Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 14


__ADS_3

Kamar Hotel


"kapan lo kembali ke Jakarta?" Arif baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung memberi pertanyaan kepada Daniel.


"selesai acara gw langsung pulang, gw udah janji sama mama" Daniel yang sedang menikmati secangkir kopi seketika mengangkat kepalanya.


Arif menyeringai. Dia belum menemukan jawaban dari pertanyaan nya semalam. Karena Daniel keburu kebawa mimpi.


"so..who is she?" Wajah Arif mendekat penasaran. Alisnya sengaja ia naik turunkan berkali-kali. Senyumnya yang penuh selidik berharap ia mendapat jawabannya.


"Siapa?" Daniel berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya.


"Ayolah sob...siapa Gadis yang membuat Tante Safira bisa lupa sama anaknya yang posesif ini. Hah?!" Arif semakin penasaran karena Daniel belum juga memberinya jawaban.


"Medina" jawab Daniel singkat. Wajah Daniel kini berubah memerah karena menyebut nama Medina. Daniel Nampak senyum menawan.


Arif membulatkan matanya.


"apa dia cantik?" Daniel mengangguk dengan bibir yang masih menyungging senyum.


"Cantikkan mana sama Farah? Upss!!" Arif menutup mulutnya cepat. Ia sadar sudah melontarkan kesalahan dengan pertanyaan nya.


Daniel mengangkat kepalanya dan menatap tajam Arif. Seketika suasana menjadi tiba-tiba hening.


Daniel bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. membuang pandangannya ke luar jendela. Menatap pemandangan kota Bandung yang Indah di pagi hari.


"Lo inget, waktu nyokap masuk Rumah sakit kemaren?" Daniel bertanya tanpa menoleh.


"iya.." jawab Arif cepat.


"Gadis itu yang menolong mama dan membawa mama ke rumah sakit...bla...blaa..blaaa" Daniel mulai menceritakan awal pertemuan keluarga nya dengan Medina.


"Mereka sangat dekat dan akrab. Hati gw merasa damai dan bahagia melihat mama sekarang. Wajah murungnya perlahan sirna karena Medina. Kekecewaan nya akan hubungan ku yang lalu sedikit demi sedikit terhapus karena kehadiran nya. Tidak butuh waktu lama...hanya hitungan hari, Medina merubah semuanya" Manik Daniel menerawang jauh keluar jendela.


Bibirnya tak henti-hentinya menoreh senyum bahagia.


Samar-samar dalam hatinya muncul kerinduan dengan gadis yang menjaga mamanya.


Baru sehari tidak melihat gadis itu membuat Daniel meracau gelisah dalam hati.


Arif sang pendengar setia hanya terlihat manggut-manggut tanpa memberi komentar.


Daniel menghela nafas panjang.


"Apa Lo akan membuka hati Lo buat gadis itu?" Tanya Arif enteng.


Daniel melirik sekilas sahabatnya dan kembali menatap jendela.


"Jujur gw suka sama dia karena dia bisa membuat mama nyaman dan bahagia. Tapi..." Daniel menggantung perkataannya.

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Gw siap-siap dulu..bentar lagi gw cabut ke gedung" Daneil mengalihkan pembicaraan.


Meski Arif masih sangat ingin tahu, tapi baginya menyudahi pembicaraan ini adalah pilihan terbaik. Mengingat Daniel sepertinya juga masih galau dengan perasaan nya sendiri.


"siap bos" Arif bangkit dari duduknya dan memberi hormat.


Daniel yang melihat tingkah sahabatnya hanya menggeleng kan kepala.


Mobil yang dikendarai Daniel dan Arif telah sampai dilobby gedung acara pernikahan.


"bener..Lo ga mau turun? kali aja Lo dapet jodoh disini" ledek Daniel datar.


"Di Jakarta aja cewek masih banyak...ngapain gw nyari jauh-jauh ke Bandung cuma buat dapetin cewek?" Arif berkilah sok ganteng.


Daniel tergelak kencang, wajah sahabatnya seketika berubah lucu.


"trus Lo mo ngapain?" Tanya Daniel menyelidik.


"gw mau refreshing bos. Mumpung kosong jadwal meeting" cicit Arif dengan tawanya yang khas.


"gw pinjem mobil lo ya? tar Lo kabarin gw kalo dah selesai acara" ucap Arif dan langsung tancap gas setelah Daniel turun.


Daniel tahu tipe sabahatnya yang juga masih jomblo. Dia pasti akan menikmati waktu liburnya yang meski singkat dengan keluyuran.


"Niel..!!" Panggil Danu saat Daniel masuk lobby.


Daniel menggeleng.


"Hai cantiknya papa Niel..." Daniel menyapa Syifa yang masih digendong Danu dengan wajah cemberut namun masih imut.


"Papa Niel..jahat!" Syifa melengos kesal.


"lho..kenapa sayang?" Tanya Daniel heran.


"Papa Niel lama datengnya. Ifa kan capek nungguin" celoteh Syifa sontak membuat Danu dan Daniel tergelak.


Daniel menghadiahi gadis kecilnya dengan kecupan dikepala.


"iya..papa Niel telat. maaf ya sayang" bujuk Daniel.


"ifa mau maafin..tapi ada salatnya (syaratnya)" Tawar Syifa dengan suaranya yang cadelnya.


"baiklah...untuk tuan putri apapun syaratnya papa Niel akan kasih" ucap Daniel mantap.


"benel ya...?


"iya.,"

__ADS_1


"papa Niel cepet kasih aku mama Niel. Kan kalo ada papa harus ada mama juga. kayak papa sama bunda" cicit Syifa polos.


Danu yang mendengar celoteh putrinya hanya menahan tawa. sementara Daniel memijit pelipisnya. Entah belajar darimana hingga putri kecilnya bisa mengeluarkan kata-kata ajaib begitu.


Syifa masih menunggu jawaban Daniel.


Wajah mungilnya yang polos membuat Daniel tidak tega untuk menolak.


"baiklah...papa Niel akan cari mama Niel buat Syifa" Jawaban Daniel sontak membuat wajah gadis kecil itu tersenyum bahagia. Membuat Daniel dan Danu semakin gemas.


"sudah puas sekarang? apa sekarang kita bisa masuk?" Danu mulai kesal dengan tingkah anaknya.


Daniel dan Syifa memang sangat dekat. Hubungan keponakan dan paman ini bisa dibilang sudah seperti ayah dan anak. Bahkan kadang kala tingkah Syifa yang tidak bisa Danu luluh kan, bisa dengan mudah Daniel taklukkan. Bagi Daniel anak kakaknya adalah anaknya juga. Makanya Daniel lebih suka Syifa memanggilnya papa dibanding uncle atau semacamnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam lift dan menuju aula Resepsi.


Rani yang sedari tadi mondar mandir mengawasi persiapan kini sudah bisa bernafas lega karena 1 jam dari sekarang, prosesi akad nikah akan berlangsung dan dilanjutkan dengan Resepsi pernikahan.


"Sayang, apa Semuanya sudah oke?" Tanya Danu setelah mendekat.


Rani mengangguk. Ia berharap tidak ada kekurangan atau kesalahan saat penyambutan para tamu.


Syifa dan Daniel terlihat asyik bercengkrama. Seolah melupakan dunia sekeliling nya. Ya. Begitulah mereka jika sudah bertemu. Papa dan Bunda Syifa pun terlupakan karena kehadiran Daniel.


"Papa Niel...apa papa udah ketemu sama mama Niel?" tanya Syifa polos.


"Ahh..tentu saja sudah sayang. Dan sekarang ada dirumah nenek di Jakarta" Jawab Daniel.


Entah mengapa jawaban itu langsung terlontar dari mulut Daniel. Bahkan ia menyesal karena sudah mengucapkan itu. Ia tahu, Syifa pasti akan terus merengek untuk segera bertemu Mama Niel. Dan Danu pasti akan sangat tidak suka.


"emmm..maksud papa Niel...Mama Niel akan dateng sebentar lagi ke rumah nenek" Ralat Daniel.


Tapi gadis kecil itu sudah menangkap perkataan Daniel yang pertama..


"ohh..jadi mama Niel ada dilumah nenek ya? Papa Niel..kapan ifa ketemu mama Niel?" Rengekan Syifa mulai terlihat.


"oke...kita selesaikan acara ini dulu ya. Baru kita ketemu mama Niel dirumah Nenek" Jawab Daniel dengan senyum masam.


Syifa mengangguk cepat. Bahkan pipinya yang gempil berubah merona karena rasa senangnya akan bertemu Mama Niel.


"hhhmmmm...sepertinya aku membuat kesalahan" Gumam Daniel dalam hati.


"kakak tidak akan mengampuniku kali ini" Daniel memaksakan senyumnya yang terasa hambar.


"apa Syifa senang sekarang?" Syifa memeluk Daniel dengan erat.


"makasih papa Niel..."


Daniel mengecup pucuk kepala Syifa.

__ADS_1


###########


__ADS_2