
Hari ini keluarga pak Sanjaya benar-benar berkumpul. Tidak ada satupun dari mereka yang bekerja. Mereka menikmati moment kebersamaan yang baru saja hadir dan akan menjadi kebiasaan baru keluarga Sanjaya.
"Hon....kamu yakin dengan syarat yang kamu ajukan?" Daniel menggenggam jemari tangan Medina. Saat ini mereka sedang berada dikamar.
"Aku tidak ingin ada dendam yang berkepanjangan. Dan melukai banyak hati." Medina mengambil nafas dalam.
"Sama seperti diriku, Kak Farah juga pasti menginginkan keluarga yang utuh, bukan?" Medina menatap lekat wajah suaminya.
"Aku tidak ingin mengorbankan keutuhan dan kebahagiaan keluarga orang lain demi kebahagiaan keluargaku sendiri. Apapun alasannya." Lanjut Medina lembut namun penuh penekanan.
"Kita harus memberikan kesempatan kedua kepada mereka." Medina memainkan kancing kemeja suaminya.
"Kamu pikir mereka butuh kesempatan kedua?" Tanya Daniel penuh selidik.
"Bukan hanya mereka. Tapi semua orang didunia ini berhak mendapatkan kesempatan kedua. Memperbaiki kesalahan dan menatap kehidupannya lebih baik."
"Istriku yang terbaik." Daniel mengecup wajah Medina bertubi-tubi. Hingga membuat Medina terkekeh kegelian.
****
"Aku tidak menyangka Medina akan meminta hal ini dariku." Pak Sanjaya mendesah pelan. Ia bimbang dengan syarat yang diajukan oleh Medina.
"Jangan berpikir macam-macam. Mungkin dengan mengeluarkan mereka dari penjara, mereka sadar dan menyesali perbuatannya." Ucap Ibu Melani.
"Kita berhak memberikan kesempatan kedua kepada mereka, bukan?"
"Lagipula mereka adalah anggota keluarga kita, Mas." Lanjut Ibu Melani. Ia memang sejak awal tidak mendukung tindakan suaminya.
"Kamu benar. Ikatan darah lebih kental dari apapun." Pak Sanjaya berdiri dan berjalan mengambil ponselnya. Menghubungi sang asisten untuk mengurus pencabutan laporan yang dibuatnya.
"Terimakasih, Mas." Ibu Melani memeluk suaminya dengan erat. Kebahagiaan nya kini benar-benar nyata dan ia tidak ingin melepaskan.
****
"Kalian akan pergi?" Tanya Ibu Melani saat melihat keempat anak menantunya.
"Ada beberapa pekerjaan yang harus Fian lakukan bersama Daniel terkait kerjasama kedua perusahaan." Jawab Fian.
"Betul Bu. Selagi saya masih disini, sekalian saja." imbuh Daniel.
"Dan...." Daniel menatap lekat wajah istrinya.
"Aku akan ke kota S setelahnya. Jadi tidak bisa ikut makan malam bersama." Lanjut Daniel.
"Kenapa mendadak sekali?" Ibu Melani terlihat kecewa. Karena untuk pertama kalinya keluarganya berkumpul dengan lengkap.
"Lain waktu saya akan ikut." Jawab Daniel sopan.
"Apa ada masalah?" Tanya pak Sanjaya.
"Saya belum tahu pastinya."
"Berhati-hatilah.... pengusaha muda sukses seperti kamu selalu menjadi incaran banyak rival bisnis untuk menjatuhkanmu." Daniel mengangguk membenarkan ucapan ayah mertuanya.
"Sayang....??" Ucapan ayahnya membuat Medina menatap suaminya dengan tajam. Daniel hanya mengatakan akan mengunjungi kantor cabang di kota S. Tidak mengatakan secara detail maksud dan tujuannya kesana.
"Ayah...kenapa bicara seperti itu?" Ibu Melani melihat Medina gusar dengan apa yang diucapkan ayahnya.
"Jangan bicara macam-macam lagi kalian." Ibu Melani memeluk Medina. Sebagai seorang ibu, Ibu Melani bisa mengerti gerakan tubuh Medina yang gelisah. Ucapan sang ayah membawa dampak negatif untuk Medina dan ia tidak ingin sesuatu terjadi.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mengingatkan. Tapi seseorang selalu mendoakan ku dan aku percaya doa seorang istri sangat luar biasa." Daniel menarik Medina kedalam pelukannya.
"Berjanjilah untuk selalu berhati-hati dalam segala hal." Pinta Medina dengan manik berkaca-kaca.
"Ayah dan kak Fian juga." Semua orang tertawa lalu memeluk Medina.
****
Daniel tiba dikota S pukul tujuh malam. Ia langsung dijemput Raihan menuju hotel.
"Selamat datang, Bos." Sapa Raihan.
"Bagaimana kabarmu, Rai?" Tanya Daniel.
"Seperti yang anda lihat. Saya dalam keadaan baik." Jawab Raihan.
"Ck....Kau ini masih flat saja." gerutu Daniel saat melihat wajah datar sahabatnya.
Mereka sampai dihotel. Raihan sudah menyiapkan makan malam untuk Daniel. Karena Daniel sempat meminta saat ia akan berangkat.
"Aku akan mandi dulu." Daniel berlalu ke kamar mandi meninggalkan Raihan yang sibuk mengeluarkan komputer lipat dan beberapa berkas pekerjaan.
Setelah beberapa lama, Daniel sudah selesai dan langsung menyantap makan malamnya bersama Raihan. Keduanya makan tanpa ada yang berbicara.
Setelah selesai, mereka berpindah tempat duduk. "Sekarang katakan ada apa?" Daniel sudah duduk disofa sementara Raihan masih berdiri.
"Aku akan menikah." Daniel terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa?"
"Aku akan menikahi Billa, sepupu istri anda." Raihan memperjelas ucapannya.
"Rai....aku tidak salah dengar, kan?" Daniel masih syok dan tidak percaya.
"Duduklah....jangan terlalu formal begitu." Kesal Daniel karena Raihan masih saja tidak berubah.
Raihan bergerak dan duduk dihadapan Daniel. "Bagaimana bisa?.....maksudku...." Pertanyaan Daniel terdengar meragukan, namun Raihan paham.
"Rai...?"
"Kau tidak mau bercerita padaku?" Daniel menatap tajam Raihan.
"Dia wanita yang penuh perhatian. Aku merasa spesial dan berharga saat dia terus memperhatikan segala hal tentang diriku." Daniel tersenyum samar mendengar Jawaban Raihan.
"Kalian jatuh cinta?"
"Aku tidak tahu itu cinta atau bukan. Tapi aku merasa nyaman saat bersama nya dan merasakan rindu saat dia jauh dariku." Raihan tersenyum menawan.
"Raihan... sahabat ku. Selamat datang dalam dunia kebucinan." Daniel berdiri dan memeluk Raihan. Tawanya terdengar memenuhi ruangan.
"Selamat untukmu, Kawan." Daniel menepuk punggung Raihan. Orang kepercayaan sekaligus sahabatnya.
"Terimakasih."
"Kau sudah melamarnya?" Raihan menggeleng.
"Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia setuju?" Tanya Daniel dan mendapati anggukan Raihan, Daniel tertawa lebar. Tidak menyangka jika Raihan akan berjodoh dengan sepupu istrinya.
"Mereka sudah beberapa kali bertemu." Jelas Raihan.
__ADS_1
"Seharusnya kau mengatakan di telepon. Aku bisa membawa istriku ikut serta. Dia orang yang paling bahagia mendengar kabar ini." Ucap Daniel disela tawanya.
"A_aku...."
"Rai....kenapa harus dia?" Daniel menatap lekat wajah Raihan. Ia ingin mengorek banyak informasi.
"Maksudku...."
"Saya merasa nyaman saat bersama dengannya. Saya tidak tahu itu cinta atau bukan. Tapi apapun yang melekat padanya selalu aku rindukan. Dan aku merasa dia sangat paham apa yang aku inginkan atau tidak meski tidak kuucapkan lewat kata-kata." Potong Raihan menjelaskan. Membuat Daniel melotot tidak percaya jika seorang Raihan akan bicara manis tentang perasaan nya.
"Rai... kau banyak kemajuan." Puji Daniel dengan tersenyum.
"Karena dia....Billa sudah membawa warna indah dalam hidupku." Senyum tampan Raihan terbit.
"Aku ucapkan selamat padamu." Daniel tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wajah berbinar pria yang sedang jatuh cinta dihadapan nya sudah memberi jawaban bagaimana Raihan sangat mencintai gadis itu.
"Terimakasih, Bos."
"Apa keluarga Billa tahu tentang perasaan mu?" Tanya Daniel yang memang masih penasaran dengan kisah cinta Raihan.
"Seperti nya hanya Salsa yang menyadari jika saya memperhatikan Billa." jawab Raihan.
"Jadi Billa tidak tahu perasaan mu?" Raihan menggeleng membuat Daniel mendesah.
"Bagaimana jika dia punya seorang kekasih?" Daniel memajukan badannya.
"Maka dari itu, aku tidak ingin dia menjadi milik orang lain. Hanya aku yang boleh menjadi pendampingnya." Ucap Raihan dengan percaya diri tinggi.
"Bagaimana jika dia menolakmu dengan alasan sudah memiliki kekasih?" Pertanyaan Daniel membuat Raihan terdiam. Memang ada rasa takut ditolak dalam hati Raihan, tapi ia yakin Billa tidak sedang menjalin hubungan apapun dengan laki-laki lain sepanjang pengamatan nya.
"Aku yakin dia tidak punya kekasih." Tegas Raihan.
"Oh my God." Daniel memegang dadanya. Ia tidak menyangka jika Raihan akan menjadi bucin dan posesif ketika ia mencintai seorang wanita.
"Bos...." Raihan berdiri lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minuman didalam kulkas. Ia kembali duduk dengan membawa dua kaleng minuman soda.
"Minum Bos." Raihan menyodorkan satu kaleng ke hadapan Daniel.
"Baiklah. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" Lagi-lagi Raihan menggeleng.
"Saya tidak tahu apa yang harus disiapkan untuk proses melamar." Jawabnya polos.
"Ya Tuhan....kamu bisa mencarinya diponselmu." Daniel mulai tidak tahan.
"Ponselku belum pernah melamar seorang wanita, mana mungkin dia tahu. Lebih baik aku bertanya kepadamu kan?" Jawaban Raihan seketika membuat Daniel tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat terhibur dengan jawaban-jawaban polos pria bucin.
"Baiklah...baiklah..." Daniel memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa terbahak-bahak.
"Aku akan membantumu menyiapkan semuanya dan melamarkan gadis itu untuk sahabatku." Daniel berdiri dan menghampiri Raihan yang duduk dihadapannya.
"Aku akan mengabari istriku berita bahagia ini." Daniel tersenyum dan berlalu meninggalkan Raihan.
_
_
_
_
__ADS_1