Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Ungkapan ayah


__ADS_3

Sore ini dapur kediaman Aditama sedikit sibuk, karena akan kedatangan tamu spesial besok pagi.


"Jen belum bangun mbok,?" tanya bunda Ayu


"belum bu, mau mbok bangunin?"


"gak usah mbok"


"bi Ar mana mbok?"


"tadi pamit pulang sebentar bu, katanya tetangga rumahnya ada yang meninggal. Jadi takziah sebentar."


"em, Ayamnya udah di ungkep mbok?"


"udah beres bu, ini tinggal buat makan malam aja"


"ya udah abis ini mbok istirahat aja."


"iya bu"


"bun, bunda,,,, bun?" panggil ayah yang mencari bunda


"iya sebentar" kata bunda menghampiri suaminya.


"Jen ada kan bun?"


"ada dia ketiduran di pinggir kolam. Abis spa dia"


"bagus deh mudah mudahan pikirannya juga rileks biar enak kita yang ngomong."


πŸ’«πŸŒ πŸŒ πŸŒ 


"Jen ikut ayah ke ruang kerja ya" Ajak Ayah lembut


"iya yah" Jen mengikuti langkah sang ayah dan bunda


"duduk sayang" pinta bunda


Jen dan bunda duduk di sofa panjang sedangkan ayah berjalan membawa laptop dan duduk di sofa single. Setelah membuka dan mencari sebuah dokumen yang tersimpan, ayah menyodorkan ke pada Jen.


"kamu liat dulu Jen" kata ayah yang dituruti Jen.


"i.,,, ini ayah dapat dari mana?" tanya Jen yang tidak percaya dengan yang semua ia lihat.


"ada orang suduhan ayah yang bertugas menjaga kamu. Maaf ayah lakukan ini semua demi kamu."


"iya ayah" Jen tertunduk merasa bersalah.

__ADS_1


"Jen, ayah mau menjodohkan kamu dengan anak om Al. Besok pagi mereka akan datang melamar kamu"


"a,,,apa? ayah becanda kan?" Jen benar benar tidak percaya.


"enggak Jen, ini udah keputusan ayah. Ayah gak mau kamu semakin terjerumus. Walaupun ayah tau kamu bisa jaga diri, tapi godaan itu pasti akan ada Jen."


"ayah, kalau memang ini alasan ayah menjodohkan Jen, Jen janji akan keluar dari club ini. Jen janji gak akan aneh aneh yah" kata Jen memohon.


"bukan hanya itu Jen, ayah sama bunda akan pergi ke London untuk beberapa bulan. Ayah benar benar takut kamu semakin jadi apa. Ini bukan pilihan yang mudah Jen. Kalau bunda tinggal di sini gimana ayah disana, kamu tahu kondisi ayah kan."


"Jen bisa jaga diri yah, ada mbok Jum dan yang lainnya. Bunda tolong Jen hiks hiks" Jen menangis di pelukan sang bunda.


"Jen, untuk kali ini kamu nurut sama ayah ya, ini demi kebaikan kamu" saran bunda mengelus kepala anaknya


"ayah, maafkan Jen, Jen gak mau di jodohkan. Jen udah punya pacar yah"


"kamu punya pacar?" tanya ayah


"iya, Bayu yah Bayu pacar Jen. Bayu bisa jaga Jen yah. Kalaupun Jen di suruh menikah, kenapa gak sama Bayu aja. Jen yakin Bayu pasti mau"


"maaf Jen gak bisa Bayu, kamu harus menikah dengan anaknya Alex"


"kenapa yah hiks hiks apa karena anak om Al kaya. Dan ,, dan bayu cuma anak art?"


"Kamu tidak salah menebak Jen, tapi bukannya ayah merendahkan keluarga Bayu. Apa kamu tidak pernah sadar kalau Bayu selalu mengalah sama kamu, Bayu sangat segan sama kamu apa lagi sama ayah dan bunda."


"Sayang, apa kamu yakin cinta sama Bayu. Yang bunda lihat kamu dan Bayu seperti kakak adik. Kalian udah lama bersama kalau nyaman itu udah pasti. Tapi kalau cinta apa kamu yakin? Apa kamu sudah terbuka dengan Bayu? dan apa pernah Bayu melarang kamu dalam hal apapun?" tanya bunda beruntun dan membuat Jen berfikir.


"Jen, sampai kapan pun Bayu akan menganggap kamu sebagai anak majikan orang tua nya. Bayu tidak akan nyaman Jen kalau menikah denganmu. Pasti dia akan di selimuti rasa canggung dan segan. Bayu akan sulit beradaptasi dengan keadaan ini. Coba kamu pikir apakah Bayu pernah berlaku tegas terhadap kamu? Bayu hanya menurut saja kan. Apakah seorang kepala rumah tangga akan seperti itu? bagaimana dengan nasib kedepannya." jelas ayah


Jen pun hanya diam dan menangis. Apa yang di katakan ayahnya memang benar.


"tapi Jen masih sekolah yah, Jen juga tidak kenal anak om Al."


"Kamu masih bisa sekolah dan melanjutkan kuliah. Hanya status yang membedakannya. Semua akan berjalan normal. Ayah akan pastikan itu, kamu akan terbiasa dengan suamimu dan akan mengenalnya."


"Jen mohon maaf yah, jangan hukum Jen seperti ini yah. Jen gak mau hiks hiks,, bunda hiks hiks,," 😭😭


Ayah pun berdiri dari duduknya. Melihat anaknya yang seperti ini sebenarnya ia tidak tega, tapi mau bagaimana lagi.


"Jen, tugas seorang ayah adalah mendidik putrinya sampai dewasa. Dan setelah itu menikah kan putrinya. Kamu harus tau, kalau ayah sangat merasa gagal mendidik kamu. Ayah merasa tidak pantas untuk menjadi seorang ayah." jeda ayah


"ayah,,, ayah jangan ngomong gitu" kata bunda


"itu semua kenyataan bun, semua salah ayah, andai ayah bisa leluasa mendidik dan menjaga Jen mungkin semua tidak seperti ini. Ini yang ayah sesali. Tapi kalau ayah tidak bekerja akan lebih seperti apa keluarga kita. Ayah bertanggung jawab besar nantinya. Ayah yang minta maaf sama kalian berdua. Mungkin selama ini Ayah belum bisa jadi yang terbaik." kata ayah meneteskan air matanya. Baru kali ini mereka melihat Ayah menangis.


"ayah,," bunda beranjak dan meneluk suaminya.

__ADS_1


"Ijin kan ayah menebus dan memperbaiki semuanya. Agar ayah tidak di hantui rasa bersalah yang teramat. Ini yang bisa ayah lakukan Jen, untuk kamu demi kebaikan kamu "


"ayah hiks hiks" Jen berjalan dan berlutut di kaki ayah dan bundanya.


"maafin Jen yah, maafin Jen yang seperti ini. Gara gara Jen ayah jadi begini, ayah adalah ayah yang terbaik buat Jen. Ayah yang bertanggung jawab. Ayah jangan menyalahkan diri seperti ini" kata Jen


"bangun Jen," ayah meraih pundak Jen dan menuntun nya berdiri.


" ayah tidak pernah marah sama kamu. Tidak pernah kasar sama kamu. Semua ini karena ayah sayang sama kamu, ayah merasa bersalah. Sekarang kamu sudah dewasa dan kamu sudah tahu alasan kenapa ayah mejodohkanmu. Ayah tidak akan memaksamu Jen. Semua terserah kamu dan ayah hanya berharap kamu akan bahagia dengan pilihanmu" kata ayah kemudian melangkahkan kakinya.


"bunda,,, πŸ₯ΊπŸ˜’" Jen meraih tangan bunda


"kamu pikirkan baik-baik Jen. Jangan buat ayah dan bunda kecewa lagi" kata bunda mengelus kepala Jen kemudian melangkah menyusul ayah.


Setelah kepergian kedua orang tuanya Jen tertunduk di lantai dan menangis tersedu-sedu.


"mbok, tolong liat Jen di ruang kerja bapak. Jaga Jen dulu mbok" kata bunda yang berada di dapur untuk mengambilkan minum ayah.


"iya bu" kata mbok Jum dan meninggalkan dapur.


"ayah minum dulu" bunda menyodorkan segelas teh hangat.


"bund, ayah mau ke tempat Bayu." kata ayah setelah minum


"bunda ikut ya?"


"Jen gimana?" ayah


"ada mbok Jum, biar Jen tenang dulu" bunda


"ya udah ayo siap siap keburu malam"


.


.


.


.


"non Jen" mbok Jum ikut berjongkok dan membawa Jen kedalam pelukannya.


"ikut mbok ke kamar ya, non Jen yang tenang"


Tanpa sepatah kata pun Jen yang di gandeng mbok Jum menurut dan berjalan mengikuti mbok Jum.


Sampai di kamar mbok Jum, Jen duduk di ranjang yang berukuran 140 itu. Sedangkan mbok Jum mengambil kan minum.

__ADS_1


__ADS_2