
Kediaman Pakde Radiman di Kota S.
"Pak...Bantu ibu mikir dong!" Pekik bude Tatik yang mulai gelisah setelah mendapat informasi dari suaminya jika mereka tidak akan menetap di kota J seperti yang mereka rencanakan.
"Sudahlah Bu...bapak sudah lelah kerja seharian. Masih disuruh mikir juga" Gerutu Pakde Radiman.
Bude Tatik masih terlihat mondar mandir didalam kamarnya. Ia masih mencari rencana agar kepergiannya ke kota J tidak hanya datang sebagai tamu. Bude Tatik ingin mereka tinggal dan menetap disana sehingga bisa memanfaatkan Medina yang polos.
"Sudah malam Bu. Waktunya tidur" Pakde Radiman membaringkan tubuhnya diranjang dan mulai tertidur karena lelah seharian bekerja dikantor Raihan.
Bude Tatik yang mulai kewalahan berpikir pun ikut menyusul suaminya mengistirahatkan tubuhnya.
****
Medina sedang memandangi liontin peninggalan ibu kandungnya yang diberikan Bidan Nurul beberapa waktu lalu.
Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja dari manik jernihnya.
"Aku berharap masih ada kesempatan untuk bertemu dengan keluarga kandungku. Sekalipun mereka tidak menginginkan kehadiran ku" Lirih Medina.
Medina menyeka air mata nya dan meletakkan liontin itu kedalam laci saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia ingin menyembunyikan kesedihannya dari suaminya.
Daniel menatap Medina yang tersenyum padanya. Daniel naik ke atas ranjang dan menarik menarik tubuh istrinya kedalam dekapan.
"Ada apa?" Tanya Daniel mendekat dan mencium kening istrinya dengan mesra.
Medina menggeleng dan tersenyum kemudian menunduk dalam. Membuat Daniel semakin curiga.
"Lihat aku, Honey" Daniel mengangkat dagu istrinya yang sedari tadi menunduk.
"Kita sudah pernah berjanji untuk menghadapi apapun sama-sama. Jadi katakan padaku apa yang kamu pikirkan, hem?" Ucap Daniel lembut.
Medina kembali tersenyum lalu memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.
"Apakah aku punya kesempatan untuk bertemu keluarga kandungku?" Tanya Medina dengan suara tercekat. Cairan bening kini kembali lolos tanpa bisa ia cegah.
Daniel menghela nafas berat. Ia sadar selama satu bulan ini pencarian keluarga Medina masih belum menemukan titik terang. Semua kendala dilapangan karena minimnya petunjuk. Oleh karena itu orang-orang suruhan Daniel belum memiliki informasi yang dapat disampaikan kepada istrinya.
"Sebaiknya hentikan saja pencarian nya. Kamu membuang uang yang tidak sedikit untuk menyewa orang-orang untuk mencari keluargaku. Lagipula, tidak apa-apa bagiku jika aku tidak bisa mengetahui dan hidup bersama dengan mereka. Bagiku...Bapak dan Ibuku adalah orangtua kandungku" Ucap Medina sambil terisak.
Daniel mengeratkan pelukannya. Mendengar ucapan istrinya membuat hatinya merasa sakit dan ikut bersedih.
"Aku akan terus berusaha dan menambah orang untuk menemukan keluargamu. Aku yakin akan bisa menemukan mereka" Janji Daniel.
"Aku mohon....jangan mencari mereka lagi. Jika mereka memang menginginkan ku, seharusnya mereka yang mencariku. Selama puluhan tahun, aku tinggal didesaku, tapi tidak pernahkah mereka mencariku?" Medina memberi jeda.
"Cukup bagiku untuk mengetahui jika mereka memang tidak menginginkan kehadiran diriku dalam keluarga mereka" Lanjut Medina semakin emosional.
Daniel mengelus punggung istrinya. Benar yang dikatakan istrinya, jika mereka menginginkan Medina seharusnya mereka sendiri yang mencarinya. Tapi kenapa selama ini mereka tidak mencari Medina? Apa yang terjadi dengan keluarga mereka sebenarnya?
Pertanyaan-pertanyaan tentang orangtua Medina semakin membuat Daniel gusar. Ia akan terus mencari meski harus mengeluarkan lebih banyak uang. Ia tidak peduli. Ia juga akan mengabaikan permintaan Medina untuk menghentikan pencarian ini. Karena ia ingin tahu, apa latar belakang dan alasan kuat hingga ibu kandung Medina menyerahkannya kepada orang lain dan bahkan tidak pernah mencarinya hingga detik ini.
Orang-orang nya akan tetap melakukan penyelidikan hingga menemukan titik terang. Dan ia akan merahasiakan ini dari Medina.
"Jangan menangis lagi. Jika kamu tidak ingin ini diteruskan, maka aku akan menghentikannya" Ucap Daniel berbohong.
__ADS_1
"Sekarang, tidurlah" Daniel membantu Medina memperbaiki letak tidurnya dan mencium keningnya sebelum ia juga ikut membenamkan diri diranjang.
Daniel menatap wajah istrinya yang sudah terlelap tidur. Hatinya tidak bisa menerima keadaan istrinya yang dalam kondisi bersedih seperti ini.
"Aku berjanji padamu...suatu hari nanti aku akan mempertemukan kalian, dan aku akan membuat mereka berlutut dihadapanmu untuk meminta maaf" Ucap Daniel pelan. Tangannya mengusap pili mulus Medina yang masih terlihat basah sisa air mata.
****
Gio menepati janjinya kepada adiknya untuk mengenalkannya kepada sahabat dan juga rekan bisnisnya.
Gio dan Renata tampak duduk disebuah cafe mewah dikawasan elite. Mereka sedang menunggu seseorang. Gio sudah menghubungi rekan bisnisnya dan mereka akan bertemu dan makan malam disana.
"Bang, gue laper nih. Pesen makan dulu deh. Masa iya harus nungguin temen Abang, sih?" Ucap Renata yang memang ceplas ceplos jika bersama kakaknya.
"Ya sudah kamu duluan saja yang pesan. Abang akan menunggu temen Abang" Sahut Gio.
Setelah mendapat ijin Gio, Renata memanggil pelayan dan memesan makanan.
Gio memperhatikan pintu masuk cafe yang terbuka dan terlihat sosok yang ditunggu masuk kedalam cafe. Gio melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Agar sang pria melihatnya. Dan benar saja, pria itu melihat Gio dan langsung menghampiri meja Gio.
"Maaf membuat kalian menunggu lama" Ucap pria berkaca mata itu sopan. Pandangannya tidak terlepas dari sosok gadis cantik disamping Gio.
"Siapa gadis ini? Sangat manis dan cantik" Tanya teman Gio dalam hati.
"Santai, bro...ini malam Minggu wajar jika jalanan semakin macet" jawab Gio santai.
Mereka berjabat tangan. Dan saling memeluk. Gio memperhatikan tatapan temannya yang tidak beralih dari adiknya.
"Oh iya...kenalkan. Ini Renata tunanganku" Ucap Gio ingin mengerjai temannya. Ia memeluk Renata dari samping.
"K_kau sudah bertunangan?" Tanya pria itu terkejut. Terlihat raut wajah kecewa disana.
Gio mengangguk sambil tersenyum.
"Hai...A_aku Raka" Raka mengulurkan tangannya ke arah Renata.
"Renata" Balas Renata datar.
"Kau benar-benar sudah bertunangan, kawan?" Tanya Raka lagi dengan tatapan tidak percaya.
Raka melirik Renata yang hanya duduk diam melihat tingkah konyol kakaknya.
Membuat Gio yang awalnya ingin meneruskan mengerjai Raka, akhirnya harus berakhir karena Gio tidak tahan untuk menahan tawanya.
"Hahahaha....kau itu lucu sekali, Kawan. Kenapa wajahmu terlihat kecewa sekali saat tahu dia adalah tunanganku?" Gio tidak bisa menahan tawanya.
"Maafkan aku. Tapi maksudku...Bu_bukan begitu....." Raka terbata.
"Dia adikku, Renata" Jujur Gio akhirnya.
"Adikmu?" Raka menautkan kedua alis tebalnya.
"K_kau mengerjai ku?" Raka merasa ingin menyembunyikan dirinya akibat rasa malunya karena sudah sedikit berlebihan.
"Sorry, bro" Ucap Gio menepuk pundak Raka.
__ADS_1
Dan saat mereka sedang berbincang, pesanan Renata datang.
"Maaf...aku memesan makan lebih dulu. Perutku sudah sangat lapar karena menunggu dirimu" Gio terbelalak kaget ketika mendengar ucapan formal dan lebih sopan yang keluar dari mulut adiknya.
Ia tidak menyangka adiknya yang suka ceplas ceplos berbicara kini sedang bicara lebih sopan.
"Gadis pintar" Ucap Gio dalam hati.
"Tidak apa-apa, Nona. Sekali lagi aku minta maaf karena membuat kalian menunggu" Ucap Raka tidak enak hati.
"Baiklah ..sebaiknya kita juga memesan makanan. Kita lanjut ngobrolnya setelah makan" Gio memanggil pelayan dan kembali memesan makanan untuknya dan Raka.
"Permisi...Aku mau ke toilet" Renata pamit ke kamar kecil untuk mencuci tangannya sebelum menyantap makan malamnya.
Manik Raka tidak berhenti menatap Renata hingga ia menghilang dibalik tembok pembatas.
"Apa adikku, cantik?" Pancing Gio.
"Dia sangat cantik" Jawab Raka tanpa sadar.
"Tapi dia tidak mudah untuk didekati. Dia tipe gadis yang sulit menjalin hubungan dengan orang asing. Dia juga sedang menyelesaikan S2 nya"
"Hei...apa maksudmu mengatakan itu?" Raka merasa heran dengan teman yang juga rekan bisnisnya.
"Ck...kau sungguh tidak peka!" Gio menatap Raka malas.
"Kau ingin aku mendekati adikmu?" Tanya Raka berhati-hati. Ia tidak mau salah lagi.
Gio menoleh ke belakang sebelum mengangguk.
"Apa adikmu baru putus cinta?" Tanya Raka lagi penuh selidik.
"Dia bahkan belum pernah mempunyai hubungan dengan siapapun. Namun dia patah hati sebelum waktunya" Jawab Gio dengan wajah serius.
"Benarkah?" Raka benar-benar terkejut.
"Tapi bagaimana mungkin? Dia cantik, anggun juga pintar. Pria mana yang tega menolaknya? Dia bahkan terlihat sempurna" Raka benar-benar heran.
"Sudah ku bilang...dia gadis yang tidak mudah didekati dan tidak mudah membuka hati. Jadi...kuharap kau bisa mendekati nya" Pinta Gio bersungguh-sungguh.
"Baiklah...aku akan mencobanya" Gio tersenyum puas mendengar jawaban sabahatnya.
"Hei..adikku bukan untuk kelinci percobaan, kau tahu? Aku memilihmu setelah sekian purnama aku berpikir dengan jernih. Jadi jangan kecewakan aku" Ucap Gio penuh harap.
"Lagipula kau belum punya pasangan, bukan?" Raka mengangguk dengan senyum yang menampakan lesung pipit dikedua pipinya.
Bukan hal yang sulit bagi Gio untuk menemukan pria mapan dan tampan untuk ia dekatkan dengan adiknya. Namun menemukan pria yang baik fisik dan hati bukanlah hal mudah. Dan bagi Gio, Raka adalah pria dengan kepribadian yang baik.
Gio mengenalnya saat sama-sama mengikuti konferensi pengusaha muda seluruh Indonesia beberapa tahun lalu. Mereka kemudian saling tertarik dengan bidang usaha yang dijalankan masing-masing. Kemudian memutuskan untuk menjalin kerja sama. Termasuk salah satu perusahan jasa milik Daniel hingga mereka bertiga berteman dengan sangat baik.
Renata kembali ke mejanya dan pada saat itu pesanan Raka dan Gio pun datang. Mereka makan malam bersama dengan diselingi obrolan sekitar perkembangan bisnis.
Renata terlihat nyaman dengan Raka. Itu terlihat dari sikapnya yang tidak cangung dan segan mengutarakan candaan-candaan kepada Raka. Begitu juga Raka. Membuat Gio menyunggingkan senyumnya dengan puas. Ia harap ini menjadi awal yang baik untuk keduanya.
Gio berharap Renata bisa melupakan Daniel dan mulai membuka hatinya untuk Raka. Semua akan Gio lakukan untuk kebahagiaan adik kesayangannya.
__ADS_1