Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 34


__ADS_3

"Maaf membuat kakak kecewa" Ucap Medina lirih kemudian membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


Daniel menggosok punggung Medina yang polos.


"Kenapa bilang begitu?"


"Kak Rani bilang, saat malam pertama adalah saat dimana dinanti semua pasangan pengantin untuk Ml" Ucap Medina jujur.


Daniel seketika tertawa. Daniel semakin gemas dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ohhhh...jadi istriku dapet pelajaran "plus" dari kakak ipar Rani?" Danu kembali tergelak.


"kaaak...Jangan meledekku" Bibir Medina mengerucut.


"Medina takut membuat kakak kecewa" Ucap Medina pelan.


"Hei..aku tidak kecewa Honey. Itu sudah kodrat sebagai wanita. Aku tidak kecewa" Ucap Daniel menghibur.


"Lagipula, aku masih bisa menyentuh yang lain, kan??!!" Lanjut Daniel dengan satu tangannya yang mulai bergerilya menelusuri dua buah gundukan kenyal dibalik selimut. Membuat Medina mendesah pelan.


"Dasar mesum!" Medina mencoba menghentikan tangan Daniel namun tidak bisa. Akhirnya Medina pasrah dengan ulah suaminya itu. Meski tidak mudah membuang jauh rasa gugup, takut dan juga malu secara bersamaan. Namun tekadnya bulat, ia tidak ingin mengecewakan suaminya.


"kak..."


Daniel menghentikan aktifitas nya dan mendongakkan kepala menatap Medina.


"aku mau telepon mama" Ucap Medina dengan wajah memelas.


Daniel menimang sebentar ucapan istrinya. ya memang sejak Daniel membawa kabur istri nya ke hotel. Mereka belum mengabari keluarganya. Mereka pasti sedang kesal sekarang karena pergi tanpa pamit.


"baiklah..." Daniel mengambil ponselnya di atas meja dan segera menghubungi mamanya.


"Halo.. Assalamualaikum ma" Sapa Daniel saat suara diseberang tersambung. Daniel memasang pengeras suara agar Medina ikut mendengarkan.


Medina meraih kaos milik Daniel yang berada diatas ranjang dan memakainya untuk menutupi tubuh bagian atasnnya.


"wa'alaikum salam...Kalian dimana? Mama baru mau lapor polisi" Sahut mama diujung telepon dengan nada antara kesal dan bercanda.


"lapor polisi?" Tanya Daniel bingung. Ia menatap Medina yang juga menatapnya dengan bingung.


"iya...mama mau laporin kamu. karena kamu sudah menculik menantu mama" Ucap Mama Safira kesal.


Daniel dan Medina tertawa. Juga suara mama diseberang telepon.


"Kamu sekap dimana menantu mama?" Medina mengambil ponsel dari tangan suaminya dan duduk menyandar diranjang.


"Assalamualaikum ma..." Sapa Medina lembut.


"Wa'alaikum salam...Sayang. Apa yang putraku lakukan? Dimana dia menyekapmu?" Todong Mama Safira.


Mendapat pertanyaan bertubi-tubi, Medina hanya berdehem. Daniel yang masih menempel disamping Medina terkekeh geli.


"Maafin Medina ya ma. Meninggalkan acara tanpa pamit dengan kalian. Medina salah" Ucap Medina lirih.


"Apa mama sudah makan dan minum obat?" Tanya Medina mengalihkan pembicaraan.


"Ohh tentu sayang. Asisten kamu lebih galak dari dirimu ternyata. Bi Inangmu tidak akan beranjak pergi sebelum mama menenggak habis obat-obat itu" Ucap Mama Safira panjang lebar.


Medina tersenyum mendengar suara ibu mertuanya yang bersemangat. Begitu juga dengan Daniel. Hatinya merasa hangat. Ia merasa sangat bahagia.

__ADS_1


Daniel menghadiahi kecupan pada leher Medina yang terbuka dan meninggalkan kissmark disana. Medina mendesah pelan. Untungnya tidak sampai didengar oleh mama mertuanya.


"kapan kalian berangkat?" Mama menanyakan perihal persiapan Medina kepulangannya.


"Medina ikut kakak saja, Ma." Jawab Medina dengan tangan memainkan rambut Daniel.


"Baiklah. jaga diri kalian ya. Mama akan merindukan kalian"


"Ma...jangan lupa istirahat yang cukup dan makan tepat waktu" Ucap Medina lirih. Kini matanya sudah menggenang cairan bening.


"Iya, tenanglah. Disini banyak yang mengawasi mama" Mama terkekeh.


"Doakan kami ya ma" pinta Medina lirih.


"iya nak..jika urusan kalian sudah selesai, cepat kembali"


"iya, ma"


Panggilan berakhir. Wajah Medina menjadi sendu karena harus berpisah sementara waktu dengan sang mama Mertua.


"Honey..." Daniel menegakkan tubuhnya untuk mengecup puncak kepala Medina dan menariknya kedalam pelukannya.


"Sudah malam... istirahatlah. Besok Kita akan pulang ke apartemen untuk berkemas" Ucap Daniel lembut.


Medina mengangguk pelan. Ia menyadari kini kewajiban utamanya adalah suaminya. Meski begitu, ia ingin sekali bisa berbagi waktu untuk mengurus mama Safira seperti sebelumnya. Meninggalkan seseorang yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri dalam kondisi kesehatan yang masih belum stabil, tentu membuat dirinya sangat khawatir dan tidak tega. Apalagi suasana dirumah akan sepi dari pagi hingga menjelang sore. Karena semua orang pergi beraktivitas. Ibu mertuanya pasti akan sangat kesepian, pikirnya.


***


Danu menerima ponsel dari sang mama dan menaruhnya di atas meja samping tempat tidur.


"Danu yakin...saat ini Medina sedang menangis merindukan mama" Ucap Danu tersenyum.


"Daniel akan temani mama disini" Ucap Danu


"Tidak perlu...kembalilah ke kamarmu. Mama bukan pasien UGD yang harus dijaga 24 jam" Sahut mama Safira membuat Danu terkekeh.


"Baiklah...Danu akan disini sampai mama tidur. Maaf nyonya, anda tidak bisa menolak lagi" Potong Danu saat mamanya hendak menolaknya.


"baiklah..baiklah" Mama Safira membaringkan dirinya lalu Danu menarik selimut hingga pinggang menutupi tubuh sang mama.


"Kau juga istirahat" Mama Safira mengelus puncak kepala Danu.


Danu mengangguk pelan. Kemudian beranjak ke sofa dan membaringkan tubuhnya disana.


***


Daniel yang tertidur lelap mulai mengerjapkan matanya ketika tangannya menyentuh hampa sisi ranjang Medina.


"Honey..." panggil Daniel dengan suara khas orang yang bangun tidur.


Ia beranjak turun dari ranjang dan mengambil ponselnya. Melihat sekilas jam digital yang terdapat di layar depan ponselnya.


03.15 wib.


"Masih dinihari.." Gumam Daniel pelan.


Ia kembali menaruh ponselnya dimeja dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mendengar suara gemericik air dari dalam sana.


"Honey..kamu didalam?"

__ADS_1


"Iya kak..sebentar" Sahut Medina dari dalam kamar mandi.


Daniel kembali dan duduk di sisi ranjang menunggu Medina.


30 menit berlalu..namun Medina belum keluar juga. Membuat Daniel memutuskan untuk masuk ke kamar mandi karena khawatir dengan keadaan istrinya.


"Honey...kamu ngapain?" Medina terkejut karena Daniel sudah berada didalam kamar mandi.


Daniel menatap istrinya yang sedang duduk diatas closet sedang meringis dengan wajah pucat.


Daniel mendekat dan berjongkok dihadapan Medina.


"Kamu sakit?" Medina menggeleng pelan.


Manik Daniel melihat bagian perut Medina yang menonjol dibalik kaos yang dipakainya.


"kamu ngapain?" Tangannya sudah menarik ujung kaos ke atas.


Daniel melihat Medina semakin khawatir.


Medina masih belum menjawab karena masih merasakan sakit pada perutnya.


Daniel meraih handuk yang berada dibalik baju Medina dan meletakkannya diwestafel.


"apa ini, Honey? kok handuk basah kamu tempelin diperut? bisa masuk angin nanti" Ucap Daniel bingung.


"Aku lagi kompres perutku" sahut Medina pelan. Ia menangkap wajah suaminya yang sangat khawatir dan ketakutan.


"Setiap datang bulan aku selalu mengalami ini. Tapi sekarang udah enakan kok. Setelah dikompres air hangat rasa sakitnya berkurang" Jelas Medina buru-buru sebelum suaminya memberikannya pertanyaan lagi.


"bener ga papa?" Tanya Daniel cemas.


Medina mengangguk pelan. Namun Daniel belum mempercayai sepenuhnya ucapan Medina.


"Aku sudah selesai, ayo keluar" Medina sudah berdiri dan akan beranjak namun Daniel tiba-tiba menggendong Medina. Membuatnya memekik keras karena Kaget.


"Aku masih bisa jalan sendiri, kak..Turunkan aku" Rengek Medina tapi tidak ditanggapi Daniel. Ia tetap membawa Medina keluar kamar mandi dalam gendongannya dan membaringkannya diranjang.


Daniel duduk disisi ranjang setelah membaringkan istrinya. Menatap lekat dan dalam wajah gadis dihadapannya yang masih terlihat pucat.


"Jangan merasakan semuanya sendiri. Sekarang ada aku, suamimu. Beritahu aku hal apapun..jangan menghindar dan menyembunyikannya. Ini bukan permintaan tapi perintah suami, kau tahu?!" Ucap Daniel dengan penekanan.


Tangan Daniel terangkat mengelus puncak kepala Medina. Lembut dan penuh perasaan.


Medina tersenyum manis meski ujung maniknya menggenang butiran bening. Ia merasa bahagia karena dicintai begitu dalam.


Medina melingkarkan tangannya dileher Daniel dan sedikit menariknya lebih dekat.


CUP...


CUP


CUP


Tiga kali Medina mengecup singkat bibir Daniel.


"Terimakasih, Tuan suami tampan yang baik" Daniel terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Kamu berani menggodaku Nyonya" Daniel menahan tengkuk istrinya saat Medina hendak menjauhkan wajahnya. Menyatukan kembali bibirnya yang tadi dikecup singkat. Kini bukan kecupan, tapi ciuman panjang yang berubah ******* dan gigitan kecil yang mengalirkan gairah dan perasaan yang sulit diungkapkan meski dengan sajak-sajak cinta yang indah.

__ADS_1


__ADS_2