
Saat mereka asik mengobrol, bibi datang membawakan piring berisi irisan mangga juga sambal rujak.
"silahkan non," kata bibi
"makasih bi" Jen mengambil satu mangga dan mencolek kan ke sambal.
"ih" Satria ngilu liat Jen makan mangga muda
"Yang, jangan banyak-banyak" Axel
"enak nih, siapa mau?" Jen
"gue gak kebayang rasanya," Sasa
"makanya cobain daripada membayangkan" Jen
Tamara yang penasaran pun ikut memakan mangga itu, namum baru satu kali kunyahan ia langsung memuntahkan nya.
"hhmmm, gila ini mangga asem" Tamara
"enak kok, lagian kalian dapat dari mana?" Jen
"Tadi ada yang jual rujak, gue beli aja mangga nya doang 😂" kata Dio
"emang boleh?" Jen
"ya gue bilangnya buat orang ngidam" Dio
"tapi thanks ya gue suka ini" Jen
"udah Yang, nanti lagi" Axel
"gak papa ini enak kok, sesuai apa yang aku rasakan" Jen
"tapi kalau asem nanti kamu sakit perut" Axel
"enggak" Jen
"udah berapa bulan Jen?" Sasa
"em udah 10 mingguan, ya hampir tiga bulan" Jen
"udah mau tiga bulan lo gak cerita?" Sasa
"gue tau nya juga baru kemarin, waktu umur tujuh minggu" Jen
"lo taunya ngidam apa muntah gitu?" Tamara
"enggak, aku gak ngerasain apa apa. Taunya pas garwo sakit dulu, yang sebenarnya kena sindrom couvade." Jen
"Kehamilan simpatik" Sasa
"kok kamu tau beb?" Dio
"tau lah, iya kan Jen? pasti Axel yang ngidam sama mual dan pusing" Sasa
"iya calon bu dokter" Jen
"hah lo beneran ngidam Xel?" Satria
"iya" jawab Axel
"hahahaha" tawa Satria dan Dio
"heh kalian berdua, gue doakan besok kalian juga merasakan apa yang gue rasakan" kata Axel sambil tersenyum mengejek
"wah doa lo gak bagus banget" Dio
"iya, nanti gue doa kan anak lo mirip gue" Satria
"enak aja, gue yang capek berkeringat masak mirip elo."Axel
"kalian ngomongin apa sih" Sasa
"hehe tau itu calon bapak bapak beb" Dio
"kalian makan dulu sini" panggil mamah
"iya mah" Axel mengajak semua untuk ke meja makan.
Setelah makan siang Satria, Dio, Tamara dan Sasa pamit pulang. Mereka akan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian besok lusa.
__ADS_1
.
.
.
Pagi ini Jen dan Axel berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat Jen dan Axel meminta doa kepada mamah dan papanya. Kebetulan kemarin sore bunda dan ayah datang ke rumah Axel. Mereka juga meminta doa kepada ayah dan juga bundanya.
"Yang, kamu baik baik saja kan?" tanya Axel saat melihat Jen diam
"aku baik baik saja kok, kamu tenang aja" Jen
"iya Yang," Axel
Sampai di sekolah Axel mengantar Jen ke ruangannya, setelah itu ia mencari ruangannya sendiri.
"Jen, jangan lupain gue ya?" Jamil
"maksud lo?" Jen
"kita kan depan belakang duduknya, bisa dong lo kasih jawaban" kata Jamil sambil tersenyum
"ogah" kata Jen
"yah gak plen (friends) lo" kata Jamil
"emang kita bukan plen wlek 😛" Jen
"Tam" panggil Jamil
"hhhmm" jawab Tamara yang masih memegang buku untuk belajar
"lo plen gak sama gue?" Jamil
"Gak" Tamara
"hahaha kasian amat lo gak dapat plen" kata Jen
" kalau gue gak lulus gimana?" Jamil
"ya gue sih ketawa" Jen
"kalau gue say goodbye" Tamara
"UDAH DARI DULU" jawab Jen dan Tamara. Karena memang satu kelas di bagi menjadi dua kelompok, Sasa tidak satu ruangan dengan Jen dan Tamara.
"kalian tau gak? ini kesempatan buat kalian berbagi dengan gue, karena besok setelah lulus belum tentu kita bareng lagi. Gue yakin satu triliun persen kalian pasti akan kangen sama gue" Jamil
"percaya diri sekali bung" Jen
"dih gak percaya, gue berani jamin deh pasti nama gue akan kalian sebut saat bercerita dengan anak dan cucu kalian." Jamil
"iya sih pasti, soalnya tidak ada teman yang gila selain Jamil. Tidak ada siswa yang ileran selain Jamil," kata Tamara
"ya gak itu juga yang di ceritakan" Jamil
"eh kalau gue, pasti yang bagian Jamil di suruh menerangkan di depan, gantiin pak Wal. Udah teriak teriak jam kosong tau nya pak Wal udah di belakang nya." kata Jen sambil menahan senyum
"emang kalian nyebelin, gue gak akan cerita kan kalian ke anak gue" Jamil
"ow tidak masalah" Jen
"hahaha" tawa Tamara pecah saat melihat ekspresi Jamil.
Bel tanda masuk sudah berbunyi, dengan segera para murid duduk di bangku sesuai no yang ada di kartu. Guru yang menunggu jalannya ujian pun, membacakan aturan saat ujian. Setelah itu membagikan soal dan lembar jawaban. Hening dan hanya terdengar suara jangkrik 🤭, maksudnya suara gesekan pensil dan kertas.
Para murid mengerjakan soal dengan sungguh sungguh, berharap lulus dengan hasil nilai yang memuaskan. Seratus delapan puluh menit waktu yang di berikan untuk mengerjakan soal matematika yang menjadi mata pelajaran pertama.
Jen terlihat tenang saat mengerjakan soal-soal nya. Begitu juga dengan Axel yang berbeda ruangan dengan Jen. Karena mereka sudah belajar dan mempersiapkan semuanya dengan baik. Setelah Selesai ujian hari ini Jen menunggu Axel di taman depan bersama Tamara dan Sasa.
"rada pusing nih gue," keluh Sasa
"kenapa?" Tamara
"gue mikir menghitung angka doang. Gak tau buat apa, orang besok kita masak di dapur juga gak pakai rumus persamaan kuadrat, trigonometri dan sebagainya. Kan pusing gue" Sasa
"hahaha iya juga sih, buat apa sih Tam,?" tanya Jen
"ya mana gue tau dodol, ya udah kalau gitu besok besok lo gak usah pada ngerjain aja" Tamara
"oh tidak bisa, kan kalau bahasa Indonesia bahasa Inggris itu pasti ke pakai ya." Sasa
__ADS_1
"iya, akuntansi juga buat modal kita," Jen
"yang lain?" Tamara
"ya gak tau haha" Sasa
"Yang" panggil Axel dan mendekati Jen yang sedang duduk di bangku bawah pohon.
"kok lama sih" gerutu Jen
"maaf tadi ada urusan sebentar, pulang sekarang?" tanya Axel sambil mengelus kepala Jen
"iya, tapi pengen es teller" Jen
"oke baiklah kita cari es teller" Axel
"gue duluan ya" pamit Jen
"lah kita juga pulang, tadi kan kita nemenin elo" Tamara
"hahaha thanks ya, kalian baik deh" Jen
"DARI DULU" kata Sasa dan Tamara
Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing. Jen melihat ke sekeliling jalan, untuk mencari penjual es teller. Entah kenapa bayangan es teller berputar indah di kepalanya.
"itu di depan mas" kata Jen
"mas?" Axel
"iya mas bojo 😁" kata Jen nyengir
"kenapa gak panggil sayang juga sih" Axel
"belum terbiasa" Jen
"di biasakan dong Yang,"
"iya mas" Jen
Axel memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"mau makan di sini apa di bungkus" tanya Axel
"di sini aja" jawab Jen dan turun dari mobil.
Axel yang memesan kan sedang kan Jen mencari tempat duduk.
"kenapa senyum senyum?" tanya Axel yang melihat Jen tersenyum lebar.
"aku seneng aja, akhirnya makan es teller" Jen
"sebahagia itu?" Axel
"iya aku tuh pengen banget" Jen
"ya udah nanti kalau kurang pesan lagi" Axel
Jen menunggu pesanannya sambil melihat jalan yang ramai pengendara. Sedangkan Axel membuka aplikasi handphone nya. Walaupun tidak ada obrolan dari mereka, namum genggaman tangan Axel tidak lepas dari tangan Jen.
"silahkan mas, mbak," kata ibu penjual
"makasih bu" kata Jen
Jen segera menyendok es itu, ada sensasi yang luar biasa. Dingin, manis, gurih, nikmat yang haqiqi lah saat panas, haus dan capek. Jen terlihat sangat menikmati. Bahkan ia sudah memesan untuk dibawa pulang.
"mau apa lagi Yang?" tanya Axel setelah mereka masuk kedalam mobil.
"mau pulang aja garwo" Jen
"mas aja" Axel
"iya mas bojoku (suamiku/istriku) yang paling ganteng," Jen
"suka suka kamu Yang" Axel
"hehehe,"
Saat perjalanan pulang terasa begitu hening, Axel melihat ke samping ternyata Jen sudah tertidur.
"pasti capek banget ya?" kata Axel sambil mengelus pipi Jen.
__ADS_1
"kamu happy anak daddy?" kata Axel mengelus perut Jen
"Harus selalu happy ya sayang, biar mommy nyaman daddy pun aman hehe 😁" kata Axel lagi.