
Daniel dan Medina kini sudah berada salah satu restoran didalam area bandara. Sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang setengah jam lagi takeoff.
Daniel terlihat sedang berbincang serius dengan Arif dan seorang wanita yang merupakan sekretaris Daniel juga. Daniel menghubungi Arif untuk menemuinya dibandara untuk membicarakan pekerjaan. Daniel akan meninggalkan pekerjaannya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Itu karena mereka tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dikampung halaman Medina. Sehingga tidak bisa menentukan apakah akan cepat kembali atau justru memakan waktu lama.
Drrtt...Drrtt
Medina mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia melihat ada pesan masuk melalui aplikasi WA. Medina membukanya.
Mama : "Sayang.. kalian sudah dibandara?"
Jemari Medina mengetikkan sesuatu membalas pesan ibu mertuanya.
Me : "Iya ma...kami masih menunggu
setengah jam lagi"
Mama : "Daneil tidak membalas pesan mama.
Sedan apa dia?
Me. : "Kakak sedang bicara dengan Arif dan
seorang perempuan dari kantornya"
Mama : "Hati-hati dan jaga diri kalian"
Me : "iya ma. Mama juga jaga diri ya.
Jangan telat makan dan minum
obatnya. Dan jangan lewatkan waktu
istirahat"
Mama. : "Iya Nak...kami akan menunggu kalian.
Pulanglah segera setelah urusan
kalian selesai. Semoga semuanya
lancar ya. Doa mama menyertai
kalianππ"
Me. : "Terima kasih ma. Kami sayang mama
ππ"
Mama. : "Segera kabari mama jika kalian
sudah sampai disana"
Me. : "Iya mama"
Medina menonaktifkan dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menoleh meja tempat suaminya duduk. Menatap wajah tampan suaminya yang sangat serius dan penuh wibawa. Itu karena sedang berada bersama pegawai kantornya. Namun dibalik itu semua, Daniel adalah laki-laki yang romantis dan penuh kejutan.
Medina mengulum senyum saat ingatannya kembali pada moment Sarapan tadi pagi. Sarapan pagi romantis dan itu akan ia lakukan setiap hari bersama suami yang sangat ia cintai dan mencintainya.
__ADS_1
"Kirimkan berkas penting melalui email. Hanya berkas penting. Selebihnya aku percaya kamu bisa urus" tegas Daniel dengan menatap tajam Arif. Kata-katanya penuh penekanan.
Arif dan Karin mengangguk paham.
"Rania, jika ada yang bertanya diriku katakan aku sedang ada urusan dan tidak bisa diganggu" Perintah Daniel pada sekretaris perempuan.
"Baik pak.." jawab Karin.
Daniel mengalihkan pandangannya pada Medina.
"Baiklah...aku rasa cukup. Jika ada masalah segera kabari kakakku. Dia akan membantu kalian aku tidak dikantor" Ucap Daniel mengakhiri bincang mereka.
Daniel sudah berdiri kemudian beranjak menjauh dari 2 sekretarisnya. Ia berjalan ke arah Medina dengan senyum dan tatapan mata menawan. Hingga beberapa pengunjung wanita direstoran itu memperhatikan Daniel tanpa berkedip penuh kagum.
Medina menyadari suaminya menjadi pusat perhatian mata para pengunjung wanita disana. Ia sedikit kesal dan cemburu.
Saat Daniel hampir mendekat, Medina bergegas berdiri dan menghampiri Daniel. Melayangkan pelukan mesra dan kecupan manis dipipi Daniel.
"Honey....????" Daniel mengeryitkan kening.
"Aku ga suka mereka menatap kakak seperti itu" Bisik Medina membuat Daniel tertawa lebar.
"Kamu cemburu, Honey...?" Tanya Daniel masih dengan tawa kecilnya.
Medina mengangguk lalu mengerucutkan bibirnya. Daniel membimbing istrinya duduk kemudian Daniel berjongkok dihadapan Medina.
"Kakak mau apa? Ayo bangun...kamu mau dilihat banyak orang?" Medina menarik lengan Daniel karena merasa tidak nyaman dengan sikap Daniel.
Daniel tidak bergeming. Ia tetap pada posisinya. Dan terus menatap lekat Medina.
"kak..." Medina kembali menarik lengan Daniel.
Medina yang kaget dengan ciuman suaminya yang tiba-tiba, hanya bisa diam mematung.
"I love you too, My Honey..." Ucap Daniel setelah melepaskan ciumannya.
Medina memukul pundak Daniel. Ia merasa sangat malu karena sudah dicium ditempat umum. Apalagi kondisi restoran yang lumayan ramai, membuat Medina merasakan panas diwajahnya karena malu.
"Ayo kita masuk, pesawat sebentar lagi akan berangkat"
Daniel mendorong koper dengan tangan kanannya dan menggandeng tangan Medina dengan tangan kirinya. Mereka melakukan boarding pass dan berjalan menuju pesawat.
***
Medina menarik nafas dalam dan panjang setelah Daniel memakaikan seat belt ditubuh istrinya.
Ia sangat gugup dan sedikit takut. Karena ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat.
Daniel memperhatikan istrinya. Daniel kembali berdiri dan mendekati istrinya. Karena pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat first class sehingga tempat duduk mereka lumayan agak berjarak meski sejajar.
"Apa ini pertama kalinya kamu naik peswat, Honey?"
"Hu'um" Medina mengangguk. Ia bahkan tidak berani mengeluarkan suara.
Daniel berpikir sejenak kemudian memutar pandangannya. Ia berjalan menghampiri pramugari. Setelah berbicara dengan pramugari Daniel kembali ke tempat duduk istrinya.
Daniel membuka kembali sabuk pengaman yang sudah Melilit ditubuh Medina.
__ADS_1
"Ayo berdiri.." Daniel mengulurkan tangannya.
Medina menengadahkan wajahnya bingung. Namun ia menuruti ucapan Daniel.
Setelah Medina berdiri, kini bergantian Daniel yang duduk dikursi penumpang milik Medina.
"Sekarang duduklah..."Daniel menepuk pahanya dan menarik tangan Medina agar duduk dipangkuannya.
KLIK!! Daniel memasang kembali sabuk pengaman, kali ini melilit ditubuh mereka berdua.
"Sekarang kamu tidak perlu takut, aku akan memelukmu sampai pesawat mendarat nanti" Bisik Daniel.
"A-apa boleh seperti ini??" Medina mengedarkan pandangannya. Ia khawatir jika nantinya akan ditegur pramugari yang bertugas. Bukan hanya takut ditegur, Medina juga tidak ingin sikapnya mempermalukan suaminya dihadapan banyak orang.
"Aku sudah minta ijin" Jawab Daniel tenang.
"Aku pasti sudah membuat kakak malu. Tapi aku benar-benar takut. Kenapa kita ga naik bis aja??" Tanya Medina pelan. Wajahnya kini tertunduk lesu.
Daniel terkekeh. Ia mencubit hidung mancung istrinya gemas.
"Butuh waktu lama hingga sampai ke kampung halamanmu jika menggunakan bis. Dan itu akan sangat melelahkan, Honey" Medina mengangguk paham. Menaiki armada bis memang sangat melelahkan. Namun baginya itu sangat menyenangkan.
Pesawat yang ditumpangi Daniel dan Medina mendarat selamat di Bandara Internasional kota S.
Daniel terus menggandeng tangan Medina hingga mereka tiba didepan pintu kedatangan untuk mencari mobil jemputan yang sudah Daniel tugaskan. Daniel menyuruh satu orang kepercayaan nya yang memimpin anak perusahaan yang berada dikota ini untuk menyiapkan segala sesuatunya selama mereka berada dikota S.
Seseorang dari kejauhan melambaikan tangan kepada Daniel. Seorang pria berjas hitam menghampiri Daniel.
"Selamat siang, Bos. Mobilnya ada disebelah sana. Mari ikut saya" Daniel mengangguk dan mengekori pria itu.
Pria itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Daniel dan Medina masuk. Kemudian berlalu menuju hotel yang sudah disiapkan pria itu.
"Bagaimana perkembangan kondisi disana?" Tanya Daniel pada pria yang bernama Raihan.
"Semuanya masih sama seperti laporan terakhir saya semalam, Bos" Jawab Raihan.
"Hemm..."
Daniel memang sengaja mengutus Raihan untuk memantau keadaan keluarga Medina dan hal yang berkaitan dengan kehidupan istrinya satu hari sebelum mereka menikah. Daniel tidak ingin menemukan kendala yang berarti saat istrinya berada disini. Ia ingin semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang sudah ia susun bersama kakaknya.
Medina terlihat diam dan tidak banyak bicara. Selain karena ia mengalami jetlag, perasaanya kini kembali takut dan khawatir karena ia kembali akan bertemu dengan Pakde nya yang suka memaksakan kehendak. Bukan ia tidak senang kembali kesini, hanya saja ia tidak ingin menimbulkan masalah yang akan merepotkan suami dan keluarga mertuanya.
Ia menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya. Memejamkan matanya hanya sekedar untuk mengusir semua pemikiran buruknya.
Daniel mengusap pipi Medina dan mendaratkan kecupan pada kepala istrinya berulang kali.
"Kita akan ke hotel untuk makan siang dan beristirahat. Sore nanti baru kita berkunjung ke pemakaman. Ga papa kan?" Medina mengangguk pelan. Ia tahu Daniel akan melakukan yang terbaik yang pastinya sudah terencana. Maka ia akan mengikuti dan menuruti ucapan suaminya.
_
_
_
_
_
__ADS_1
_
_