya saat Axel datang.


"ayo pulang Yang" ajak Axel


"udah selesai?"


"iya" jawab Axel membereskan mejanya dan berjalan mendekati Jen.


Mereka berdua berjalan keluar gedung, Axel tidak melepaskan genggaman tangan pada Jen. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Pasangan yang pas menurut mereka, cantik dan ganteng. Jen terlihat ramah dengan senyuman nya, sedangkan Axel bermuka dingin tapi mempesona, saling melengkapi bukan? ya begitulah pasangan memang harus melengkapi.


"mau mampir kemana Yang?" tanya Axel setelah berada di dalam mobil


"em,,, kemana ya?" Jen


"pulang aja deh" kata Jen lagi


"yakin?"


"he.em" jawab Jen dengan anggukan


.


.


.


.

__ADS_1


Pagi ini Jen, Tamara dan Sasa sedang berada di rumah Axel. Mereka berada di ruang samping sambil nonton drakor.


"Sa, lo beneran mau kuliah di luar negeri?" tanya Jen


"em, iya" jawab Sasa melemah dan menaruh gelas yang ia pegang di meja


"Dio?" Jen


"gue belum tau, belum cerita" Sasa


"tapi kan lo sebentar lagi juga berangkat?" Tamara


"gue bingung mau ngomong sama Dio"


"bicarakan sekarang Sa, pasti Dio akan mengerti" Jen


"gue takut Dio akan meninggalkan gue. Gue sempat berfikir untuk langsung berangkat dan tidak cerita ke Dio"


"Jangan Sa, itu jahat namanya. Apa lo gak mikir bagaimana Dio nantinya?" Tamara


"bener Sa, coba dulu aja ngobrol sama Dio" Jen


"gue berat sebenarnya, tapi demi masa depan mau gimana lagi," Sasa meneteskan air mata.


"gue yakin semua akan baik-baik saja Sa," Jen memeluk Sasa


"gue belum bisa bayangin jauh dari kalian" Sasa


"kita selalu ada buat lo, kita gak akan ninggalin elo" Tamara ikut memeluk Sasa


Saat mereka asik berpelukan pintu ruangan itu terbuka. Mereka bertiga kaget kenapa para cowok idaman mereka bisa disini. Kalau di pikir pikir ini masih jam kerja buat Axel.


"Yang? kamu kenapa?" tanya Axel


"gak papa" jawab Jen menghapus air matanya yang tadi ikut menetes


"kok nangis, sini" Axel manarik Jen dalam pelukannya. Sedangkan dua cowok ganteng melihat bingung ke arah mereka semua.


"kenapa suasananya melow gini?" Satria


Sasa hanya diam dan tidak berani menatap Dio, begitupun Dio. Namun senggolan di lengan Dio menyadarkan nya.


"Sa?" panggil Dio dan Sasa mendongak


"em aku mau bicara sesuatu sama kamu, bisa?" Dio


"mungkin ini saatnya Sa," bisik Tamara yang menepuk pundak Sasa.


Sasa juga melirik Jen mungkin untuk bertanya bagaimana, dan Jen mengangguk. Sasa beranjak dan mendekati Dio.


"kita bicara di sana" Dio menunjuk sebuah bangku ayunan di pinggir kolam rumah Axel.


Sasa dan Dio duduk bersebelahan, Dio memberikan senyuman terbaiknya. Berbeda dengan Sasa yang terlihat begitu gelisah.


"kamu kenapa beb?" tanya Dio


"enggak" jawab Sasa dengan senyum kikuk


"kenapa nangis?" tanya Dio. Dio semakin tidak tega kalau mau bicara sekarang, sedangkan Sasa habis menangis.


"gak papa, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Sasa memberanikan diri melihat ke arah Dio


"em aku, aku bingung" Dio


"kenapa?" Sasa


"Sa, kamu tau kan aku sayang banget sama kamu?"


"ada apa Dio?" Sasa mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan


"Sebenarnya aku sudah mendaftar di akademi kepolisian" Dio

__ADS_1


Duar...


Sasa begitu kaget dengan perkataan Dio. Karena memang Dio tidak pernah cerita tentang ini.


"kamu? beneran?" Sasa


"iya Sa, dan aku akan berangkat pendidikan mungkin beberapa minggu lagi." jelas Dio


Sasa hanya terdiam dan menangis, Dio sebenarnya tidak tega tapi mau bagaimana lagi.


"Sa, maafin aku" Dio memeluk Sasa erat, membiarkan Sasa menangis di dekapan nya.


"apa kamu mau menunggu aku Sa? aku membutuhkan waktu empat tahun untuk pendidikan ini" tanya Dio lagi dan Sasa menggeleng


"maksud kamu?" tanya Dio yang mengurai pelukannya dan memegang wajah Sasa


"ak....aku mau kuliah. Aku mau kuliah di luar negeri" Sasa mengatakan niatnya.


"kamu kuliah di luar negeri?"


"iya, mami dan papi memintaku kuliah di luar negeri. Aku takut mengatakan ini pada kamu beb, aku takut kamu kecewa dan marah" Sasa menunduk


"enggak beb, aku tidak akan marah ini semua juga demi kebaikan kita. Sejujurnya aku berat meninggalkan kamu, tapi malah aku juga kamu tinggalkan" Dio


"apa kamu mau menunggu aku?" Sasa


"aku akan berjuang demi kamu Sa, aku akan menunggu kamu"


"janji?"


"apa aku juga boleh meminta hal yang sama?" Dio


"tapi semua akan terasa berat" Sasa


"mau kamu gimana?" Dio


"gak tau Dio, aku tidak punya pilihan"


"tolong jaga hatimu ya beb, aku juga akan melakukan hal yang sama" Dio


"kita berjuang bersama-sama" lanjut Dio lagi. Melihat ketulusan Dio membuat Sasa tersenyum tapi juga menangis. Dia akan berjauhan dengan pujaan hatinya yang menemani beberapa bulan ini.


"Jangan menangis ya, semangat buat kita berdua" Dio memeluk Sasa erat.


Mungkin beberapa minggu lagi mereka sudah tidak bisa seperti ini. Walaupun hubungan mereka belum lama tapi entah kenapa berat sekali meninggal satu sama lain.


Sedangkan di dalam ruangan tadi terlihat empat orang sedang melihat Sasa dan Dio.


"jadi Dio juga mau pendidikan akpol?" Tamara


"iya, kan tinggal di asrama. Dia juga berat buat tinggalin Sasa. Eh malah Sasa yang pergi jauh" Satria


"perjuangan buat mereka berdua. Kita doakan yang terbaik" Axel


"pasti," Jen


"kita ke sana" ajak Tamara


Setelah menghampiri Sasa dan Dio mereka saling berpelukan sebentar untuk memberikan semangat pada mereka berdua. Mereka mengobrol santai seputar masa depan dan juga rencana yang akan di jalani.


Malam ini setelah sholat magrib, Axel memberikan Jen al Qur'an dan meminta Jen membacanya. Dia membacanya dengan lantunan yang merdu dan juga indah, sedangkan Axel ikut menyimak. Usia kandungannya sudah bertambah, kata bundanya di usia kandungan Jen yang sekarang ini akan di tiupkan roh pada janin nya. Jadi Jen di minta banyak berdoa dan mengaji. Mungkin sebentar lagi juga akan di adakan acara empat bulanan kehamilan Jen.


"mah, suara siapa?" tanya papah yang mendengar dari kamarnya.


"kayanya Jen"


"merdu banget mah, papah mau ke sana boleh ya mah" kata papah


"iya" kata mamah,


Papah menuju kamar Axel, dan ternyata terbuka sedikit. Papah langsung masuk begitu saja, Axel yang melihat papahnya masih mengenakan sarung pun segera menyalami papah. Sudah di pastikan papah juga baru selesai menunaikan sholat magrib, sedangkan mamahnya sedang berhalangan.

__ADS_1


"papah mau ikut " kata papah langsung duduk di samping Axel yang artinya berhadapan dengan Jen.


Jen yang menyadari ada papahnya pun tersenyum dan kembali melanjutkan bacaannya. Sampai masuk waktu isya menjelang, dan mereka sholat berjamaah dengan papah sebagai imam.


__ADS_2