
Sesuai rencana Medina mereka berempat makan siang bersama diruangan Daniel. Suasana makan siang yang membuat gerah Arif dan Rania. Bagaimana tidak? Pasangan halal itu terus saja memamerkan kemesraan sepanjang makan siang. Membuat iri jomblo-jombko yang ada dihadapan mereka.
Bahkan setelah makan siang, Daniel menahan istrinya disana. Ia tidak mengijinkan Medina pulang.
Medina menatap lekat wajah suaminya yang serius menyelesaikan pekerjaannya. Mengagumi pahatan sempurna sosok laki-laki yang mengisi hatinya.
"Jangan menggodaku dengan tatapanmu, Hon." Ucap Daniel tanpa melihat Medina.
"Apa?" Medina terkejut. Bagaimana suaminya tahu jika ia sedang menatap nya? Batin Medina.
"Aku jadi tidak fokus bekerja." Daniel menutup laptopnya.
"Kalo begitu, ijinkan aku pulang." Sahut Medina dengan senyuman cantiknya.
"Tidak akan." Daniel menatap tajam istrinya. -
"Kemarilah." Daniel mengulurkan tangannya.
Medina beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Daniel.
"Apa kamu lelah?" Daniel menarik pinggang Medina hingga ia duduk diatas pangkuanya.
"Jika bersama suamiku, aku hanya merasakan bahagia." Medina melingkar kan tangannya pada leher Daniel.
"Apa aku membuatmu bahagia?" Manik Daniel menatap dalam bola mata Medina yang bening.
"Apa perlu dijawab?" Medina balik bertanya. Ia menggeleng pelan, bagaimana bisa suaminya bertanya hal itu padanya yang jelas-jelas telah merasakan kebahagiaan lebih dari apapun.
"Sayang...Besok jadwal kontrol kandunganku. Apa kakak bisa mengantarku?" Medina memainkan rambut suaminya.
"Hhmmm besok ya? Akan kutanyakan jadwalku dulu." Daniel langsung menghubungi Rania dan menanyakan jadwalnya untuk esok hari.
"Baiklah. Terimakasih." Wajah Daniel terlihat tidak senang setelah menelpon sekretaris nya.
"Kenapa?" Tanya Medina.
"Besok jadwalku sangat padat, Hon." Medina bisa melihat wajah kecewa suaminya.
"Tidak apa-apa. Aku bisa minta tolong mama untuk menemaniku." Medina menempelkan dahinya pada dahi Daniel.
"Ahh...aku ada ide. Sebentar." Daniel mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang setelah panggilan teleponnya tidak dijawab.
Medina mengerutkan dahi. Ia hanya bisa melihat suaminya yang terlihat sibuk membalas pesan diponselnya.
"Sudah. Ayo kita pergi." Daniel mengecup bibir Medina sekilas.
"Kemana?" Tanya Medina yang bingung.
"Nanti kamu akan tahu." Daniel tersenyum tampan.
"Bagaimana pekerjaan kakak?" Medina melihat tumpukan berkas yang belum selesai diperiksa Daniel.
"Aku akan meminta Arif mengantarkan berkas-berkas itu kerumah." Jawab Daniel santai.
"Sudah. Ayo." Daniel merangkul bahu Medina meninggalkan ruangan nya.
****
"Ayah...apa ada kabar dari Medina?" Tanya Fian kepada Pak Sanjaya saat mereka duduk santai dihalaman belakang mansion.
"Belum." Jawab Pak Sanjaya pelan. Ada gurat kecewa diwajah Pak Sanjaya karena Medina belum mau bertemu dengan mereka sampai detik ini.
"Ayah harus memberi Medina waktu sebentar lagi. Aku yakin dia akan mau bertemua Ayah dan Ibu." Fian mencoba menenangkan Ayahnya. Meski ia sendiri juga sangat ingin melihat orangtuanya bahagia.
Pak Sanjaya hanya mengangguk. Ia mencoba tersenyum meski dalam hatinya ia sangat merindukan putrinya.
"Lagipula dia sedang hamil. Yang aku dengar, hormon ibu hamil sering membuat moodnya naik turun." Fian menutup mulutnya saat pak Sanjaya menatap nya.
"Sudah banyak tahu soal ibu hamil kamu ya? Sudah siap jadi seorang ayah rupanya." Pak Sanjaya tidak bisa menyembunyikan tawanya.
Keduanya tertawa terbahak-bahak hingga terdengar ditelinga ibu Melani yang berada di dapur.
"Itu suara tawa mereka?" Ibu Melani tampak terkejut dengan suara tawa suami dan putranya. Karena memang jarang sekali mereka terlibat ngobrol santai hingga tertawa bersama. Didikan Pak Sanjaya yang keras membuat sikap tegas Fian juga tercetak dengan jelas.
"Benar, Nyonya." Sahut pelayan yang membantu Ibu Melani.
__ADS_1
"Kamu selesaikan semuanya ya." Ibu Melani yang penasaran dengan suara riuh tawa suami dan anaknya, langsung meninggalkan dapur dan meminta pelayan menyelesaikan masakannya.
"Kalian menertawakan apa?" Tanya ibu Melani yang sedari tadi penasaran.
"Ini rahasia para pria." Sahut pak Sanjaya.
"Ish...kalian curang sekali!" Ibu Melani duduk disamping suaminya.
"Anakmu sudah pandai menasehati ku. Dan sepertinya dia sudah tidak sabar untuk menikah dan punya anak." Jelas pak Sanjaya.
"Oh ya?"
"Ayah..." Fian hendak protes.
"Harusnya pernikahan kalian tidak diundur." Ibu Melani merasa bersalah kepada Fian. Karena masalah yang terjadi di keluarga nya, ia harus menunda resepsi pernikahan nya.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita semua sudah sepakat untuk tidak membahas pernikahan ku dulu kan?." Fian pindah duduk dan memeluk ibunya.
"Maafkan kami." Lirih Ibu Melani.
"Bagaimana jika kalian ijab qobul dulu?" Ibu Melani memberi ide.
"Aku harus bilang berapa kali, bu. Aku akan menikah dan disaksikan anggota keluarga ku lengkap." Ucap Fian.
Pak Sanjaya dan Ibu Melani tahu maksud perkataan putranya. Mereka hanya mengangguk dan memberikan senyuman. Untuk saat ini, mereka harus saling dukung dan menguatkan satu sama lain. Dan Fian pun tidak ingin egois. Ia akan mengutamakan kebahagiaan kedua orangtua yang sudah membesarkan nya dengan baik.
****
Medina dan Daniel tidak berhenti tersenyum bahagia. Keduanya baru saja selesai memeriksa kan kandungan Medina dan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Sebenarnya Daniel tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayinya. Gender apapun akan ia sambut dengan bahagia. Namun berbeda dengan Medina. Dia sangat antusias melakukan USG. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tengah hamil anak pertamanya.
"Sayang...kita harus mulai mencari nama yang bagus untuk baby." Medina terus menatap foto hasil USG.
Daniel yang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat bahagia.
"Atau kita minta mama untuk memberi nama anak kita? Ah...benar sekali. aku akan menelepon mama nanti." Medina memeluk foto yang dipegangnya.
"Sayang...mama tidak sabar menunggu kamu lahir." Medina mengusap perutnya dan membuat Daniel seketika menoleh dan tersenyum.
Satu tangan Daniel pindah. Ikut mengusap perut buncit istrinya. "Kamu harus sehat terus disana ya boy. Jangan buat mama susah ya nak." Ucap Daniel diiringi tawa kecil.
"Mommy juga harus sehat dan bahagia." Daniel menoleh sebentar untuk mengusap pipi Medina.
"Kalo begitu ayo kita pulang kerumah Mama." Teriak Medina dengan tawa lebar.
"Baik, Tuan Putri." Jawab Daniel membuat Medina semakin tertawa.
Melihat senyum dan tawa istrinya hati Daniel menghangat. Semua kekhawatirannya seolah lenyap begitu saja.
"Kak...nanti kita mampir ditoko buah langganan ya." Pinta Medina.
"Siap!" Sahut Daniel bersemangat.
Keduanya mengobrol dan bercanda hingga mereka sampai di toko buah yang dimaksud. Setelah selesai berbelanja, keduanya kembali meneruskan perjalanan menuju rumah Mama Safira.
"Nenek....itu suara mobil papa Niel." Syifa yang sedang asyik menonton televisi bersama mama Safira langsung bangun dari duduknya ketika mendengar suara deru mesin mobil Daniel.
"Benarkah?"
"Iya, Nek."
"Ayo kita ke depan." Mama Safira menggandeng tangan Syifa berjalan keluar rumah. Mereka ingin menyambut keduanya.
"Honey....hati-hati." Daniel melihat Medina yang tergesa-gesa melepas sabuk pengamannya.
"Iya, Sayang. Maaf." Medina mengecup bibir suaminya sebelum turun dari mobil. Daniel menggeleng pelan, merasa gemas dengan tingkah istrinya. Mungkin jika mereka dirumah, Daniel akan membawa dan mengungkungnya diatas ranjang besar mereka.
"Assalamualaikum, Ma." Medina yang turun lebih dulu dari mobil langsung melihat dua wanita beda usia itu menyambutnya di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam."
Medina menyalami dan memeluk mama Safira dan Syifa. "Medina merindukan malaikat-malaikat tanpa sayapku." Medina mencium pipi kedua perempuan dihadapan nya sambil tersenyum.
"Apa kabar nak?"
"Alhamdulilah baik."
__ADS_1
"Sayang....kamu semakin cantik." Puji Medina pada gadis kecil yang selalu membuat suasana rumah menjadi ramai dan hangat.
"Ifa baik, Mam."
"Apa yang kalian bawa?" Mama Safira melihat Daniel kerepotan membawa barang belanjaan.
"Putri mama memborong toko buah." Jawab Daniel sambil tertawa.
"Aku hanya membeli sedikit." Medina menatap suaminya tidak suka dengan yang baru saja ia dengar.
Daniel dan Mama Safira terkejut dengan perubahan Medina. Namun mama Safira yang lebih paham perubahan itu lalu tersenyum. Sementara Medina langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam bersama Syifa.
"Jangan kaget jika istrimu berubah moodnya. Harus sabar menghadapi ibu hamil." Mama Safira mengusap pundak putranya.
"Daniel tahu, Ma. Terimakasih." Daniel merangkul mamanya masuk kedalam rumah setelah memberikan belanjaan nya kepada mang Jaka.
"Medina tidur." Mama masuk kedalam ruang kerja. Disana ada Danu dan Daniel yang mengobrol disana selepas makan malam. Suasan dirumah saat makan malam pun sangat heboh. Kabar yang Medina bawa tentang jenis kelamin calon bayinya, membuat keluarga Daniel bahagia. Pun dengan kabar hasil USG kakak iparnya. Calon bayi yang dikandung Rani juga berjenis kelamin laki-laki.
"Apa?"
"Menginaplah." Pinta mama Safira. Beliau duduk disofa disamping Danu.
"Besok Daniel harus berangkat pagi sekali. Tiga Minggu meninggalkan perusahaan, banyak yang harus Daniel urus dan bereskan." Daniel melirik kakaknya.
"Beruntung Daniel punya CEO serep yang kompeten." Daniel melirik kakaknya.
"CEO serep? Kamu pikir ban?" Danu melempar bantal sofa ke arah Daniel yang tertawa terbahak-bahak. Meski kesal, namun Danu tidak bisa marah kepada adik semata wayangnya.
Melihat kedua putranya, mama Safira langsung melerai. "Kalian seperti jama kalian waktu kecil. Suka sekali melempar bantal sofa." Mama Safira menggelengkan kepalanya.
"Apa Medina belum mau bertemu orangtuanya?" Tanya Mama Safira dan dijawab Daniel dengan gelengan kepala.
"Aku terus membujuknya." Jawab Daniel dengan wajah serius.
"Setelah kejadian Medina masuk rumah sakit, aku tidak bisa memaksanya untuk hak yang belum ia nyaman, Ma."
"Tapi ia meminta waktu sebentar lagi." Imbuh Daniel.
"Mama rasa kamu harus agak sedikit memaksa. Atau ajak dia ke pulau B. Dan pertemukan mereka secara diam-diam." Saran mama Safira.
"Meski dia mengatakan dia baik-baik saja, tapi mama rasa pada kenyataannya tidak begitu. Mama tahu dia sangat terbebani dengan hal ini. Dia sedang berusaha menjaga nama baikmu, nama baik keluarga kita." Mama Safira menatap Daniel.
"Apa? benarkah?" Daniel membulatkan matanya. Ia terkejut dan sungguh ia tidak berpikir sampai kesana.
"Mama menyarankan kalian pergi menemui orangtua Medina. Sebelum semuanya terlambat. Karena kita tidak hal apa yang akan terjadi dimasa depan. Tapi mudah-mudahan semuanya baik-baik saja." Mama tetap tersenyum setelah mengatakan sarannya.
Daniel mengangguk-anggukan kepala. Membenarkan semua ucapan mama Safira.
"Baiklah. mama akan istirahat duluan. Kalian juga harus segera istirahat."
"Daniel akan pulang, ma." Ucap Daniel membuat sang mama yang berjalan ke arah pintu seketika berhenti.
"Tapi Medina sudah tidur." Mama menoleh ke arah Daniel.
"Daniel akan menggendongnya."
"Besok Daniel akan sangat sibuk. Daniel harus menyiapkan semuanya." Ucap Daniel lagi.
"Baiklah. Besok pagi mama akan kerumahmu." Setelah mengucapkan itu mama Safira keluar dari ruang kerja. Tinggallah Danu dan Daniel yang masih belum ingin beranjak dari sana.
"Pulanglah. Malam hampir larut." Danu berdiri dari duduknya.
"Kak...."
"Aku tahu kau mengkhawatirkan Medina. Tapi mengikuti saran mama juga tidak ada salahnya, kan? Kau khawatir berlebihan, kid." Danu tahu yang dipikirkan adiknya. Danu kembali melangkah dan keluar dari ruang kerja. Meninggalkan Daniel yang masih duduk memikirkan saran mamanya.
Daniel mengembuskan nafas kasar. Jika besok tidak begitu banyak pekerjaan, ia pasti membawa istrinya.
_
_
_
_
__ADS_1
_To be Continue