
Alhamdulillah sudah sampai episode 100, Author ga nyangka sudah sampai disini. Terima kasih atas semua dukungan dan jejak kebaikan kalian.
Tetap jaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
##################################
"Sayang....kamu kenapa?" Medina terheran karena sepanjang pagi ini Daniel terus memelukinya dengan posesif dan tidak membiarkan Medina beranjak dari kamar.
"kapan lagi aku bisa memelukmu seperti ini? Setelah kita pulang honeymoon, mereka akan mengambil perhatian dan cintamu" Sahut Daniel sambil mengeratkan pelukannya.
Medina mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapa Daniel.
"Tidak akan yang berani mengambilnya darimu, kecuali jika Tuhan menginginkan...."
"Kita akan bersama sampai kita menua" Potong Daniel dengan tatapan tajamnya.
"Kita akan pulang?" Medina memeluk tubuh Daniel dan membenamkan wajahnya didada bidangnya.
"Iya" Daniel mengangguk malas.
"Kapan?" Medina mendongak menatap wajah tampab suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Besok kita pulang, dan hari ini aku akan mengurungmu" Daniel mencium bibir Medina dengan lembut.
"Tapi kita belum punya buah tangan untuk orang-orang dirumah" Ucap Medina setelah Daniel melepas ciumannya.
"Kita akan membuatnya" Daniel memeluk pinggang Medina dan mencium perut istrinya. Daniel tak henti-hentinya menciumi perut Medina.
"Dasar mesum...maksudku souvenir khas tempat ini" Medina tertawa merasakan geli saat Daniel menciumi perutnya bertubi-tubi.
"Sayang...."
"Kita akan membeli cindera mata setelah dua ronde lagi" Daniel menindih tubuh Medina dengan tangan dan bibir yang sudah beraksi.
"Ap.....Hhhmmmppppttt" Medina pasrah saat bibir Daniel ********** lembut. Menyusuri setiap inci tubuhnya yang telah menjadi candu bagi Daniel.
Keduanya kembali merengkuh kenikmatan surga dunia dengan perasaan cinta yang diridhoi.
****
Saat ini keduanya sedang berada diluar pulau Fesdhoo untuk mencari oleh-oleh. Dengan menaiki pesawat amphibi mereka sebagai salah satu akses transportasi antar pulau, Medina dan Daniel menyusuri pulau kecil yang tidak jauh dari tempat mereka menginap.
Medina memperhatikan beberapa hasil buatan tangan warga sekitar. Seperti aksesoris, miniatur kapal dalam botol, hiasan magnet kulkas, baju-baju, dan tikar anyaman. Semuanya sangat unik hingga membuat dirinya bingung harus memilih yang mana.
Medina menatap Daniel seolah meminta persetujuan suaminya.
"Kamu bisa ambil yang kamu inginkan" Bisik Daniel kemudian mencium kepala Medina lembut.
"Terimakasih sayang" Medina tersenyum cantik dan mulai memilih barang yang ia inginkan.
Medina membeli oleh-oleh untuk semua orang dirumah Mama Safira dan beberapa orang dikantor suaminya seperti Arifbdan Karin juga beberapa barang yang dibelinya untuk dijadikan hiasan di apartemennya.
"Ya ampun...aku menghabiskan uang suamiku" Medina melihat hasil belanjaannya yang sangat banyak.
"Ada yang ingin kamu beli lagi, Honey?" Tanya Daniel sebelum ia membayar belanjaan istrinya.
"Aku rasa ini lebih dari cukup. Bahkan aku menguras kantongmu, Sayang" Medina tertawa kecil sambil memberikan semua barang yang sudah dipilihnya kepada kasir.
"Apapun untukmu, akan aku berikan" Daniel memeluk Medina dan mencium pipinya.
"Jangan menciumku sembarangan...aku malu" Medina sedikit menjauh dari Daniel dan melirik pemilik toko yang sedari tadi menatap mereka.
"She's my wife and she's shy when I kiss her in public" Ucap Daniel kepada pemilik toko.
__ADS_1
"Your wife is a woman who understands adab, she is a polite Muslim woman" Sahut pemilik toko sesekali melirik Medina.
"This is the first time our shop has a hijab woman, one luck for us"
"Really?" Daniel menatap pria pemilik toko tidak percaya. Ia tidak suka karena Medina dianggap membawa keberuntungan untuk mereka.
"Can I give him a present?" Tanya pria itu meminta ijin.
"Hah?" Daniel terkejut. Ia menatap pria dan Medina bergantian. Kemudian ia menghampiri istrinya.
"Ada apa? Apa yang bapak itu katakan?" Tanya Medina yang memang belum begitu faham dengan bahasa Inggris lebih banyak.
"Dia ingin memberimu hadiah. Tapi aku tidak suka" Ucap Daniel menatap istrinya posesif.
"Jangan menolak niat baik seseorang, itu akan menyinggung perasaannya" Medina tersenyum manis membuat Daniel tak bisa berkata-kata.
"This is for you, miss. May goodness and happiness always be with you and your husband" Pria pemilik toko memberikan sebuah paper bag berukuran sedang kepada Medina.
"Thank you sir" Medina menerima benda itu dan tersenyum tulus.
Daniel hanya memperhatikan keduanya. Ia tidak berkata atau tersenyum sedikit pun. Justru ia mengambil gerakan ancang-ancang jika pria itu hendak berbuat macam-macam kepada Medina.
"Sayang...Ucapkan sesuatu pada bapak itu" Bisik Medina lembut.
"Thank you so much" Daniel memaksakan senyumnya.
"You're welcome" Sahut pria pemilik toko.
"Your husband is very possessive" Medina mengerti yang diucapkan pria itu dan tersenyum.
Daniel menatap tidak suka, ia segera menarik tangan Medina setelah selesai membayar dan meninggalkan toko souvenir dengan perasaan kesal.
Dan ketika pasangan itu meninggalkan toko pria aneh itu, beberapa pengunjung pulau itu masuk kedalam toko untuk berbelanja. Entah kebetulan atau tidak, namun pria itu benar-benar sangat senang toko souvenir nya dikunjungi banyak orang setelah Medina pergi. Dan ia merasa hadiah yang diberikan kepada Medina sangatlah pantas.
"Apa kita langsung pulang ke villa?" Tanya Medina saat suaminya terus membawanya tanpa arah.
"Apa kamu ingin seharian disini?" Tanya Daniel masih dengan nada kesal.
"Jika kamu tidak suka, aku akan mengembalikannya" Medina hendak berbalik ke arah toko souvenir namun ditahan Daniel.
"Biarkan saja...itu mungkin salah satu keyakinan mereka. Lihatlah...rpia itu tersenyum bahagia karena tokonya semakin ramai" Daniel dan Medina menatap toko souveni.
"Ahh...aku jadi penasaran hadiah apa yang diberikan bapak tadi" Medina melihat kedalam paper bag.
"Kita akan membukanya di villa" Keduanya meninggalkan pulau itu dan kembali ke villa saat makan siang.
"Sayang....aku boleh membuka hadiah itu?" Tanya Medina setelah menyelesaikan sholat dzuhur. bersama suaminya.
"Bukalah....aku juga penasaran dengan isinya" sahut Daniel tersenyum.
"Masyaa Allah bros yang sangat cantik" Ucap Medina ketika membuka kotak.
Sebuah pin Bros mutiara sangat terlihat elegan dengan paduan bunga mawar yang terbuat dari pita.
"Apa ini mutiara asli?" Medina memperlihatkan Bros itu kepada Daniel.
"Sepertinya mutiara itu asli, Honey" Daniel tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat senang mendapat hadiah.
"Ini sangat indah...pembuatnya pasti memiliki jiwa seni yang tinggi" Ucap Medina takjub.
"Kamu sangat senang mendapat hadiah dari orang asing" Daniel menyerahkan bros itu kepada Medina.
"Sayang, apa kamu marah?"
"Aku tidak marah...aku hanya tidak suka" Daniel memalingkan wajahnya dan duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
"Dari kecil aku tidak pernah mendapat hadiah dari orang lain selain dari bapak sama ibuku....sampai aku bertemu kalian dan kehidupanku berubah" Medina ikut duduk ditepi ranjang dan memeluk tubuh Daniel.
Mendengar kalimat yang diucapkan istrinya, hati Daniel seolah tercubit puluhan kali.
"Maafkan aku...." Daniel membalas pelukan hangat istrinya.
"Jika kakak tidak suka, aku tidak akan memakai nya" Medina mendongak dan menatap wajah suaminya.
Medina beranjak membawa bros itu dan memasukkannya kedalam tas.
Daniel menatap punggung Medina dengan rasa bersalah. Seharusnya ia tidak egois hanya karena sebuah hadiah pemberian orang asing.
Daniel beranjak dan hendak menghampiri istrinya, namun tiba-tiba pintu villa diketuk.
"Excuse me sir, my name is mira. We are currently offering spa treatment services for VIP guest couples. Do you and your partner want to try it?"
Wanita itu menawarkan layanan spa kepada seluruh tamu VIP salah satunya adalah Daniel dan Medina.
Daniel terdiam sejenak dan tersenyum tampan. Ia menemukan ide untuk mencairkan suasana karena perdebatan kecil mereka.
"Can you do it in the villa? Because my wife wants a privacy area so she is comfortable." Tanya Daniel kepada wanita itu.
"Of course we can, sir. We'll have it ready in a few minutes" Daniel tersenyum lebar dan kembali masuk kedalam kamar untuk memberitahu Medina.
"Honey...kita akan mendapat layanan spa dari pengelola villa. Mereka akan datang sebentar lagi. Jadi..bersiaplah" Daniel memeluk Medina dari belakang.
"Apa??" Medina yang sedang merapikan pakaian kedalam koper sedikit terkejut.
"Apa kakak juga akan dipijat?" Tanya Medina. Ia membalikkan badannya.
"tentu saja....tapi jika istriku mengijinkan suaminya dipijat oleh tangan wanita lain"
"Aku tidak akan mengijinkannya" Wajah Medina cemberut.
"Kamu semakin cantik jika sedang cemburu" Daniel mencubit hidung Medina.
Medina tersipu malu saat Daniel terus menggodanya. Suasana kembali menjadi hangat hingga melupakan perdebatan kecil siang tadi.
****
"Mas...kapan mereka kembali?" Tanya Ibu Melani kepada suaminya. Ia sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Medina.
"Aku tidak bisa menghubungi ponsel Daniel. Tapi aku akan mencoba menghubungi sekretarisnya. Kuharap dia tahu" Jawab Pak Sanjaya.
"Aku sudah tidak sabar bertemu Medina" Mata ibu Melani berkaca-kaca.
"Sayang...meski mereka telah pulang dari honeymoon, kita tidak bisa langsung mengatakan semuanya. Medina akan shock dan kemungkinan terburuknya ia tidak menerima kita. Aku mohon bersabarlah, kita akan membicarakannya dengan Daniel. Karena selama 3 bulan ini, orang-orang Daniel juga mencari kita, keluarga kandung Medina. Daniel pasti melarang kita jika tindakan kita gegabah" Ucap Pak Sanjaya panjang lebar.
Ibu Melani tersenyum dan mengangguk. Yang dikatakan suaminya sangatlah benar. Bisa saja Medina menolak mereka dan membenci mereka jika mereka bertindak terburu-buru memberitahu kebenarannya. Medina pasti belum siap menerima kenyataan ini begitu saja, meski selama ini mereka juga melakukan proses pencarian.
"Aku akan menunggu hingga waktu itu tiba. Mendapatkan maaf putriku apapun akan kulakukan" Gumam Ibu Melani dalam hati.
Penyesalan memang selalu datang diakhir tindakan yang dilakukan tanpa berpikir panjang. Jika emosi menguasai seseorang, tindakan positif apapun tidak akan diterima akal sehat.
Jangan berlarut dengan penyesalan. Ada hikmah indah dibalik segala ujian. Tidak perlu disesali, karena jika Tuhan masih memberi kesempatan hidup esok hari, ada perjuangan yang harus dimulai untuk meraih satu kebahagiaan yang Tuhan ridhoi.
_
_
_**TBC
_
_Dukung terus cerita ini dengan selalu meninggalkan jejak kebaikan kalian.
__ADS_1
Terimakasih, love you allππ€**