
Jen yang mendengar pertanyaan Agil pun tersenyum.
"ya bisa dong mas, ini kan motorku" Jen
"terus buat balap siapa mbak?"
"ya aku" kata Jen
"menang mbak?" Agil
"ya kadang menang kadang kalah mas" Jen
"keren banget mbak" Agil memberikan dua jempol nya.
"ayo pulang Yang" ajak Axel yang memang sudah selesai
"oke ayo, aku naik motor" Jen
"biar di antar aja, kamu sama aku" Axel
"gak mau, aku udah kangen banget sama motor ini"
"nanti kamu main kebut kebutan" Axel
"enggak janji" Jen
"ya udah ayo" Axel mengalah
Axel dan Jen menuju ke rumah, dengan Jen yang mengendarai motornya sedangkan Axel di belakang naik mobil. Sesampainya di rumah, bibi menghampiri Jen dan Axel.
"Aden sama non Jen nanti diminta tuan ke hotel jam tujuh malam" bibi
"ngapain bi?" Axel
"katanya ada acara apa ya tadi??? dinnar ya?" bibi
"dinner bi?" Jen
"iya non itu kayanya" bibi tersenyum.
"dinner? apa dinner bareng para pengusaha yang di omongin papah kemarin." gumam Axel
"tanya papah aja" Jen
"ya udah kita naik dulu" Axel
"em non Jen, ini ada titipan dari nyonya katanya suruh pakai ini" jelas bibi memberikan paper bag besar.
"iya makasih bi, em bi tolong siapin makan ya" kata Jen sambil nyengir
"siap non" bibi
.
.
.
.
Jen sedang memoles wajah nya, sedangkan Axel baru selesai mandi. Axel hanya memperhatikan apa yang di lakukan Jen.
"kamu kok belum ganti baju sih garwo?" tanya Jen
"mana" kata Axel sambil cemberut
"itu garwo"
"gak di bantuin makai!" Axel menggerutu sambil mengambil setelan jas nya.
Jen yang mendengar pun hanya menggeleng, entah kenapa tiba tiba suaminya itu ngambek. Jen menyelesaikan menata rambutnya. Setelah Jen selesai Axel masih malas malasan memakai kemeja nya dan duduk di ranjang. Bahkan kancing baju Axel belum ada yang terkancing. Jen beranjak dan menghampiri Axel.
"kamu kenapa sih? kalau gak mau berangkat kita ngomong sama papah ya?" kata Jen sambil menuntun Axel berdiri.
"ish kamu itu" gerutu Axel
"aku kenapa? biar aku yang telepon papah" kata Jen sambil mengancingkan kemeja Axel
__ADS_1
"jangan, kita berangkat" Axel
"tapi kamu cemberut gitu, kenapa sih? tadi aja enggak" Jen yang sudah selesai mengancingkan baju Axel pun memandang Axel
"kamu kenapa harus dandan sih?" Axel
"ini kan acara resmi garwo, aku juga menyeimbangkan kamu, masa iya nona muda Alexander mau ala kadarnya" Jen
"Nyonya muda Yang,"
"aku kan masih sekolah, masa nyonya"
"kamu udah bersuami Yang"
"iya, ya udah aku ganti baju dulu" Jen menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat Jen keluar kamar mandi. Dengan gaun selutut warna hitam model kemben, yang sangat kontras dengan kulit putih Jen juga make up yang pas. Jen terlihat begitu cantik, dengan tatanan rambut yang di sanggul dan menyisakan sedikit di bagian depan telinga. Axel terlihat semakin cemberut, Jen pun duduk kembali di kursi riasnya. Mengenakan sepatu heels berwarna gold senada dengan tas kecil yang ia bawa.
"garwo? ayo udah telat loh. Jasnya kenapa belum di pakai sih!" Jen
"harus banget pakai baju itu" Axel
"iya ini dari mamah" Jen
"kenapa mamah kasih baju kaya gitu sih" kesal Axel
"kamu kenapa sih garwo, orang cantik gini,"
"cantik cantik, aku gak suka kamu cantik buat orang lain"
"terus aku harus gimana garwoku?" Kata Jen yang sudah berdiri di depan Axel
"cium dulu" Axel
"muach" Jen menunduk dan mencium pipi Axel sekilas.
"ih" Axel menarik Jen duduk di atas pangkuannya.
cup
Axel mencium bibir Jen, sebenarnya ia tidak suka melihat Jen yang cantik. Axel takut kalau banyak anak pengusaha atau bahkan pengusaha muda yang akan melirik Jen. Lumayan lama Axel menautkan bibirnya dengan Jen. Axel berniat mencium leher Jen tapi halangi oleh Jen.
"jangan di kasih tanda ok. Kita berangkat sekarang" Jen beranjak dari pangkuan Axel.
Huh kenapa gue gak iklas banget kalau Jen seperti ini, rasanya pengen aku kunci di kamar. Batin Axel yang menyambar jas dan kunci mobil. Sedangkan Jen sudah turun lebih dulu.
Mereka berdua menuju hotel Ayah Adi, karena memang acaranya di adakan di sana. Disepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka, karena Axel sibuk dengan pikirannya sendiri.
"garwo, hari rabu aku mau touring ke pantai ya" Jen
"sama siapa?"
"Tamara, Sasa dan Sinta"
"udah?" Axel
"iya"
"terus aku?"
"ya kamu di rumah aja, kan cewek semua"
"naik motor?"
"iya garwo,"
"kenapa gak pakai mobil aja"
"ya pengen menikmati aja, udah lama gak main bareng pakai motor"
"aku gak ijinin"
"kamu kok jahat sih"
"bahaya Yang"
"kita kan bisa jaga diri, ayolah garwo biarin aku jalan sama temen. Kamu gak kasian sama aku? harusnya aku masih menikmati masa muda yang indah ini, sebelum jadi ibu." kata Jen yang melemah saat mengatakan ibu. Karena jujur Jen masih takut dan belum siap.
__ADS_1
"ya udah" Axel yang sebenarnya juga kasian sama Jen.
Sampai di depan hotel, Axel turun dan membukakan pintu untuk Jen. Dengan anggun Jen turun dari mobil. Axel meminta security untuk memarkirkan mobilnya. Jen mengandeng lengan Axel dengan bangganya. Tidak bisa di pungkiri kalau Axel malam ini terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna hitam. Mereka memasuki ballroom hotel yang sudah di dekor dengan mewah. Sudah banyak tamu undangan yang hadir. Jen dan Axel menghampiri mamah dan juga papah yang sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya.
"mamah, papah" panggil Jen
"hey sayang kalian baru sampai?" mamah
"iya mah," Jen
"pak Alex apa ini anak bapak?" tanya pak Arman rekan kerja papah
"iya pak, ini Axel dan ini Jen menantu saya" jelas papah. Axel dan Jen menyalami rekan bisnis papahnya itu.
"wah pasangan yang pas ya, cantik dan genteng" puji istri Arman
"terimakasih tante" Jen
"Arman, kita ke sana dulu ya" pamit papah
"silahkan," kata Arman dengan senyuman
Papah,mamah, Axel dan Jen pun menghampiri ayah dan bunda. Setelah sesi salam salaman dan juga peluk pelukan, mereka ngobrol bersama.
"Pak Rahmad" panggil papah
"selamat malam semuanya" sapa pak Rahmad
"malam pak,.apa kabar pak? ngomong ngomong saya puas dengan hasil kerja sama kita loh" kata papah
"terimakasih sekali pak Alex dan pak Adi. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan bapak bapak pebisnis yang hebat ini" pak Rahmad
"bapak juga hebat, saya yakin pasti banyak yang bekerja sama dengan pak Rahmad" Ayah
"oh iya ngomong ngomong pak Rahmad sendiri?" Papah
"sama anak saya pak, Ar sini" panggil pak Rahmad
Para orang tua semua melihat ke arah anak pak Rahmad yang berjalan menghampiri mereka. Axel sedang mengambil minum untuk Jen, dan Jen sendiri sedang berdiri di samping bunda.
"iya pah" kata anak pak Rahmad
"kenalin ini anak sulung saya" kata pak Rahmad
"wah pak Rahmad punya jagoan juga" papah
Jen yang masih nempel dan mengotak atik ponselnya tidak melirik anak pak Rahmad.
"iya pak, kebetulan bungsu saya perempuan. Ini anak pak Adi?" tanya pak Rahmad
"iya pak, Jen" panggil pak Rahmad
"iya yah," Jen melihat ayahnya
"maaf ya pak, anak jaman sekarang main hp melulu" ayah
"loh Ari"
"Jen" kata Ari berbarengan dengan Jen
"kalian saling kenal?" pak Rahmad
"iya pah, teman sekolah Ari" Ari
"oh, ini anak pak Alex kan?" tanya pak Rahmad yang melihat Axel datang dan langsung memeluk pinggang Jen.
"iya pak ini Axel anak saya, kebetulan Jen menantu saya" papah
"iya pak, anak kita sudah menikah beberapa bulan yang lalu" imbuh ayah
"Hah?" kaget Ari
"papah itu ada teman sekolah Jen" kata mamah
"ini beneran Jen?" tanya Ari
"kok elo sih?" Axel
__ADS_1
"kita ngobrol di sana aja ya" ajak Jen
Kemudian mereka pamit utuk menuju ke sebuah meja. Setelah duduk Ari melihat Jen dan Axel seperti orang yang akan mengintrogasi.