Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Perjuangan


__ADS_3

Setelah mami Sasa meninggalkan ruangan Jen, kedua orang tua Jen dan mertuanya masuk ke dalam.


"gimana sayang?" tanya bunda


"baru pembukaan satu bun, doakan Jen ya" kata Jen


"pasti sayang, kamu harus selalu tenang, atur nafas, jangan panik ya kita semua akan mendoakan kamu dan anak kamu. " bunda


"Jen, kamu sarapan dulu ya kamu tadi kan belum sarapan? " kata mamah


"nanti aja mah, Jen belum mau sarapan. " Jen


"tapi Yang, kamu harus makan biar nanti kamu kuat" Axel


"benar Jen kamu harus makan, atau kamu pengen makan apa? "Bunda


"ya udah, Jen boleh makan nasi goreng di pinggir jalan?" Jen


"biar papah yang cari, mau yang di pinggir jalan mana?" papah


"biar mas garwo aja pah , papah kan harus ke kantor"


"papah akan libur sampai kamu melahirkan" papah


"ayah juga Jen, biar kami yang cari. Axel harus selalu ada di sisi kamu Jen" ayah


"ya kalau tidak merepotkan tidak papa yah, tukang nasi goreng mana aja yah" Jen


"siap" kata Ayah


Setelah papa dan ayahnya berangkat, Axel memutuskan untuk mandi karena iya tadi belum mandi. Sedangkan Jen dibantu mamah juga bunda untuk jalan di area kamar, sesekali Jen berhenti karena merasakan kontraksi. Sebenarnya Jen merasa sangat mengantuk, namun kontraksi membuatnya sulit untuk tidur. Kalaupun Jen tidur ia pasti akan terbangun beberapa menit kemudian.


Axel keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Axel mendekati Jen yang terlihat begitu pucat. Sebenarnya ia tidak tega melihat Jen seperti itu, tapi mau bagaimana lagi ini adalah perjuangannya. Saat melihat Jen meringis kesakitan Axel seperti merasakan apa yang dia rasakan. Ia mendekati Jen dan memeluknya.


"Yang, sakit banget ya? maafin aku." Axel


"sakit mas, tapi aku harus melewati ini. Bunda "Jen memanggil bundanya dan meneteskan air mata


"iya Jen" jawab bunda


"Bunda, maafin Jen Bunda. Jen benar-benar minta maaf. Mungkin selama ini Jen selalu merepotkan dan membuat bunda marah atau kecewa. Jen baru merasakan memperjuangkan lahirnya seorang anak, dan saat ini Jen merasa sakit. Jen paham kalau bunda marah dengan kelakuan Jen, karena memang perjuangan Bunda luar biasa. Doakan Jen Bunda" kata Jen yang berlinang air mata


"Jen tidak papa sayang bunda sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Kamu anak bunda, sudah sewajarnya Bunda mendidik kamu dan merawat kamu, nakal itu hal biasa Jen, Bunda tidak masalah. Bunda juga minta maaf kalau mungkin selama ini Bunda berlaku kasar sama kamu, mungkin pernah menyinggung perasaan kamu, semua Bunda lakukan demi kebaikan kamu. Sekarang Bunda mendoakan yang terbaik buat kamu, kamu anak yang kuat, kamu anak yang hebat, kamu pasti bisa, kamu berjuang ya demi anak kamu. Bunda selalu sayang sama kamu, tidak akan pernah putus doa Bunda buat kamu." jawab bunda yang ikut meneteskan air mata dan menghampiri Jen di ranjang.


Ibu dan anak itu saling meminta maaf dan memaafkan. Di saat seperti ini seorang anak perempuan pasti akan merasa betapa bertaruh nyawa nya seorang wanita yang akan melahirkan. Setelah Jen dan bunda lebih tenang, Jen melihat ke arah mamahnya yang juga ikut terharu.


"mamah" panggil Jen


"iya Jen" kata mamah mendekati Jen


"maafin Jen mah, Jen belum bisa menjadi menantu yang baik. Doakan Jen mah" Jen

__ADS_1


"mamah selalu mendoakan kamu, mamah sudah memaafkan apapun kesalahan kamu. Kamu menantu mamah yang paling baik sayang" mamah


"mah, maafin Axel juga. Axel selalu membuat mamah marah, Axel selalu merepotkan mamah" kata Axel yang juga menyadari betapa berjuangnya seorang ibu. Ia tidak tega melihat Jen yang seperti ini


"kamu anak mamah yang paling hebat, mamah sudah memaafkan semua kesalahan kamu" kata mamah memeluk Axel dan Jen.


ceklek


"nasi goreng datang" kata papah


"loh kok pada nangis?" tanya ayah setelah masuk ke dalam ruangan Jen


"enggak yah, kita cuma terharu" Bunda


"oh, ya sudah kita sarapan dulu" ayah


Mereka pun menikmati sarapan bersama di kamar inap Jen. Jen hanya memakan sedikit nasi goreng nya, karena ia merasa badannya yang nano nano jadi mengurangi selera makannya.


"sedikit lagi dong Yang, biar nanti kamu ada tenaga" Axel


"udah mas aku udah kenyang" Jen


.


.


.


.


"dokter, Jen baru tidur" kata Axel


"kok duduk, kalau jatuh gimana?" tanya mami Sasa pada Axel


"kita jagain kok dokter, kasian seperti nya Jen benar benar capek" mamah.


"kalau tiduran perutnya sakit dok, ini dari tadi juga tidur cuma beberapa menit kebangun lagi" jelas Axel.


Dan benar saja Jen terbangun karena merasakan sakit di perut juga pinggang nya. Mami mendekati Jen, setelah menanyakan keadaan dan keluhan Jen, mami memeriksa apakah sudah tambah pembukaan juga detak jantung bayi.


"sudah buka empat ya Jen, gimana masih aman kan?"


"Sakit mi, kok lama banget. Masih berapa jam lagi?" tanya Jen lemah


"sabar cantik, mami mau kamu melahirkan normal. Kamu tahan ya proses nya, memang seperti itu" kata mami


"tapi Jen ngantuk mi"


"kamu boleh kok tidur dulu"


"tapi kalau Jen tiduran, pasti langsung kontraksi mi. Jen benar benar pengen tidur"

__ADS_1


"sebenarnya itu mempercepat proses pembukaan Jen kalau tiduran"


"Jen gak kuat mi" kata Jen lemah


"kuat, kamu gadis yang kuat. Percaya sama mami"


"Axel tolong Jen di masih semangat ya" kata mami pada Axel.


"iya dok"


"Jen bukan maksud mami membiarkan kamu seperti ini. Persalinan itu ada prosesnya, mami belum bisa mengambil tindakan apapun. Kamu harus percaya kalau kamu di beri kemudahan dalam segala hal, dan yang pasti kamu beruntung" mami


"beruntung?" Jen


"iya, seharusnya kan perkiraan lahir masih minggu depan, tapi kamu udah mau melahirkan. Kamu masih terlihat sehat, kuat, tidak kesakitan yang seperti itu lah. Mami sudah menangani banyak pasien melahirkan Jen. Dan banyak yang lebih parah dari kamu." mami


"memangnya tidak bisa Cesar aja dok?" kata Axel yang kasian melihat Jen


"jangan, kita tunggu dengan normal dulu. Mami yakin Jen bisa. Lagi pula kalau kamu melahirkan normal itu cepat sehat loh sayang. Kamu semangat ya" kata mami mengelus kepala Jen


"sssshhhh iya mi" jawab Jen yang merasakan kontraksi.


Pukul setengah delapan setelah makan malam. Jen di buat tambah sakit, tapi ia tidak menangis seperti siang tadi. Jen lebih kuat dan memaksakan dirinya untuk tetap tiduran. Axel dengan setia duduk di samping ranjang Jen, ia mengelus setiap kali Jen merasa sakit. Axel juga selalu memberi semangat untuk Jen, walaupun dirinya sendiri juga sangat khawatir dengan Jen.


"mas mau minum" kata Jen


"Iya sayang," Axel memberikan botol air putih yang di minta Jen.


Saat Jen akan sedikit bangun untuk minum, tiba tiba ada sesuatu yang pecah di dalam sana dan keluar tanpa bisa di cegah.


"mas" kaget Jen


Axel yang melihat itu pun langsung memencet tombol di samping ranjang Jen. Karena memang mereka sedang berdua di dalam kamar, para orang tua nya sedang ke mushola. Tidak lama datanglah mami Sasa dan satu perawat.


"Dok tolong Jen," Axel menunjuk ke bawah Jen yang sudah basah.


"kamu tenang Jen jangan panik. Sepertinya ketubannya sudah pecah." mami memeriksa Jen.


"baru buka tujuh Jen, kamu tahan ya jangan mengejan dulu"


"tapi mi, ini Jen huh huh huh emmm" Jen


"tarik nafas panjang Jen, oke tenang" kata mami


"sus tolong siapkan semuanya ya, dan panggil satu suster lagi." mami


"siap dok" suster


"ini mungkin beberapa menit lagi Xel pembukaan sempurna, kamu siap menemani Jen sendiri?" tanya mami


"iya dok, saya sudah siap" Axel

__ADS_1


Setelah semua selesai di persiapkan, Jen di minta mempersiapkan diri. Sampai akhirnya Jen sudah pembukaan sempurna.


__ADS_2