
"Kenapa sayang?" tanya mamah lembut kepada Jen
"sedih di tinggal ayah bunda, mah" jawab Axel
"oh ya ampun sayang, masih ada mamah, papah dan Axel yang akan menjaga dan sayang sama kamu." mamah mengelus punggung Jen. Kemudian Jen melepaskan pelukannya dan beralih memeluk mamah.
"sudah sudah jangan nangis lagi ya, kamu harus happy" kata bunda dan Jen mengangguk
"ya udah ayo masuk dulu, ini sekarang jadi rumah kamu juga. Jangan sungkan, jangan takut." imbuh bunda sambil menuntun Jen ke kamar Axel.
"papah mana mah?" tanya Axel
"belum pulang, tadi ada meeting mendadak sama Dodi" jelas mamah.
"ini kamar Axel, kamu istirahat dan bersih bersih ya, mamah siapin makan malam dulu. Apa kamu mau di masakin sesuatu?" tanya mamah pada Jen
"enggak mah, makasih"
"ya sudah mamah tinggal dulu"
" tolong tutup pintu mah 😁" kata Axel sambil nyengir kuda
"iya mamah paham anak muda." kata mamah sambil terkekeh.
Setelah mamah Rere menutup pintu, Axel mendekati Jen. Axel memegang wajah Jen dan menghapus sisa air matanya.
"jangan nangis jelek, mandi gih" Axel
"biarin jelek,"
"loh jangan, kasian kamu nya, udah pesek, belum mandi, mata merah, jelek lagi" ejek Axel
"Garwo" Jen yang kesal pun menuju kamar mandi.
"lah handuk gue? duh gimana ini, bodohnya gue, 😩" gumam Jen.
"Garwo,.....?" tok tok tok. Jen mengetuk pintu kamar mandi
"iya kenapa?" tanya Axel
"lupa gak bawa handuk" teriak Jen
Axel mengambilkan handuk di lemari. Dan memberikannya di tangan Jen yang keluar. Setelah itu Jen mulai memakai handuknya.
"kok kaya handuk anak TK gini sih, masa iya gue keluar pakai ini." Jen
Sedangkan Axel cekikikan karena ia memang sengaja memberikan handuk yang itu.
Ceklek
Jen keluar dengan handuk di pinggangnya dan ia memakai kaosnya lagi.
"lo sengaja ya?" tanya Jen yang melihat Axel.
"adanya cuma itu Yang" jawab Axel menahan senyumnya.
Jen membuka koper dan mencari baju gantinya.
Astaga itu dia gak pakai b*a. batin Axel yang melihat Jen
.
.
.
Sore ini Tamara dan Sasa sedang berada di sebuah mall. Rencananya mereka akan mencari kado pernikahan Jen dan Axel. Tapi keduanya terlihat kesal karena sudah hampir setengah jam orang yang mereka tunggu belum muncul juga.
"astaga Anoman kalian ini dari mana sih?" omel Sasa
"iya , sampai jenggotan kita" saut Tamara
__ADS_1
"Datang datang sudah di bilang monyet" kata Dio
"ya kalian lama, masa cewek yang nunggu cowok" gerutu Sasa
"ya maaf, lo liat belakang deh Sa?" pinta Dio
"apa?" Sasa
"liat dulu," kata Dio
Sasa menuruti Dio untuk menengok ke belakang.
"ouh" Sasa menutup mulutnya, dan berbalik melihat ke arah Dio seperti bertanya.
"gue suka sama lo Sa, lo mau jadi pacar gue?" kata Dio memegang tangan Sasa
Sasa yang salah tingkah pun menoleh ke Tamara. Tamara tersenyum dan mengangguk.
"Sa?" panggil Dio
"kalau lo nerima gue lo ambil boneka itu, tapi kalau lo nolak gue lo boleh ambil bunganya." jelas Dio
Kedua anak kecil itu maju dan berdiri di samping kanan dan kiri Dio. Tamara dan Satria mundur beberapa langkah. Bahkan di sana sudah ada beberapa pengunjung yang melihat aksi Dio menyatakan cinta.
Sasa terlihat ragu untuk menjawab.
"Apa yang kamu ragukan Sa, pilih saja yang memang mewakili perasaan lo, sekarang gue niat sungguh-sungguh buat nembak lo" kata Dio
Sasa menarik nafasnya, ia merasa sangat grogi. Dirasa sudah lebih tenang Sasa menatap anak kecil yang kembar itu. Sasa maju dan memutari mereka bertiga. Suara yang meminta untuk menerima pun sudah mulai terdengar dari beberapa pengunjung tidak terkecuali Tamara.
Sasa mendekat ke arah anak kecil yang memegang boneka. Anak kecil itu menyerahkan boneka di depan Sasa dan tersenyum. Sasa melirik anak kecil yang membawa bunga, ia juga menyodorkan dan tersenyum. Akhirnya dengan memantapkan hati Sasa mengulurkan tangan kepada anak yang membawa boneka dan mengambil boneka itu.
prok prok prok 👏👏👏
Suara tepuk tangan dari orang yang berada di sana. Dio yang bahagia pun memeluk Sasa erat. Dan tanpa mereka sadari Tamara memeluk tangan Satria karena ia juga merasa bahagia. Salah satu adek yang membawa buket bunga pun menghampiri Tamara dan Satria. Anak itu menyodorkan bunga yang ia bawa kepada Tamara.
"kaka cantik, ini sebenarnya bunga buat kaka. Dari Kaka Satria baja hitam." ucapnya polos dan membuat yang mendengar nya tertawa. Tamara melirik Satria, kemudian Satria mengangguk.
"makasih anak cantik" kata Tamara
"iya makasih" kata Tamara yang tersipu
"cie cie" ledek Sasa
"udah gas sekalian" kata Dio
Tamara dan Satria hanya tersenyum.
"maaf mas anak saya sudah boleh saya bawa?" tanya ibu dari anak kembar yang di pinjam Dio dan Satria
"oh iya bu, makasih ya bu sudah di ijinkan membantu saya" kata Dio
"Adek adek ini buat beli permen ya?" kata Satria memberikan selembar uang seratus ribu, begitu juga dengan Dio.
"Terimakasih kaka" ucap anak itu bersamaan.
"em buk boleh kita foto dengan anak ibu?"
"silahkan mbak"
Akhirnya mereka foto bersama dengan anak kembar itu, bahkan ibu mereka yang membantu mengambil foto. Sasa dan Tamara memberikan uang tambahan untuk anak kembar itu.
"em beb kita makan dulu ya?" ajak Dio
"idih udah beb beb aja nih" kata Tamara
"sirik aja lo, tuh minta Satria panggil beb." Sasa
"lo mau juga gue panggil beb? makanya jadi pacar gue dulu" kata Satria
"ntar aja deh, gue belum siap." jawab Tamara jujur
__ADS_1
"ya udah, udah gue keep ya hati lo, jangan di kasih orang lain" kata Satria
"ya tergantung" Jawab Tamara
"jahat amat lo Tam"
"biarkan rasa ini tumbuh dengan sendirinya" Tamara
Mereka berjalan menuju kafe di mall itu. Setelah memilih makanan, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.
"jadi gimana mau kasih kado apa?" tanya Dio
"bingung" Sasa
"sama" Tamara
"idem" Satria
"lah gimana ceritanya kalian ini" Dio
"emang kalian para laki laki mau kasih apa?" tanya Tamara
"kalau gue mah gampang, kasih tisu aja beres" kata Satria sambil menaik turun kan alisnya
"TISU?" tanya Tamara dan Sasa bersamaan, sedangkan Dio tertawa
"gila lo Sat" kata Dio sambil menggelengkan
"itu banyak manfaatnya, apalagi yang sulap" jelas Satria membuat Dio semakin tertawa
"beb,,, apaan sih?" kata Sasa
"hehehe bukan apa apa beb" Dio
"mencurigakan" kata Tamara
Karena makanan mereka sudah datang, mereka memutuskan untuk makan dulu. Kemudian setelah itu baru mencari kado.
"gue capek" rengek Sasa
"gue juga, tapi belum dapat apa-apa" saut Tamara
"duduk sana dulu" ajak Satria dan mereka berjalan ke kursi panjang.
Saat mereka duduk mereka mengedarkan pandangannya, barang kali ada yang cocok buat kado. Arah pandang Tamara dan Sasa sama, kemudian mereka saling pandang.
"gak mungkin" kata mereka bersama membuat Dio dan Satria bingung
"kenapa beb?" Dio
"Tamara" Jawab Sasa sambil menggeleng.
"udah sana kalau kalian mau beliin Jen itu, kita tunggu sini deh" kata Satria
"emang lo tahu?" tanya Tamara
"tuh kan, yang di depan" Satria menunjuk dengan dagunya. Tamara dan Sasa sangat malu, sedangkan Dio cekikikan.
"udah sana gak papa beb" Dio
"tapi kan" Sasa
"nanti kita juga ada buat Axel." kata Dio memotong kalimat Sasa
"apa emang?" Sasa
"udah kalian ke sana aja. Nanti minta kotak yang agak gedean, terus nanti kado kita di jadikan satu dalam satu kotak" usul Satria
"masa iya itu" Tamara
"ya gak papa, yang udah pasti ada manfaatnya. Ya kalau mau kasih yang lain gak papa tapi di pisah aja. Buat yang itu kita barengan 😀" jelas Satria
__ADS_1
"ya udah deh," kata Tamara
Kemudian mereka berpencar mencari kado yang di inginkan. Dan mereka akan bertemu lagi di tempat yang sudah di janjikan.