Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 113


__ADS_3

Sementara itu dikota lain, pak Sanjaya sedang menghadapi kemarahan kedua adik perempuan serta adik laki-laki dari almarhum papanya. Mereka semua meminta penjelasan atas pembagian aset yang telah dilakukan pak Sanjaya untuk Fian dan satu nama yang belum mereka kenal.


"Aku tidak menyangka, kalian akan secepat ini mengetahuinya." Pak Sanjaya tertawa sinis dengan tatapan yang tajam.


"Katakan siapa gadis bernama Medina itu, Mas? Apa dia anak hasil hubungan gelapmu dengan wanita lain?" Tanya adik perempuan pertama Pak Sanjaya yang bernama Lisa.


"Tutup mulutmu, Lis!!" Bentak pak Sanjaya dengan tatapan penuh amarah.


"Atau anak hasil hubungan gelap istrimu dengan pria lain?"


Plakkk!!!


Pak Sanjaya tidak dapat menahan lagi amarahnya atas perkataan Lisa.


"Keluar dari rumahku, sekarang!!" Usir pak Sanjaya kepada Lisa.


Sementara adik perempuan kedua dan paman pak Sanjaya hanya bisa diam tidak melakukan pembelaan apa-apa. Mereka sadar telah membangunkan sisi lain dari pak Sanjaya yang selama ini mulai berubah.


"Karena kalian semua!! Aku dan istriku harus...." Ibu Melani menarik tangan pak Sanjaya dan menggeleng pelan.


"Medina adalah putri kami yang aku buang dua puluh empat tahun yang lalu." Suara ibu Melani terdengar lembut namun penuh dengan emosi.


"Kalian selalu mengintimidasi ku untuk melahirkan seorang putra sebagai syarat agar aku tetap bisa diterima di keluarga ini. Namun....pada kenyataannya, aku melahirkan seorang bayi perempuan." Air mata ibu Melani mulai mengalir deras.


Semua orang tercengang mendengar kalimat kebenaran yang diucapkan ibu Melani.


"Berarti...anakmu tidak meninggal?" Tanya paman pak Sanjaya tidak percaya.


"Iya....aku melahirkan seorang bayi perempuan dan aku menyembunyikan dia selama dua puluh empat tahun dari kalian." Teriak ibu Melani.


"Aku terpaksa berbohong pada suamiku dan tidak pernah bertemu dengan putriku selama hidupnya, karena ancaman kalian."


"Apa?" Pak Sanjaya terkejut. Ia mendekati istrinya dengan tatapan nanar.


"Mereka mengancam mu?" Suara pak Sanjaya terdengar berat menahan emosi.


"Ya mas. Mereka mengancamku....jika sampai bayi yang aku lahirkan adalah seorang bayi perempuan, mereka akan mengambil anakku dan memisahkan kami." Tatapan ibu Melani tertuju pada paman pak Sanjaya.


"Tapi kau juga sudah membuang bayi itu atas inisiatifmu sendiri, jangan melempar kesalahan kepada orang lain, Mel." Sahut Pak Subrata paman pak Sanjaya.


"Setidaknya aku mengenal orang yang akan merawat anakku dengan tulus. Sebelum kalian melakukan hal yang lebih pada putriku." Jawab Ibu Melani sengit.


"San....itu tidak benar" Pak Subrata mencoba mengalihkan perhatian pak Sanjaya.


"Dari dulu aku merawatmu seperti putraku sendiri. Mana mungkin aku tega melakukan hal itu kepada keturananmu." Lanjutnya dengan wajah sendu. Ia berharap Sanjaya selalu mendengarkan perkataannya seperti dulu.


"Cukup, om!!" Bantah Pak Sanjaya.


"Aku menganggap om seperti ayah kandung bagiku. Aku tidak menyangka, om tega berbuat seperti itu pada keluargaku."


"Kali ini aku tidak akan mudah kalian hasut. Puluhan tahun aku mengorbankan kehidupan rumah tanggaku hanya untuk mendengar dan menuruti kalian. Tapi tidak lagi...!!" Pak Sanjaya dan pak Subrata saling berhadapan.


Kedua adik perempuan Pak Sanjaya tampak terkejut dan memilih menunduk kan kepalanya.


"Aku sudah membuat keputusan. Tidak ada yang bisa mencegahnya." Pak Sanjaya membelakangi semua orang dan melangkah jauh.


"Dan satu hal yang harus kalian ingat baik-baik." Pak Sanjaya berbalik.


"Jangan coba-coba menvari tahu dan mengusik kehidupan putriku. Atau jika itu terjadi, kalian akan menyesal." Pak Sanjaya meninggalkan semua orang.


"Kalian sudah tahu pintu keluar rumah ini, bukan?" Ibu Melani menatap ketiganya secara bergantian.


"Cih....kamu pikir sudah menguasai kakakku?" Ucap Lisa sinis.


"Kenapa? Kalian takut?" Tantang ibu Melani.


"Dulu aku selalu diam atas semua tindakan kalian. Tapi mulai hari ini...aku akan melawan semua sikap dzolim kalian." Ucap ibu Melani sebelum meninggal ketiga orang itu.


Ketiganya menatap punggung Ibu Melani yang menjauh dengan perasaan kesal.


"Om... bagaimana sekarang?" Lisa berdiri dari duduknya. Ia terlihat gusar melihat sikap kakak laki-laki nya yang jauh berbeda.


"Om belum tahu, Lis. Akan om kabari nanti." Pak Subrata berjalan keluar rumah mewah pak Sanjaya. Ia harus memutar otak agar pembagian aset Sanjaya Group tidak jatuh kepada kedua anak Sanjaya, Fian dan Medina.


"Aku akan menguasai semuanya." Gumamnya dengan tangan mengepal kuat.


Ia menaiki mobilnya lalu meninggalkan rumah pak Sanjaya.

__ADS_1


Sementara Lisa dan adiknya yang bernama Rini, masih duduk diruang tengah. Mereka memikirkan langkah selanjutnya agar kakaknya tidak melepas aset milik Sanjaya Group kepada orang lain.


"Anak-anak kita lebih berhak mendapatkan pembagian aset lebih besar daripada anak pungut itu." Sungut Lisa kesal..


"Lis...sepanjang yang ku tahu, aset yang dibagi kak Sanjaya bukanlah aset keluarga. Itu murni milik pribadi kak Sanjaya." Rini yang berpenampilan lebaih kalem mencoba untuk menenangkan amarah kakak nya.


"Aku tidak peduli, Rin. Aku ingin semua aset yang dipegang kak Sanjaya, dibagikan hanya kepada kita." Bantah Lisa.


"Aku akan mencari cara apapun, agar aset itu tidak jatuh dan menjadi milik orang lain." Lisa yang masih kesal meninggalkan Rini begitu saja dirumah kakaknya.


Rini hanya mendesah pelan. Sebenarnya ia sudah lelah terus mengejar hal yang bukan keinginannya. Ia sudah memiliki keluarga dan hidup berkecukupan. Dan tidak kekurangan apapun. Namun ia tidak bisa berbuat banyak ketika dicecar desakan dan hasutan Lisa dan om Subrata.


"Aku akan bicara dengan kak Melani." Rini beranjak dari ruang tamu untuk mencari kakak iparnya.


****


"Sayang....kenapa kamu menyuruh ku menampung urineku?" Wajah Medina yang polos semakin menambah kepolosan nya dengan pertanyaan nya.


"Yang aku tahu, seseorang akan diminta menampung urine ketika pemeriksaan dilaborarium Rumah sakit. Itu yang aku lakukan dulu saat Bapak dan ibu sakit keras." Ucapnya dengan suara pelan.


Daniel tersenyum penuh arti. Ia mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat.


"Kita akan tahu setelah kita mengeceknya." Jawab Daniel.


"Apa karena aku muntah, kalian menganggapmu sakit?" Manik Medina berkaca-kaca.


"Honey...tidak seperti itu. Duduklah....aku akan mengambil hasilnya." Daniel meninggalkan Medina yang masih bingung.


Subuh tadi setelah Medina menampung urinenya, Daniel langsung mengambil 4 alat test kehamilan yang dibelinya dengan berbagai merk. Lalu melakukan hal yang seharusnya dilakukan.


Daniel sengaja meninggalkan empat alat tes kehamilan yang sudah digunakan dan tidak langsung menunggunya.


Selepas sholat subuh dan berdoa, barulah Daniel mengambil 4 alat itu.


Dengan perasaan yang berdebar, Daniel memperhatikan satu persatu alat yang sudah mengeluarkan hasilnya.


Dengan tangan gemetar Daniel menjejerkan keempat alat itu diatas handuk kecil. Senyum bahagia menghiasi wajah tampan pria berusia 33 tahun itu.


"Alhamdulillah." Tanpa terasa airmata Daniel mengalir membasahi pipinya.


Daniel tersadar saat terdengar suara Medina dari balik pintu kamar mandi.


Daniel tersenyum dan langsung memeluk istrinya dengan erat. Bahkan Daniel menangis sambil menghujani Medina ciuman bertubi-tubi.


"Kak....ada apa?" Medina akhirnya ikut menangis.


"Syifa akan punya dua adik sekaligus." Ucap Daniel lembut.


"Apa?"


"Kak Rani mengandung anak kembar?" Tanya Medina polos.


Daniel menggeleng lalu menurunkan tatapan nya pada perut Medina yang masih rata.


"Ada adik Syifa yang kedua disini." Tangan Daniel mengelus perut Medina yang tertutup piyama.


"A_apa?"


"Kamu positif hamil, Honey. Kita akan menjadi orangtua." Ucap Daniel dengan wajah bahagia.


"Benarkah?" Medina masih belum percaya dengan yang disampaikan oleh suaminya.


"Lihat ini...." Daniel menunjukkan empat alat tes kehamilan kepada Medina.


Medina menerimanya dan memperhatikanya dengan seksama. Air matanya kembali mengalir deras saat menyadari semua hasil yang terpampang dikeempat alat itu.


Medina memeluk keempat alat itu didadanya. Ia mengarahkan wajhanya dan menatap suaminya yang juga menatapnya.


"Selamat, Honey." Ucap Daniel lalu mencium bibir Medina dengan lembut. Dan Medina membalasnya.


"Aku ingin memberi tahu mama." Ucap Medina setelah melepas ciumannya.


"Kita akan memeriksakannya terlebih dahulu. Baru kita memberi tahu mama dan yang lainnya." Daniel mencium kening Medina lalu kembali meraih tubuh Medina kedalam pelukannya.


"Kita akan ke dokter?" Tanya Medina.


"Hemmm."

__ADS_1


"Aku akan membuat sarapan." Medina melonggarkan pelukannya, namun tidak dengan Daniel.


"Sayang...." Rengek Medina saat tahu suaminya tidak melepaskan pelukannya.


"Sebentar lagi...." Gumam Daniel.


"Aku sangat lapar, kamu tahu?" Medina mencari ide agar suaminya melepaskan pelukannya.


Dan benar saja. Seketika itu, Daniel langsung melonggarkan pelukannya.


"Jangan bekerja terlalu berat."


"Aku hanya membuat sarapan, bukan mengangkat lemari." Bibir Medina melengkung manis.


"Aku yang akan membuat sarapan perdana untuk calon anak kita." Ucap Daniel menggandeng tangan Medina keluar kamar.


Medina hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah suaminya. Ini baru awal dan Medina yakin jika suaminya akan menjadi sangat posesif dengan berjalannya waktu kehamilannya nanti. Namun Medina mencoba mengerti, apa yang akan dilakukan suaminya tentunya untuk kebaikan dirinya dan anak yang dikandungnya.


Setelah selesai sarapan, Daniel membawa istrinya. Dan disinilah mereka sekarang. Ruang tunggu poli kandungan di Rumah sakit internasional.


Sikap Daniel yang dianggap berlebihan, membuat Medina merasa malu. Bagaimana tidak? Tanpa rasa malu, Daniel selalu menanyakan keadaan istrinya dihadapan banyak orang.


"Apa kamu lelah, Honey?" Entah sudah pertanyaan yang ke berapa Daniel mengajukan pertanyaan itu kepada Medina.


Hingga akhirnya nama Medina dipanggil oleh perawat yang bertugas di poli kandungan.


Setelah dilakukan pemeriksaan tensi darah dan berat badan, Medina duduk didepan meja dokter.


"Selamat pagi." Sapa dokter wanita yang tampak masih terlihat anggun dan cantik.


"Selamat pagi, Dok." Jawab Medina dan Daniel bersamaan.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya dokter menatap wajah Medina.


"Begini dok...tadi pagi kami melakukan pemeriksaan mandiri dan ini hasilnya." Daniel mengeluarkan kantung kecil yang berisi tespack dari dalam sakunya.


Dokter itu menerimanya dan tersenyum cantik.


"Wahhh...selamat untuk kalian. Apa ini kehamilan pertama?" Tanya dokter yang bernama Meyri.


"Iya betul, dok." Jawab Daniel dengan antusias.


"Baiklah...silahkan ibu naik ke ranjang. Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


Daniel membawa Medina untuk berbaring fiatas brangkar, sementara ia berdiri disampingnya dengan menggenggam tangan Medina.


Perawat membantu dokter Meyri dengan cekatan.


"Apa anda tegang?" Dokter Meyri melihat wajah Medina yang sedikit kaku.


"Iya" Jawab Medina pelan. Lalu menatap suaminya.


Dokter Meyri tersenyum lebar. Dan memulai melakukan pemeriksaan dengan alatnya.


"Kalian lihat ini?" Medina dan Daniel langsung menoleh ke arah monitor.


Keduanya masih menunggu penjelasan dokter Meyri yang terus menjalankan alat USG diatas perut Medina.


"Sudah adalah kantung janinnya....dan titik hitam ini adalah calon janinnya. Kondisinya sangat bagus dan normal. Ini pertanda kehamilan awal yang sangat baik." Jelas dokter Meyri.


Daniel tersenyum bahagia mendengar penjelasan dokter. Sementara mata Medina tampak berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya, jika dalam rahimnya kini akan tumbuh buah cintanya dengan suaminya.


Setelah pemeriksaan Selesai, keduanya keluar dengan membawa salinan resep yang diberikan dokter Meyri. Kini mereka harus kembali duduk mengantri dikursi tunggu untuk mendapatkan beberapa vitamin yang diresepkan dokter.


Daniel terus menatap istrinya tanpa lelah. Bahkan sejak meninggalkan ruang pemeriksaan, jemari Daniel tidak melepaskan genggamannya pada jemari Medina. Bahkan sesekali Daniel menciumi punggung dan telapak tangan istrinya dengan lembut dan mesra.


Meski sedikit risih karena mereka berada ditempat umum, namun Medina menyadari jika hal itu adalah salah satu bentuk rasa syukur dan bahagia Daniel atas kehamilannya.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak kebaikan kalian ya. 😊😘


__ADS_2