Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 114


__ADS_3

Setelah pemeriksaan di Rumah Sakit, Daniel membawa istrinya ke rumah mama Safira.


Disana Medina dan Daniel disambut haru bahagia Mama Safira dan anggota keluarga lainnya.


"Selamat untuk kalian." Mama Safira memeluk Medina yang baru saja datang.


"Terimakasih, ma. Berkah doa dari mama dan semuanya." Balas Medina tanpa bisa menahan iar matanya.


"Kakak...." Medina berlari menghambur memeluk Rani.


"Selamat ya. Aku tidak menyangka, kita akan hamil bersamaan. Syifa pasti akan sangat bahagia mendengar kehamilanmu." Ucap Rani yang masih memeluk Medina.


"Iya...Apa Syifa belum pulang?" Tanya Medina.


"Sebentar lagi." Jawab Rani.


Sementara itu, Daniel tengah membagikan amplop yang sudah dipersiapkannya kepada seluruh pegawai dirumah mamanya. Sebagai tanda syukur atas kehamilan Medina.


"Terimakasih, Den. Mudah-mudahan Non Medina dan bayinya diberikan kesehatan." Ucap Mang Jaka bahagia.


"Terimakasih, mang."


Daniel tersenyum melihat istrinya yang tengah mengobrol dengan Rani dan mamanya. Ketiganya tampak antusias membicarakan kehamilan dua menantu Mama Safira yang tidak berbeda jauh. Hanya terpaut 2 Minggu saja.


Tidak lama kemudian, Syifa pulang dari sekolah bersama Papanya. Gadis kecil yang akan masuk sekolah dasar itu langsung berlari masuk kedalam rumah neneknya ketika mengetahui ada mobil Daniel terparkir dihalaman rumah.


"Sayang... hati-hati." Teriak Danu. Namun tidak didengar Syifa.


Gadis kecil itu terus saja berlari hingga masuk kedalam rumah.


"Halo princess." Sapa Daniel ketika Syifa berada didalam.


"Papa Niel..." Syifa mengmabur memeluk Daniel.


"Kamu baru pulang sekolah?" Tanya Daniel basa basi sambil menggendong Syifa keruang tengah.


"Apa papa tidak lihat, aku masih memakai seragam sekolah?" Jawab Syifa sedikit kesal karena pertanyaan aneh papa Nielnya.


"Ah....kamu semakin besar." Gumam Daniel sambil tersenyum.


"Mama Niel...." Teriak Syifa yang masih berada di gendongan Daniel.


Ketiganya menoleh dan tersenyum melihat Syifa yang meronta turun dari gendongan Daniel.


"Apa mama Niel sudah sembuh?" Syifa memeluk Medina yang duduk disofa diapit Bunda dan neneknya.


"Alhamdulillah, mama Niel sudah sehat sayang." Medina mengelus rambut Syifa.


"Kenapa tidak ucap salam?" Protes Medina kepada Syifa.


"Syifa lupa." Syifa tersenyum hingga menampilkan kedua lesung pipinya.


"Dan princess cantik ini juga belum bersalaman." Protes Medina lagi membuat gadis bermata coklat kembali menampilkan senyuman mautnya.


"Maaf..." Lirih Syifa.


CUPP!!


"Sekarang ayo lakukan seperti biasanya. Jangan lupa lagi. Oke?!" Medina mencium kedua pipi Syifa.


Syifa menurut, ia melakukan hal yang diminta Medina. Hingga membuat semua orang merasa gemas.


Setelah makan siang, Danu kembali ke kantornya. Rani kembali ke kamarnya, karena merasakan pusing. Sementara Medina dan Syifa sedang asyik bercengkrama dikamar mama Safira. Dan Danu sedang melakukan pekerjaan diruang kerjanya.


"Jadi...Ifa akan punya dua adik bayi?" Tanya Syifa dengan suara bahagia. Gadis kecil itu telah diberitahu tentang kehamilan Medina.


"Iya, Sayang. Kamu akan punya dua adik sekaligus. Jadi doakan baby Bunda dan Mama Niel agar mereka sehat hingga lahir nanti."


Syifa hanya mengangguk pelan. Medina menyadari gadis kecilnya sudah hampir menuju alam mimpi.


"Tidurlah..." Medina terus mengelus kepala Syifa dengan sayang hingga Syifa benar-benar tertidur pulas.


"Apa dia sudah tidur?" Tanya mama Safira yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya. ma."


"Kamu juga harus istirahat. Kehamilan 5 Minggu masih sangat rentan, jadi kamu harus menjaganya dengan banyak istirahat dan makan makanan yang sehat." Nasehat mama Safira kepada Medina.


"Siap ibu ratuku." Jawab Medina dengan wajah bahagia.


Keduanya saling berpelukan hingga Daniel masuk kedalam kamar mamanya.


"Kalian membicarakan ku?" Tanya Daniel narsis. Ia duduk disamping Medina lalu ikut memeluk keduanya.


"Kau ini..." Mama Safira memukul lengan putranya.


"Kapan si princess cerewet sudah tidur?" Daniel menoleh ke atas ranjang.

__ADS_1


"Jangan ganggu dia..." Medina menahan tangan suaminya yang hendak bangun menghampiri Syifa.


"Aku hanya ingin memberikan ciuman lalu


kita akan pulang." Ucap Daniel.


Daniel beranjak menghampiri Syifa dan mendaratkan ciuman di rambut gadis kecil itu.


"Kenapa tidak menginap?" Tanya mama Safira.


"Besok pagi ada meeting penting. Daniel belum menyiapkannya." Sahut Daniel sambil memeluk istrinya.


"Baiklah...jaga Medina dan cucu mama dengan baik."


"Tentu saja, ma. Jangan khawatir berlebihan." Daniel mencium tangan mama Safira.


"Ingat pesan mama, nak." Ucap mama Safira saat Medina hendak berpamitan.


"Jika ada makanan buatan rumah yang ingin kamu makan, telepon saja. Mama akan buatkan untukmu."


"Iya, ma." Medina dan Daniel memeluk mama Safira bergantian.


Keduanya lalu keluar dari kamar dan berjalan ke arah pintu utama.


Namun saat melewati ruang tamu, Medina menghentikan langkahnya dan berbalik. Hingga Daniel yang menggandeng tangannya pun ikut berhenti.


"Kenapa?" Tanya Daniel heran.


Medina masih diam dan hanya menatap pintu yang mengarah ke dapur.


"Honey...." Panggil Daniel lembut.


"Apa aku boleh membawa makanan dari sini untuk makan malam?"


"Apa yang kamu mau?" Mama datang dari kamar dan mendengar perkataan Medina.


"Mama...."


"Sudah mama katakan...jika ada makanan yang ingin kamu makan, akan mama buatkan." Mama Safira menggandeng tangan Medina dan berjalan ke arah dapur.


"Sayang...apa kamu mau menunggu?" Medina berbalik dan tersenyum kepada suaminya.


"Jangan bertanya...dia akan menunggumu karena ini adalah keinginan calon anaknya." Gurau mama membuat Daniel tersenyum.


"Ma...jangan membuatnya lelah." Pinta Daniel.


Setelah hampir 1 jam, akhirnya Medina membawa masakan yang dia inginkan. Ada dua jenis makanan yang dibuatnya bersama mama Safira dan dibantu Bi Inang.


Kini mereka berada didalam mobil menuju perjalanan pulang ke apartemen.


"Sudah aku bilang jangan terlalu lelah...kita bisa memesan makanan saat makan malam nanti." Ucap Daniel setelah meneliti wajah istrinya yang terlihat lelah.


"Aku tidak lelah. Hanya saja...." Medina menutup mulutnya. Entah mengapa aroma pengap mobil membuatnya mual dan ingin segera mengeluarkan isi perutnya.


"Honey....?" Daniel tampak khawatir. Beruntung mobil mereka sudah memasuki area parkir apartemen.


Daniel segera menghentikan laju mobilnya. Medina segera membuka pintu mobil dan berjongkok memuntahkan semua isi perutnya.


Daniel menggeser tubuhnya agar lebih dekat. Ia menggosok punggung Medina yang terus mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya.


"Apa sudah lebih baik?" Tanya Daniel saat Medina menarik dan merebahkan tubuhnya disandaran kursi.


Daniel mengambil tisu dan menyeka sisa cairan dari mulut Medina.


"Minumlah..." Daniel menyodorkan air mineral kepada istrinya.


"Kotorannya bagaimana?" Tanya Medina sambil menoleh ke tempat ia memuntahkan isi perutnya.


"Biarkan saja...aku akan menghubungi pihak kebersihan apartemen untuk membersihkan nya." Ucap Daniel sambil menyeka air mata Medina yang menetes karena muntah tadi.


Daniel lalu turun dari mobilnya dan berjalan memutar hingga kini ia berada disamping Medina duduk.


Medina yang sudah sangat lemas, tidak memprotes ketika Daniel menggendongnya masuk kedalam apartemen.


Setelah berada didalam apartemen, Daniel membaringkan Medina diatas ranjang.


Daniel melihat wajah pucat istrinya dan merasa tidak tega. Ia berharap, kondisi ini tidak berlangsung lama.


Daniel membuka hijab Medina. "Honey.... kamu ingin sesuatu?" Tanya Daniel yang duduk disamping Medina.


Medina yang sejak tadi memejamkan matanya hanya menggelengkan kepelanya pelan.


"Aku akan mengganti bajumu." Daniel beranjak menuju lemari dan mengambil satu set piyama istrinya.


Medina hanya pasrah ketika Daniel mengganti bajunya. Hingga Daniel selesai, Medina tidak mampu membuka matanya karena merasakan pusing yang luar. biasa.


"Istirahatlah." Daniel mencium dahi Medina dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Medin.

__ADS_1


Lalu Daniel berjalan ke kamar mandi sambil memikirkan banyak hal.


Setelah selesai mandi, Daniel mengambil laptopnya dan duduk diranjang disamping Medina. Sambil mengecek pekerjaan yang ia titipkan kepada Arif, sesekali Daniel melirik istrinya yang tertidur dengan sangat lelap.


Hingga tanpa terasa Daniel pun menyusul Medina terbuai ke alam mimpi.


****


"Mas....Ponsel Medina tidak bisa dihubungi." Raut wajah Ibu Melani terlihat khawatir. Karena sejak tadi siang, ia mencoba menghubungi Medina dan juga Daniel namun tidak ada satupun yang berhasil.


"Aku sangat khawatir." Lirih Ibu Melani.


"Mungkin mereka sedang sibuk mempersiapkan rumah yang akan menjadi surprise untuk Medina. Karena hari ulang tahun putri kita tinggal beberapa hari lagi." Pak Sanjaya mencoba menenangkan istrinya.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa tenang sebelum mendengar suara putriku." Ihu Melani kembali mencoba menghubungi Medina namun gagal.


"Aku akan pergi ke kota J." Ucap Ibu Melani membuat pak Sanjaya menoleh.


"Apa?"


"Aku tidak bisa menunggu lagi, mas. Aku sangat khawatir." Ibu Melani menatap suaminya berharap suaminya memberi izin.


"Kita akan pergi bersama Fian saat hari ulang tahun Medina nanti. Jangan kacaukan semuanya, sayang." Pak Sanjaya bangun dari sofa dan memeluk istrinya.


"Aku akan menghubungi Daniel nanti. Tapi kau juga harus menahan diri. Aku mohon." Pinta pak Sanjaya dan ibu Melani mengangguk setuju.


"Oh ya...tadi aku melihat Rini berbicara dengan mu. Apa yang kalian bicarakan? Apa dia mulai bosan dengan tingkah Lisa dan Om Subrata? atau dia hanya ingin menjilat?" Tanya pak Sanjaya sinis.


"Mas...Rini sudah banyak berubah beberapa tahun terakhir ini. Kita pernah membahasnya, bukan?"


"Lalu?"


"Dia ingin pindah ke kota suaminya karena tidak ingin ditekan terus menerus oleh kakak dan pamannya." Jawab Ibu Melani.


"Baguslah jika dia mulai menyadari kesalahannya." Ucap Pak Sanjaya.


"Mas...bisakah kamu memberikan aset bagian Rini yang masih kamu tahan?"


"Aku akan memberikannya, saat Putrinya berusia 20 tahun. Itu bukan kehendakku tapi wasiat Papi. Rini dan Lisa akan mendapatkan bagiannya ketika salah satu anak mereka berusia 20 tahun." Pak Sanjaya menatap ibu Melani.


"Baiklah...aku tidak akan mencampuri urusan kalian mengenai hal ini lagi."


"Jangan bicara seperti itu. Aku sudah membaginya, hanya saja belum menyerahkan hak mereka. Kau tahu sendiri bukan?" Pak Sanjaya memegang pundak Ibu Melani.


"Aku hanya tidak ingin, urusan disini menghambat kepindahan kita." Lirih Ibu Melani.


"Rasanya waktu sehari bagaikan waktu sebulan. Dan itu semakin menyiksaku. Lebih menyiksa daripada waktu 24 tahun silam. Aku ingin segera bersama putriku." Ibu Melani tidak bisa menahan air matanya.


"Aku tahu...bersabarlah." Pak Sanjaya mencium dahi ibu Melani.


"Kau sudah menyiapkan hadiah untuk putri kita?" Tanya pak Sanjaya.


"Tentu saja. Aku sudah menyiapkannya sejak dua hari lalu." Ibu Melani tersenyum.


"Jika begitu, temani aku mencari hadiah untuk putriku." Pak Sanjaya menggandeng tangan istrinya keluar rumah.


Hingga didepan rumah, mereka bertemu Fian yang baru saja sampai dari kantor.


"Kalian mau kemana?" Tanya Fian heran melihat kedua orangtuanya terlihat mesra.


"Kami akan makan malam diluar."


"Kemana Yah? biar aku mengantar kalian."


"Ayahmu ingin mencari hadiah untuk Medina." Jawab Ibu Melani.


"Oh ya ampun...aku juga belum menyiapkannya. Beruntung ibu mengingatkan ku." Fian menepuk dahinya.


"Kita akan pergi bersama. Bagaimana?" Tanya Fian.


"Baiklah...ayo." Pak Sanjaya menyetujui ide Fian.


Mereka bertiga akhirnya pergi bersama untuk mencari hadiah dan makan malam diluar. Moment yang sangat jarang terjadi.


Kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang


menyenangkan dan tidak terbayar dengan apapun. Karena waktu yang terlewat tidak akan kembali.


_


_


_


_


_Terimakasih dan maaf jarang updateπŸ˜ŠπŸ™πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2