
Lima hari sudah berlalu, hari ini terakhir ujian Nasional. Para murid kelas XII ips 1 berkumpul di depan ruangan. Mereka membahas acara perpisahan.
"gimana nih mau kemana dulu?" Ari
"emang uang kas kelas masih?" siswa 1
"masih lumayan lah, berapa Ndah?" tanya Ari pada Indah bendahara kelas.
"masih empat juta delapan ratus dua puluh ribu" Indah
"kita perlu bikin album foto gak sih?" Tamara
"boleh juga" Ari
"mau foto di mana? gue punya beberapa potongan vidio kalian" Jamil
"di gabung aja besok, malah lebih bagus itu. Soal foto gue ngikut aja mau di mana" Jen
"eh tapi gue di minta buat bikin kenangan satu angkatan juga." Ari
"ya udah besok pasti ada pemberitahuan. Pulang yuk" Sasa
"ya sudah silahkan yang mau pulang" Ari.
Jen, Tamara dan Sasa berjalan menuju parkiran. Tanpa mereka sadari ketiga cowok ganteng mereka juga berjalan di belakangnya.
"cewek" goda Satria
"kalian" kata Tamara melihat ke belakang.
"kita jalan yuk" Satria
"sono kencan mulu" Sasa
"kamu juga dong beb sama aku" Dio
"terus ibu negara kita?" Sasa menunjuk Jen
"ya pasti ikut bapak negara" Dio
"kita jalan bareng, mau kemana bumilku?Axel berbisik saat menyebut bumi, ia juga merangkul Jen
"ih kamu itu" Jen mencubit pinggang Axel.
"hehehe aku gemes tau Yang, pengen tak bawa ke..." Axel
"kemana? kalian mau ngomong apa? gak ingat kalau kita masih anak sekolah" Saut Dio
"hahahaha" tawa Jen dan Axel pecah saat mendengar Dio yang kesal. Pasalnya Jen dan Axel sering bermesraan di depan mereka, yang sebenarnya hanya menggoda saja. Terus membahas hal hal yang membuat otak mereka traveling. Itu sebenarnya tidak bagus, tapi ya mereka hanya bercanda saja. Yang lain juga sudah paham dan maklum.
Mereka memutuskan untuk makan siang dulu. Sesuai permintaan bumil, makan di sebuah saung tepi sawah.
"gila adem banget di sini" Sasa
"iya, pemandangan nya juga keren" Tamara
"kalau gue ngantuk" Jen yang bersandar di pundak Axel.
"ya udah tiduran sini sambil nunggu makanan datang" kata Axel dan di turuti Jen.
"kita foto di sana beb" Sasa mengajak Dio
"Tam kita keliling yuk, aku pengen liat liat" Satria.
"bilang aja mau bikin konsep yang sama" saut Axel
"hahaha ya gak masalah kan, jiwa bisnis ku sudah meronta-ronta" Satria
Sedikit cerita kalau Satria sebenarnya sudah mulai belajar berbisnis. Baru punya outlet minuman dan juga makanan ringan. Rencananya Satria ingin membuka kafe, hanya Axel dan juga Dio yang tau rencana Satria.
"anak daddy apa kabar?" tanya Axel sambil mengelus perut Jen.
__ADS_1
"oh iya mas, besok jadwalku cek kandungan" Jen
"iya sayang,"
Axel sibuk dengan ponselnya, sedangkan tangan nya masih mengelus perut Jen. Beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Axel menghubungi Dio juga Satria, karena mereka tidak terlihat di sekitar saung.
"ayo makan Yang" kata Axel tapi Jen tetap diam saja.
"astaga ayang, kena angin malah tidur." gumam Axel
"wah enak kayaknya" kata Satria yang melihat makanan nya.
"iya ih sambalnya menggoda, Jen banyak lalapan nih" kata Sasa
"lah Jen, lo diem diem bae" Tamara
"Jen tidur" kata Axel yang menaruh ponselnya.
"kalian makan dulu aja" kata Axel lagi.
"lah mau main malah dia tidur" Tamara
"Jen sering tertidur semenjak hamil. Gampang ngantuk" Axel
"oh, maklum" Sasa
Setelah selesai makan Jen belum juga terbangun. Axel menggendong Jen ke mobil, mereka memutuskan untuk pulang. Sedangkan Tamara, Sasa, Dio dan Satria mereka melanjutkan jalan jalan.
.
.
.
Saat Jen bangun, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ia melihat Axel yang tidur memeluknya dari belakang.
"gue tadi ketiduran ya," gumam Jen
Jen mengingat saat dirinya tadi ketiduran di saung. Sudah pasti Axel lah yang membuka baju Jen, Axel tidak mau tidur Jen terganggu karena merasa tidak nyaman menggunakan seragam. Jen memindahkan tangan Axel yang melingkar di perutnya, perlahan ia beranjak ke kamar mandi.
"Yang" gumam gumam Axel
"mau mandi" Jawab Jen dan Axel kembali tertidur.
Selesai mandi Jen merasa sangat lapar, ia menuju ke dapur.
"bi..." panggil Jen yang melihat bibi sedang menyapu di halaman belakang.
"iya non?" bibi
"em bibi ada ikan asin gak?" tanya Jen
"ikan asin? ikan teri adanya non" bibi
"kalau beli dimana ya bi?" tanya Jen
"di tukang sayur, belakang kompleks mungkin ada non" bibi
"aku mau dong bi, bibi anterin aku ya" Jen
"non yakin?"
"iya, ayo bi sekarang"
"ya sudah ayo non, sekalian bibi bilang sama pak Bejo buat nerusin yang nyapu"
"iya bi"
Jen pergi dengan bibi naik motor metiknya, untungnya tukang sayur yang di maksud bibi tidak jauh dan ada ikan asinnya. Setelah dapat mereka pulang. Jen duduk di meja sambil menunggu bibi yang menggoreng ikan asin. Mencium baunya saja sudah membuat perut Jen keroncong.
"mah bau ikan asin, papah jadi laper" kata papah yang baru pulang bersama mamah
__ADS_1
"tetangga kali pah yang masak" mamah
"udah lama papah gak makan ikan asin 🤭, kapan kapan boleh lah mah" papah
"iya,,,, kok baunya tambah menyengat sih. Eeh iya dari dapur pah" kata mamah menuju dapur di ikuti papah.
Sedangkan di dapur Jen sedang duduk dan melihat makanan yang baru selesai di buat bibi. Ada ikan asin peda, sambal terasi, lalapan kacang panjang mentah, daun singkong, daun pepaya dan nasi hangat. Setelah mencuci tangan Jen mulai makan.
"wah enak sekali" kata papah
"papah, mamah, tangan Jen kotor" kata Jen yang mau salaman.
"udah gak papa, kamu makan aja Jen" mamah
"papah minta ya?" papah
"boleh pah, mamah sekalian aja makan" mamah
" ini kami yang minta?" tanya mamah pada Jen
" iya mah 😁, boleh kan mah?" Jen
"boleh sayang gapapa" mamah
"mah ambilin, papah laper ini" kata papah
"iya cuci tangan dulu" mamah.
.
.
.
Malam ini Jen sedang berbincang dengan mamah seputar kehamilan. Sesekali Jen tertawa saat mamah menceritakan saat hamil Axel.
"mah Jen kangen bunda, boleh gak besok setelah cek kandungan Jen pulang ke rumah bunda"
"boleh sayang, kamu jangan sungkan, mamah pasti kasih ijin." mamah
"makasih mah" kata Jen mengelus tangan mamahnya.
Sampai jam sebelas Jen masih berada di ruang tengah bersama mamah. Sedangkan Axel dan papah baru keluar dari ruang kerja papah.
"Yang, tidur yuk" kata Axel menghampiri Jen
"aku belum ngantuk mas"
"tapi aku udah" Axel
"masa? tadi kan tidur lama" Jen
"bilang aja aku butuh gitu boy" kata papah
"butuh apa?" mamah
"ah mamah sok lupa sama kode papah" papah
"oh kode, itu Axel kode Jen" mamah
"kode apa?" tanya Jen
Sedangkan mamah dan papah cekikikan, Axel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"sabar boy, ajarin dulu sama kode kode an." papah menepuk pundak Axel.
"Jen mamah istirahat dulu ya, kayaknya papah capek" kata mamah yang masih tersenyum.
"iya mah" kata Jen.
"tuh mamah udah bantuin, segera lancarkan" kata papah
__ADS_1
"iya pah" .