Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Makanya pakai sarung


__ADS_3

"sayang?" panggil Axel


"aku hamil garwo?" tanya Jen


"iya,," jawab Axel mencium tangan Jen


"sekali lagi selamat ya mbak, mas. Mau mengabadikan momen ini mas?" tanya dokter


"i...ya. iya dok sebentar" Axel buru buru mengeluarkan ponselnya. Ia mengambil foto juga vidio.


Setelah selesai dokter membersihkan perut Jen. Jen masih belum percaya kalau dirinya hamil. Rasanya cukup campur aduk, antara bingung, takut, bahagia juga belum siap. Jen menetes kan air matanya.


"Sayang kamu kenapa?" Axel


"gak tau, aku bingung aja takut" Jen


"mbak Jen, mas Axel mari ikut saya. Kita bicara di sana ya" dokter


Mereka mengikuti dokter Yeyen duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Axel masih merangkul Jen yang terlihat syok. Di sana masih ada dokter Riza yang duduk bersebelahan dengan dokter Yeyen


"diminum dulu mbak" suster memberikan satu botol air mineral.


"mbak Jen gak usah takut atau bingung. Mbak harus tetap tenang" kata dokter Yeyen spesialis kandungan


"iya sayang gak papa" Axel


"mbak Jen seorang ibu hamil itu harus selalu bahagia, agar janin yang ada di perut juga berkembang dengan baik. Karena janin atau bayi akan merasakan apa yang ibu rasakan. Seperti sedih, bahagia, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan makanan, bayi kita juga bisa menikmati nutrisi juga gizi dari makanan yang ibu makan. Jadi kita harus jaga pola makan, banyak sayur, buah dan juga vitamin supaya tetap sehat." jelas dokter Yeyen


"tapi dok, aku masih syok dan takut" Jen


"saya tau pasti mbak Jen sedikit syok, pasti yang di pikirin mbak Jen itu besok kedepannya dimana. Tapi mbak harus tenang, semua akan baik-baik saja. Yang terpenting sekarang, mbak jangan banyak pikiran. Mas Axel pasti kan bumil happy ya, ngidam nya di turuti 😁" kata dokter Riza


"iya dok saya pasti akan jaga mereka berdua. Terus gimana dengan sakit saya?" Axel


"oh mas Axel untuk mual dan pusing itu namanya morning sickness. Biasanya memang itu yang di alami oleh ibu hamil, tapi kalau suami juga mengalami hal yang sama itu gejala sindrom couvade. Atau sering disebut kehamilan simpatik. Kehamilan simpatik ini bisa di alami, suami, teman, bahkan ibu dari ibu hamil itu sendiri. Karena mereka mempunyai ikatan batin yang kuat dengan ibu hamil." jelas dokter Yeyen


"jadi mbak Jen berbahagialah karena anda tidak mengalami morning sickness. Karena itu akan terasa menyiksa bagi yang mengalami. Betul begitu kan mas Axel?" tanya dokter Riza sambil tersenyum


"iya dok, sampai kapan saya begini?" Axel


"bisa sampai bayi lahir, tapi yang paling sering hanya di trimester pertama saja mas. Tiga bulan awal kehamilan" dokter Yeyen


"gimana mbak Jen, ada yang mau di tanya kan,?" tanya dokter Riza yang melihat Jen diam saja.


"em saya masih bingung dok, tapi saya dan kandungan saya gak papa kan,?" Jen


"iya mbak, yang terpenting sekarang mbak Jen harus lebih hati-hati ya, ingat adek di perut mbak. Karena remaja yang masih sekolah biasanya lebih aktif. Makan yang bergizi, dan rutin minum vitamin, nanti saya berikan vitamin nya. Ada keluhan mbak,?"


"sejauh ini sih enggak dok," Jen

__ADS_1


"untuk perubahan mood itu biasa ya mbak, mas, jadi harus saling memahami. Kuncinya buat happy ibu hamil" dokter Yeyen


"iya dok" Jawab Jen


"saya resep kan vitamin yang bagus buat mbak Jen, dan mas Axel sudah di kasih obat sama dokter Riza?" dokter Yeyen


"sudah dok"


"ya di minum rutin ya mbak, mas. Sehat sehat semuanya, dan saya ingatkan kalau setiap bulan harus periksa ya untuk memantau perkembangan janin. Besok saya akan buatkan jadwal" Dokter Yeyen


"iya dok" Jen


Setelah selesai melakukan pemeriksaan Jen dan Axel menuju mobil nya. Jen masih bengong sambil memangku Katong plastik berisi vitamin. Sedangkan Axel ia merasa bahagia sekaligus tidak menyangka akan secepat ini ia di beri momongan. Axel melajukan mobilnya perlahan. Ia ingin berbicara berdua dulu dengan Jen, akhirnya Axel membawa Jen ke apartemen.


Tidak ada obrolan di antara mereka. Sesampainya di dalam unit, Axel mengajak Jen untuk duduk di sofa. Axel menaruh tas juga melepaskan sepatu. Axel juga membantu Jen melepaskan sepatu nya. Axel pergi ke dapur untuk mengambil minum dan memberikan kepada Jen. Setelah itu Axel memeluk Jen erat, tanpa permisi air mata Jen turun begitu saja.


"sayang, terimakasih dan maaf ya" Axel


"aku bingung" kata Jen sambil terisak


"apa yang kamu bingung kan?" tanya Axel melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Jen.


"seperti nya aku belum siap jadi ibu" kata Jen dan air matanya semakin deras


"sayang kamu jangan menangis aku merasa bersalah kalau kamu begini" Axel menghapus air mata Jen dengan jarinya.


"Tapi gimana untuk kedepannya," Jen


"aku masih mau kuliah, gimana kalau semua teman kita tahu. Kita juga mau ujian bulan depan" jelas Jen dengan terbata.


"untuk itu kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa tetap kuliah kok. Kalaupun teman kita tahu mereka pasti bisa jaga rahasia"


"teman sekolah maksud nya"


"biarkan jangan pikirin itu. Kalau ada yang tahu kita buka aja semuanya, toh kita juga sudah menikah lama" Axel


"apa aku bisa jadi ibu yang baik? aku benar-benar belum terfikir sampai di sana" Jen


"Bisa, kamu pasti bisa. Kita akan jalani ini bersama, ada aku, mamah papah dan ayah bunda. Tolong jangan khawatir kan apapun itu. Aku selalu di sampingmu, menemani, menerima dan menjaga kalian. Kamu tenang ya, kita juga tidak sendiri, banyak orang orang yang sayang sama kita."


"iya garwo aku hanya belum percaya saja"


"sayang, ini adalah kabar bahagia untuk kita dan orang tua kita. Ingat kata dokter kamu juga harus happy. Jadi sekarang jangan nangis lagi ya, maaf kalau aku buat kamu seperti ini" kata Axel


"iya ini gara gara kamu, kalau di suruh pakai sarung aja gak mau!!" kata Jen yang berubah merajuk


"kan gak enak sayang, tapi jujur aku seneng kok dengan kamu hamil" kata Axel sambil mengelus perut rata Jen.


"gak enak ya tahan dong, besok kalau kita udah lulus terserah kamu" Kata Jen

__ADS_1


"hehehe udah terlanjur Yang, udah gak papa " kata Axel sambil memeluk Jen


"kamu jangan kuliah di luar negeri ya?" pinta Jen dengan penuh harap


"iya, nanti kita bicarakan ini dengan papah dan ayah" kata Axel. Sebenarnya beberapa waktu lalu Axel diminta papah juga ayah untuk kuliah di luar negeri.


Jen mengangguk, jujur ia juga tidak mau jauh dari Axel. Tapi Jen juga tidak mau kuliah di luar negri, menurut nya kuliah di sini aja tidak masalah. Toh Axel juga sudah punya usaha dan kerja di kantor papah. Mungkin semua itu sudah bisa untuk modal kedepannya nanti.


cup


Axel mencium bibir Jen lembut, sesekali ia melepaskan ciumannya karena Jen yang habis menangis jadi sedikit susah bernafas saat berciuman. Axel membaringkan Jen di sofa dan kembali mencium bibir Jen, tangan Axel membuka kancing seragam Jen.


"boleh ya Yang?"tanya Axel


"kalau gak boleh?" Jen


"Yang,,,,, aku pengen banget"


"kan ada adek disini" bisik Jen


"aku akan hati hati Yang,"


"promise?"


"he.em" kata Axel sambil mengangguk


"do it" kata Jen dengan senyuman.


" l like it honey"


Axel menggendong Jen menuju ke kamar. Ia ingin memberikan tempat yang nyaman untuk Jen. Setelah melepaskan penghalang di antara mereka, Axel segera memposisikan diri di atas Jen.


"kalau sakit atau tidak nyaman kamu bilang ya?" Axel


"iya garwo"


Axel mulai mengarahkan senjatanya ke dalam gua.


"sakit garwo" Jen


"hah?" Axel menarik kembali senjata nya


"sakit? baru ujung aja belum semua Yang" kata Axel


"ish" Jen merajuk


"iya, aku pelan" kata Axel yang mencoba lagi


"aw" teriak Jen

__ADS_1


"kenapa Yang?" Axel kembali mengeluarkan senjata yang baru separuh masuk


__ADS_2