
Setelah sampai di unit Sinta, ternyata Tamara sudah bangun. Tamara masih terlihat kacau di dalam kamar.
"Tam," sapa Jen. Tamara melirik Jen dan merentangkan kedua tangannya.
Jen yang paham pun segera memeluk Tamara. Tangis Tamara pecah di pelukan Jen. Sasa dan Sinta juga ikut memeluk mereka. Sedangkan ketiga Anoman sedang berada di ruang tengah dan menunggu makanan yang mereka pesan.
"kaya ada yang nangis?" Dio
"Tamara" Satria
"Jen" Axel hampir bersamaan dengan Satria
Kemudian mereka lari ke kamar Sinta. Saat akan masuk mereka bertiga berdesakan. Membuat ke empat gadis yang sedang berpelukan itu mengarahkan pandangannya ke pintu. Melihat gadis gadis yang heran dengan tingkah mereka, membuat mereka bertiga nyengir.
"kalian ngapain?" tanya Sasa
"kalian juga ngapain?" tanya Dio
"bebeb" panggil Sasa naik satu oktaf
"hehe maaf beb, kita dengar ada yang nangis" jelas Dio
"Yang, dari tadi aku belum kamu peluk loh" kata Axel cemberut melihat Jen memeluk Tamara
"Astaga" Dio menepuk jidatnya
"ish kamu itu, banyak waktu buat kamu nanti." Jen
"janji loh Yang" Axel
"sono peluk pelukin dulu suami lo, di kamar sebelah juga kosong." kata Sasa
"boleh itu Yang, saran Sasa" Axel berbinar
"stres gue." kata Jen dan membuat Tamara tersenyum di pelukan Jen
"Semuanya makasih ya, udah nolongin gue semalam" kata Tamara dan mereka mengangguk
"Jen, maafin gue juga karena kemarin gue gak dengerin penjelasan lo. Gue beneran nyesel Jen. Sasa dan Sinta gue juga minta maaf karena kalian juga terkena imbasnya." sambung Tamara
"gak papa, kita maklumi lo. Buat kedepannya lo harus hati-hati. Gue udah filing pas pertama kali ketemu, maafin gue juga kalau buat lo kecewa." jawab Jen
"seharusnya lo tahu siapa yang baik dan tulus Tam" kata Satria
"Satria," kata Tamara dan menundukkan kepalanya
"udah, yang penting sekarang lo udah tahu kalau Rendy itu cowok gak baik. Kita semua sayang sama lo Tam, jadi jangan pernah berfikir kalau kita jahat atau ingin merusak kebahagiaan lo" Sasa
"nah betul itu kata saus sambal" Sinta
"saus sambal?" Jen
"kan ada produk baru dari Sasa 😀," kata Sinta dan membuat mereka tertawa, kecuali Sasa tentunya.
"panggil gue Maya aja" kata Sasa. Karena memang nama lengkap Sasa adalah Sasa Maya Wardani.
"sarden dong" celetuk Satria
"astaga, kenapa papi mami kasih nama gue brand makanan sih" kata Sasa sambil mengacak rambutnya.
Setelah saling maaf maafan, mereka menuju ruang tengah untuk makan siang. Jen makan sambil menyuapi Axel, karena Axel mendapat pekerjaan dari papah.
"minum Yang" pinta Axel tanpa menoleh ke Jen
"ini" Jen memberikan satu botol air mineral
"Yang, aku tinggal ke kantor bentar ya. Kamu pulang sendiri gak papa kan? Atau mau ikut?" tanya Axel
"aku pulang aja bentar lagi" Jen
"ya udah aku berangkat sekarang ya. Gue duluan guys" pamit Axel
Jen menaruh piring nya dan ikut beranjak membukakan pintu. Jen mencium tangan Axel dan Axel mencium kening Jen.
"ciuman nya buat nanti malam aja. Jangan lupa dandan yang spesial, kalau cantik kamu kan udah sangat cantik." bisik Axel dan setelah itu ia pergi. Jen hanya tersenyum mendengar bisikan Axel, pipinya pun sudah merah seperti tomat.
__ADS_1
Jen kembali ke tempat duduknya, ia akan. melanjutkan makan yang tadi sempat tertunda.
"kenapa lo?" tanya Sasa pada Jen
"kenapa emang?" Jen
"muka nya merah banget" Sasa
"gak papa. Hap" jawab Jen dan langsung melahap nasi yang sudah di sendoknya.
.
.
.
.
Jen sampai di rumah sudah petang. Ia memarkirkan motornya.
"enak juga pakai motor metik" gumam Jen kemudian masuk ke dalam rumah
"Assalamualaikum" Jen
"wa'alaikumsalam non" bibi
"mamah mana bi?"
"ada di kamar non, baru pulang kerja"
"oh, Jen ke kamar ya bi"
"iya non"
Sepi amat ya gak ada garwo. Batin Jen
Jen segera membersihkan diri, setelah itu ia bermain ponsel nya. Ia melihat masih ada fotonya dengan Bayu, dan beberapa video. Jen memutar video itu, ada rasa sedih saat mengingat semua kenangannya.
Bayu apa kabar kamu, kita jarang ketemu. Perasaan ku sudah memudar Bay. Aku harap kamu juga begitu. Saat melihat semua kenangan ini rasanya masih sedikit sesak Bay, boleh gak sih ax menghapus semua kenangan ini. Batin Jen saat melihat foto dan video itu.
Sampai Jen selesai makan malam Axel belum juga pulang. Jen memutuskan untuk belajar. Tepat pukul sembilan malam Axel masuk ke dalam kamar. Jen yang melihat itu pun tersenyum dan beranjak.
"kenapa baru pulang?" Jen
"iya ada sedikit kendala di kantor, tapi udah beres" Axel
"kamu udah makan?" Jen
"belum Yang, makan mie instan enak pasti Yang"
"kamu mandi dulu, aku bikinin" Jen
"makasih sayang" Axel berlalu ke kamar mandi
Selesai mandi ternyata Jen belum kembali. Axel menyusul Jen ke dapur. Dilihatnya Jen sedang menuangkan mie ke dalam mangkuk.
"Yang" panggil Axel memeluk Jen dari belakang
"duduk dulu garwo, aku siapin dulu"
"kok dua Yang?"
"papah mau katanya" jawab Jen
"berarti gak spesial dong"
"kenapa gitu?" Tanya papah dari belakang mereka
"papah kebiasaan ngagetin" kata Axel melepaskan pelukannya
"hahaha biar kamu gak ke bablasan" kata papah
"kebablasan apa?" Axel duduk di meja makan
"ya siapa tahu, ini kan di dapur" Papah
__ADS_1
"silahkan pah, garwo" Jen
"Sua...." Axel
"makan sendiri, udah tua juga" saut papah menahan ketawa
Sedangkan Jen cekikikan melihat itu. Akhirnya Axel makan sendiri.
"papah, mamah cari juga" kata mamah
"sebentar mah, papah isi tenaga dulu, biar sampai pagi" kata papah di sela makannya
"ingat encok pah, udah mau punya cucu juga. Masih gas pol" kata Axel
"garwo ih" Jen mengingat kan Axel agar lebih sopan
"hahaha,,,,,Aww" papah meringis saat di cubit mamah
"kalian ini, ayo Jen kita tinggal aja" ajak mamah
"mamah apaan sih bawa istri ku, tadi aja di ganggu papah, sekarang mamah." Axel
"sabar boy, habis ini kita beraksi" kata papah
Selesai makan malam Axel kembali ke kamarnya. Jen sedang membereskan buku-buku sekolah. Axel pun melakukan hal yang sama.
"Yang" panggil Axel
"iya" jawab Jen dan duduk di tepi ranjang
"kita sebentar lagi ujian loh, paling tinggal tiga bulan"
"lalu?"
"ya kita habiskan waktu bersama, sebelum kita sibuk belajar" Axel
"kan kita juga udah bersama"
"ya aku maunya kita romantis romantisan, jalan bareng, ya dua minggu ini lah kita full senang senang"
"kan kamu ada kerjaan juga, mending besok aja habis ujian. Biar lebih enak" Saran Jen
"aku maunya sekarang, biar semangat ujiannya. Lagian habis ujian waktu nya kita honeymoon Yang"
"em?" Jen berfikir
"Ayo lah Yang, aku udah kurangin jadwal kerjanya" Axel
"ya udah terserah kamu aja garwo"
"kita mulai dari sekarang ya" kata Axel mendekati Jen
"mulai?" tanya Jen
cup
Axel mencium bibir Jen, lama lama ciuman itu semakin menuntut. Perlahan Axel membaringkan Jen dan men*n*i*nya. Mencium bibir Jen lagi dan lagi. Tangan Axel pun tidak tinggal diam.
"garwo" panggil Jen dengan nafas yang memburu
"Yang, aku mau" Axel
"ma.." Jen tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Axel sudah kembali m*l*m** bibir Jen.
Tangan Axel menggenggam tangan Jen yang berada di sisi kanan dan kirinya. Jen hanya pasrah saja. Setelah beberapa saat Axel menegakkan tubuhnya dan melepas kaos yang ia pakai. Jen yang melihat itu pun sebenarnya juga menginginkan hal yang sama dengan Axel.
Axel tersenyum saat melihat Jen yang memandang nya penuh ke inginan.
"kamu mau sekarang?" tanya Axel dan Jen masih bengong
Axel menuntun tangan Jen menyentuh dadanya, Jen hanya nurut nurut saja. Entah pergi kemana kesadaran Jen.
"kamu suka?" tanya Axel dan Jen mengangguk
"aku pun lebih suka sayang" Axel membuka perlahan kancing baju Jen.
__ADS_1