
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.39 WIB. Keluarga Daniel dan para asisten rumahnya sudah berada direstoran didalam restoran.
Sebelumnya mereka melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah yang dipimpin oleh ustadz yang bertugas menikahkan Daniel dan Medina. Sang Ustadz datang bersama Arif.
Daniel tampak mondar-mandir tidak tenang. Pasalnya Medina dan Rani belum juga datang.
"Kak...coba hubungi mereka lagi" pinta Daniel pada Danu dengan wajah panik.
"Mereka sudah dijalan, calm down bro..." Jawab Danu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil masuk ke dalam parkiran restoran.
"itu mereka, aku akan menjemputnya" Danu berlalu pergi untuk menjemput Rani dan calon pengantin wanita ke lantai satu restoran.
Senyum Daniel mengembang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Daniel berusaha menetralkan degup jantungnya dengan beberapa kali menarik nafas dan menghembuskan nya dengan teratur.
"Huft"
Medina berjalan menaiki anak tangga dengan Rani dan Danu yang mengapitnya ditengah.
Medina yang sudah tampak cantik dengan balitan gaun muslimah berwarna biru Dongker senada dengan jas yang dipakai Daniel.
Riasan wajah yang tampak natural tidak mengurangi kecantikan alami yang dimilikinya. Sempat sedikit berdebat dengan penata rias disalon tadi. Karena Medina bersikukuh tidak mau dimakeup. Namun akhirnya, dengan bujukan Rani, sang penata rias bisa memoles wajah cantik Medina meski hanya riasan ringan.
"Honey..." Gumam Daniel saat maniknya menangkap sosok gadis yang setengah hari ini tidak ia jumpai. Ujung bibirnya melengkung manis ketika maniknya beradu pandang dengan manik Medina.
Hanya sekilas, namun membuat hati keduanya seolah akan meledakkan bunga-bunga cinta. Medina beberapa kali memejamkan mata untuk menenangkan hatinya. Merapalkan doa dan dzikir agar tidak terlihat gugup yang ia takutkan berujung pingsan dihadapan banyak orang.
Medina berjalan menghampiri mama Safira dan menyalaminya.
"Kamu sangat cantik" Puji mama.
Mama Safira mencoba menahan bulir bening yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Makasih, ma. Mama juga cantik seperti biasanya" Balas Medina.
Medina juga menyapa semua orang yang ada disana.
Rani kemudian menuntun Medina untuk duduk disalah satu kursi yang sudah disetting pengelola restoran. Daniel menyusul Medina dan duduk disampingnya. Dihadapannya sudah siap pak Ustadz yang akan menuntun Daniel membacakan ijab qobul.
Daniel menatap lekat wanita yang duduk disampingnya.
"Anda sudah siap?" Suara pak Ustadz membuat Daniel tersadar dan menoleh ke arah pak Ustadz.
"insyaAllah siap ustadz" Jawab Daniel mantap.
Tingkah Daniel mengundang gelak seluruh orang disana.
Tangan pak Ustadz mengulur diatas meja yang menjadi pembatas dirinya dengan kedua calon pengantin.
Daniel menyambutnya dengan penuh semangat. 2 orang saksi yang sudah dipersiapkan yaitu Danu dan Pak Mudi juga sudah mengambil posisi disisi kanan dan kiri calon mempelai. Sementara Arif bertugas sebagai fotografer amatiran. Tentu saja semua dalam komando Daniel.
Pak Ustadz kembali memberi kode. Diawali dengan membaca Ayat-ayat Al-Qur'an dan dilanjutkan dengan Dzikir, tahlil dan Tahmid. Suasana didalam sana sangatlah khidmat.
Medina tak kuasa menahan bulir air matanya. Ia mengingat mendiang kedua orangtuanya yang sudah berpulang.
"Bapak...Ibu...hari ini Medina menikah dengan seorang laki-laki yang Medina cintai. Dia cinta pertama Medina. Dan insya Allah akan menjadi cinta terakhir Medina. Dia laki-laki yang sangat baik dan dari keluarga yang baik. Medina yakin, apapun yang terjadi hari ini, adalah berkah dari doa panjang kalian selama hidup kalian bersama Medina. Terimakasih dan Terus doakan Medina ya pak..ibu. Medina sangat mencintai dan merindukan kalian" Gumam Medina lirih.
Semua orang yang hadir diruangan itu ikut larut dalam kesedihan Medina. Daniel menoleh Medina dan memberikan sapu tangan berwarnah abu-abu dari kantong jasnya kepada Medina.
__ADS_1
Medina menerima sapu tangan itu dan segera menyeka air matanya.
Kini tiba saatnya Daniel untuk mengucapkan ijab qobul. Dengan suara lantang dan tegas Daniel menyelesaikan dengan satu tarikan nafas.
"Sah!" 2 orang saksi berucap setelah Daniel menyelesaikan kalimat sakral.
"Alhamdulillahirobbil 'aalmiin" Ucap semua orang.
Danu memeluk Daniel erat. Danu menangis terharu sekaligus bahagia. Sebagi seorang kakak yang setia mendampingi adiknya disegala keadaan adiknya, tentu saja moment seperti ini sangat menguras emosi Danu. Ia bersyukur Daniel mampu melewati masa-masa sulitnya dan kini berada dititik yang sangat mengharukan dan membahagiakan.
"Congratulations, kid. Happy wedding for you" Bisik Danu ditelinga Daniel.
Daniel membalasnya dengan Mengeratkan pelukan sang kakak.
"Thank you for everything, brother" ucap Daniel disela pelukannya.
Mereka berdua melepas pelukan. Kini Daniel dan Medina saling berdiri menghadap satu sama lain. Daniel mengambil kotak cincin yang sudah siap dimeja. Mengeluarkan logam mulia itu dan menyematkan cincin bertahta berlian ke jari manis Medina.
Medina mengambil tangan Daniel dan mencium punggung tangan Daniel dengan lembut dan mesra.
Daniel tersenyum lebar dan bersemangat melakukannya. Sementara Medina nampak malu-malu.
Kini bergantian Medina mengambil cincin dan menyematkan ke jari manis Daniel.
Keduanya saling menatap dan melempar senyum bahagia. Daniel berjalan maju agar lebih dekat dengan gadis yang kini telah sah secara agama menjadi istrinya. Mengikis jarak diantara keduanya. Tanpa ragu dan canggung, Daniel mencium kening Medina dengan mesra.
Moment demi moment tak luput dari jempretan kamera yang dipegang sang fotografer dadakan.
Kini kedua mempelai berjalan menuju kursi dimana mama Safira duduk. Daniel memeluk dan mencium mama Safira lebih dulu dengan rona haru dan bahagia.
"Selamat atas kehidupan baru mu, Sayang. Jagalah dia untuk mama. Jangan membuat menantuku kelelahan setelah ini. Mama tidak akan mengampunimu. Kau tahu!" Ucap Mama disela pelukannya kepada Daniel.
"Kemarilah...putri mama yang cantik" Mama Safira merentangkan kedua tangannya menyambut sang menantu yang berjalan mendekati nya.
Medina menangis dalam pelukan mama Safira.
"Jangan menangis. Apa putraku menikahimu dengan ancaman dan paksaan" Medina tidak bisa menahan tawanya disela tangisnya. Ia tidak menyangka mama Safira bisa mengucapkan hal konyol ditengah suasana haru seperti saat ini.
"Jangan khawatir, mama bukan mertua dzolim yang suka menyakiti menantunya seperti dalam cerita sinetron yang suka kita tonton"
Suara sang mama yang terdengar semua orang tentu saja membuat suasana diruangan itu menjadi riuh.
"Hahahaha..."
Medina menatap mama Safira sendu. Ia tahu, mamanya tidak sertamerta mengucapkan itu begitu saja. Ia tahu, sang mama hanya sedang menghibur hatinya yang masih menyimpan kecemasan.
Medina kembali memeluk wanita paruh baya yang kini telah menjadi ibu mertuanya.
"Apapun yang terjadi, Insya Allah Medina janji sama mama. Medina akan terus menjaga dan berada disamping kak Daniel sampai maut memisahkan kami" Ucap Medina.
"Terima kasih, sayang" Balas sang mama.
Mereka melepaskan pelukan. Kini Medina berada dihadapan Rani dan si gemas Syifa. Mereka saling berpelukan.
"Kak...makasih..makasih...makasih" Ucap Medina sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rani.
"Hei...ingat semua wejanganku ya. Dan jangan lupa langsung dipraktekkan" Bisik Rani ditelinga Medina.
Tubuh Medina seketika merinding. Tiba-tiba ingatannya kembali pada semua ucapan kakak iparnya itu saat perjalanan dari salon ke restoran.
_Flashback on_
__ADS_1
"Kak...apa benar ML saat malam pertama itu benar-benar sakit sampe mengeluarkan darah?" Tanya Medina saat itu dengan menampakkan raut wajah yang sedikit takut.
Rani membulatkan matanya. Senyum tipisnya muncul dibalik bibir tipisnya.
"wow...adik ipar. Pertanyaan mu to the point ya" Ledek Rani.
Medina tersenyum kecut. Ia sebenarnya menahan rasa malunya.
"kata siapa ML Saat malam pertama itu sakit?" Tanya Rani.
"Medina pernah baca artikel..Dan banyak novel-novel yang Medina baca semua ceritanya hampir sama saat pasangan suami istri ML, maka__"
"Hahahahaha..kebanyakan baca novel kamu" Rani tergelak atas jawaban Medina.
"kak...." Medina menyebikkan bibirnya kesal.
"Kamu mau aku jawab versi aku atau versi yang mana nih?" Tanya Rani tanpa mengalihkan pandangannya kedepan kemudi.
"Emang ada versi yang gimana kak?" Tanya Medina polos.
Rani menepuk keningnya. Gemas dengan tingkah polos adik iparnya itu.
"Versi kak Rani aja deh..secara kakak kan udah pernah mengalaminya" Jawab Medina memilih sembari cengengesan.
"Ehemmm..." Rani berdehem sebelum mulai menjawab.
"Oke. Aku to the points aja ya say. Saat Pasangan suami istri melakukan hubungan intim untuk pertama kali memang sakit awalnya. Tapi..." Rani masih menggantung ucapannya.
Rani terdiam beberapa detik hingga Medina mengulang kata-kata Rani.
"Tapi....????"
Medina masih menunggu.
"Tapi nikmaaaaaattttttt" Jawab Rani setengah berteriak.
Rani kemudian tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat wajah Medina yang sudah seperti buah tomat...meski akhirnya ia pun ikut tertawa.
"Apa semua pasangan sangat menantikan malam pertamanya?" Tanya Medina jujur.
"Ya ampun Medina..Hampir 100% pasangan pengantin menantikan malam pertma mereka. Apalagi untuk para pengantin pria"
Medina menoleh cepat. Ia menatap Rani.
"kenapa? kamu ga siap? Siap ga siap kamu har_"
"Medina sekarang lagi PMS kak. Baru 2 hari malah. Medina takut membuat kak Daniel kecewa dihari pertama kami menikah" Potong Medina saat Rani belum selesai dengan ucapannya. Ia menoleh wajah Medina yang kini sudah berubah sendu.
"Hei..tenang saja. Selama istri PMS, kita masih bisa melayani suami diatas ranjang"
"Apa??" Medina memekik keras.
"Ihhh...tapi kan kak itu haram"
"hei...jangan jorok dulu otakmu. Ini bukan seperti yang kamu pikir" Rani tahu apa yang Medina pikirkan saat ini.
"Kita masih bisa melakukan adegan ciuman dan bercumbu..Melayani bukan berarti harus selalu berakhir dengan penyatuan, bukan?!"
"penyatuan apa kak??" Tanya Medina. Dia benar-benar tidak paham maksud yang diutarakan Rani.
"Ohh...God" Rani mengusap wajahnya sendiri karena kesal dengan tingkah polos Medina.
__ADS_1