Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Perjalanan


__ADS_3

Setelah mamah meninggalkan kamar Jen dan Axel, mamah menuju kamarnya.


"gimana mah,?" tanya papah


"ya mamah yang nanya papah dulu. Axel gimana?" tanya mamah balik


"udah ke kamarnya"


"bagus deh, Jen juga udah beres" kata mamah sambil tersenyum.


"seneng amat" kata papah heran


"ya kan siapa tahu ini jadi awalan yang baik. kita bisa hohoho" kata mamah


"hohoho apa? kok mamah gak kaya Jen? papah juga marah ini"


"halah wes tuo ijek marah ngopo? biasane piye rasah drama."(ya elah, udah tua masih marah kenapa? biasanya gimana gak usah drama.) Jawab mamah sambil memposisikan dirinya di tempat tidur


"bagus" kata papah tersenyum kemenangan


.


.


.


Di dalam kamar Axel dan Jen.


Axel yang baru masuk kamar pun melihat Jen yang membelakangi Axel. Karena memang Jen sedang menata bukunya. Jen menoleh ke arah Axel dengan senyuman. Untuk beberapa detik Axel dibuat terdiam saat melihat Jen.


"tolong.... ambil kan minum ya Jen. Aku lupa" kata Axel yang salah tingkah


"iya sebentar" jawab Jen dan beranjak dari kursinya.


Axel yang melihat pun semakin di buat gemas, apalagi wangi Jen yang membuatnya semakin salah tingkah.


"gak jadi Yang, biar aku saja. kamu jangan kemana mana" kata Axel langsung keluar kamar dan menutup pintu


"lah Axel kenapa?" tanya Jen pada diri sendiri


Sedangkan Axel berjalan cepat menuruni anak tangga. Entah kenapa rasanya ia ingin cepat cepat kembali ke kamar. Axel menyambar satu botol minuman yang ada di dalam kulkas.


"buru buru amat Xel?" tanya papah yang tadi sedang menuang minum di meja.


"papah ngagetin" kata Axel


"lah,, papah disini dari tadi, nih ambil minum." papah


"ya udah Axel ke atas dulu pah" Axel pun meninggalkan dapur


"tunggu, Jen baik baik saja kan? kok kamu kaya buru buru" tanya papah


"baik baik saja pah, papah tenang aja. Kalau besok pagi gak tahu hahaha" kata Axel sambil tertawa


"jangan macem-macem kamu Xel" kata papah


"satu macem pah, yang kembar kan?" Axel


"iya boleh tuh" papah


"ya udah, malam pah" kata Axel sambil berlalu


"semangat boy" kata papah di acungi jempol Axel.


Sampai di kamar Axel melihat Jen sedang mengobrol via telepon. Jen berdiri di depan pintu kaca balkon.

__ADS_1


"coba deh Sa besok gue ngomong sama Tamara" kata Jen


📞 Sasa


Iya gue udah coba hubungi Tamara tapi gak bisa. Sejujurnya gue juga ngerasa kalau Rendy itu bukan orang baik. Kata Sasa di seberang sana


"ssshhhh." suara Jen karena merasa geli dengan kelakuan Axel, yang memeluk Jen dari belakang. Di singkirkan nya rambut Jen ke samping lalu Axel mencium tengkuknya


📞 Sasa


Kenapa lo?


"bentar dong" Jen berusaha melepaskan diri dari Axel, namum gagal


📞 Sasa


apanya?


"Sa gue,,, ah garwo" Jen reflek karena Axel menggigit telinga sebelahnya.


📞 Sasa


Jen??? lo ????wah gila kalian


tut


Axel merebut ponsel Jen dan mematikan sambungan telepon nya.


"Garwo" panggil Jen pelan


"Jangan di ulangi lagi ya Yang, aku gak suka kamu bohongi. Ax ini suami mu" kata Axel yang menumpukan dagunya di pundak Jen


"iya aku janji, maafin aku ya. Aku gak suka kalau kamu diam begitu" Jen


"iya aku paham kok. Aku yang salah, besok gak lagi. Aku akan nurut sama kamu" Jen


"sekarang harus nurut ya"


"iya" kata Jen sambil mengelus tangan Axel yang ada di perutnya.


"aku kangen banget sama kamu Yang, apa lagi kamu wangi bikin gak mau lepas"


"jadi biasanya gak wangi?" kata Jen memanyunkan bibirnya


"wangi sayang. Tapi ini wanginya beda, khusus buat aku aja ya. Jangan di pakai buat keluar rumah." Axel


"iya Garwo"


Tadi mamah juga bilang gitu, katanya kalau di pakai keluar rumah bahaya. Bahayanya dimana? cuma parfum doang. Batin Jen


"kamu cantik banget Yang malam ini, beda" puji Axel


"masa?"


"iya, aku mau" bisik Axel dan mulai mencumbu sekitar leher Jen.


"Garwo"


"boleh ya Yang?" kata Axel yang membalikkan tubuh Jen


"mau apa?" goda Jen


"ya mau kamu, udah beberapa bulan loh Yang." kata Axel memelas


"tapi..."

__ADS_1


"sekali dulu deh Yang" rayu Axel


"janji?


"iya hari ini sekali, minggu depan tiga sampai empat kali" kata Axel nyengir


"ih" kata Jen menuju ranjangnya untuk duduk


"Yang?" Axel mengikuti Jen dan duduk di bawah, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Jen.


"jangan keterusan dulu ya, kita masih sekolah. Sebentar lagi udah ujian" kata Jen mengelus kepala Axel


"iya sayang, jadi boleh kan?" tanya Axel semangat


"em gimana ya..?" Jen pura pura berfikir.


sret


Axel menarik tali baju tidur Jen yang berada di bahunya. Jen menggunakan baju tidur berwarna hitam, dengan model dres di atas lutut dan memiliki tali kecil di ke dua bahunya. Jen melongo dan menutupi dadanya. Sedangkan Axel nyengir kuda.


"it's time for both of us to explore the beauty of the world, honey." kata Axel yang mengunci Jen dengan pandangan matanya.


Saat Jen mulai lengah, perlahan Axel menurunkan tangan Jen. Menuntun Jen untuk berdiri, dan otomatis baju yang Jen pakai terlepas begitu saja. Axel memeluk dan men*ium bibir Jen. Jen juga melakukan hal yang sama dengan Axel. Cukup lama Axel melakukan itu. Tangan Axel tidak tinggal diam, sudah berkelana kemana mana. Sedangkan Jen mengalungkan tangannya di leher Axel.


Axel melepaskan p*g*t*n bibirnya dengan nafas yang yang memburu. Di tempelkan nya kening Axel ke kening Jen.


" I love you so much Yang" bisik Axel


"really?" bisik Jen


"mboten perlu di ragukan trenoku iki Yang, percoyo o. Mung siji awakmu sing neng jero atiku" (tidak perlu di ragukan cintaku ini Yang, percaya lah. Cuma satu dirimu yang ada di dalam hatiku.) kata Axel


Jen mengangguk dan tersenyum.


"aku sayang sama kamu garwo, aku sudah bergantung dengan kamu. Sudah mulai mencintai dan takut kehilanganmu. Tolong maafkan aku, dan bimbing aku" Jen


"pasti sayang" kata Axel sambil perlahan merebahkan tubuh Jen di tempat tidur.


Axel kembali mencium Jen dan membuat jejak jejak petualang di area strategis dan mudah di jangkau.


"jangan di sini, besok kita sekolah" kata Jen yang melarang Axel berkarya di tempat umum.


Tanpa menjawab Axel pun mencari jeruk kesukaannya yang sudah terkupas. Sebelum menjelajahi hutan, Axel memutuskan untuk menikmati jeruk yang jarang ia makan. Setelah puas makan Jeruk, Axel memandang Jen dengan penuh cinta.


"kamu percaya sama aku Yang?"


"aku percaya sama kamu," kata Jen lembut


Axel memandang Jen dari atas sampai bawah, ada sedikit takut dan bimbang. Melihat Axel yang ragu pun Jen kembali berkata.


"jika kamu ingin pergi ke sana, pergilah. Jika kamu ragu dan belum siap berhenti lah. Aku sudah siap kapan pun kamu mengajakku ke sana" Jen


"tapi ini sudah mau sampai, ,kamu beneran masih mau pergi bersama ku?" tanya Axel


"bawa aku kemana pun kau mau garwo"


Axel tersenyum dan menangg*l**n pakaiannya. Axel melihat Jen yang membuang muka, karena dirinya sudah tanpa b*s*n*.


"Yang" panggil Axel


"aku malu" Jen


"liat aku, (mengarahkan pandangan Jen, kepada nya) kita berangkat ke sana bareng ya, berjalan perlahan. Ini perjalanan pertama kita, jadi aku ingin menjadi perjalanan yang mengesankan" kata Axel yang tangan nya sudah mencari celah untuk melancarkan perjalanan nya.


Karena Axel sudah mulai berjalan, otomatis Jen pun ikut berjalan mengikuti Axel. Sesekali terdengar suara merdu dari Jen yang melengkapi perjalanan mereka. Semua itu membuat Axel semakin bersemangat, bahkan Axel sudah berhasil membuka penghalang goa yang tersembunyi. Di dalam goa itulah mereka berdua akan merasakan indahnya dunia, bahkan bisa mulai menanam benih benih cinta di sana.

__ADS_1


__ADS_2