
Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul 9.40 pagi.
Tapi belum ada tanda-tanda Daniel dan Danu datang.
Medina ingin segera memberitahukan mereka berdua..jika siang ini ibu Safira sudah boleh pulang.
_Flashback on_
"Selamat pagi ibu Safira..." Sapa dokter Mahdi yang notabene adalah dokter jantung ketika sudah diruangan. Diikuti 2 orang suster yang membawa catatan rekam medis Ibu Safira.
"Selamat pagi Dok..." Jawab ibu Safira berbarengan dengan Medina.
"Bagaimana Hari ini? Masih ada yang dikeluhkan?" Tanya Dokter sambil mengarahkan stetoskop ke dada dan perut ibu Safira. Sebelumnya seorang suster memeriksa tensi dan seorang lagi mencatatnya.
Ibu Safira menggeleng pelan.
"Alhamdulillah tidak ada keluhan Dokter"
"tarik nafas pelan...oke bagus...lepaskan.." Pandu dokter.
Dengan pelan ibu Safira mengikuti instruksi dokter dan dokter berkali-kali mengangguk.
"Alhamdulillah bagus..siang ini ibu sudah boleh pulang. Nanti saya resepkan obat untuk 2 Minggu kedepan. Setelah obat habis ibu harus bertemu saya lagi. Jangan lupa diminum obatnya sampai habis dan jangan terlalu beraktivitas berat dulu..." Titah dokter panjang lebar.
Stelah menulis resep disebuah kertas resep, Dokter Mahdi memberikan nya kepada Medina.
"tebus obat ini di Depo Farmasi" Titah dokter lagi.
"baik dokter.." jawab Medina menerima lembar copy resep yang diberikan Dokter.
"Baiklah...saya pamit. Semoga lekas pulih dan harus tetap semangat ya Bu.." ucap dokter mengepalkan tangannya tangan nya ke atas. Seolah memberi semangat.
Ibu Safira tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih banyak Dokter..." Ucap ibu Safira.
_flashback off_
Cukup lama Medina menunggu. Ia duduk disofa sambil membaca buku. Ia terus melirik jam tangannya.
"udah jam 12" Gumam Medina.
Medina melirik sekilas ibu Safira yang kini tertidur pulas. Selang infus yang sejak beberapa hari tetancap ditangan nya kini sudah dilepas 2 suster tadi pagi.
__ADS_1
Karena merasa badannya pegal, Medina yang sedang membaca buku disofa lalu merebahkan diri. Awalnya Medina hanya ingin tidur-tiduran tapi entah kenapa ia justru masuk ke alam bawah sadarnya lebih dalam. Nafasnya halus teratur.
Ceklek..
Langkah 2 laki-laki tampan memasuki ruangan setelah pintu terbuka.
"ssssstttttt..." Telunjuk ibu Safira menempel di bibirnya ketika Daniel hampir membuka suara.
Daniel mengangkat bahu.
"kenapa ma?" Tanya Daniel heran.
Daniel tidak menyadari ada seseorang yang sedang terbaring pulas disofa. Karena posisi Daniel yang membelakangi sofa.
Danu mencolek bahu Daniel lalu menunjuk ke arah sofa. Manik Daniel menoleh ke belakang. Dan menatap intens ke arah Medina.
"Eheemm.." Danu berdehem membuyarkan lamunan Daniel.
Daniel terlonjak. Hingga tubuhnya sedikit bergerak karena kaget.
"Dia cantik, Niel...??" Ledek Danu dibarengi senyum sang mama.
Daniel menggaruk kepala yang tidak terasa gatal. Wajahnya sedikit malu karena kepergok menatap Medina lekat.
"Mama sudah boleh pulang. Tadi pagi dokter Mahdi sudah memeriksa mama dan Alhamdulillah kondisi mama sudah lebih baik" jawab ibu Safira.
Sementara Medina yang masih terpejam, mulai samar-samar mendengar suara orang-orang sednag berbincang. Beberapa kali ia mengerjap hingga kemudian ia benar-benar membuka matanya.
Dan alangkah terkejutnya ketika manik Medina mendapati Danu dan Daniel sudah didepannya.
"Kalian sudah datang??" Medina bertanya sudah dengan posisi duduk dan merapihkan hijabnya.
"hei...maaf ya sudah membuat suara berisik.." Jawab Daneil dengan nada bercanda.
"ga gitu kak...maaf saya ketiduran. Habisnya..nungguin kalian lama banget datangnya. Sampe ngantuk-ngantuk nungguin nya..." Medina melirik Daniel dan Danu bergantian.
Danu terkekeh geli.
"maaf ya Med...Tadi ijinnya cuma pulang sebentar tapi jadi ngaret karena harus nungguin bos selesai meeting" Ledek Danu dengan bibir mengerucut.
Medina dan Ibu Safira tersenyum.
"Sudah-sudah...sekarang bantu mama bersiap-siap. Mama sudah kangen rumah" Ucap ibu Safira mengulurkan tangan ke arah Medina.
__ADS_1
Medina yang melihat itu dengan sigap meraih lengan ibu Safira dan menuntunnya masuk ke kamar mandi. Membantu membersihkan dan mengganti pakaian ibu Safira disana.
Gerak-gerik mereka tidak luput dari pandangan Danu dan Daniel.
Berkali-kali bibir Daniel tertarik ke atas melihat pemandangan dihadapannya.
"ku rasa, membawa gadis itu kerumah bukanlah ide buruk" Gumam Daniel yang disambut tepukan Danu pada pundak Daniel.
"Setidaknya sekarang, Lo bisa punya alasan untuk pulang kerumah kan??" Canda Danu sambil mengangkat turunkan alisnya.
Daniel yang mendengar kakaknya langsung menurunkan lengan Danu dari bahunya.
"apaan sih kak...mana pernah aku ga pulang? Aku pulang terus kok" Jawab Daniel dengan suara nyaring tidak mau kalah.
"iya Lo pulangnya ke kandang burung" ledek Danu lagi yang menyebut Apartemen yang ditempati adiknya dengan sebutan kandang burung.
Danu tergelak keras. Sementara Daniel hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan bilang kamu masih punya hubungan dengan siapa namanyaaa..hhhhmm...aaahh ya Farah???" Ucap Danu dengan alis terangkat.
"kakak pikir...aku jarang pulang kerumah, karena aku menyembunyikan hubungan ku sama Farah??" Suara Daniel mulai berat.
"yaa siapa tau kan?" Jawab Danu enteng.
Semenjak Danu memilih merenovasi paviliun di samping rumah orangtuanya menjadi hunian cantik minimalis untuk keluarga kecilnya. Daniel memang lebih banyak tinggal di apartemen. Karena kesibukannya dikantor, Daniel tidak bisa bolak-balik ke rumah karena jarak kantor dan rumah mamanya yang lumayan memakan waktu. Namun Daniel tetap menyempatkan untuk mengunjungi mamanya jika ada waktu luang.
Saat ini Daniel meneruskan bisnis almarhum papanya, dan berkembang jauh lebih pesat dari sebelumnya.
Sementara Danu, ia merintis bisnis secara mandiri. Dan saat ini bisnisnya sudah mulai bisa diperhitungkan dengan beberapa cabang dibeberapa kota besar di Indonesia.
Sadar akan aktifitas mereka yang padat, dan tidak bisa selalu mendampingi mamanya dalam kondisi seperti saat ini, akhirnya keduanya sepakat untuk membawa serta Medina untuk bekerja sebagi asisten ibu Safira. Terlebih karena sikap dan kepribadian Medina selama merawat mamany di Rumah sakit yang sudah mencuri hati semua orang.
"Mama tidak sesehat dulu, kita harus lebih banyak meluangkan waktu buat mama" Ucap Danu dengan wajah sendu.
Daniel mendekati Danu dan mereka saling berpelukan.
"Baiklah...aku akan sering pulang kerumah. agar beban kakak berkurang" Ucap Daniel menyeringai.
"Awww.." Danu refleks memukul punggung Daniel.
Daniel meringis kesakitan. Pukulan kakaknya tidak main-main meski tidak menggunakan tenaga dalam.
"urusan kita belum selesai, Kita harus bertemu dokter Mahdi meminta informasi seputar kesehatan mama" Ucap Danu dengan menarik tangan Daniel keluar ruangan.
__ADS_1
############