
Daniel benar-benar sibuk sepanjang hari ini hingga ia kembali kerumah hampir larut malam. Setelah memarkirkan mobilnya, Daniel berjalan dengan gontai masuk kedalam rumahnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan mengantuk.
Daniel membuka pintu dan berjalan masuk sambil mengendurkan dasi. Meletakkan tas diatas sofa lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.
Saat Daniel masuk kedalam kamar, maniknya langsung menatap sosok yang berada dibawah selimut. Ia mendekat lalu mengecup kepala istrinya.
Merasakan kecupan dan embusan nafas, Medina mengerjapkan matanya yang tertutup rapat. "Sayang..." Bibir tipisnya melengkung indah ketika Maniknya menangkap wajah suaminya.
"Kamu sudah pulang?" Medina hendak bangun namun tubuhnya ditahan oleh tangan kekar Daniel yang mengungkungnya.
"Maafkan aku...seharian ini aku sibuk sekali." Daniel ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Kakak rela meninggalkan perusahaan hanya untuk menemaniku." Medina menenggelamkan kepalanya pada dada suaminya.
"Apa mama jadi datang?" Tanya Daniel.
"Iya. Bahkan kak Rani dan Syifa ikut menyusul kesini."
"Hmm" Daniel semakin memeluk tubuh istrinya erat. Ia sangat lelah dan mengantuk.
"Sayang....hati minggu nanti kak Rani mengajakku pergi. Apa boleh?"
Tidak mendapat tanggapan, Medina mendongak. Ia tersenyum melihat suaminya yang telah terlelap.
"Kamu pasti sangat lelah." Medina bergerak ke atas dan mencium pipi Daniel.
"Selamat malam, Daddy." Medina kembali kedalam pelukan suaminya dan menyusul Daniel.
****
Adzan Subuh berkumandang dengan merdu dari ponsel Medina. Tinggal di lingkungan elit yang luas, agak susah untuk mendengar suara adzan langsung dari pengeras suara masjid karena jarak yang cukup jauh dari rumah Medina.
Medina mengerjap dan tangannya meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja samping tempat tidur.
"Sayang bangun. waktunya sholat subuh." Medina mencium pipi suaminya sebelum turun dari ranjang. Kebiasaan yang ia lakukan setelah menikah dengan Daniel.
Daniel menggeliat pelan. Matanya enggan terbuka. Namun saat tangannya meraba sisi tempat tidurnya kosong, Daniel langsung membuka matanya.
"Honey...." Daniel menyibak selimut dan turun dari ranjang. Kakinya melangkah ke arah kamar mandi.
Daniel tersenyum ketika pintu kamar mandi tidak terkunci. Ia membukanya dengan perlahan dan kembali menutup nya setelah ia masuk..
Daniel melihat istrinya yang tengah mandi dibawah shower dengan posisi membelakangi. Sehingga Medina tidak menyadari jika suaminya sudah berada didalam kamar mandi.
Daniel memeluk Medina dari belakang. Medina yang terkejut tidak bisa menahan suara teriakan nya.
"Sayang..." Medina mematikan kran.
"Kenapa? Aku juga ingin mandi." Bibir dan Tangan Daniel mulai beraksi pada tubuh Medina.
"Sayang...." Medina mulai gelisah karena menahan hasrat yang ditimbulkan akibat sentuhan suaminya.
"Aku janji akan cepat." Daniel membalik tubuh Medina dan memakan bibir merah jambu itu. Keduanya menikmati ciuman hangat dan basah. Dan melakukan penyatuan indah dan berakhir dengan kenikmatan.
Hari ini Daniel masih disibukkan dengan setumpuk pekerjaan dikantor. Mengharuskan ia tetap harus berangkat pagi.
Daniel menyantap sarapan dengan cepat, ia tidak ingin makan berat, hanya sandwich dan teh herbal buatan Medina. Katanya supaya tubuh suaminya fit sepanjang bekerja.
__ADS_1
"Aku berangkat." Daniel mencium dahi Medina lalu berjongkok untuk menyapa calon bayi.
"Daddy berangkat ya sayang. Sehat-sehat ya, anak Daddy." Daniel mencium perut buncit istrinya. Meninggalkan rasa geli karena Daniel mencium nya bertubi-tubi.
"Ah...aku belum minum vitamin ku." Daniel tersenyum menatap istrinya.
Tahu maksud perkataan suaminya, Medina ambil posisi waspada, melihat sekelilingnya. Takut asisten dirumahnya melihat adegan mereka.
Daniel sengaja membungkuk kan tubuhnya agar istrinya bisa meraih bibirnya tanpa bersusah payah berjinjit.
CUP!!
Suara kecupan terdengar nyaring. Karena Medina melakukan nya dengan terburu-buru.
"Itu hanya sedikit yang menempel." Protes Daniel saat Medina sudah menjauhkan tubuhnya.
"Besok lagi." Elak Medina sambil tertawa.
"Baiklah. Akan aku tagih nanti." Daniel mengerlingkan matanya. Membuat Medina melotot tidak percaya.
Sejak kapan suaminya mulai berubah genit. Batinnya.
Selepas kepergian Daniel, Medina masuk kembali ke kamar. Ia membuka laci dan mengambil liontin yang diberikan bidan Nurul.
"Aku merindukan kalian." tanpa sadar air mata Medina mengalir tanpa permisi.
"Medina sudah memaafkan kalian. Medina juga sangat menyayangi kalian. Tapi Medina butuh waktu sebentar lagi." lirihnya pelan.
Medina langsung menghapus air matanya ketika ponsel nya berdering.
"Assalamualaikum, ma."
"Tidak apa-apa, Ma."
"Mama harus ke rumah Tante Latifah. Dan mungkin akan menginap."
"Iya, ma."
"Atau kamu ikut mama kesana? Nanti Daniel bisa jemput kami setelah pulang kerja. Bagaimana?"
"Medina akan kabari mama lagi."
"Mama tunggu ya nak."
"Iya, ma. Assalamualaikum." Medina menutup panggilan mama Safira.
Sesaat Medina berpikir, beberapa hari belakangan suaminya sangat sibuk bekerja dan selalu pulang larut malam. Daniel tidak mungkin ada waktu untuk menjemputnya kesana. Apalagi rumah Tante Latifah cukup jauh dari rumah mereka yang sekarang.
Medina akhirnya mengambil keputusan untuk tidak ikut mama mertuanya pergi. Medina kembali menghubungi mama Safira dan mengatakan jika dirinya tidak bisa ikut dan menjelaskan alasannya.
Medina menatap ponselnya. Jemarinya tampak bergerak menyentuh kontak seseorang yang sangat ia rindukan. Namun dengan buru-buru Medina meletakkan ponselnya diatas meja. Mengurungkan niatnya.
Namun saat Medina hendak bangun, ponselnya justru berdering. Medina menoleh dan membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Billa...?" Medina langsung mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum, Bil." Suara Medina terdengar bahagia.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam mbak. Kabar Billa baik. Mbak kemana saja? Kenapa nomor ponsel mbak Medina tidak aktif? Billa merindukan mbak Medina." Billa mencecar Medina dengan banyak pertanyaan membuat Medina tertawa.
Keduanya mengobrol panjang lebar tanpa sadar waktu. Karena sudah lama mereka tidak saling memberi kabar. Medina juga tidak lupa menanyakan kabar pakde dan budhe nya, juga kabar Salsa.
Medina menarik nafasnya panjang setelah menutup sambungan teleponnya.
"Apa kalian baik-baik saja?" Bagaimana pun Medina sudah terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang dari pak Sanjaya dan Ibu Melani.
"Sayang, bantu mama menguatkan niat agar bisa segera bertemu dengan Opa dan Oma." Medina mengelus perutnya. Meminta si jabang bayi memberinya kekuatan dan bisa segera bertemu dengan kedua orangtuanya.
Medina merebahkan tubuhnya diranjang. Air matanya kembali mengalir tanpa komando. Wajah kedua orangtua kandung dan kedua orang tua angkatnya terus terbayang. Medina merindukan mereka.
Lelah menangis, Medina tertidur. Sembari memeluk tangan yang menggenggam benda yang pernah ditinggalkan ibu kandungnya.
****
Daniel berjalan mondar-mandir gelisah saat tidak mendapat respon panggilan diponselnya. Lalu Daniel memutuskan untuk menghubungi nomor rumah.
"Halo bi. Apa istriku ada dirumah?" Tanya Daniel saat panggilan nya terhubung.
"Ada, Tuan. Setelah sarapan, Nona masuk ke kamar dan sampai sekarang belum keluar lagi."
"Apa yang terjadi?" Daniel semakin khawatir.
"Nona tertidur." Jawab Bi Tatik yang sudah mengecek majikan beberapa saat lalu. Bi Tatik juga sangat mengkhawatirkan majikannya karena lama tidak keluar kamar.
"Tidur?" Daniel terkejut karena tidak biasanya istrinya tidur diwaktu pagi. Ia langsung berpikir jika Medina sakit.
Tanpa berkata-kata, Daniel langsung menutup ponselnya. Ia berjalan keluar ruangannya dengan terburu-buru.
"Anda mau kemana, Bos?" Daniel bertemu sekretaris nya didepan ruangan. Rania hendak memberitahu Daniel jika rapat akan segera dimulai.
"Aku harus pulang. Tolong tunda rapatnya dua jam lagi." Daniel melanjutkan langkahnya.
"Tapi semua orang sudah berada diruang rapat." Ucapan Rania membuat Daniel menghentikan langkahnya.
"Apa?" Daniel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama." Daniel membalik badan dan berjalan ke ruang rapat. Disana semua karyawan seluruh divisi sudah duduk dikursinya. Termasuk Arif.
"Aku tidak bisa mengikuti rapat ini hingga selesai. Kau urus sisanya." Bisik Daniel saat Arif mendekat kursinya.
"Ada apa?" Arif melihat wajah tegang bosnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Arif, Daniel justru menarik laptop dihadapannya dan mengaktifkan nya. Arif bergeser dan memulai rapat.
Setelah rapat berjalan beberpa menit, Daniel meninggalkan ruangan. Dengan berlari ia menuju tempat parkir.
Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dibenaknya sudah membayangkan wajah istrinya yang sedang kesakitan dan menangis. Daniel sangat sensitif akan hal itu. Ia tidak bisa melihat istrinya merasakan penderitaannya sendirian. Sebagai suami ia ingin selalu berada disisi istrinya. Melewati setiap moment apapun bersama.
_BERSAMBUNG
_
_
_
__ADS_1
_