Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Ngambek gak keturutan


__ADS_3

"Tam gue rasa Satria masih kecewa sama lo, coba deh lo pahami kondisi nya dulu" Sasa


"maksudnya?" Tamara


"ya lo selesai kan satu satu dulu masalah lo dengan Rendy, baru dengan Satria" Sasa


"iya Tam, lo mau lanjut apa gimana sama Rendy? Jen


"dengan kejadian kemarin gue mau putus aja guys. Selama dua hari kemarin gue bareng sama dia, dia larang gue main hp, terus dia itu posesif banget sampai ke toilet aja hp gue dia yang pegang. Dia juga bujuk gue untuk melakukan hal hal yang negatif." jelas Tamara menunduk


"hah sampai segitunya? kamu kan pulang ke rumah kenapa gak cerita pas udah di rumah?" tanya Sasa


"iya tapi hp gue tetap di bawa Rendy, gue di ancam Rendy kalau gak mau nurut sama dia"


"di ancam gimana?" Jen


"dia mau nyakitin gue, dan gak tau kenapa gue itu nurut terus sama dia gak bisa ngelawan" jelas Tamara


"ya udah sekarang lo udah ngomong sama Rendy?" Jen


"gue kemaren cuma telfon dia, bilang putus dan jangan temui gue. Dia gak mau, katanya cinta dan dia minta maaf"


"lo maafin?" Sasa


"enggak Sa, gue beneran takut kalau berlanjut dengan Rendy." jelas Tamara


"perasaan lo ke dia?" Jen


"entah lah Jen, hanya ada rasa kecewa yang teramat dalam"


"lo harus lawan dia Tam kalau dia nekat, kita pasti bantu lo" Jen


"makasih, kalian berdua memang sahabat gue. Maaf kalau gue buat lo kecewa" Tamara


"udah, yang penting tidak di ulangi lagi" Sasa


Mereka bertiga pun berpelukan, jam pertama pelajaran pun di mulai. Karena jam pertama dan kedua kelas XII ips 1 adalah penjas jadi para muridnya menuju ke lapangan. Setelah pemanasan mereka di minta untuk mempraktikkan teknik dalam bola voly.


"Ar kita taruhan, sebentar lagi kan giliran Jen kira kira masuk gak?" kata Jamil


"gue rasa enggak, dua anak buahnya aja gak bisa" Ari


"oke ntar lo traktir 10 orang ya kalau Jen bisa?" Jamil


"kalau gak bisa lo yang traktir?" Ari


"siap diel?" Jamil mengulurkan tangannya


"diel" Ari menyambut uluran tangan Jamil


Saat ini Jen sudah berdiri di lapangan dengan pak Faro guru penjas yang mengajar.


"ayo Jen semangat" teriak Jamil


"eh kalian berdua beri semangat buat bos geng dong" kata Jamil pada Tamara dan Sasa


"udah pasti gak bisa itu Jen" Ari


"jangan dengerin Jen, nanti kalau bisa gue traktir sepuas lo" Jamil


"jangan Jen, kalau gak masuk gue yang traktir"


"eh kalian pada gila apa?" Sasa


"udah lo dukung gue aja" Jamil


"lo dukung gue Tam" pinta Ari


"Netral gue mah" Tamara


Jen mulai melakukan arahan dari pak Faro, dan.....


"Yey gue menang" teriak Jamil


"wah gak beres ini, Jen lo kok gak mau dukung gue aja" kata Ari


"dukung pala lo, lo kira gue gak tau apa kalau gue buat taruhan. Sesuai kesepakatan kan 10 orang, gue Tamara dan Sasa ikut. Enak aja mau gue jitak lo" kesal Jen karena dia tadi sempat dengar pembicaraan Ari dan Jamil


"hehehe ampun bos, tadi Jamil yang mulai. Kita kan plen (friends)" Ari nyengir


"plen plen, gue gak plen sama lo" jawab Jen

__ADS_1


"becanda juga jangan marah dong" Ari


"bodo amat, ntar gue jitak lo kalau gak ada guru" Jen


"astaga jahat banget"


Selesai pelajaran penjas, masih ada sisa waktu tiga puluh menit untuk istirahat dan ganti baju. Jen, Tamara dan Sasa berjalan ke kantin. Di belakang mereka ada Jamil, Ari dan lima cowok teman kelas mereka. Jen masih menggerutu di sepanjang jalan.


"ya elah Jen udah kali maafin gue" Ari


"gak bisa lo udah remehin gue"


"Jen gue traktir deh" Ari memegang lengan Jen


"ini kan juga mau lo traktir"


"tapi jangan di jitak lah, geser nanti otak gue" Ari masih berusaha membujuk Jen. Padahal Jen hanya becanda.


"JENNAIRA" panggil seseorang, karena suasana sepi jadi suara itu terdengar jelas.


"Astaga" Sasa


"kaget gue" Tamara


Jen, Ari dan mereka semua melihat ke sumber suara. Dilihatnya Axel dengan wajah kesalnya, entah apa yang membuat Axel seperti itu.


"ada apa sih teriak teriak?" Jen


"itu tangan kenapa?" tunjuk Axel pada tangan Jen yang masih di pegang Ari


"lepas dodol" Jen


"maaf gak sengaja" Ari


"wah perang dunia ini" Sasa


"iya gara gara lo Ar" Tamara


"kita duluan ya, selamat di jitak dan di cincang ketos" ledek Jamil berlalu dengan taman temannya


"kalian ngapain?" tanya Axel


"tukang ngadu lo" Jen


"Yang" Axel segera menutup mulutnya karena Jen memelototi nya


"hah apa?" Ari


"bukan apa apa ayo ke kantin" Tamara mengajak Ari tapi Ari masih diam di tempat


"wah Jen gue tahu rahasia lo" kata Ari sambil cekikikan


"Axel," Jen menghentakkan kakinya


"maaf keceplosan Ya,, Jen maksudnya" Axel


"huh," Jen berlalu ke kantin menyusul teman


"ketos lo ada hubungan apa sama Jen?" Ari


"jangan pegangan punya gue" jawab Axel yang tidak nyambung


"lah gue di tinggal, apa gue kabur aja biar gak traktir mereka semua"


drt drt drt


"tuh kan baru rencana kabur udah nyari aja ni anak" gumam Ari yang mendapat telepon dari Jamil.


Tanpa menjawab Ari pun menuju ke kantin. Disana riuh teman temannya yang memesan makanan.


"gue kira kabur lo, udah gue pesenin juga" Jamil pada Ari


"niatnya gitu" Ari


"ye kita kepret lo" Sasa


Jen sedang duduk sambil minum air mineral dingin, tiba tiba Axel duduk di sampingnya membawa salat buah.


"kenapa gak masuk kelas?" tanya Jen pada Axel


"males aku, yang lain masih ulangan harian" Axel

__ADS_1


"lo gak ikut,?" Jen


"lo lo, emang aku Ari apa" gerutu Axel


"iya kamu," Jen


"udah selesai tadi, suapin" Axel menyodorkan salat itu


"ini di sekolah Axel"


"ist kamu ngelawan terus" Axel terlihat kesal


"kenapa tuh?" tanya Tamara pada Sasa mereka melihat Jen dan Axel


"gak tahu, gak kaya biasanya" Sasa


"Axel, bukanya aku ngelawan. Kamu tahu sendiri kan kalau aku belum siap" Jen


"nunggu kapan?" Axel


"ya gak tahu" Jen


"terserah kamu!!" Axel beranjak dari duduknya. Di lihat dari nada bicaranya Axel terlihat marah.


"Garwo, duduk aku suapi" kata Jen pelan sambil memegang tangan Axel


"yang ikhlas"


"iya," Jen menyodorkan sesendok salat buah


"itu beneran?" tanya Yola teman sekelas Jen


"iya, sama Axel. Ada hubungan apa, gue liat tadi mereka berangkat bareng" Widi


"wah kalian berdua ada apanya?" Jamil


"kepo diem lo" Jen


"rupa rupanya Romeo kita tergantikan" kata Jamil sambil cekikikan


"kayaknya iya Mil, tadi aja pakai Yang" kompor Ari.


"beneran? kapan deketnya?" Jamil


"tanya aja sama mereka berdua" Ari menunjuk Tamara dan Sasa. Jamil pun memandang mereka seperti bertanya apa hubungan mereka.


"satu informasi dua juta" Sasa


"satu bukti lima juta" Tamara


"gila kalian, lebih baik gue tanya sendiri" Jamil


"Xel, lo pacaran sama Jen?" tanya Jamil


"jawaban nya mahal, sepuluh juta" Axel


"astaga gue yang gila sendiri" Jamil menepuk jidatnya.


Mereka menertawakan Jamil. Sampai masuk jam pelajaran ketiga mereka yang masih di kantin kembali ke kelas. Axel pun ikut kembali ke kelas. Sampai waktu pulang sekolah tiba, Jen bingung harus pulang bareng Axel atau nebeng temannya. Karena lama menunggu Jen, akhirnya Axel menghampiri Jen. Perdebatan terjadi lagi di antara mereka.


"kamu tuh sebenernya kenapa sih garwo, aneh tau gak" kata Jen yang sudah di dalam mobil dengan Axel


"gak tau Yang, rasanya gak lega. Pengen marah mulu" Axel


"ya kenapa gitu?"


"mungkin gak keturutan tadi malam Yang, kamu juga belum peluk cium aku"


"astaga" Jen menepuk jidatnya


"ke hotel aja ya Yang, yang deket sini"


"ngapain?"


"aku mau peluk peluk kamu. Tidur juga" Axel


"pulang aja"


"masih jauh, itu di depan hotel papah"


😤😒

__ADS_1


__ADS_2