
Hari yang ditunggu Daniel dan Medina pun tiba. Ya...hari ini mereka akan mencatatkan prosesi pernikahan mereka di balai pernikahan.
Gurat bahagia nampak jelas di wajah Daniel terlebih Medina. Ini yang selalu dinantikan selama pernikahannya dengan Daniel. Pernikahannya yang sah dimata Agama dan hukum Negara. Terlepas nanti omongan dan cibiran orang-orang saat pesta resepsi, baginya tidak akan ia ambil pusing. Perasaan bahagia ini tidak boleh ia bumbui dengan pemikiran-pemikiran jelek yang merusak kebahagiaannya saat ini.
Medina sudah sangat cantik dengan balutan gaun yang sama yang ia pakai saat menikah secara agama tempo hari. Begitu juga dengan Daniel, ia tetap nampak tampah dan gagah seperti biasanya. Bahkan hari ini, bagi Medina suaminya jauh lebih tampan.
Senyum bahagia terus terukir dibibir mungil Medina. Dengan terus merapal doa dan dzikir dalam hatinya. Meminta kepada sang Pemilik Kebahagiaan agar kehidupan rumah tangganya selalu bahagia meski badai akan datang menerjang.
"Kamu sangat cantik, Honey" Puji Daniel saat dirinya masuk kedalam kamar.
"Kamu juga sangat tampan, Sayang" Medina memeluk suaminya.
"A_aku sangat gugup" Daniel terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Seharusnya yang gugup itu aku. Karena aku akan membaca ijab Qabul untuk kedua kalinya" Medina mengangguk dalam dekapan Daniel.
Daniel melepas pelukannya dan menangkup wajah cantik Medina dengan kedua tangannya.
"Kamu bahagia?"
"Sangat" Medina tersenyum cantik.
"I love you so much, Honey".
"I love you more".
Daniel Langsung mendaratkan bibirnya di bibir Medina. Mereka berciuman sangat msera dan lama. Hingga membuat orang-orang yang sedang menunggunya diluar kamar kesal.
"Kalian sudah si___aaappp?? Upsss sorry..." Rani segera menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat dirinya dengan tiba-tiba masuk kedalam kamar Daniel tanpa mengetuk pintu.
Medina yang merasa terciduk sedang bermesraan, merasa malu dan menundukkan wajahnya.
"Jika kalian sudah selesai, cepat keluar. Semua orang sudah menunggu. Atau kalian akan dikeroyok nanti" Rani terkekeh dan segera meninggalkan kamar Daniel.
"Menganggu saja!" Gerutu Daniel setelah kepergian Rani.
"Hush!! Ini memang salah kita" Medina tertawa dan segera merapikan make up yang sedikit berantakan akibat ciuman panas mereka.
"Keluarlah dulu...aku akan menyusul" Medina mendorong tubuh Daniel yang hendak memeluknya dari belakang.
Daniel pasrah dan segera Keluar dari kamar. Tidak lama setelah Daniel keluar, Medina juga keluar dari kamar dengan disambut riuh suara dari Mama, Rani, Danu dan juga Arif.
"Hei...jangan menggoda istriku" Bela Daniel saat istrinya menunduk malu dengan wajah memerah.
"Dasar suami bucin" Teriak Rani dengan tawanya yang khas.
"Ya sudah... sebaiknya kita segera berangkat. Ustadz Fathur sudah dalam perjalanan menuju Balai Pernikahan" Danu bangun dari duduknya dan segera menggandeng tangan mama Safira.
__ADS_1
"Kau ini...mama bisa sendiri. Mama tidak setua itu, tahu!!"
"Ohh ya ampun...Mama sudah ketularan Tante Latifah" Ucap Danu membuat Mama Safira tertawa lebar.
****
Didalam sebuah ruangan yang cukup luas, Daniel dan Medina sudah duduk didepan penghulu. Sementara Ustadz Fathur dan satu petugas KUA lainnya duduk disamping kanan dan kiri pasangan pengantin yang akan bertindak sebagai saksi nikah.
Mama Safira, Rani dan beberapa orang yang ikut rombongan ikut duduk menyaksikan diruangan itu.
Acara ijab qobul berlangsung dengan khidmat dan lancar. Penghulu yang merangkap sebagai wali hakim Medina, menyerahkan 2 buah surat nikah berwarna Merah dan Hijau. Beliau meminta pasangan pengantin untuk menandatangani surat nikah itu sebelum mereka miliki.
Acara dilanjutkan dengan khutbah nikah yang disampaikan Ustadz Fathur. Banyak sekali nasehat yang beliau sampaikan dalam isi khutbah nikah tersebut. Bukan hanya untuk pasangan pengantin baru, namun untuk yang mendengar khutbahnya.
Setelah menandatangani surat nikah dan menerimanya, Daniel dan Medina melakukan sungkem kepada mama Safira juga Danu.
"Selamat sayang...Mama sangat bahagia. Semoga rumah tangga kalian menjadi rumah tangga Sakinah, Mawaddah, Warrohmah" Ucap Mama penuh haru.
Keduanya memeluk mama dengan erat dengn diwarnai tangis haru dan bahagia.
"Sekali lagi selamat, boy. Bahagia selalu" Danu memeluk Daniel dan menepuk punggungnya.
"Terimakasih, kak" Jawab Daniel.
Sesi terakhir dari acara terbeuut adalah sesi berfoto. Mereka melakukan foto keluarga dan tidak lupa berfoto dengan para petugas KUA.
Setelah semua rangkaian acara berakhir, keluarga Daniel meninggalkan Kantor KUA. Sementara Daniel dan Medina masih berada disana untuk menyampaikan undangan pesta resepsi pernikahan mereka.
****
Medina terus memandangi dua surat nikah yang berada ditangannya. Bahkan senyum manisnya terus terukir menghiasi wajah cantiknya.
Daniel yang sedang mengemudi terus melirik tingkah istrinya. Ia pun ikut tersenyum. Ia sangat bahagia. Bahkan ia ingin rasanya mengurung wanitanya didalam rumah saja.
"Kamu lebih suka memandang buku itu daripada suami kamu sendiri. Jangan-jangan nanti malam kamu juga tidur sambil peluk buku itu" Ucap Daniel berpura-pura kesal. Ia hanya ingin menggoda istrinya.
"Hahahaha...Sayang. Kamu cemburu sama buku ini?" Medina tergelak kencang.
Medina memasukkan buku nikah itu kedalam tasnya. Lalu menarik satu tangan Daniel yang sedang memegang kemudi. Medina mendekatkan tangan kekar suaminya ke wajahnya.
CUP!!
CUP!!
CUP!!
Medina mengecupi seluruh permukaan tangan Daniel lalu memeluk lengan kekar itu dengan erat. Membuat tubuh dan jantung Daniel berdetak kencang dengan aliran darah yang kian memanas.
__ADS_1
Daniel terkekeh dengan sikap wanitanya. Sungguh sangat menggemaskan. Jika bukan sedang dalam perjalanan, Daniel pasti sudah memakannya.
"Jangan menggodaku, Tuan Puteri. Aku bisa khilaf disini"
"Hahahhaha...Baiklah. Aku tidak akan menggoda suamiku lagi" Medina tersenyum manis dan melepaskan lengan suaminya.
"Sayang...kamu salah pilih jalur tol" Medina terkejut saat memperhatikan jalanan yang dilewatinya.
"Tidak ada yang salah. Kita akan menikmati waktu berdua sebelum aku berkutat dengan pekerjaanku di kantor"
"Kita akan pergi honeymoon?" Tanya Medina dengan wajah berseri-seri.
"Kita hanya akan ke villa. Tapi...anggaplah seperti itu. Little Honeymoon" Daniel membelai kepala Medina.
"Tapi kita tidak membawa pakaian ganti, Sayang" Medina mulai panik.
"Hei...tenanglah. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita hanya perlu dua hari disana. Tidak apa-apa, bukan?" Tangan Daniel kini membelai wajah Medina.
"Ck...kamu selalu seperti itu. Membawaku kabur tanpa memberi tahu apa-apa" Medina menepis tangan Daniel.
"Jika aku mengatakannya kamu pasti tidak akan setuju ikut denganku"
"Hei...jangan cemberut seperti itu. Honeymoon sebenarnya sudah aku pikirkan. Dan kita akan pergi setelah acara pesta resepsi" Daniel meraih dagu Medina agar menatapnya.
"Apa kita akan menemui Farah mantan tunangan kamu?" Medina pernah mendengar dari Danu jika mereka akan pergi berbulan madu ke New Zealand sekaligus untuk menemui Farah.
"Kamu sudah tahu?" Daniel terkejut.
"Aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa aku sangat bahagia dengan wanita yang sedang berada disisiku sekarang. Aku sudah melupakannya dan melupakan sakit yang pernah ia tinggalkan untukku" Daniel membuang pandangannya lurus ke depan.
"Saat awal hubungan kita baru dimulai, kamu juga pernah memintaku untuk menyelesaikan urusanku yang belum selesai dengannya, bukan?"
"Maaf...." Medina menyentuh pundak Daniel dan membelainya lembut. Ia menyesal karena
Daniel menoleh dan mengecup punggung tangan Medina yang masih berada dipundaknya.
"istirahatlah...aku akan membangunkanmu setelah sampai nanti" Medina menuruti perintah suaminya.
Medina membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Bahkan Daniel mengubah tempat duduk Medina supaya istrinya tidak pegal-pegal saat turun dari mobil.
Daniel yang terus mengemudi sesekali menoleh ke arah Medina yang sudah terlelap. Sesungguhnya ia juga enggan bertemu dengan Farah mantan tunangannya. Namun, ia hanya ingin jika dikemudian hari tidak ada yang akan mengganggu rumah tangga nya dengan menaruh kesalahpahaman diantara mereka berdua.
Ia hanya mencintai satu wanita yang saat ini dan selanjutnya. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Wanita yang akan menemaninya menua bersama. Wanita yang selalu membuat hatinya tenang. Wanita itu adalah istri sah nya. Wanita itu adalah Medina. Kekasih hati yang terus mengisi relung hatinya yang terdalam.
**To Be Continue 💞🤗
Yukkk ahhhh....jangan pelit vote dong. Biar author makin semangat up.
__ADS_1
Ditunggu yaaaa..
Thanks you**...