Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 51


__ADS_3

Medina dan Daniel kini telah berada dikamar mereka. Daniel langsung masuk kedalam kamar mandi sementara Medina membuka pintu balkon kamar hotel.


Ia menengadahkan wajahnya ke atas. Menatap bulan purnama yang bersinar indah ditemani para bintang yang tidak lelah beranjak dari sisi sang rembulan.


Medina membuang nafasnya dalam-dalam. Memorinya kembali saat pertemuan dengan keluarga Pakde Radiman.


Jujur saja..dirinya masih belum percaya sepenuhnya dengan sikap yang ditunjukkan keluarganya. Meski dirinya telah memaafkan, namun hati kecilnya tidak bisa bohong, bahwa ia masih ragu akan perubahan keluarga Pakde Radiman kepadanya yang hampir 360° derajat.


Entah apa yang saat ini direncanakan keluarga itu, Medina sungguh khawatir jika suatu saat...keluarga pakde Radiman membuat masalah lagi. Bukan ketakutan akan dirinya yang terbiasa tertipu dan tersakiti, ia justru sangat takut jika Keluarga suaminya terus ikut menanggung akibat kesalahan yang diperbuat keluarga Pakde Radiman.


"Honey...Kenapa kamu disini? Angin malam tidak bagus untuk kesehatan" Daniel memeluk Medina dari belakang dan mencium puncak kepalanya yang masih tertutup kerudung.


"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan? Hemm?" Tanya Daniel saat mendengar helaan nafas istrinya yang terasa berat.


Medina membalik tubuhnya menghadap Daniel. Mengaitkan kedua tangannya dileher suaminya. Dan menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya.


"Honey...," Panggil Daniel pelan.


"Kamu tidak bahagia bertemu mereka?" Tanya Daniel lagi seolah bisa membaca raut wajah sendu istrinya.


"Entahlah sayang...Aku masih belum sepenuhnya percaya sikap baik mereka padaku. Maaf...bukan aku su'udzon...tapi aku merasakan banyak kepura-puraan dan kebohongan dalam sikap baik mereka. Setelah sikap dan perlakuan mereka kepada orangtua dan diriku, rasanya sangat sulit untuk langsung mempercayai mereka begitu saja" Jawab Medina panjang lebar seraya menahan tangisnya.


"Sikap mereka dimasa lalu tidak bisa dianggap keluarga karena disaat kami sedang membutuhkan uluran tangan mereka..mereka justru menjual rumah kami satu-satunya..rumah tempat kami berteduh dari panas dan hujan..tempat aku merawat Bapak dan Ibu...hiks...hiks.." Kini tangisnya pecah.


Daniel memeluk Medina dengan erat. Hatinya ikut merasakan sakit ketika Medina menangis pilu. Untuk saat ini ia tidak bisa berkata-kata. Hanya lewat pelukan hangat, Daniel seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Aku sama sekali tidak menyimpan dendam terhadap mereka...hanya saja...rasa sakit karena terbuang masih membekas dalam hati. Dan saat ini...mereka telah berubah menjadi sangat baik dan manis...setelah makian dan cacian yang bude Tatik lontarkan padaku dengan penuh kebencian" Lanjut Medina ditengah Isak tangisnya.


Medina menangis cukup lama dalam pelukan Daniel hingga ia tertidur.


Daniel menggendong Medina masuk kedalam kamar dan membaringkan nya diranjang. Menarik selimut hingga batas dada Medina. Mengecup kening, hidung dan bibir Medina. Menatap wajah istrinya dalam dan lekat. Jemari Daniel mengusap pipi Medina yang masih terdapat sisa cairan bening matanya. Setelah puas menatap, Daniel mengambil ponselnya diatas nakas dan beranjak keluar dari kamar.


"Rai...temui aku dibawah" Ucap Daniel setelah pintu kamar tertutup.

__ADS_1


Daniel kembali menyimpan ponselnya dalam kantong celana pendek warna abu-abu yang ia kenakan setelah memutus panggilan.


Raihan lebih dulu sampai direstoran bawah. Ia berdiri saat Daniel datang menghampiri.


"Sepertinya kita harus merubah rencana awal,,Rai" Ucap Daniel serius.


"Hah?" Raihan terkejut dengan yang diucapkan bosnya barusan.


"Maaf, Bos.." Lanjut Daniel saat tatapan tajam Daniel tertuju padanya.


"Istriku sedikit tertekan setelah bertemu mereka"


"Medina bahkan tidak mempercayai sikap baik yang ditunjukkan keluarga Pakde Radiman padanya setelah apa yang terjadi di masa lalunya" Daniel mendesah pelan.


"Aku tidak mau membuatnya semakin tertekan dengan kehadiran mereka bearada dekat dengan istriku dikota J"


Raihan masih mendengar dengan seksama tanpa memprotes.


"Beri mereka pekerjaan dan tempat tinggal dekat dengan perusahaan. Tapi jangan sampai mereka tahu, itu milik keluarga ku. Kau yang atur semuanya. Aku percaya padamu" Daniel meninggalkan Raihan yang masih membatu dengan semua rencana yang diungkapkan Bos nya barusan.


Dalam perjalanan ke kamarnya, Daniel menghubungi Danu dan menceritakan semua yang terjadi.


Meski sedikit terkejut namun Danu menyetujui rencana Daniel dan mendukung keputusan yang dibuat adiknya.


Dalam percakapannya dengan sang kakak, Daniel memberitahu jika akan kembali lusa. Karena besok ia akan mengajak istrinya jalan-jalan dikota S sebelum mereka kembali ke kota J.


Daniel membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Ia tidak mau membuat istrinya terbangun. Namun saat Daniel akan menutup pintu, Medina justru membuka matanya dan mencari Daniel disisi ranjangnya.


"Sayang..." Panggil Medina.


"Aku disini, Honey" Daniel tersenyum dan mendekati istrinya.


Daniel menunduk dan mencium kening istrinya.

__ADS_1


"Darimana?" Medina menatap suaminya.


"Habis bertemu Raihan" Jawab Daniel denga. tersenyum.


"Kapan kita pulang?"


"Apa kamu tidak betah berduaan dengan suamimu, Nona manis?" Ucap Daniel dengan tangannya mencubit hidung kecil Medina.


Medina terkekeh mendengar ucapan suaminya.


"Bukan begitu...Aku sangat merindukan mama. Pelukan hangatnya...sentuhan tangannya dan semuanya. Aku sangat merindukan rumah" Jawab Medina lirih.


"Hei...nona manis. Ada aku....Apa suamimu ini tidak memiliki pelukan dan sentuhan hangat?" Goda Daniel.


Wajah Medina merona seketika. Kemudian memeluk suaminya yang duduk dihadapannya.


"Tentu saja pelukan dan sentuhan suami tampan yang baik hati ini sangat hangat. Tapi tidak sehangat pelukan seorang ibu" Medina semakin membenamkan kepalanya didada Daniel.


"Oooo hohoho...kamu mengakuinya Honey" Daniel terkekeh.


"Berarti apakah malam ini kita bisa bercinta?" Todong Daniel membuat Medina langsung melepaskan pelukannya.


Namun kalah cepat dengan gerakan Daniel yang sudah menindih Medina.


"Aku belum menjawab" Protes Medina.


"Aku tidak butuh jawaban dan aku tidak menerima penolakan"


Medina pasrah saat bibir dan tangan Daniel mulai bergerilya dan menjamah tubuhnya dengan lembut. Mengalirkan sensasi yang sulit diutarakan. Sensasi yang selalu ia damba.


Malam yang semakin larut tidak menyurutkan keduanya untuk saling berbagi desahan dan lenguhan nikmat. Menyuguhkan peluh yang membuat hangat meski matahari telah tenggelam terganti rembulan dan cahaya bintang.


Membuat pondasi cinta semakin kokoh dan kuat agar terpaan badai yang menghantam tidak serta merta menghancurkan mahligai cinta dan pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2