Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Waktu cepat berlalu


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan ini Jen di rumah dan mengikuti kelas online. Selain kegiatan kuliah, Jen juga mengikuti kelas hamil. Kelas hamil ini disarankan oleh bunda juga mamahnya, supaya Jen siap menghadapi persalinan juga merawat bayi. Axel dengan senang hati mengantar juga menunggu Jen saat mengikuti kelas hamil.


Sesekali teman Jen juga datang untuk berkunjung melepas kangen. Hari perkiraan lahir anak mereka tinggal beberapa minggu lagi. Perut Jen juga terlihat besar dan lebih turun. Terkadang yang melihat menjadi ngilu sendiri.


"Jen, Axel masih lama?" tanya mamah.


"belum tau mah, belum kasih kabar" Jen


"kamu yakin Jen mau cari sendiri?" tanya mamah lagi yang khawatir Jen akan mencari perlengkapan bayi dengan Axel.


"iya mah, Jen gak papa kok" kata Jen dengan senyum yang mengembang.


Saat ini Jen sedang menunggu Axel di toko mamah dan bunda nya, karena Axel ada meeting yang tidak bisa di tinggal. Mereka akan mencari perlengkapan bayi, karena memang belum komplit yang di beli kemarin. Beberapa saat kemudian Axel datang membawa kursi roda.


"mas itu punya siapa?" tanya Jen


"ini tadi aku bawa dari bawah buat kamu, biar gak capek" Axel


"aku sebenarnya gak papa mas"


"udah jangan ngeyel, ayo naik. Mau sekarang atau nanti?"


"sekarang pamit mamah dan bunda dulu, nanti langsung pulang"


Axel menyetujui permintaan Jen, dan setelah berpamitan Axel dan Jen menuju ke tempat perlengkapan bayi. Mereka memilih stroller, box bayi, dan juga ayunan untuk bayi.


Setelah itu mereka ke tempat baju baju bayi, Jen di buat pusing dengan model juga warna yang lucu lucu.


"mas mau yang ini apa ini?" Jen menenteng baju setelan dengan gambar gajah dan juga kumbang.


"Yang, itu kekecilan" Axel


"enggak mas, emang segini ukuran nya"


"ih masa segitu sih Yang, enggak muat nanti" Axel


"astaga mas, bayi kan memang kecil kamu gimana sih?" Jen


"ya udah terserah kamu deh Yang, kalau gak muat besok beli lagi" Axel


"muat sayang, udah deh kamu tinggal pilih aja mana yang kamu suka" Jen


"sayang lagi dong mommy" Axel melihat ke arah Jen


"malu" kata Jen menutup wajahnya dengan baju bayi


Axel tertawa melihat tingkah Jen, mereka menerus kan memilih baju untuk calon anaknya lagi. Sampai akhirnya Axel memaksa Jen untuk menyudahi belanjanya. Ia tidak ingin Jen kelelahan, kalau pun ada yang di inginkan lagi mereka akan membeli nya lain kali.


"mau makan apa Yang?" tanya Axel yang mendorong kursi roda Jen.


"mau pulang" kata Jen yang sedikit kesal


Di perjalanan pun Jen masih diam, tadi sebelum pulang Jen masih menginginkan membeli topi berwarna pink. Karena anaknya laki-laki jadi Axel tidak mengijinkan. Itu yang membuat Jen kesal.


Sesampainya di rumah dan masuk kamar pun, Jen langsung tiduran di atas ranjang.


"Yang, jangan ngambek gitu" kata Axel duduk di samping Jen


"kamu itu pelit sekali sih mas"


"Yang, jangan warna pink dong kan yang coklat dan hitam ada" Axel


"aku kan pengen yang pink mas"

__ADS_1


"hhhmmmm ya udah kapan kapan kita beli lagi. Sekarang kamu makan dulu ya" Axel


"aku mau makan masakan kamu mas" Jen


"masak apa? aku kan tidak bisa masak"


"ya terserah, gak mau tau aku"


"kita ke dapur dulu yuk" ajak Axel


"aku disini aja mas, kamu masak dulu sana" Jen


"ya udah tunggu sebentar" Axel


Axel menuju ke dapur, tidak ada orang disana. Kebetulan para bibi nya sedang menyetrika baju dan membersihkan halaman belakang.


"bi, boleh minta tolong?" kata Axel setelah menghampiri bibi Yuli di halaman belakang


"iya den, mau minta tolong apa?"


"ini bi, Jen lapar" Axel


"oh biar saya siapkan, atau mau di masakin apa?"


"Jen minta masakan saya bi, tolong bantu saya masak" kata Axel


"oh, iya den saya cuci tangan dulu"


Sesampai nya di dapur, Axel di buat bingung dengan pertanyaan bi Yuli.


"apa aja bi, yang gampang" kata Axel


"non Jen itu makannya gampang den. Goreng ayam aja, nanti buat sambal sama rebus sayuran yang hijau."


"daun singkong aja mas petik di belakang"


"bibi yang goreng, biar saya yang petik daunnya"


"siap den, kalau petik yang bagian atasnya ya."


Beberapa saat kemudian masakan Axel sudah jadi, pasti nya banyak di bantu bibi. Axel menghampiri Jen ke kamarnya, di lihatnya Jen sedang memeluk bantal hamilnya.


"Yang" panggil Axel dengan menyentuh bahu Jen


"Yang kok malah tidur, ayo makan dulu udah jadi masakan aku" Axel


"aku ngantuk mas" gumam Jen


"terus makanannya?" Axel


"kamu makan sendiri, apa nanti kalau aku bangun tidur" Jen


Sabar Xel, demi anak kamu. Tunggu sebentar lagi juga akan keluar dan tidak mengerjai bapaknya kaya gini. gumam Axel dalam hati.


Axel mencuci tangan dan berganti baju rumahan, setelah nya ia merebahkan tubuhnya di samping Jen.


"jangan peluk peluk mas, aku gerah" kata Jen yang merasa kan Axel memeluknya


"astaga, untung istri Yang" gumam Axel dan beranjak keluar kamar.


"mau tidur siang aja susah amat" gerutu Axel.


"Den Axel," panggil pak Bejo, Axel hanya melihat ke arah pak Bejo

__ADS_1


"itu di depan ada mobil box, katanya mau antar belanjaan den Axel" kata pak Bejo


"iya pak, tolong di turunin dan taruh di kamar atas pak" Axel


"siap den"


Axel yang merasa lapar pun menuju ke dapur, ia makan sendiri hasil masaknya tadi. Ya walaupun tidak semuanya, takutnya nanti Jen menanyakan. Setelah itu Axel memutuskan untuk bekerja saja di ruang tengah.


.


.


.


.


Sore harinya, Jen terbangun karena merasa lapar. Karena Axel juga tidak ada Jen langsung ke dapur saja. Saat melewati pintu samping terlihat Axel sedang mengobrol dengan seseorang. Jen akan menghampiri nanti saja setelah makan.


"bi, itu mas Axel sama siapa?" tanya Jen pada bibi yang sedang menyiapkan makan malam.


"Den Johan, non"


"oh, udah lama bi?"


"dari jam dua tadi sepertinya non"


Jen melanjutkan makannya, makanan yang di buat suaminya tadi.


"enak juga" gumam Jen, bahkan ia menghabiskan makanan yang tadi di masak Axel.


"mas, bang Jo" panggil Jen


"hay Jen? makin besar aja perut lo" kata Johan


"iya nih bang, tinggal nunggu hari" Jen


"kamu udah makan Yang?" Axel


"udah barusan, kamu bisa masak juga mas" Jen


"masak?" tanya Johan


"iya tadi Jen minta di masakin." kata Axel dan Johan tersenyum


"masih mending Xel, kalau bini gue dulu minta seblak level gila. Dan gue yang di suruh makan, padahal pedes nya minta ampun" Johan


"hmmm enak tuh pasti" Jen


"enak apanya gue diare, di rawat dua hari gara gara kekurangan cairan" Johan


"hahaha kasian amat sih bang" Axel


"namanya perjuangan seorang ayah, kita nikmati aja Xel. Kalau sudah melihat hasilnya, tumbuh sehat pasti juga akan senang. Dan kamu harus siap mental juga siaga buat menemani persalinan" Johan


"wah itu lumayan deg deg kan bang, tapi tetap akan aku dampingi" Axel


"harus, agar kita tau betapa perjuangan seorang ibu. Agar kita tidak meremehkan seorang wanita."


"tuh mas, belajar sama bang Jo" Jen


"iya sayang, kamu tenang aja" Axel


Mereka kembali membahas pekerjaan, sedangkan Jen pamit mandi. Axel akan mengurangi jadwal kerjanya, untuk mendampingi Jen yang sebentar lagi akan melahirkan. Ia benar benar ingin menjadi suami siaga. Walaupun sejujurnya Axel juga takut, ini pengalaman pertama nya. Di depan Jen, ia akan terlihat tenang dan menyemangati Jen agar tidak takut. Semua akan baik baik saja, itulah kata kata yang sering Axel katakan pada Jen.

__ADS_1


__ADS_2