
Pak Sanjaya baru saja keluar dari klinik Bidan Nurul dengan wajah yang sulit diartikan. Beberapa pengawalnya bahkan sempat menanyakan keadaannya namun tidak dijawab pak Sanjaya.
Ia masuk kedalam mobil dan tidak berkata sedikitpun. Mulutnya seolah terkunci dengan rapat.
Dengan langkah gontai ia keluar dari ruangan klinik.
"Medina putriku...keturunanku....Ya Tuhan" Lirih Pak Sanjaya.
FLASBACK ON
Dua orang laki-laki tak dikenal yang sebelumnya mondar mandir didepan klinik, masuk kedalam ruang tunggu klinik setelah semua pasien Bidan Nurul habis.
"Mohon maaf pak...Klinik sudah tutup. Silahkan datang lagi jam 4 sore" Ucap Salah seorang perawat yang bekerja diklinik bersalin Bidan Nurul.
"Kami ada urusan dengan Bidan Nurul. Tolong sampaikan kepadanya jika kami ingin bertemu" Ucap Salah satu laki-laki.
Perawat itu tampak berpikir kemudian ia berjalan ke ruang praktek Bidan Nurul.
"Bidan Nurul...didepan ada yang mencari ibu" Perawat bernama Fitri itu memberitahu Bidan Nurul.
"Bukankah yang periksa sudah tidak ada?" Tanya Bidan Nurul heran.
"Mereka bukan mau periksa. Tapi mereka bilang ada urusan dengan ibu" Ucap Perawat Sari.
"Baiklah...aku akan menemui mereka" Bidan Nurul berjalan keluar untuk menemui kedua laki-laki suruhan pak Sanjaya.
"Kalian siapa?" Bidan Nurul menatap kedua laki-laki itu.
"Mohon maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu kerja Ibu Bidan. Kami hanya ditugaskan untuk datang kemari dan mencegah ibu keluar dari rumah sampai bos kami datang kemari" Ucap salah satu pria tanpa basa basi.
"Bos kalian?"
"Saya tidak mengenal kalian... apalagi bos kalian" Bidan Nurul mulai merasa khawatir.
"Jika ibu tidak ingin terjadi sesuatu dengan klinik ini, turuti permintaan kami. Bos kami sudah dalam perjalanan kemari" Tegas pria itu.
Bidan Nurul mulai merasa takut dan khawatir dengan kondisinya sekarang. Entah apa yang dimaksud dua orang itu dan apa yang diinginkan mereka.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya Pak Sanjaya datang dengan menggunakan mobil dan berhenti tepat dihalaman klinik.
Beberapa anak buahnya berjaga-jaga diluar dan dua orang yang sejak tadi menunggu didalam klinik menyambut kedatangan bos mereka.
"Bos...anda sudah datang?"
"Dimana bidan itu?" Tanya Pak Sanjaya to the point.
"Dia ada didalam" Pria itu menunjuk satu ruangan.
Ketiganya berjalan masuk kedalam klinik yang tidak terlalu besar itu dan bertemu Perawat Fitri.
"Beritahu Bu Bidan, Bos kami sudah datang dan ingin berbicara empat mata dengannya"
Perawat Fitri yang sejak tadi tidak diijinkan pulang segera memberi tahu bidan Nurul jika seseorang datang dan menunggunya diruang tunggu.
"Apa kamu pernah melihat orang itu, Fit?" Tanya Bidan Nurul sebelum keluar menemui Pak Sanjaya.
"Saya baru pertama kali melihatnya. seperti nya orang-orang itu bukan dari desa kita" Perawat Fitri menggeleng pelan.
"Baiklah...biarkan bos mereka masuk" perintah Bidan Nurul.
"Fitri...kamu boleh pulang. Dan tolong jangan menceritakan kejadian ini kepada siapapun. Karena kita semua berada dibawah ancaman mereka" Bidan Nurul mengingatkan perawat Fitri akan ancaman yang dilontarkan kedua pria tadi.
"Saya mengerti, Bu. Saya pamit pulang" Ucap Perawat Fitri sekalian berpamitan.
"Anda dipersilahkan masuk, Pak" Fitri menatap ketiga pria itu bergantian.
Setelah berkata demikian, Fitri pulang kerumah tanpa mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
"Anda siapa dan ada perlu apa?" Bidan Nurul langsung bertanya saat Pak Sanjaya masuk kedalam ruangan dan duduk kursi.
Tanpa berbicara Pak Sanjaya menyerahkan sebuah map.
"Apa anda pernah menolong wanita dalam foto itu?" Tanya pak Sanjaya dengan aura yang menakutkan.
Bidan Nurul mengambil map dan membukanya. Wajahnya seketika menegang saat melihat foto yang terpampang disana.
__ADS_1
"Dengarkan saya, Anda hanya perlu mengatakan kebenaran yang anda ketahui 24 tahun silam" Ucapnya penuh penekanan.
Bidan Nurul berdehem untuk menetralkan rasa takutnya. Sejak awal ia tahu, jika dirinya sedang berhadapan dengan orang yang memiliki kuasa kuat.
Bidan Nurul mengambil nafas panjangnya sebelum memulai menceritakan tentang seseorang yang pernah ditolongnya.
"Jadi....anakku tidak meninggal?" Pak Sanjaya menahan gemuruh didadanya. Ia sangat terkejut dengan semua yang diceritakan Bidan Nurul kepadanya.
"Istri anda melahirkan seorang anak perempuan bukan laki-laki" Tegas Bidan Nurul.
"Apa?" Pak Sanjaya menyentuh dadanya yang terasa sakit.
"Lalu mayat bayi laki-laki yang kami bawa??" Tanya Pak Sanjaya penuh amarah.
"Aku tidak tahu soal itu pak, sungguh. Satu hari setelah melahirkan putrinya dan menyerahkannya kepada asisten rumah tangga saya, istri anda pergi tanpa mengatakan apapun"
"Tunggu dulu...kenapa anda menganggap istri anda mengandung anak laki-laki?"
"Karena keluargaku menginginkan anak laki-laki sebagai penerus ku" Jawab Pak Sanjaya.
Bidan Nurul mulai memahami. Ia mengerti mengapa istri pak Sanjaya mengatakan jika bayi yang dilahirkannya tidak selamat. Dan menitipkan bayi perempuan itu kepada Agus dan Rahmi.
"Apa ada barang atau apapun yang ditinggal istriku bersama bayinya?" Tanya Pak Sanjaya penuh selidik.
"Istri anda hanya menitipkan sebuah kalung, agar saya memberikannya saat putrinya sudah beranjak remaja. Tapi...karena banyak hal yang terjadi menimpa gadis itu, saya baru sempat memberikan kalung itu beberapa bulan lalu" Ucap Bidan Nurul menjelaskan soal kalung.
"Kalung? Apa kalungnya itu seperti ini?" Pak Sanjaya memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya.
"Iya benar. Saya baru menyerahkan kalung itu sekitar satu bulan yang lalu. Kami tidak sengaja bertemu dengannya saat kami sama-sama berada dikota ini" Terang Bidan Nurul.
"Gadis malang itu bahkan sangat shock saat mengetahui kebenarannya"
"Jadi selama ini....?" Pak Sanjaya mengusap wajahnya.
"Dia tidak pernah tahu jika yang merawat dirinya sejak bayi bukanlah orangtua kandungnya" Imbuh Bidan Nurul.
Bidan Nurul terus menceritakan kehidupan Medina yang penuh kesulitan.
Pak Sanjaya hampir tidak sanggup mendengar kehidupan yang dijalani oleh putrinya.
"Tapi nasibnya kini sudah jauh lebih baik. Dia telah menikah dengan seorang pria kota dan sangat terlihat bahagia" Pak Sanjaya kembali menatap Bidan Nurul.
"Benarkah?"
Bidan Nurul mengambil ponselnya dan membuka galeri foto.
"Ini putri anda dan suaminya" Bidan Nurul memberikan ponselnya.
Seketika airmata Pak Sanjaya jatuh. Dadanya terasa sesak. Ia bangun dari duduknya dan berjalan gontai keluar dari klinik.
Ia tidak menyangka jika bayi yang dilahirkan istrinya ternyata masih hidup. Dan mereka baru saja bertemu.
FLASHBACK END
Para pengawal yang mengikutinya nampak terkejut dengan kondisi Pak Sanjaya.
Mereka menanyakan keadaan bos nya, namun tidak tidak digubris oleh Pak Sanjaya.
Pak Sanjaya masuk kedalam mobil dan menyandarkan tubuhnya. Dadanya terasa sesak dengan gemuruh emosi yang memuncak.
Hanya kalimat dan ucapan Bidan Nurul terus memenuhi kepalanya.
"Bos...anda baik-baik saja?" Salah satu pengawal yang menemaninya merasa khawatir.
"Bawa aku pergi dari sini" Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulut Pak Sanjaya.
Sebagai pengusaha properti dan berbagai bidang lainnya yang cukup sukses, ia tidak menyangka jika perjalanan hidupnya akan seberat ini.
"Mengapa kau tega melakukan ini padaku, Melani" Pak Sanjaya memejamkan matanya.
Selama perjalanan dari desa ke pusat kota S, Pak Sanjaya tertidur hingga tidak menyadari jika mobil yang dinaikinya sudah berada dikawasan bandara.
"Apa sudah sampai?" Tanyanya pada para pengawalnya.
Pengawal hanya mengangguk, tidak berani mengatakan jika mereka sudah sampai sejak satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Kerja kalian sangat cepat dan bagus. Aku akan memberi kalian bonus 3 kali lipat" Ucap Pak Sanjaya sebelum masuk kedalam bandara.
"Terimakasih, Bos" Ucap semua pengawal yang mengikutinya.
Terbersit dalam pikirannya jika saat ini ia sangat ingin menemui putrinya. Tapi ia teringat jika Medina sedang pergi berbulan madu.
"Tunggu,...apa Daniel tahu jika aku dan Melani adalah orangtua kandung Medina?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam benaknya.
Ia teringat jika Medina dan Daniel sudah diberitahu kebenaran bahwa Medina bukanlah anak dari orang yang selama ini mengasuhnya.
"Aku harus menahan diri sampai mereka kembali dari bulan madu" Pak Sanjaya duduk tenang dikursinya.
Tujuannya kini hanya satu. Ia harus berbicara dengan istrinya. Dan pastinya meminta penjelasan atas kebohongan yang selama ini istrinya tutupi.
****
Dua sejoli itu tengah menikmati waktu ditepi pantai. Setelah berjalan-jalan menyusuri tepi pantai yang indah, keduanya larut dalam suasana sunset yang romantis.
Medina menyandarkan tubuhnya didada Daniel dengan posisi membelakangi. Meski sedikit risih, namun ia tidak ingin merusak suasana.
"Sangat indah, Masyaa Allah" Ucap Medina ketika melihat pemandangan matahari tenggelam.
Sebenarnya mereka bisa menikmati sunset dari villa namun karena Medina ingin berjalan-jalan ditepi pantai, mereka memutuskan untuk menyaksikan sunset dari tepi pantai.
Duduk saling memeluk diatas pasir putih yang bersih. Sesekali ombak kecil datang menyapa dan membasahi baju mereka. Namun Medina sangat menikmati moment itu. Dalam hatinya ia tidak berhenti merapal syukur.
Daniel mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto dirinya dan Medina dalam beberapa pose.
"I Love you, Honey" Bisik Daniel mesra.
Medina mendongak dan menatap wajah tampan suaminya. Senyum manis terukir dibibirnya dan Daniel mengambil kesempatan itu untuk mengecup bibir Medina.
"Sayang...." Rengek Medina manja.
"I love you" Ucap Daniel lagi. Tangannya sudah tidak terkontrol.
"Kamu belum menjawab"
"Sayang...." Medina mulai merasakan tubuhnya merinding karena sentuhan lembut suaminya.
Daniel kembali mengecup bibir Medina. Meski sekilas namun Medina merasa malu karena beberapa orang melihat mereka.
"Disini banyak orang lalu lalang, jangan mencuri ciumanku sembarangan" Medina membenamkan wajahnya didada Daniel.
"Kita suami istri, hal biasa jika suami istri bermesraan. Apalagi ditempat yang tepat" Daniel kembali mencium pipi Medina dengan gemas.
"Aku wanita Muslimah, apa yang akan mereka pikirkan tentang keyakinanku jika aku mengumbar kemesraan ditempat umum. Mereka akan berpikir aku tidak punya akhlak"
"Mereka tidak perduli, Honey. Mereka hanya peduli diri mereka sendiri. Itu sudah menjadi hal yang biasa untuk mereka" Daniel mengeratkan pelukannya dan menciumi wajah Medina.
"Sebaiknya kita pesan makanan lalu kembali ke kamar" Medina memberi ide.
"Kamu sudah tidak sabaran ya?" Goda Daniel membuat rona merah diwajah Medina.
"Baiklah...kita isi perut sebelum bergulat diatas ranjang" Daniel mengerlingkan sebelah matanya.
"Dasar mesum!" Medina terkekeh geli.
"Aku tidak mesum...hanya memberi kehangatan dan kenikmatan untuk istriku seorang" Medina mengelengkan kepala mendengar kata absurd suaminya.
_
_
_TBC
_
_Terima kasih author ucapkan kepada readers setia Cinta Pertama Medina yang selalu meninggalkan jejak kebaikannya. Saya sangat senang dan berterima kasih, semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua. Thanks all.
_
_
__ADS_1