Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 8


__ADS_3

Medina mendorong kursi roda yang diduduki Ibu Safira keluar dari lift menuju lobby. Sementara Danu sudah keluar dari tadi untuk mengambil mobil diparkiran dan Daniel dengan dibantu seorang suster, membawa barang-barang milik ibunya termasuk membawa tas pakaian Medina.


Setelah mendudukkan ibu Safira di mobil, Danu melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"ibu butuh sesuatu?" tanya Medina sambil memberi pijatan dipunggung ibu Safira.


"terimakasih nak..pijitanmu enak sekali" jawab ibu Safira tersenyum.


Daniel menoleh cepat ke arah jok belakang ketika mendengar mamanya memuji Medina.


Danu yang menyadari keposesifan adiknya, sudah gatal ingin menggodanya.


"Kamu punya saingan, bro...kalo kamu jarang pulang kerumah, bisa jadi tangan kamu udah ga berguna lagi"


Danu tergelak keras dibelakang kemudi. Medina dan ibu Safira hanya senyum-senyum.


"Kak Danu..." Daniel menggeram menahan kesal.


Entah karena menjaga image atau memang menahan emosi, Daniel hanya tersenyum kecut. Secara dibelakang joknya ada gadis asing yang tentu saja jangan sampai melihat sisi posesif dirinya. Bisa turun derajat.


Melihat kakaknya masih cekikikan.. Daniel mencebik lengan Danu. Bukannya membuat Danu menghentikan tawanya, justru Danu semakin tergelak.


Mendengar anak-anaknya yang sedari tadi ribut, ibu Safira melerai.


"Sudah Danu..Fokus menyetir nya nak" ucap ibu Safira lembut.


"Tuh kak...mama bilang fokus..Fo...kuss. Jangan ketawa melulu" Daniel menimpali.


"Oke..oke.." Danu yang sebenarnya masih ingin tertawa harus ditahan demi titah mamanya.


Daniel tersenyum puas. Dan melirik ke arah Danu dengan memainkan kedua alisnya. Danu melihat itu lalu tatapannya kembali ke depan kemudi.


Sementara Medina yang melihat kehangatan Hubungan keluarga ibu Safira sungguh merasa iri dan kagum.


Meski ia menyadari posisinya saat ini, tapi ia bersyukur bisa berada ditengah-tengah keluarga yang hangat ini..


Tak berselang lama..mobil memasuki halaman luas setelah melewati pintu gerbang besar didepan.


Danu menghentikan mobilnya dekat pintu rumah utama agar memudahkan ibunya masuk kedalam rumah.


Medina terlihat turun lebih dulu. membuka pintu disisi Ibu Safira duduk. Lalu mengulurkan tangannya meraih tubuh ibu Safira turun dari mobil.


"hati-hati Bu...," ucap Medina lembut.


Daniel mendorong kursi roda mendekat dan Medina mendudukkan ibu Safira disana.


"Kalian ini...Mama tidak selemah itu sampai harus pakai kursi roda segala. Mama masih bisa berjalan" Ibu Safira menatap Daniel dan Medina bergantian.


"Mama masih lemah.." jawab Daniel lalu menghadiahi kecupan dipucuk kepala mamanya.

__ADS_1


Daniel membawa mamanya masuk ke dalam rumah diikuti Medina dan Danu dibelakang dengan membawa barang-barang.


"Assalamualaikum..." ucap Medina pelan saat mereka masuk ke dalam rumah.


Medina melihat sekeliling. Dia terkagum-kagum melihat suasana rumah yang ia anggap seperti istana.


Dari dalam rumah keluar 2 orang perempuan. Satu perempuan paruh baya dan satunya lagi sekitaran sebaya dengan Medina.


"Alhamdulillah Nyonya sudah pulang. Bagaimana kondisi nyonya?" Ucap Bi Inang sambil menyalami ibu Safira.


Mendapat sambutan hangat, ibu Safira tersenyum haru.


Saat sampai di ruang tengah ibu Safira meminta agar diturunkan dari kursi roda dan pindah duduk di atas sofa.


"apa mama tidak mau langsung istirahat aja ma" ucap Daniel.


Ibu Safira menggeleng.


"Tapi kak Daniel benar bu. ibu masih kelihatan pucat" ucap Medina menimpali ucapan Daniel.


Ibu Safira menarik lengan Medina dan memintanya untuk duduk disampingnya.


"kemari nak..kamu istirahat dulu. Kamu juga pasti capek sekali"


"Medina tidak apa-apa, Bu. Justru ibu yang harus beristirahat. Kondisi ibu belum 100% pulih" Ucap Medina swtelah ia duduk.


"Ibu tahu...ibu akan memperkenalkan kamu dulu kepada pegawai disini. Setelah itu ibu akan istirahat. Kamu puas?" Ucap ibu Safira sambil mengulum senyum.


"Bi Inang, panggil semua pegawai untuk berkumpul disini. Saya tunggu" titah ibu Safira kepada ART senior disana.


"Baik nyonya" jawab Bu Inang.


Satu persatu pegawai ArT yang bekerja dirumah ibu Safira berkumpul diruang tengah. mereka berbaris.


"satu...dua..tiga.. empat.." Gumam Medina dalam hati dengan manik yang memperhatikan semuanya.


"Medina...kenalkan mereka semua yang bekerja dirumah ini. Pak Mudi dan bi Inang adalah yang bertanggung jawab pegawai lain dsni, mereka sudah lama bekerja disini" kata ibu Medina dengan tangan menunjuk.


"Lalu yang itu namanya Risma dan Usep" Lanjut ibu Safira menunjuk pegawai yang berusia lebih muda dari pak Mudi dan Bi Inang.


Medina bangkit dari duduk dan melangkah ke tempat mereka berdiri lalu menyalami mereka.


"Saya Medina" Medina memperkenalkan diri.


"Bi...mulai sekarang Medina ini yang akan membantu mengurus semua kebutuhan mama" Ucap Danu menimpali.


"Ohh...iya Den"


"Saya senang...akhirnya ada yang mengurus nyonya secara khusus" ucap bi Inang senang.

__ADS_1


Danu mengangguk lalu bertanya kepada Bu Inang sebelum berlalu dari ruang tengah.


"untuk makan malam bibi masak apa?"


"Bibi masak makanan kesukaan semua orang, Den. Pokoknya lengkap" sahut bi Inang dengan senyum lebar.


"Ya sudah..kalian boleh kembali bekerja"


Semua ART kini sudah bubar dan kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


Medina sendiri masih bingung. Tapi ia bertekad akan bekerja dengan baik agar tidak mengecewakan ibu Safira.


Saat hendak berbalik arah menuju sofa..dengan tidak sengaja ia menabrak tubuh Daniel yang tiba-tiba bangkit dari duduk.


Dan....Bugghhh!!!


Wajah Medina menabrak tubuh Daniel.


"Awwww...,,!!!," pekik Medina.


Daniel meraih pinggang Medina dengan melingkarkan kedua tangannya cepat.


Medina meringis hingga ia tidak sadar bahwa saat ini wajahnya tengah berhadapan dengan Daniel hanya berjarak beberapa sentimeter.


Merasakan wajahnya tersapu hembusan nafas dan aroma parfum maskulin menyemburat di hidung membuat Medina mendongakkan kepalanya.


Manik merek bertemu. Sepersekian detik keduanya terdiam saling berpandangan. Mengagumi satu sama lain dalam hati.


"benar-benar cantik..." gumam Daniel dalam hati.


"Masyaa Allah...kak Daniel ternyata punya wajah yang sangat tampan" Gumam Medina dalam hati.


"Eheemmm..ehemm!" Danu berdehem melihat pemandangan didepannya.


Medina yang kaget langsung melepaskan diri dari pelukan Daniel. Suasana menjadi canggung hingga pipi Medina terlihat memerah. Dan memilih berlalu dari hadapan Daniel.


"ga usah buru-buru. masih banyak kesempatan..bro..." Ucap Danu terkekeh dengan menepuk-nepuk pundak Daniel.


Daniel tersenyum masam. Sejak Medina ada Kakaknya selalu saja menggoda nya. Dan entah mengapa juga Daniel merasa senang digoda kakaknya jika berkaitan dengan Medina.


Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Mengusir lamunan yang menari-nari di kepalanya.


Daniel melihat Medina dan Danu menuntun mamanya masuk ke dalam kamar lalu ia beranjak melangkah mengekori mereka.


############


**Assalamualaikum..Hallo para readers. Saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


Ini adalah karya perdanaku. Mohon maaf apabila ada kesamaan Nama, tempat dan karakter dalam cerita novel ini. Semuanya yang tertuang adalah murni imajinasi Author.

__ADS_1


Mohon maaf juga kalo masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan alur cerita. Jika kalian suka, silahkan dukung dan kasih love juga vote nya ya. Terimakasih. 😍😘**


__ADS_2