
Daniel dan Medina telah sampai dirumah mama Safira. Namun saat mereka masuk, rumah nampak sangat lengang dan sepi. Padahal ini sudah waktu makan siang.
"Kemana semua orang?" Gumam Medina sambil menyapu ruangan.
Medina melihat Risma yang baru saja keluar dari ruang perpustakaan.
"Ehh...mbak Medina. Kapan datang?" Tanya Risma sopan. Ia sedikit menunduk saat melihat Daniel berada disisi Medina ikut menatapnya.
"Kami baru datang, kemana semua orang?" Tanya Daniel dengan suara datar.
"Nyonya baru saja pergi dengan Den Danu" Ucap Risma.
"Baiklah...kamu bisa kembali bekerja" Titah Daniel kepada Risma.
Medina langsung menatap suaminya.
"Apa harus bersikap seperti itu?"
"Dia pernah menyakitimu, dan aku tidak akan membiarkan dia berani macam-macam lagi" Ucap Daniel mengingat perbuatan Risma saat Medina masih bekerja sebagai perawat mamanya.
"Hei...itu sudah lama berlalu. Bahkan waktu itu kita kita belum terlalu akrab" Medina berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.
"Apa kamu tidak ingat aku mengobati luka di dahimu?" Daniel sudah duduk di kursi ruang makan.
Medina melirik suaminya dan tersenyum cantik.
"Tentu saja aku mengingatnya...itu pertama kalinya seorang pria menyentuhku" Ucap Medina sambil menyiapkan makanan yang sudah dimasak bi Inang.
Daniel tersenyum puas. Ia merasa bahagia dirinya menjadi pria pertama dalam hati istrinya.
Setelah makan siang berdua, Daniel dan Medina masuk kedalam kamar mereka untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah sebelumnya menelepon sang mama yang masih berada dirumah Tante Latifah.
"Sayang...apa kamu menunggu mama pulang?" Tanya Medina yang heran suaminya masih duduk santai.
"Tidak"
"Kenapa belum berangkat?" Tanya Medina lagi.
"Kamu mengusirku?" Daniel bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati istrinya.
"Iya...aku mengusirmu" Medina terkekeh saat bibir Daniel mulai menjelajah lehernya.
"Nngggghhh..." Medina mengerang pelan saat Daniel menggigit cuping telinga Medina.
"Sayang...." Medina mulai merasakan tubuhnya memanas karena sentuhan lembut tangan dan bibir Daniel.
Daniel langsung membawa istrinya ke atas ranjang. Dan akhirnya mereka melakukan pergulatan panas yang membawa kenikmatan.
****
Daniel sudah berada di pesawat pribadi nya. Dengan perasaan berat ia meninggalkan istrinya. Karena ini untuk pertama kalinya mereka berpisah setelah hampir 2 bulan menikah.
Medina juga tampak sedih. Hatinya seakan hampa setelah kepergian suaminya. Kebersamaan nya bersama Daniel 2 bulan ini, membuatnya benar-benar bergantung dengan laki-laki itu. Namun ia harus bisa melewati ini semuanya. Toh hanya beberapa hari dan mereka akan bertemu lagi dengan suasana yang lebih bahagia.
"Baru beberapa jam saja, aku sangat merindukanmu" Lirih Medina dalam hati.
"Jangan merindukannya...." Suara lembut Mama Safira membuyarkan lamunan Medina.
Mereka berdua sedang duduk disofa ruang tengah. Sementara Danu kembali ke kantor setelah mengantar mamanya pulang. Rani sedang menidurkan Syifa yang kelelahan.
Medina tersenyum cantik dan memeluk mama mertuanya dengan hangat.
"Sayang...kenapa setelah menikah dengan pria bernama Daniel itu, kamu terlihat sangat bergantung padanya?" Goda sang Mama sengaja.
"Benarkah?" Medina melonggarkan pelukannya. Ia berpikir ucapan Mama Safira serius.
Medina menunduk dalam. Ia merasa apa yang dikatakan mama mertuanya memang benar adanya. Dirinya sekarang bukanlah Medina yang dulu sebelum menikah dengan Daniel.
Medina sangat mandiri dan tidak lemah. Tapi setelah menikah dirinya sangat lemah. Mungkin ini karena ia merasa sangat dicintai dan dilimpahi kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.
Mama Safira seketika tertawa melihat raut wajah menantunya.
"Kamu masih saja sepolos ini, sayang. Mama tidak serius mengatakan itu. Tapi jika kamu merasa dirimu menjadi lemah setelah menikah itu tandanya, putraku sangat mencintaimu"
"Mama...." Medina kembali memeluk mama Safira dengan mata berkaca-kaca.
"Mama benar...aku menjadi lemah setelah menikah. Aku merasa menjadi seseorang yang spesial dan kalian mencurahiku kasih sayang yang amat sangat banyak yang tidak pernah aku dapatkan selain dari almarhum bapak dan ibu"
Mam Safira mengelus punggung menantunya dengan sayang sambil tersenyum.
"Terimakasih sudah hadir dan masuk kedalam kehidupan putraku" Mama Safira mencium puncak kepala Medina yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Medina juga bersyukur dan berterima kasih, mama menerima Medina dengan segala kondisi Medina" Medina mengeratkan pelukannya.
"Medina sayang mama...." Medina mencium pipi mertuanya.
****
Pesawat Pribadi Daniel mendarat dibandara Internasional kota B.
Daniel dijemput oleh pihak hotel tempat ia menginap.
Setelah sampai hotel, Daniel langsung menuju kamarnya setelah mendapat kunci dari pegawai resepsionis.
Daniel merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah membuka jaket dan sepatunya. Kemudian merogoh kantong celananya mengambil ponsel untuk menghubungi Medina.
"Assalamualaikum, Honey"
"Wa'alaikumsalam sayang...kamu sudah sampai?"
"Iya...aku baru sampai hotel dan langsung menelpon dirimu"
"Sayang...mandilah dulu dan jangan lupa makan malam"
"Kamu tidak merindukanku?"
"Aku bahkan merindukan dirimu meski kamu ada di hadapanku"
"Honey....seharusnya aku mengajakmu saja" Daniel mendesah kecewa karena Medina tidak ikut dengannya.
"Sayang...bersihkan tubuhmu dan jangan lua kewajibanmu sebagai hamba Tuhan"
Daniel melirik arlojinya. Hampir jam 5 sore dan ia belum sholat Ashar.
"Baiklah... aku akan tutup teleponnya. Aku akan menelepon mu lagi nanti malam"
"Baiklah...jaga kesehatan mu, Sayang...."
"Beri aku ciuman"
Medina mendekatkan layar ponselnya ke bibirnya.
"Mmmmuuuuaaaccchhhh"
"Honey...ciumanmu tidak mengenai bibirku"
"Honey...Tung__"
Tut...Tut...Tut
Daniel menatap ponselnya dengan kesal. Ia masih ingin mengobrol dengan istrinya. Tapi sepertinya Medina sangat menikmati waktu tanpa dirinya.
"Setelah ini, aku akan selalu membawamu kemanapun aku pergi" Gumam Daniel dengan senyum tampan diwajahnya.
****
Saat malam menjelang tidur, Daniel kembali menelepon istrinya. Kali ini ia melakukan video call.
"Halo, Honey..." Medina tersenyum mendapati wajah suaminya dilayar ponselnya.
"Halo...Sayang" Daniel mengerutkan dahinya saat melihat mata Medina yang terlihat sembab dan merah.
"Honey...kamu menangis?" Tanya Daniel mendekatkan ponselnya.
Mendapat pertanyaan dari suaminya Medina menunduk dalam.
"Hei....ada apa?" Daniel melihat kamera istrinya bergetar.
Medina terus terisak tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Membuat Daniel mendesah pelan.
Setelah beberapa menit, Medina mengangkat kepalanya. Kembali menatap layar ponselnya yang masih terhubung dengan suaminya.
"Maaf...seharusnya aku tidak seperti ini. Tapi rasanya dadaku terasa sesak karena terus merindukan suamiku"
"Kamu tidak bisa tidur?" Medina hanya mengangguk mendapat pertanyaan dari Daniel.
Medina meletakkan ponselnya posisi berdiri dengan diganjal bantal dibelakangnya. Kemudian ia berbaring miring sambil terus menatap ponselnya yang masih menyala dan menampilkan wajah suaminya.
"Kakak sudah makan?" Tanya Medina dan disambut anggukan Daniel.
"Tapi aku belum makan makanan penutup" Ucap Daniel dengan senyum diwajahnya.
"Memangnya pihak hotel tidak menyediakan makanan penutup?" Tanya Medina dengan polosnya membuat Daniel semakin gemas.
__ADS_1
"Mereka tidak bisa menyediakan makanan penutup yang aku minta"
"Memangnya apa yang kakak minta?" Medina semakin heran hotel bintang lima mana yang tidak menyediakan makanan penutup untuk tamunya.
Medina bahkan berpikir, jika makanan penutup yang suaminya inginkan adalah makanan yang sulit untuk mencari bahan pokoknya.
"Biasanya kakak memilih makan makanan penutup buah atau puding" Daniel menahan senyumnya mendengar ucapan istrinya yang masih saja polos.
"Makanan penutup yang aku minta sangat berbeda, dia perpaduan manis dan gurih, dan jika aku memakannya tidak akan cukup sekali. Aku akan memakannya berkali-kali" Jawab Daniel masih menahan tawanya.
"Hah?? Tidak cukup satu?" Medina terkejut dan semakin bingung.
"Kamu tidak mau tahu?" Tanya Daniel yang sudah tidak tahan dengan kepolosan istrinya.
"Memangnya apa?" Tanya Medina penasaran.
"Kamu...."
Sejenak Medina terdiam mendengar jawaban suaminya. Otaknya sedang mencerna kata yang dilontarkan. Daniel.
Dan saat ia tersadar, Medina langsung berteriak.
"Dasar mesum!!"
Membuat Daniel yang sedari tadi menahan tawanya, kini meledak. Ia tertawa lebar melihat raut wajah Medina yang merona.
Daniel terus menggoda istrinya. Mereka berbincang hangat. Medina menceritakan kegiatan yang akan dilakukannya besok bersama kakak Iparnya Rani. Beberapa hari sebelum hari H, Rani akan membawa Medina melakukan perawatan khusus pengantin disalah satu salon kecantikan ternama.
"Honey...sudah hampir tengah malam. Istirahatlah" Pinta Daniel.
"Kamu juga istirahat sayang..." Ucap Medina lembut. Entah sudah berapa kali ia menguap. Namun matanya sangat sulit terpejam.
"I love you sooooo much" Ucap Daniel.
"Me too" Sahut Medina dengan senyum cantiknya.
Mereka tertidur ditempat yang berbeda setelah menutup telepon. Benar apa kata Dilan. Menahan rindu itu berat. Terlebih kepada orang sangat kita cintai. Gelisah dan terasa sesak di dada. Berharap hari segera berlalu, dan pertemuan yang dinantikan segera terwujud.
****
Seperti yang sudah direncanakan, Rani membawa adik iparnya melakukan perawatan. Rani berdalih, agar Medina supaya lebih mempesona saat dipesta nanti.
Meski dalam hati Medina menolak, namun ia tidak ingin egois. Disaat pesta resepsi pernikahannya, akan ada banyak mata yang melihatnya, dan tentu saja ia tidak ingin membuat pandangan orang-orang kepadanya biasa saja dan membuat kecewa keluarga suaminya.
Medina menyadari jika dirinya tidak secantik dan seanggun mantan tunangan suaminya. Oleh karenanya ia akan mengikuti semua yang kakak iparnya lakukan untuknya. Ia ingin memantaskan dirinya bersanding dengan seorang Daniel Putra Derwaman.
"Medina..kamu sudah melihat gaun pengantin mu?" Tanya Rani.
"Sudah kak" Jawab Medina singkat.
"Kau tahu? itu paduan desain dari suamimu dan mama. Mereka bahkan berdebat untuk detail gaun itu" Ucap Rani dengan kekehan.
"Mama sama kakak berdebat?" Tanya Medina terkejut.
"Aku sampai tertawa sendiri jika mengingatnya" Rani kembali terkekeh.
"Terimakasih sayang" Ucap Rani tulus. Membuat Medina mengernyit.
"Saat kondisi mama yang drop karena batalnya pertunangan Daniel, membuatku seakan menjadi menantu yang tidak berguna. Begitu juga dengan Daniel....Ia benar-benar menutup dirinya dan memilih tinggal di apartemen karena tidak ingin melihat kondisi mama yang sangat terpukul" Cerita Rani.
Medina hanya terdiam mendengar cerita kakak iparnya. Ia bisa merasakan hancurnya kedua hati ibu dan anak itu karena calon tunangan Daniel meninggalkan pesta pertunangan bahkan sebelum acara dimulai.
Acara pertunangan yang sangat mewah dan banyak mengundang tamu penting harus berkahir kegagalan yang menoreh luka dalam dan malu bagi keluarga Daniel.
"Berjanjilah...apapun yang terjadi, kamu tidak akan pernah meninggalkan dan mengecewakan keluarga ini" Pinta Rani dengan mata berkaca-kaca.
"insyaAllah kak...Medina tidak akan meninggalkan apalagi mengecewakan Kakak dan mama" Ucap Medina kemudian mereka saling berpelukan.
_
_
_
_
**To Be Continue.
_
_
__ADS_1
_
Terima kasih kepada kakak2 yang masih mau mmpir membaca novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kebaikannya ya. Thank you allππ€**