Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 61


__ADS_3

Setelah menelepon mama Safira dan mendapat banyak nasehat, perasaan Medina kini jauh lebih baik dan menjadi lebih lega. Ketakutan dan kekhawatirannya tentang kondisi kesehatan mama mertuanya setelah mengetahui kenyataan lain dari dirinya ternyata salah. Mama Safira sangat menyayanginya seperti kasih sayang ibu kandung kepada putrinya. Dan ia sangat bersyukur masih dikelilingi oleh orang-orang yang terus menyayanginya hingga saat ini.


Setelah menempuh waktu perjalanan 15 menit, Daniel dan Medina kini sudah tiba di bandara. Ya...selepas sholat Maghrib mereka memutuskan untuk segera kembali pulang. Apalagi sang Mama sudah memberi titah, tidak ada alasan untuk menunda kepulangan mereka ke kota J.


"Selamat jalan Bos..." Ucap Raihan setelah keduanya keluar dari mobil.


"Aku minta laporan hasil pengawasan anak buahmu padaku setiap hari, Rai" Tegas Daniel.


"Siap, Bos" Jawab Raihan.


"Terimakasih, Mas Raihan" Ucap Medina tiba-tiba.


Raihan melirik istri bosnya kemudian mengangguk.


Daniel menggandeng tangan Medina erat saat berjalan masuk ke dalam pesawat.


Medina mengikuti langkah suaminya dengan tatapan hangat dan bahagia. Ia tidak menyangka takdir hidupnya akan mempertemukan dirinya dengan pria yang sangat baik dan sangat mencintainya.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya" Sapa sang pilot dan seorang pramugari.


"Selamat malam" Jawab Medina sedangkan Daniel hanya mengangguk.


Medina tersenyum kagum melihat suasana didalam pesawat pribadi milik suaminya. Dalam hatinya ia terkejut dan bersorak bersamaan, karena untuk pertama kalinya ia menaiki pesawat pribadi seperti yang ia lihat di film-film. Hatinya tidak berhenti berdecak kagum dengan desain interior pesawat. Ia benar-benar menyukainya dan menikmati semuanya.


Daniel terus memperhatikan istrinya. Ia tahu dari wajah istrinya jika Medina kini sedang menikmati setiap hal yang ada didalam sini meski tanpa komentar yang keluar dari bibir istrinya itu.


"Kamu suka?" Bisik Daniel saat dirinya mendekati Medina yang sudah duduk.


Medina menengadah menatap suaminya. Kemudian mengangguk cepat dengan senyum yang terus terukir dibibirnya.


"Setelah paspor mu selesai, Kita akan pergi berbulan madu" Daniel kembali berbisik mesra. Membuat wajah Medina seketika merona.


"Bulan Madu? Kemana?" Tanya Medina.


"Pikirkan itu dengan baik. Kamu bisa mencari referensi tempat bulan madu paling romantis diseluruh dunia dari si mbah yang super pintar" Daniel tersenyum puas.


Medina terkekeh mendengar ucapan suaminya kemudian mengangguk paham.


Pesawat telah lepas landas dan kini berada diatas awan untuk sampai ke kota J butuh waktu sekitar 2 jam.


Daniel menatap lekat istrinya yang tengah memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Honey..." Bisik Daniel membuat Medina refleks menoleh karena terkejut.


Medina menatap suaminya dengan menyunggingkan senyuman.


"Apa yang kamu pikirkan, Tuan Puteri?" Daniel mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya kemudian mengecup hidung istrinya singkat.


Medina kembali tersenyum. Dalam otaknya memang banyak pikiran-pikiran yang terus datang dan menganggunya. Membuatnya tidak memperhatikan suaminya selama dipesawat.


"Maaf...Aku mengabaikan kakak" Medina menatap sendu suaminya. Ada rasa bersalah dalam nada ucapan Medina.


"Kamu lelah, Honey?" Medina menggeleng pelan.


Daniel meraih tangan istrinya dan mengecupinya tanpa henti.


"Aku sudah mendaftarkan berkas pernikahan kita ke KUA, setelah acara ijab qobul waktu itu. Dan sebentar lagi mungkin sudah selesai. Setelah itu Kita hanya tinggal menggelar acara resepsi pernikahan untuk mengenalkan kamu kepada keluarga, rekan bisnis dan pegawaiku" Ucap Daniel.

__ADS_1


Sontak Medina terkejut dan membelalakkan matanya.


"Apa?" Medina menutup mulutnya yang terbuka. Maniknya sudah penuh dengan cairan bening yang siap meluncur bebas dipipinya.


"Hei...sudah kubilang. Aku tidak mengijinkan air matamu keluar lagi, kan?" Jemari Daniel menyeka pipi Medina yang sudah basah.


Daniel menarik Medina kedalam pelukannya. Mengelus punggungnya mengalirkan rasa hangat dan nyaman untuk istrinya.


"Istriku berubah menjadi cengeng dan perasa sekarang. Eh tunggu dulu...apa kamu hamil, Honey?" Daniel menerka - nerka asal membuat Medina seketika mendorong tubuh Daniel dengan kuat.


"Mana ada aku hamil. Kita baru beberapa hari menikah dan baru memulai semuanya dua hari lalu." Protes Medina yang disambut tawa keras dari Daniel.


Melihat Medina yang malu-malu, timbul ide di otak Daniel untuk menggoda istrinya.


"Apa kamu mau merasakan sensasi bercinta diatas awan?"


"Hah?"


"Dasar mesum!!" Medina melayangkan pukulan tidak bertenaga didada Daniel hingga membuat Daniel tertawa terbahak-bahak.


Medina segera memalingkan wajahnya ke luar jendela. Kata-kata absurb dari bibir suaminya seketika membuat dirinya mengingat malam panjang dan panas dengan pria yang dicintainya. Dan itu membuat wajahnya terasa panas.


"Honey...apa kamu tidak mau mencobanya?" Daniel sengaja mendekat kan bibirnya ke telinga Medina.


"Tidak!" Jawab Medina cepat tanpa menoleh kearah Daniel.


Daniel kembali tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda istrinya. Setidaknya kini istrinya tidak lagi menangis dan bersedih. Itu tujuan ia mennggoda dan menjahilinya. Meskipun dalam dirinya kini timbul gejolak panas kelelakiannya yang sudah tertahan sejak mereka kembali ke hotel siang tadi.


****


"Sayang....ayo kita makan dulu" Ajak Rani kepada suami dan anaknya yang sedang duduk menonton televisi diruang tengah.


"Ayo, sayang" Ajak Danu yang sudah menggandeng tangan Syifa.


"Papa...Tapi Ifa mau tunggu Mama Niel" Rengeknya.


"Mama Niel mu akan datang kesini jika kamu sudah menghabiskan makan malammu, Princess" Ucap Danu.


"Benar, Bun?" Syifa memastikan ucapan papanya dan bertanya kepada bundanya.


"Benar sekali, Princess" Timpal Rani kemudian menatap suaminya dengan menahan senyuman.


"Tapi nenek bilang, mereka akan datang saat makan malam" Danu dan Rani kembali saling berpandangan. Ini tidak akan mudah untuk mereka. Putrinya akan terus bertanya hingga semua keingintahuannya terjawab.


"Oke...baiklah. Bun...katakan pada Mama Niel dan papa Niel...mereka tidak perlu datang kemari. Gadis kecilnya sekarang sudah mulai tidak menurut" Danu menyerahkan ponselnya kepada Rani. Danu berniat untuk mengelabui putri kecilnya dengan berpura pura kesal.


"Jangan...Bunda!" Teriak Syifa saat bundanya menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Jangan apa?" Tanya Danu pura-pura.


"Jangan telepon Mama Niel,,,,Ifa sekarang mau makan" Syifa akhirnya menyerah.


Rani dan Danu tersenyum puas. Dengan cekatan Rani sudah menyendok kan nasi dan lauk kesukaan purtinya kedalam piring.


"Ayo habiskan, Sayang" Syifa mengangguk pelan.


Dan Setelah mereka selesai makan makan dan sedang bersantai dituang tengah, terdengar suara pintu depan terbuka. Daniel dan Medina masuk kedalam rumah dan disambut teriakan histeris sang Princess kecil saat manik bening itu menangkap sosok perempuan yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum..."


"Mamaaaaa...." Syifa segera turun dari pangkuan papanya dan berlari menghambur ke pelukan Medina.


"Hei...pelan-pelan, Sayang" Ucap Medina kaget.


Mereka berpelukan dengan erat. Hingga Syifa menangis tersedu dipelukan Medina.


"Ohhh sayang....Princess nya mama....Mama sangat merindukanmu. Apa princess mama juga merindukan mama?" Syifa mengangguk sambil terus menangis.


Medina membawa Syifa duduk disofa ruang tengah.


Danu, Daniel dan Rani tersenyum melihat interaksi keduanya.


Daniel menyalami dan memeluk Danu dan Rani.


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Danu kepada Daniel.


Daniel menggeleng cepat.


"Ada yang rindu masakan rumah" Daniel menunjuk Medina dengan dagunya.


"Sayang...boleh mama peluk Bunda dan Papa dulu?" Pamit Medina saat pelukan Syifa belum mengendur.


Syifa mengangguk dan melepaskan pelukannya. Daniel mengambil alih Syifa dari pangkuan Medina.


"Ohh...gadis kecil papa semakin gendut dan berat ya?" Goda Daniel dengan gemas.


"Apa kabar kak?" Medina menyalami dan memeluk Rani dan Danu bergantian.


Manik Medina kini sudah berkaca-kaca saat mereka memeluk dengan erat dan penuh kehangatan.


"Hei...jangan bersedih lagi" Ucap Rani dengan lembut.


"Bagaimana keadaan mama?" Wajahnya berubah sendu saat menanyakan kondisi mama Mertuanya.


"Masuklah...mama sudah menunggu kalian sejak tadi" Ajak Danu menatap Daniel dan Medina bergantian.


"Sayang...papa Niel ketemu nenek dulu,,oke?!" Bujuk Daniel karena Syifa tidak mau turun dari pangkuannya.


"Ohhh baiklah....kamu belum mengantuk? Kamu pasti sangat merindukan Papa Dan Mama Niel" Daniel menyerah karena Syifa tetap memeluknya tanpa ingin melepaskannya.


"Setiap hari kami harus berdebat panjang dengan Princess mu, kau tahu?" Danu mengacak rambut putrinya yang digendong Daniel.


"Papa...malam ini boleh Ifa tidur sama mama Niel?" Tanya Syifa tiba-tiba membuat keempat orang dewasa saling memandang.


"Eeemmm...itu__"


Belum juga Daniel dan yang lain menjawab, Medina sudah membuka suaranya.


"Tentu saja boleh...Sayang" Sahut Medina yang langsung mendapat teriakan kemenangan dari Syifa.


"Yeeeaaaayyyy!!!!"


"Tapi Honey...." Elak Daniel dengan wajah bingungnya membuat Rani dan Danu tertawa kecil.


Medina sudah meninggalkan Daniel yang masih berdiri mematung. Ia tidak akan bisa tidur jika jauh dari istrinya. Bagaimanapun ia harus bisa membujuk istrinya agar tidak tidur ditemani Syifa.

__ADS_1


__ADS_2