
Dua minggu berlalu begitu cepat. Daniel kembali sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Sementara Medina sibuk dengan rutinitas barunya yaitu mengatur kamar dan semua persiapan untuk calon buah hati mereka yang sebentar lagi akan lahir.
Selama dua Minggu itu pula Daniel selalu pulang larut malam. Kebersamaan mereka hanya ada di waktu pagi sebelum Daniel pergi ke kantor. Dan itu membuat Medina merasa kesepian meskipun ada banyak asisten rumah tangga menemaninya.
Namun ada yang berbeda pagi ini. Medina terlihat sangat bersemangat ketika menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya. Karena Daniel akan mengajaknya untuk mengunjungi dan melihat-lihat kantor barunya yang sedang tahap renovasi.
"Terimakasih, Bi." Ucap Medina setelah semua menu telah siap.
"Pelan-pelan Nona." Pesan bibi ketika Medina membawa kotak bekal dengan terburu-buru.
"Iya Bi, terimakasih." Medina terkekeh sendiri.
"Setelah ini, bibi dan yang lainnya bisa sarapan." Katanya sambil mencuci tangan diwastafel dapur.
"Aku akan memanggil suamiku untuk sarapan."
"Baik, Non." Sahut sang asisten yang dipanggil bibi karena usianya yang sudah hampir kepala lima.
Medina meninggalkan dapur dan mengayunkan kakinya ke dalam kamar. Perut yang semakin membesar tidak menjadikannya mengurangi aktifitasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Ia masih saja terlihat energik dan bersemangat jika melakukan pekerjaan, meski kadang harus berdebat dengan sang suami yang selalu saja melarangnya melakukan apapun.
"Sayang...sarapan sudah siap." Medina yang telah masuk kedalam kamar melihat suaminya yang sedang menyisir rambut.
Daniel menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan bidadari hatinya, lalu merentangkan kedua tangannya. Memberi kode agar sang bidadari yang sedang berjalan kearahnya masuk kedalam pelukannya.
"Suamiku semakin tampan." Puji Medina sebelum masuk kedalam pelukan suaminya.
"Hahaha...aku tidak bisa dipeluk dari depan." Medina tertawa geli saat kedua tangannya tidak bisa menjangkau tubuh suaminya. Karena justru perut besarnya lah yang lebih dulu beradu dengan tubuh Daniel.
"Berbaliklah." Daniel memutar tubuh Medina dengan pelan. Lalu memeluknya dari belakang.
"Aku bahkan masih bisa merengkuhmu dalam dekapanku." Ucap Daniel dan istrinya mengangguk sambil tertawa.
"Bahkan setiap malam dan pagi hari kamu mendesah panjang dibawahku." Bisiknya absurb. Dan satu cubitan mendarat di lengan kekarnya. Membuat Daniel mengaduh bukan karena sakit namun karena terkejut.
"Kenapa selalu saja mengarah kesana?" Daniel tergelak mendengar omelan istrinya.
"Sarapannya hampir dingin. Aku akan siap-siap." Medina menyudahi obrolan mesum suaminya. Karena jika tidak, awalnya yang hanya sekedar obrolan akan berubah menjadi adegan real.
"Baiklah...tapi berikan satu ciuman." Medina memutar bola matanya dengan malas. Namun ia menuruti permintaan sang suami.
****
Dikota lainnya, Pak Sanjaya dan Ibu Melani beserta pengantin baru Fian dan Donita sedang mempersiapkan diri akan yang berangkat ke Kota J. Begitu juga dengan orangtua dan keluarga Donita. Mereka semua akan berangkat untuk mempersiapkan pesta resepsi pernikahan Fian dan Donita.
"Rasanya kita jahat sekali tidak mengabari Medina jika kita akan datang." Ibu Melani sedari tadi gelisah memikirkan Medina yang tidak diberitahu kedatangan mereka dan rencana resepsi pernikahan Fian yang akan diadakan lusa dihotel milik Ibu Melani.
"Dia tidak akan bisa diam jika diberitahu." Ucap Ayah Sanjaya.
"Ini kejutan untuknya." Fian menimpali.
"Biarkan ibu menghubunginya sebentar." Ibu Melani mengambil ponsel didalam tas namun ditahan oleh Fian.
"Kita sudah sepakat dengan Daniel, Bu. Jangan merusak rencananya. Atau semuanya akan sia-sia." Ucap Fian mengingatkan janji mereka kepada Daniel untuk tidak memberitahu Medina tentang kedatang mereka ke kota J.
"Padahal ibu hanya ingin mendengar suara putriku." Kesalnya dengan wajah cemberut.
"Sudah...sudah. Kita semua akan bertemu dengan Medina. Jadi tahan sebentar lagi." Ucap Pak Sanjaya melerai debat ibu dan anak laki-lakinya.
"Lebih baik sekarang kita berangkat." Pak Sanjaya merangkul istrinya keluar rumah. Lalu disusul Fian dan Donita dibelakang.
Keempatnya menaiki mobil terpisah namun tetap beriringan menuju bandara. Sementara keluarga Donita berangkat dari rumahnya. Semua orang akan datang bersamaan dan akan langsung kerumah Medina tanpa sepengatuannya.
Sesuai rencana yang mereka sepakati dengan Daniel, mereka akan memberi kejutan untuk Medina dengan kedatangan semua keluarganya dan keluarga besan ke rumah Medina tanpa memberi kabar.
__ADS_1
Daniel yang merupakan pemimpin Genk, sengaja mengajak Medina ikut dengannya untuk melihat kantor barunya. Karena rumah mereka akan sedikit ada dekorasi kecil-kecilan dan tatanan meja-meja makanan yang akan dimasak oleh para chef yang dikirim dari hotel milik Pak Sanjaya. Dan tentu saja harus tanpa sepengatuan istrinya.
Sebenarnya Daniel tidak tega mengajak Medina ke kantor dengan kondisinya yang sekarang. Tapi ia tidak ingin semua rencananya berantakan. Maka dari itu, Daniel membawa istrinya berkeliling hingga saatnya tiba mereka pulang kerumah.
****
"Honey...apa kamu lelah?" Daniel yang sejak tadi gelisah karena mengkhawatirkan istrinya terus aja menanyakan hal itu kepada Medina.
"Aku justru sangat senang, sayang. Seharian ini aku bisa menempel dengan suamiku. Dan itu adalah hal yang langka." Wajah Medina berbinar, tanpa merasa curiga sedikitpun kepada suaminya.
Meski ia akui sedikit lelah, namun tidak membuatnya merasakan apapun selain kebahagiaan bisa menemani suaminya.
"Benar kamu tidak lelah?" Daniel meyakinkan istrinya. Karena sejak pagi hingga hari menjelang sore, mereka masih berada dikantor.
"Iya."
"Yakin tidak lelah?" Tanya Daniel lagi namun kali ini menggoda.
"Kenapa?" Medina mulai menyadari jika suaminya sedang menggodanya.
"Berarti malam nanti aku bisa mengunjunginya?" Bisiknya sambil mengusap perut buncit istrinya membuat wajah Medina merona karena malu.
Daniel mendekatkan wajahnya. Posisi Medina yang berada diatas pangkuannya membuat Daniel lebih mudah melancarkan aksinya. Namun saat aksi mencium istrinya hendak dilakukan, suara pintu terdengar diketuk dari luar.
"Ishh!!! menganggu saja." Gerutu Daniel membuat Medina tertawa.
"Kita yang salah dan tidak sadar tempat." kekeh Medina.
"Aku akan menghubungi Arif. Dan memarahinya." Daniel yang setengah kesal meraih gagang telepon yang ada diatas meja kerjanya.
"Jangan konyol....!" Medina langsung mengambil gagang telepon yang sudah dipegang suaninya dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Baiklah..aku akan menyuruh orang didepan pintu itu masuk dan memarahinya."
"Tung__" Medina belum selesai namun suaminya sudah berteriak.
Medina yang masih berada diatas pangkuan suaminya membulatkan matanya ketika Daniel memerintahkan seseorang itu untuk masuk.
"Aku akan turun." Medina hendak turun dari pangkuan suaminya. Namun lengan kekar Daniel menahan tubuhnya.
"Biarkan seperti ini. Jadi mereka tahu jika mereka sudah mengganggu kita." Ucap Daniel membuat Medina melotot.
"Peluk aku saja, jika kamu malu." Daniel menahan kepala Medina agar merebah di bahunya dengan posisi wajah Medina ke belakang.
"Selamat sore, Pak." Sapa Karin saat dirinya sudah berada didalam ruangan. Ia menahan senyum saat melihat posisi Medina yang ia yakin jika sahabatnya itu sedang menyembunyikan dirinya.
"Istriku akan manja jika mood nya sedang buruk." Jelas Daniel saat pandangan Karin tertuju pada Medina yang berada diatas pangkuan bosnya. Medina yang mendengar itu hanya bisa diam sambil menahan kesal.
"Apa ibu Medina baik-baik saja pak?" Karin khawatir jika Medina sedang tidak enak badan.
"Dia baik-baik saja, tenanglah. Dia hanya kelelahan. Ada apa?" Tanya Daniel tak ingin memperpanjang interogasi sekretarisnya.
"Maaf pak, baru saja pak Danu menghubungi__" Ucap Karin. Namun belum juga ia selesai, Bos nya langsung memekik hingga membuat dirinya terkejut.
"Ya Tuhan!! Aku lupa!!" Teriak Daniel membuat Medina langsung mengadahkan wajahnya menatap suaminya.
"Ada apa?" Medina yang sejak tadi memeluk menyembunyikan wajahnya langsung terbangun dan menatap wajah suaminya.
"Aku ada janji dengan Kak Danu. Tapi aku benar-benar lupa." Daniel berusaha menutupi kenyataan jika sang kakak menelepon untuk memberitahu, jika semua keluarga sudah berkumpul dirumah mereka.
"Ya sudah...tunggu apalagi? Pergilah." Medina merasa tidak enak karena tidak mengingatkan suaminya. Tapi ia benar-benar tidak tahu jika suaminya memiliki janji dengan kakak iparnya..
"Sudah terlambat...untuk apa kesana?" Daniel Pura-pura melihat jam tangan..
__ADS_1
"Setidaknya hubungi kak Danu." Medina mulai gemas dengan suaminya.
"Aku tidak akan pergi, karena pekerjaanku belum selesai." Daniel memberi alasan.
"Pekerjaan apa?" Tanya Medina. Merasa jika suaminya hanya duduk dan menggodanya.
"Aku sedang menunggu__" Daniel menutup mulutnya. Hampir keceplosan jika ia menunggu Arif yang diminta Daniel untuk mengambil pesanan pakaian di butik langganan mereka.
"Menunggu siapa?" Medina memicingkan matanya. Lalu ia melirik Karin yang masih berdiri ditempatnya.
"Karin...kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu." Titah Daniel saat menyadari tatapan interogasi istrinya.
"Baik, pak." Karin langsung meninggal ruangan setelah titah dari bosnya.
"Sayang...kamu belum__" Daniel langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Mengalihkan perhatian istrinya yang akan meminta penjelasan.
"Sebaiknya kita bersiap-siap pulang." Daniel melepas ciumannya dan menatap intens wajah istrinya.
"Selalu saja seperti itu." Gerutu Medina membuat Daniel mencubit pipinya karena gemas.
"Seperti itu bagaimana?" Godanya sambil mengusap pipi Medina yang terlihat chubby.
"Kamu tidak mau terbuka apapun denganku." Manik Medina mulai berkaca-kaca.
"Setiap malam aku selalu terbuka." Canda Daniel dan satu pukulan tidak bertenaga mendarat didada Daniel.
"Sudahlah...aku mau pulang sendiri saja." Medina turun dari pangkuan Daniel.
"Honey...."
"Telepon saja mang Jaka untuk menjemputku. Tidak perlu, aku akan naik taksi saja." Medina mengambil tas yang ada diatas sofa.
Saat suami itu berdebat, Arif langsung masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Eh...maaf bos." Arif memalingkan wajahnya saat melihat bosnya yang menatap tajam padanya.
Setelah meletakkan dua paperbag diatas meja, Arif langsung bergegas keluar ruangan Daniel tanpa sepatah katapun.
"Jangan marah...aku hanya ingin kamu fokus pada bayi kita saja." Bujuk Daniel namun istrinya sudah dalam kondisi mode kesal.
"Sebaiknya kamu mandi disini dan ganti pakaian." Daniel menuntun istrinya berjalan menuju kamar mandi..
"Kenapa menyuruhku mandi?" Mode kesalnya semakin menjadi-jadi..
"Honey....lihat jam berapa ini? Jika kamu mandi dirumah sudah pasti akan kemalaman dan itu tidak baik untuk kesehatan." Daniel masih sabar membujuk istrinya.
Medina terdiam dan tampak berpikir. "Aku sudah menyiapkan baju gantinya." Daniel mengambil paperbag dan menyerahkannya kepada istrinya.
"Baiklah." Pada akhirnya medina menurut karena dia juga merasakan jika tubuhnya sudah sangat lengket meskipun hanya berdiam diri didalam ruangan.
"Aku akan menemui Arif sebentar." Daniel mencium kening Medina sebelum istrinya masuk kedalam kamar mandi.
Daniel mengembuskan nafasnya dengan kasar. Hampir saja ia ketahuan dan semua kejutan yang ia buat akan berantakan. Satu masalah teratasi, kini ia harus menemui Arif dan Karin yang juga bagian dari rencana Daniel.
_
_
_
_
_
__ADS_1
_
_