
Medina berjalan berdampingan dengan Daniel. Jemari lentiknya tak pernah lepas dari genggaman sang suami.
"Lho...Ini kan Medina toh? Anaknya Almarhum Darminto?" Pak Suryo membelalakkan matanya tidak percaya.
Medina tersenyum dan mengangguk sopan.
"Oalaah..nduk. Ga nyangka kita bakal ketemu lagi. Saya pikir, kamu sudah ditukar sama pakde mu buat bayar hutang-hutang nya" Ucapan Pak Suryo membuat Wajah Daniel memerah seketika karena marah.
Medina mengelus lengan suaminya, ia menyadari ucapan pak Suryo membuat suaminya terkejut dan emosi.
"Iya pak alhamdulillah saya baik. Bapak apa kabar?" Sapa Medina.
"Alhamdulillah saya ba__" Pak Suryo terdiam ketika tatapan tajam Raihan beradu dengan maniknya.
"Silahkan bos..." Raihan mengajak Daniel dan Medina untuk mengikutinya.
"Honey..." Bisik Daniel. Ia sebenarnya mengkhawatirkan perasaan istrinya.
"Aku ga papa, Sayang. Jangan mudah terpancing dengan ucapan orang-orang yang tanpa sengaja kita temui nanti. Mungkin mereka terkejut dengan keberadaan ku kembali ke desa setelah apa yang pernah terjadi padaku" Jawab Medina panjang lebar. Ia tidak mau membuat Daniel semakin khawatir.
Mereka terus berjalan berdampingan mengikuti langkah Raihan yang berada didepan.
"Kak...aku tidak yakin pusara bapak dan ibu masih utuh" Ucap Medina lirih. Wajah sendunya tidak bisa ia sembunyikan.
"Sudah lama sekali aku pergi dan tidak mengurus pusara mereka" Medina mengingat terakhir kalinya mengunjungi kedua orangtuanya sebelum dirinya dibawa Pakde dan tinggal bersama mereka.
Daniel hanya tersenyum. Sesekali ia mengecup punggung tangan Medina.
Langkah mereka terhenti, saat Raihan menghentikan langkahnya.
"Sebelah sini bos" Raihan menunjuk 2 pusara yang terlihat berbeda dari pusara lain yang berjejer disana.
Sementara manik Medina terus menyapu area pemakaman. Banyak yang telah berubah diarea pemakaman sehingga membuat dirinya bingung mencari pusara kedua orangtuanya.
"Honey..."
Medina berhenti celingak-celinguk dan menatap Daniel.
"Mungkin...pusara bapak sama ibu sudah rata dengan tanah" Suara Medina tercekat. Ia menahan tangisnya.
Ia masih belum menyadari 2 papan nama yang tertera dipusara yang berada disampingnya.
"Tidak Honey...lihat itu!" Daniel menunjuk.
Mata Medina mengikuti arah tangan Daniel, dan ia terkejut dengan apa yang dikihatnya. Pusara kedua orangtuanya berubah menjadi pusara yang berbeda dengan yang lainnya.
__ADS_1
"I-ini bapak sama ibu?" Suara Medina terbata. Tiba-tiba air matanya sudah berseluncur bebas dipipi mulusnya.
Seketika Daniel menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Kami sepakat untuk mempugar makam bapak dan ibumu" Ucap Daniel.
Medina menengadah.
"Terimakasih kak..." Ucap Medina lirih. Ia sangat terharu. Karena kelurga suaminya sangat menyayangi dan memperhatikan semua yang berkaitan dengan dirinya.
"Lebih baik kita mendoakan kedua orangtuamu" Daniel mengecup pucuk kepala Medina.
Setelah hampir setengah jam membaca Al Quran, Medina kembali meraba batu nisan atas nama bapak dan ibunya.
"Bapak sama ibu tidak perlu khawatir lagi. Sekarang ada suami Medina yang akan selalu melindungi dan mencintai Medina. Mohon maaf jika nantinya Medina dan suami jarang menjenguk bapak dan ibu. Namun doa kami, tak akan berhenti mengalir untuk kalian setiap saat. Semoga bapak dan ibu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT, Aamiin" Doa Medina dalam hati.
Daniel dan Medina mulai berjalan meninggalkan area pemakaman menuju mobil.
Tampak Raihan sedang berdiri disamping mobilnya dan berbicara dengan seseorang dengan suara lantang.
Saat Medina dan Daniel hampir mendekat ke tempat Raihan dan seseorang itu berdiri.
"Bude Tatik?" Pekik Medina saat sudah menyadari sosok yang bersama Raihan.
"Ciuh!!! Dasar gadis tidak tahu terimakasih. Tidak tahu diuntung!! Kamu adalah biang masalah keluarga ku. Seharusnya kamu ikut mati bersama orangtuamu" Teriak Bude Tatik.
Medina terkejut dengan ucapan Budenya. Medina menangis hingga sesegukan.
Sikap yang ditunjukkan Bude Tatik sontak membuat Daniel geram dan amarahnya memuncak. Apalagi sudah menyakiti Medina yang kini menangis.
"Kamu bilang apa? Istriku biang masalah?" Sorot mata Daniel tajam dan nanar.
Bude Tatik tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Daniel.
"Istri?? Dia istrimu?" Bude Tatik kembali tertawa dengan telunjuk yang menantang kearah Medina.
Daniel tidak bisa menahan amarahnya melihat orang terdekat istrinya justru memaki dan mencercanya.
"Jangan kak...Kumohon...hiks...hiks" Medina menahan tubuh suaminya saat Daniel akan beranjak menghampiri Bude Tatik. Entah apa yang akan dilakukan Daniel, tapi Medina tidak mau suaminya melakukan hal-hal yang akan merugikannya.
Medina memeluk tubuh suaminya sebentar dan menoleh ke arah budenya.
"Bude kenapa seperti ini? Medina minta maaf sudah membuat kesalahan. Tolong jangan seperti ini bude...Medina datang kesini dengan niat baik-baik, mau bersilaturahim sama Pakde dan Bude. Kita bisa bicara baik-baik. Bukan ditempat seperti ini" Medina mendekati Bude Tatik yang sedang dicekal Raihan.
"Bicara baik-baik? Hah? Kamu sengaja datang kesini untuk menertawakan penderitaan kami kan?" Ucap Bude Tatik menggebu-gebu.
__ADS_1
Medina menoleh suaminya sekilas dan mendapati wajah suaminya yang masih menahan emosi.
"Kamu senang kan dengan kondisi Pakde mu sekarang?" Medina menggeleng tidak paham
"Sekarang suamiku ada dipenjara gara-gara kamu!! Seandainya kamu tidak kabur dan mau menikah dengan anaknya pak Kades, pasti semua ini tidak akan terjadi. Dasar gadis tidak tahu balas budi!!" Mata Medina membulat saat mendengar ocehan Bude nya.
"Apa?? Pakde dipenjara?" Medina mencoba melepaskan pelukan Daniel namun Daniel menahannya.
"Kakak tahu tentang ini?" Tanya Medina menelisik.
Daniel menghela nafas sebelum ia menjawab pertanyaan istrinya.
"Iya Honey...Pakde sekarang ada dipenjara" Ucap Daniel pelan. Ia tahu jika istrinya pasti akan meminta penjelasan lebih darinya.
Daniel menangkupkan kedua tangannya pada wajah Medina. Tatapan mereka bertemu, namun hanya sekilas. Karena Medina mengalihkan pandangannya. Ia sedikit kesal karena Daniel menyembunyikan hal penting seperti ini.
"Aku ingin memberitahumu tapi saat itu kamu sakit. Aku tidak tega membuatmu mengalami kesakitan dan kesedihan secera bersamaan" Ucap Daniel lirih membuat Medina kembali menangis.
"Kita akan menemuinya dan mengeluarkan Pakde dari penjara. Tapi semua itu aku lakukan demi pernikahan kita" lanjut Daniel membuat Medina menatapnya.
"Pun tanpa Pakde mu, aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Seharusnya bukan seperti ini sambutan yang Bude berikan kepada kami" Mata Daneil menatap tajam Bude Tatik yang berdiri mematung karena melihat perhatian yang Daniel lakukan pada Medina.
"Rai...urus dia. Lalu temui aku di kantor polisi" Perintah Daniel kepada Raihan.
Daniel menarik tangan Medina agar masuk ke dalam mobil. Dan Medina tidak membantah.
Sejujurnya ia tidak marah kepada suaminya. Hanya saja Medina tidak sampai hati jika harus melibatkan Daniel kedalam urusan keluarga nya. Ia sangat khawatir keselamatan suaminya.
"Kak..." Medina membuka suaranya saat Meraka sudah dalam perjalanan ke kantor polisi.
"Honey..kamu tidak percaya? Aku bisa mengeluarkan Pakde dari penjara?"
Medina menggeleng pelan.
"Aku percaya padamu, kak. Tapi aku khawatir tentang keselamatan dirimu. Aku tidak mau kamu terlibat lebih jauh dengan permasalahan yang Pakde perbuat. Akan ada yang sakit hati dan tidak terima jika Pakde keluar dari penjara dengan mudah. Mereka yang menjebloskan Pakde ke penjara adalah orang-orang yang terkenal punya banyak koneksi" Medina semakin gusar setelah mengatakan itu. Namun tidak bisa dipungkiri jika kekuatan orang-orang yang membuat Pakde nya mendekam dipenjara tidak bisa dinggap sepele.
Daniel terkekeh mendengar perkataan Medina.
"Kak...aku tidak sedang melawak. Mereka sangat disegani didesa ini" Medina menyebikkan bibirnya kesal karena Daniel menertawakan nya.
"A_aku takut sesuatu terjadi padamu, kak" Medina menangis karena mengkhawatirkan Daniel.
Daniel menepikan mobilnya.
"Hei Honey....Aku tidak akan apa-apa. Selain ada orang-orangku yang akan membantu, aku punya dirimu dan doa mama yang menjadi kekuatanku untuk melawan mereka"
__ADS_1